Kamar mandi memang logikanya adalah tempat persembunyian yang paling aman
dibanding ruangan lain. Ruang tamu, kamar tidur dan dapur ada jendelanya
yang bisa ditrabas peluru. Kamar mandi di rumah sederhana seperti di
pedesaan biasanya tidak ada jendela kaca, jadi betul-betul tertutup. Mungkin
lain dengan kamar mandi modern di perkotaan.
Waktu Noordin digerebek kemarin itu tembakan densus 88 sempat mengenai
sepeda motor dan meledak menimbulkan kobaran api. Jadi ngumpet ke dalam
kamar mandi semakin menjadi pilihan tepat. Salah satu saksi yang bisa
menceritakan kejadian sebenarnya di dalam rumah adalah Putri Munawaroh
(isteri Susilo), dia masih hidup.

Rgds,

Har.-


On 9/19/09, Satrio Arismunandar <[email protected]> wrote:
>
> Posted by: "mhd.husnil" [email protected]   mhd.husnil
> Fri Sep 18, 2009 11:30 pm (PDT)
> (Dikutip dari milis jurnalisme)
>
> ada dua hal yang selalu berulang dalam berita terorisme, dan itu agak
> membingungkan saya, sebagaimana terjadi di temanggung, jatiasih, dan solo.
>
> pertama, korban mati di kamar mandi. entah kenapa, korban matinya di kamar
> mandi? apakah memang kamar mandi merupakan ruangan teraman dalam rumah? kalo
> memang begitu, apa bedanya para teroris itu dengan maling kacangan yang
> berpikir bahwa kamar mandi merupakan tempat teraman untuk ngumpat dalam
> rumah. lho, katanya teroris itu cerdik, setidaknya memiliki nalar lebih
> ketimbang maling kacangan?
>
> kedua, korban itu adalah mantan pelaku terorisme, seperti air setiawan dan
> urwah? dan mereka melakukannya tidak lama mereka berselang keluar dari
> penjara. urwah divonis tujuh tahun, berarti ia baru bebas tahun ini, itu
> jika dihitung dari 2003, tahun terjadinya bom di kedutaan australia. tapi
> memang urwah ditangkap pada tahun itu?
>
> mengenai urwah, alasan penangkapannya agak aneh deh. apakah urwah divonis
> tujuh tahun sebagaimana dilansir tempointerkatif atau cuma tiga tahun,
> seperti yang diberitakan liputan 6: http://berita. liputan6. com/daerah/
> 200909/244516/ Urwah.Anak. Buah.Noordin. Diduga.Tewas
>
> jika setelah keluar dari penjara para pelaku itu masih memegang ideologi
> terorisme dan hendak bergabung kembali dengan komplotannya, mungkin yang
> patut dipertanyakan: bagaimana jaringannya yakin bahwa ia bukan mata-mata
> polisi? tentu, orang yang pernah ditangkap lebih memiliki kesempatan untuk
> diawasi polisi. apalagi ini kasus terorisme, bukan kelas maling kacangan.
>
> dan, sayangnya kita sama sekali tidak mengetahui motif mengapa mereka
> kembali ke komplotannya. soalnya, para pelaku itu mati semua. dan inilah
> yang disesali banyak orang, kenapa mereka mesti mati? kalau mereka hidup kan
> lebih bermanfaat. publik bisa tahu alasan mengapa mereka kembali lagi
> menjadi teroris. itu pun setelah mereka terbukti di pengadilan.
>
> salam,
> Muhammad Husnil

Kirim email ke