Mudah-mudahan ada rekan dari Metro yang mendengar
atau Kania mau mengangkatnya



Dapati Giawa wrote:
>
>
> bu Vivi,
> Bimbo yang legendaris dan ga kurang pengaruh di Tatar Parahyangan aja
> udah ga di dengar lagi sama menir Kaban. Lha...kita mau bilang apa lagi?
> Maklumlah, di penghujung kekuasaan kan harus ada yang bisa dibawa
> sebagai cenderamata, kenangan yang bisa diwariskan ke anak cucu.
> Bandung utara memang sedang jadi ajang perebutan para investor saat
> ini. Mulai dari PT Dam Utama Sakti Prima (DUSP) yang ditentang habis
> oleh masyarakat tapi karena kepala daerahnya membiarkan, maka
> melengganglah sang pemilik modal dengan dalih penataan.
> Karena DUSP melenggang bebas hambatan maka GRPP yang dibekingi SK
> menteri pasti lebih berani, ya toh?
> Modus apa yang mau saya usulkan? Pemerintahan ini udah melampaui
> firaun, warga jahit mulut aja udah ga diopeni. Apa lagi kalau cuma
> demo dan gelar spanduk, dilirik pun tidak.
> Sekalipun begitu kenyataannya, para pejuang alam lestari janganlah
> menyerah. Mungkin bisa dicoba dengan gugatan PTUN meminta pembatalan
> SK menir Ka'ban. Jika betul bhw yang punya GRPP (pemegang ijin/konsesi
> pemanfaatan lahan TWAT, menurut info Bung SAwung) adlah ponakannya
> Tuan Mentri Kehutanan, berarti telah tejadi NEPOTISME yang
> terang-terangan sehingga menjadi pertimbangan hakim TUN untuk
> memutuskan (kalau ga keburu masuk angin) untuk membatalkan SK tsb.
> Menghadap ke menir menteri mungkin udah ga ada gunanya. SAya ga yakin
> dia bakalan kepilih lagi tuh jadi menhut, jadi percuma aja.
>
> sElamat berjuang
> FDG

Kirim email ke