BANGGA, ASEAN TOLAK USUL MENLU
 AS. 





Baru-baru ini dalam pertemuan para Menteri Luar Negeri (Menlu) para anggota
ASEAN di Thailand, Perdana Menteri Thailand menolak usul Amerika Serikat (AS)
agar salah satu anggotanya, Myanmar dikeluarkan dari keanggotaan..Saya sudah
tentu bangga mendengar hal ini, karena pada intinya masalah anggota ASEAN harus
diselesaikan dengan sesama anggotanya, bukan oleh pihak lain.  Tetapi pada sisi 
lain saya mendengar pula
pernyataan Menlu RI yang berkeinginan mempertimbangkan keanggotaan Myanmar di
ASEAN, bukan tidak mungkin Myanmar
akan dikeluarkan dari ASEAN apabila demokrasi di negara tersebut tidak
dijalankan. Pernyataan yang sedikit lunak dan agak bertolak belakang ini
membingungkan saya, apa yang  terjadi
dengan Indonesia
? Di mana sikap tegar sebagai bangsa berdaulat ?

Myanmar
adalah Myanmar.
Sejak awal Myanmar
memberlakukan apa yang dianggap oleh negaranya baik. Diakui bahwa Demokrasi di
negara itu berjalan lamban. Tetapi pertanyaan selanjutnya demokrasi seperti apa
? Sama halnya dengan Cina ketika terjadi istilah “pembantaian” di lapangan
Tiananmen. Cina dianggap sebagai negara yang mencabik-cabik arti demokrasi.
Tetapi setelah negara itu bertahan dengan sikapnya dan punya alasan-alasan
sendiri kenapa harus melakukan “pembantaian” tersebut dan sekarang menjadi
negara diperhitungkan di dunia internasional, sekarang sudah tidak ada lagi
hujatan ke negara tersebut. 

Quo vadis Indonesia
? Itulah pertanyaan saya selanjutnya. Kita mencoba  melihat sejarah ke belakang 
sejenak ketika
perjuangan diplomasi yang dilakukan  Adam
Malik mengenai Papua yang dulu Irian Barat. Ada komitmen tidak tertulis antara
Adam Malik dengan Presiden AS waktu itu. AS akan mendukung membebaskan Irian
Barat dan Indonesia
sebaliknya diminta membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejarah 
berlanjut,
PKI dibubarkan dan PT.Freeport milik AS berdiri di Papua. Terus ke Zaman Orde
Baru, mungkin tidak perlu dijelaskan hingga pasca pemilihan presiden baru-baru
ini, di mana Obama sudah mengucapkan selamat kepada calon Presiden SBY meski
pengumuman resmi dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) belum ada.

Pada Hari Selasa,  21 Juli 2009 malam sekitar pukul
19.30, Mantan Kadensus 88 Bareskrim Polri, Brigjen (Purn/Polri) Suryadarma
Salim berkomentar di TVOne mengenai aksi terror baru-baru ini. Salah seorang
teman saya bertanya mengapa endingnya terpotong ? Ada apa ? Saya menjawab, 
bukan endingnya saja
berakhir terpotong, tetapi di saat awal permulaan acara sudah terhenti sejenak.
Pihak TVOne tidak memberitahu ada kerusakan sehingga saya pun tidak bisa  
menjawab pertanyaan teman saya itu.

Hanya saya teringat ketika utusan keluarga Bapak Adam
Malik datang ke rumah meminta kesediaan saya menulis buku tentang ayahnya yang
pada waktu itu dituduh sebagai agen intelijen Amerika Serikat (CIA). Saya
menyatakan kesediaan, tetapi baru menulis di pertengahan jalan saya menyadari
data dari keterlibatan seorang Adam Malik, yang juga mantan Presiden RI
tersebut sulit menemukannya. Sedangkan komentar penolakan,  hampir seluruh 
tokoh bangsa menolaknya.
Sebagai seorang intelektual, sudah tentu saya tidak memihak siapa pun karena
harus melihatnya secara obyektif dan menulis menurut kaedah-kaedah seorang
ilmuwan. Tulisan mengenai buku tertunda hingga kini, tetapi  tulisan di majalah 
saya “Biografi Politik”
terus berjalan. Saya menyadari, saya sedang menulis wilayah abu-abu, dunia
intelijen. Bukan hanya saya yang tidak mengetahuinya, tetapi  keluarga Pak Adam 
Malik sendiri pun sudah
tentu mengalami hal yang sama.

Kembali saya mengulas bahwa apa yang dibicarakan mantan
Kadensus itu tentang Negara Daulah Islamiah sama halnya dengan isi Majalah
Mingguan Amerika Serikat
TIME, edisi 1 April 2002.  Pemaparan majalah ini sedikit
kontradiktif. Daulah Islamiah Raya, diidentikan dengan ide Sekarmaji Marijan
Kartosuwiryo di tahun 1949. Kenyataannya ide asli Kartosuwiryo bukan negara
Daulah Islamiah, tetapi "Negara Islam Indonesia
."



Juga terjadi kerancuan yang pada akhirnya mengutip pernyataan Hambali, salah
seorang ulama Indonesia yang juga anggota Jemaah Islamiyah yang bermukim di
Malaysia, bahwa negara Islam yang dimaksudnya adalah sebuah negara negara
persatuan Islam di Asia Tenggara yang di dalamnya berlaku Hukum Islam. Inilah
yang disebut "Negara Daulah Islamiah Raya", termasuk seluruh
kepulauan di Indonesia atau Indonesia secara keseluruhan, Malaysia, Singapura,
Kesultanan Brunei dan sebagian besar wilayah Filipina Selatan, Thailand dan
bahkan Kamboja.



Paparan TIME betul-betul rancu, sehingga masalah itu mengapa diungkap kembali ?
Bukankah yang lebih tahu persoalan dalam negeri Indonesia
adalah para sejarawan Indonesia sendiri ?
Negara Islam tidak mungkin berdiri di Indonesia
karena mayoritas penduduknya sudah beragama Islam. Jika seandainya ingin
membentuk negara Islam tidak harus melalui teror, karena di dalam ajaran agama
Islam hal tersebut  tidak diperkenankan.
Oleh karena itu kenapa kita harus merujuk kembali ke negara Daulah Islamiah ?
Mengapa kita terlalu percaya dengan isi Majalah TIME  yang kebetulan juga dari 
Amerika
Serikat?  (Dasman Djamaluddin/
http://dasmandj.blogspot.com)




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke