Sekadar ber-opini
Tugas belajar bukanlah HAK PEGAWAI. Melainkan Penugasan dari Kantor.
Namanya saja jelas : Tugas Belajar.
Jadi kita di kasih tugas sama kantor buwat belajar...

Jadi, misalnya sewaktu-waktu tidak diijinkan kantor... ya itu nasib.
Resiko...
Bukan bermaksud tidak berempati dengan rekan2 yang tidak lulus...
Tetapi, tindakan reaktif, lebih sering berakibat semakin tidak menyenangkan.

Hanya meluruskan ketika banyak yang bilang bahwa pendidikan adalah hak.
Dan itu benar, sudah ada di UUD.

Namun kondisinya adalah berbeda dengan Tugas Belajar.
Tugas Belajar adalah kewajiban, bukan hak.
Karena itu butuh izin dari pimpinan. 
Karena harus meninggalkan jam dinas.
Padahal, posisi kita di kampus (entah di dalam maupun luar negeri)
Dimana status GAJI masih dibayar... (saya tidak bicara tunjangan de-el-el)

Yang ingin saya komentari :

>> 1. Latar belakang pendidikan saya adalah Program Diploma III
Perbendaharaan Negara STAN, jadi saya lebih memilih melanjutkan pendidikan
saya melalui Program Diploma IV Akuntansi STAN;


well, saya juga lulusan D3, tapi yang sering saya dengungkan adalah, di STAN
mutu pendidikan sangat 'menyedihkan'.
Kualitas input tidak dibarengi dengan proses yang bagus... untungnya, yang
keluar bukan proses :
Garbage In -> Garbage Process -> Garbage beneran
Melainkan :
Kualiti di input -> Garbage di Proses -> Kualiti yang menurun dikit.


>> 2. Lulusan Diploma IV STAN tidak harus mengikuti Ujian Penyesuaian
Kenaikan Pangkat (UPKP) untuk naik ke golongan III/a, sehingga hal ini akan
mempermudah dalam hal karier saya;

Semua yang namanya Tugas Belajar di PTK itu kan memang ndak pake UPKP.
Udah jelas di aturan kok.
Karir itu tidak hanya UPKP kok.
Kenapa tidak berminat dengan Jabatan Fungsional ? 
yang jelas-jelas bisa naik pangkat 1 tahun sekali dan naik golongan 2 tahun
sekali ?



>> 3. Diploma IV Akuntansi STAN memiliki prestise lebih tinggi
dibandingkan lulusan S1 universitas-universitas lain di Indonesia.

Setahu saya STAN ndak masuk daftar 500 UNIVERSITAS TOP DI DUNIA.
UGM masuk, jadi mana nih yang lebih TOP ?


>> 2. Di Sibolga tidak terdapat Universitas yang memadai dan terkareditasi
dengan baik, bahkan sepengetahuan saya di lingkup sibolga yang telah saya
telusuri, saya tidak menemukan satu pun universitas berdiri di Sibolga.
universitas yang ada di wilayah Tapanuli [Sibolga berada di Tapanuli Tengah]
adalah di Kabupaten Tapanuli Utara.

Kenapa ndak daftar di UT ? saya mahasiswa UT... disitu berkualias, baik
modul dan nilai.
Walau banyak yang bilang IPK Nasakom, tapi menurut anda : yang penting
kualitas atau nilai ?
Di Kepegawaian Pusat sini ada mahasiswa UT yang sudah lulus dengan IPK 3,6.
Walau IPK saya di UT baru menyentuh 2 koma, Bisa anda buktikan dan tiru
rekan saya itu ? 



>> 3. Kesempatan yang saya peroleh dengan tidak cara *instant* ini belum
tentu akan datang dua kali atau belum tentu akan ada kesempatan senada dalam
waktu dekat. Sehingga saya memandang hal ini sebagai *one-lifetime
opportunity* [kesempatan sekali seumur hidup] sehingga saya tidak akan
melepaskannya begitu saja tanpa perjuangan yang maksimal;

Kesempatan itu tidak ada yang instan, tapi siapa bilang kesempatan tidak
datang dua kali ?
Jika memang kesempatan hanya datang 1 kali seumur hidup, berarti roda
kehidupan itu tidak pernah berputar.
Nyatanya, kadang orang dibawah, kadang diatas.
Yang beda itu bentuk kesempatannya saja.


So bagaimana ?






- Sent from my JamurBerry(r) non-wireless device

jamur_kuping
h4nafi [at] depkeu.go.id
ym : h4nafi
----
This e-mail may contain trade secrets or privileged, undisclosed, or
otherwise confidential information. If you have received this e-mail in
error, you are hereby notified that any review, copying, or distribution of
it is strictly prohibited. Please inform us immediately and destroy the
original transmittal. Thank you for your cooperation.
 

Kirim email ke