Untuk hal ini saya memberikan nilai 9,999 pada skala 10 untuk SBY...

RBH


  > -----Original Message-----
  > From: [email protected]
  >
  > Date: Sun, 19 Jul 2009 22:18:00
  > To: <[email protected]>
  > Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Saya Memberi Nilai Sembilan Terhadap
  > Pernyataan Presiden SBY
  >
  >
  >
  > Kalau Presiden SBY, yang selama ini terkenal santun dan sangat berhati-hati
  > dalam berbicara, sampai mengeluarkan kata-kata seperti dalam pernyataannya
  > Jumat, 17 Juli 2009 yang lalu, maka hal itu tentu sudah diperhitungkannya
  > benar. Kita bahkan bisa melihat bahwa pernyataan itu diucapkan berdasarkan
  > sebuah teks tertulis. Oleh karena itu pernyataan tersebut boleh dikatakan
  > "hati-hati bin hati-hati" atau "he mean it".
  >
  > Saya tidak melihat bahwa ada yang berlebihan dalam pernyataan Presiden SBY.
  > Bahkan menurut hemat saya memang begitulah seyogianya pernyataan seorang
  > presiden di sebuah negara yang demokratis.
  >
  >
  > 1. Secara Eksplisit Pernyataan Itu Tidak Mengait-ngaitkan Hasil Pemilu:
  >
  > Saya sudah melihat rekaman video pernyataan tersebut di youtube, dan
  > melihat intonasi serta ekspresi wajah Presiden SBY. Saya juga sudah membaca
  > transkripsi pernyataan itu--yang tersedia di banyak situs internet--dua atau
  > tiga kali.
  >
  > Saya samasekali tidak melihat bahwa Presiden SBY nyata-nyata mengaitkan
  > peristiwa pengeboman itu dengan pemilu, dan tidak juga melihat bahwa dia
  > sedang menuduh sebuah kelompok yang kalah dalam pemilu sebagai otak
  > pengeboman:
  >
  > Presiden SBY mengatakan bahwa banyak orang yang bertanya kepadanya apakah
  > teror bom ini ada kaitannya dengan pemilu. Lalu dia mengatakan bahwa hal
  > tersebut masih akan diusut. Kita tidak bisa asal menuduh tanpa pembuktian
  > secara hukum.
  >
  > Tapi kata SBY lebih jauh, memang dia mendapat laporan intelijen bahwa ada
  > sejumlah ucapan dan kegiatan melawan hukum yang akan dilakukan oleh
  > fihak-fihak tertentu berkaitan dengan pemilu, yang ingin membawa negara ke
  > dalam kekacauan. (Latihan menembak. Pendudukan kantor KPU. Membuat Indonesia
  > menjadi seperti Iran, dsb).
  >
  > Apakah teror bom tersebut berkaitan dengan sejumlah ucapan dan kegiatan
  > tersebut, itu masih akan diusut, kata Presiden SBY. Tapi seandainya pun
  > ucapan dan tindakan yang hendak menggagalkan pemilu itu tidak berkaitan
  > dengan teror bom, itu tetaplah harus dihentikan, karena negara ini adalah
  > negara demokrasi dan negara hukum.
  >
  > Secara khusus Presiden SBY memang berbicara tentang "sebagian dari kita"
  > yang di masa lalu terlibat dalam tindak kejahatan penculikan, pembunuhan dan
  > pengeboman dan masih bebas berkeliaran. Tapi kata Presiden SBY, percayalah
  > kali ini negara akan mengejar mereka dan tak akan membiarkan mereka lagi
  > menjadi drakula-drakula yang menyengsarakan rakyat.
  >
  > Bahwa Presiden SBY tidak memfokuskan diri berbicara tentang teror bom dan
  > korban, itu bisa saya mengerti. Dia adalah seorang presiden. Dia bukan dai,
  > pendeta, psikolog atau terapist. Dia harus melihat persoalan dan berbicara
  > dalam lingkup yang besar dan luas.
  >
  >
  > 2. Setiap Peristiwa adalah Panggung untuk Melakukan Komunikasi Politik:
  >
  > Orang menyalahkan Presiden SBY karena memakai peristiwa pengeboman itu
  > sebagai panggung politik dan mempolitisasinya bagi kepentingannya. Ini juga
  > adalah suatu hal yang menggelikan dan mengherankan saya.
  >
  > Presiden itu adalah sebuah jabatan politik, dan karena itu setiap peristiwa
  > adalah panggung baginya untuk menyampaikan komunikasi politiknya, kepada
  > rakyatnya mau pun kepada lawan-lawan politiknya.
  >
  > Sebenarnya apa yang dilakukan oleh SBY itu juga dilakukan oleh para
  > presiden atau perdana menteri negara lain. Bahkan oleh para presiden
  > Indonesia sebelum dan sesudah reformasi.
  >
  > Mahatir Mohamad, Ahmadinejad, Sukarno, Suharto, Lee Kwan Yew, Margareth
  > Thatcher, Indira Gandhi--you name it--semua melakukannya, yaitu memakai
  > setiap peristiwa sebagai panggung politik untuk melemparkan isyu bagi
  > kepentingan politiknya. Dan mereka memang harus melakukan itu, karena
  > presiden atau perdana menteri adalah sebuah jabatan politik. Presiden atau
  > perdana menteri bukanlah pendeta atau dai.
  >
  > Ahmadinejad, setiap kali selesai sholat Jumat di masjid Universitas
  > Teheran, selalu berpidato menyerang musuh-musuhnya di dalam negeri (kaum
  > reformis) dan di luar negeri (AS dan Zionisme Israel). Dia bukan memakai
  > kesempatan itu untuk memberikan tausyiah atau siraman rohani.
  >
  > Dan seperti halnya SBY, dalam melakukan "aksi panggungnya" para presiden
  > dan perdana menteri itu juga selalu mengandalkan "laporan intelijen" sebagai
  > sumbernya.
  >
  > Mahatir Mohamad, apalagi. Entah meresmikan kebun kelapa sawit atau
  > meluncurkan type mobil Proton yang baru, dia acapkali hanya berbicara 10%
  > tentang perkebunan atau industri. Selebihnya dipakai untuk menyerang
  > lawan-lawannya di partai oposisi atau pun di kubu Barisan Nasional.
  >
  > Sukarno sami mawon. Boleh jadi panggungnya adalah Kongres GMNI. Tapi
  > alih-alih bicara tentang pemuda, dia berbicara tentang kapitalis birokrat
  > (kapbir), antek-antek nekolim, atau musuh-musuh revolusi yang ada di
  > Angkatan Darat.
  >
  > Suharto juga begitu. Di sebuah panggung HUT ABRI dia menyerang para
  > lawannya (Petisi 50), mengidentikkan dirinya sebagai Pancasila, dan menuduh
  > mereka yang mengkritiknya sebagai melawan Pancasila. Atau dalam sebuah
  > perjalanan pulang dari KTT Non Blok di Beograd, dia "nyelonong" membicarakan
  > beberapa elemen tentara yang dianggapnya melawannya, dan tiba-tiba berkata
  > dengan sangat emosional, "Biar jenderal sekali pun akan saya gebuk......"
  > Atau setelah berbicara tentang bagaimana caranya melakukan kawin-suntik sapi
  > atau membuat makanan ternak di Tapos, di hadapan para Komandan Korem, dia
  > berbicara tentang dwi-fungsi dan mengamankan pembangunan.
  >
  > Gus Dur juga begitu. Di masa dia menjabat sebagai presiden, setiap hari
  > Jumat pagi kita selalu bertanya-tanya: "Di masjid mana dia hari ini akan
  > sholat? Dan siapa lagi yang ditembaknya kali ini?"
  >
  >
  > 3. Adalah Wewenang Presiden untuk "Bermain-main" dengan Laporan Intelijen:
  >
  > Orang juga banyak menyalahkan Presiden SBY dalam kaitan dengan apa yang
  > dikatakannya sebagai "laporan intelijen" itu. Ini juga adalah sebuah hal
  > yang menggelikan. Mengertikah orang sebenarnya tentang apa yang disebut
  > sebagi "laporan intelijen" itu?
  >
  > "Memain-mainkan" informasi intelijen atau bahkan menggunakan intelijen
  > untuk kepentingan jabatannya (sampai kepada batas-batas tertent) adalah
  > kewenangan setiap presiden dan perdana menteri. (Dan intelijen--terutama
  > intelijen negara--memang didirikan untuk melayani presiden atau perdana
  > menteri).
  >
  > Nixon memakai agen-agen CIA untuk menyadap markas Partai Demokrat di
  > Watergate. Presiden Bush Sr menyuruh CIA untuk mengaduk-aduk timbunan arsip
  > lama, untuk mencari paspor Bill Clinton (capres waktu itu) dalam upaya
  > membuktikan bahwa lawannya itu pada saat masih mahasiswa pernah bepergian ke
  > Uni Soviet dan atas biaya pemerintah Uni Soviet.
  >
  > Kita tentu masih ingat dengan kasus senjata kimia pemusnah massal yang
  > dituduhkan AS sedang dibuat oleh Saddam Husein dan yang dipakai sebagai
  > alasan untuk menyerbu Irak. Senjata itu tidak pernah ada. Tapi Presiden Bush
  > berkali-kali mengatakan di depan media massa bahwa dia memiliki bukti berupa
  > laporan intelijen bahwa senjata itu memang ada.
  >
  > Di fihak lain, walaupun tidak diniatkan untuk menjadi "hoax", laporan
  > intelijen tetap saja diasumsikan sebagai penuh dengan kemungkinan tipu-tipu,
  > ketika dia sedang mengalir dari bawah ke atas (ke presiden). Bisa saja
  > laporan itu datang dari sumber-sumber yang memang ingin melakukan
  > penyesatan. Kemudian juga--dalam jenjang tertentu--bisa saja laporan itu
  > dipermak oleh fihak-fihak tertentu agar ketika Presiden nanti membuat
  > keputusan, maka keputusan itu akan menguntungkan dirinya atau kelompoknya.
  >
  > Karena itu laporan tersebut harus diverifikasi dan di-scrutinize. Dan tugas
  > untuk melakukan hal tersebut adalah tanggung jawab kepala atau direktur
  > lembaga intelijen itu sendiri. Karena itu kepala lembaga intelijen negara
  > tersebut haruslah orang yang sangat dipercaya oleh Presiden.
  >
  > Disebabkan intelijen yang penuh tipu-itipu itu bekerja "di bawah tanah",
  > maka dia memiliki potensi untuk menjadi sesuka-sukanya. Oleh karena itulah
  > di negara-negara demokrasi ruang gerak intelijen itu harus dibatasi oleh
  > undang-undang. Sinyalemen intelijen selalu harus diproses secara hukum.
  > Memang kadang-kadang ada saja sinyalemen intelijen yang langsung dieksekusi
  > tanpa melalui proses hukum. Tapi kalau hal tersebut sampai ketahuan oleh
  > masyarakat, akibatnya bisa fatal kepada pimpinan lembaga intelijen tersebut,
  > atau bahkan kepada presiden. (Di negara-negara otoriter dan diktator, maka
  > "laporan intelijen" adalah kebenaran. Karena itu apa yang menjadi sinyalemen
  > KGB pada masa Uni Soviet, SS pada masa Nazi Jerman dsb, itulah hukum).
  >
  > Kasus Munir itu adalah sebuah contoh. Kalau dia memang benar adalah musuh
  > negara, maka berdasarkan sinyalemen intelijen, seharusnya polisi-lah yang
  > menangkapnya, mengumpulkan bukti-bukti dan menyeretnya ke pengadilan. Tapi
  > para petinggi badan intelijen (drakula-drakula yang masih bergentayangan
  > itu) langsung saja mengeksekusinya. Sayang penegakan hukum masih amburadul.
  > Kalau tidak, seharusnya drakula-drakula itu sudah musti masuk ke penjara.
  >
  > Kasus penghilangan orang secara paksa pada masa-masa sebelum 1998 adalah
  > contoh yang lain lagi. Orang-orang itu diculik dan dilenyapkan karena
  > dianggap sebagai musuh negara. (Dan yang menganggapnya musuh negara adalah
  > intelijen Kopassus "pulak"), Kalau negara kita masih tetap berada dalam
  > sistem pemerintahan diktator dan otoriter Suharto, maka kasus tersebut akan
  > didiamkan begitu saja. Tapi ketika negara kita berada dalam era demokrasi,
  > maka diusutlah kasus tersebut. Hanya sayangnya, disebabkan oleh hukum yang
  > amburadul, lagi-lagi drakula-drakula itu masih terus bergentanyan.
  >
  > Sepanjang tidak melanggar undang-undang, dan sepanjang digunakan untuk
  > kepentingan negara, maka saya rasa tidak ada salahnya kalau presiden
  > mengumbar-ngumbar "what so called" laporan intelijen. Dan mengenai apa yang
  > disebut sebagai "kepentingan negara", maka marilah kita memberi sedikit
  > toleransi kepada presiden untuk juga boleh menfasirkannya. Bagaimana pun,
  > dialah kepala negara.
  >
  >
  > 4. Drakula dan Kentut:
  >
  > Orang juga menyalahkan Presiden SBY karena mengangkat isyu "drakula" dan
  > menganggapnya sebagai memecah-belah bangsa. Ini juga adalah hal yang
  > mengherankan saya.
  >
  > Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, kalau dalam pernyataannya itu
  > Presiden SBY sengaja "menembak" fihak tertentu, maka itu pasti karena dia
  > tahu benar apa yang sedang dilakukan oleh fihak tertentu itu, dan merasa
  > bahwa mereka sudah sangat keterlaluan.
  >
  > Para elit di atas sana tentu sudah sama-sama tahu siapa berbuat apa. Itu
  > sama saja dengan kita yang hidup bersama dalam sebuah tempat kost. Kalau
  > kita sama-sama berada di sebuah ruangan dan ada yang kentut, maka kita tentu
  > bisa mengetahui siapa yang kentut itu. Karena kita tahu apa yang dimakan
  > (atau tidak dimakan) oleh masing-masing kawan kita itu.
  >
  >
  > 5. Sedikit Fairness untuk Presiden SBY:
  >
  > Satu jam setelah terjadinya persitiwa pengeboman, di milis
  > forum-pembaca-kompas ini saya menurunkan postingan (No. 131888) yang
  > berbunyi:
  >
  > Menurut hemat saya apa yang sedang terjadi di Ritz Carlton, J.W.Mariott dan
  > Timika ini adalah pekerjaan kelompok politik yang tidak suka dengan pemilu
  > yang telah berjalan baik, dan yang tidak suka dengan Indonesia yang semakin
  > demokratis. (Ini bukan pekerjaan Kelompok JI dan Kelompok OPM. Atau, kalau
  > pun terlibat, mereka hanyalah alat). Kelompok ini ingin menyeret Indonesia
  > untuk masuk dalam chaos, agar mereka memiliki peluang untuk terus bermain.
  >
  > SBY sedang "digoyang". Oleh karena itu inilah saatnya bagi SBY untuk
  > berkata-kata dan bertindak dengan tegas. Jangan lagi hanya berlindung di
  > balik retorika "menyerahkan penyelesaiannya pada proses hukum yang berlaku".
  >
  > Sikat! Tangkap! Hancurkan. Dan SBY punya modal untuk itu. Dia memiliki
  > lebih dari 60% suara pemilih.
  >
  > Oleh karena itu bukan main senangnya saya ketika sorenya saya mendengar
  > Presiden SBY memberikan pernyataannya.
  >
  > Presiden SBY sudah memenuhi harapan saya sebagaimana yang telah tuliskan di
  > pstingan saya: Dia mengajak rakyat untuk melihat peristiwa ini sebagai
  > kemunduran terhadap proses perkembangan demokrasi, terutama dalam kaitan
  > dengan pemilihan umum presiden yang baru selesai kita lakukan.
  >
  > Presiden SBY juga sudah memberi peringatan kepada rakyat agar waspada
  > tentang kemungkinan adanya gerakan-gerakan yang ingin membatalkan hasil
  > pemilu dengan cara-cara di luar hukum, dan yang akibatnya akan membawa
  > negara ke dalam kekacauan.
  >
  > Presiden SBY juga sudah memberi "warning" kepada lawan-lawan politiknya
  > agar jangan memancing di air keruh, dan berjanji akan menindak-tegas siapa
  > pun yang mencoba-coba melakukannya.
  >
  >
  > Saya bukan pemilih SBY. Dalam pemilu presiden saya memilih JK karena saya
  > suka dengan gaya kepemimpinannya. Tapi ketika Presiden SBY melakukan gaya
  > kepemimpinan sebagaimana yang saya harapkan, maka tentu saja saya harus
  > bersikap fair. Oleh karena itu terhadap pernyataannya atas persitiwa
  > pengeboman di Ritz Carlton dan J.W. Marriot tersebut, saya memberinya nilai
  > sembilan (dalam skala 1 s/d 10).
  >
  > Presiden SBY sudah memenuhi sedikit harapan saya tentang kepemimpinan yang
  > tegas dan berani untuk rakyat yang beragam maunya dan ngeyel, dan yang
  > sedang belajar berdemokrasi ini.
  >
  > Mula Harahap

Kirim email ke