mmmm githu ya...ya udah gak usah dibaca..aku kan cuman ngeluarkan
pendapatku..ngomong.ngomong kamu sapa sih..mutu or gak mutu terserah
anda..kalo gak cocok ya gak usah dibaca..githu aja kok repot....apanya yang
sinis????menurut pendapatku setiap pegawai di ditjen ini pernah mengalami
hal serupa walau kadar berbeda..gak usah lah terlalu dibesar-besarin..tahu
irwan marthiosep gak..aku tahu dia angkatan prodip 2004 udah 2 tahun ini
berturut-turut lulus d4 dia sekarang di nias..thn kmarin gak diberangkatakan
karena gak lulus tes intern..tahun ini ada surat sakti itu..tapi biasa aja
tuh..malah ada tmn sekantorku juga keterima d4 tahun ini..santai tuh..wait &
see dulu..ingat nur yang namanya tugas itu ada yang memberi tugas..begitu
juga dengan tugas belajar..apa sih yang dianggap adil??adil kalau sesuai
keinginan kita??/gak githu kali...

cita-cita dan ambisi beda lah..kalo ambisi tuh terlalu berlebihan dalam
mengusahakannya...padahal blm pasti..ambisi biasanya mengahalalkan segala
cara..cita-cita step by step dilalui..tapi seiring perjalanana kita sadar
apa yang bisa tergapai dan apa yang tidak..

aku tanya kalau kau jadi pimpinan kau pilih anak buah yang mau diajak
kerjasama atau yang membangkang? makanya pinter blm tentu sukses ditempat
kerja..tapi bisa kerja dan bisa dalam tim itu yang dibutuhin (kayaknya ini
prinsip dasar dalam pemilihan pegawai KPPN P)..

jadi Nur santai aja kali..gak usah emosi githu lah..aku gak sinisin QQ..aku
hanya mencoba bertukar pikiran dalam sudut pandang yang berbeda aja...

so aku tetep sampaikan selamat berjuang tapi ingat bung anda dalam lingkup
yang namanya organisasi ada mekanisme..bukan di hutan yang semau Gw...

makanya aku tanya jika ada case kayak gini adil menurut pandangan siapa
dulu...jadi aku punya cerita..aku punya kakan kelas..dia dulu di kpkn
pare-pare..sama juga persis telah lulus d4 tapi gak boleh berangkat..tahu
nggak langkah yang diambil..dia ke kepala kantor ceritain kesulitannya
(sharing githu )..lalu ke kepala kanwil nya dengan alasan yang kuat..argumen
tepat dan kekeluargaan dia bisa berangkat tuh..jadi daripada pakai langkah
emosionil..pakai kepala dingin dulu..kulo nuwun ke kepala kantor pak bu
gmana ini?bisa carikan saya jalan keluar..lalu ke kanwil pak/bu
bagaimana??pakai argumen yang tepat,dewasa gan jantan..kalo gagal memang
bukan rejeki kita..jadi buat apa langkah emosi..

OH YA NUR BERSEDIA NGORBANIN KARIR DEMI IIDEALISME?IDEALISME YANG  GMANA?


TERBUKTI KAN JIKA EMOSI MENGALAHKAN LOGIKA.....

On 9/29/07, nurlaela2004 <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   --- In [email protected] <forum-prima%40yahoogroups.com>,
> "Nanang Arifin" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> Nang, napa kamu kayanya sinis banget sama qq. Sering saya baca
> postingmu, tapi yang satu ini yang paling ga mutu. Sekarang saya minta
> tolong dech sama kamu, apa bedanya cita-cita dan ambisius, sehingga
> bisa ditarik kesimpulan apakah qq itu seorang yang bercita-cita kuat
> ato seorang yang ambisius?
> Satu lagi, jangan menggurui orang dalam mencapai sesuatu yang
> diinginkan. Tujuan boleh sama tapi cara bisa berbeda. Kalo cara kamu
> menggapai apa yang kamu inginkan dengan cara manut, patuh dan nurut
> sama atasanmu itu adalah hak kamu. Tapi orang lain mencapai itu dengan
> cara mengembangkan idealisme itu juga hak. Bp. Mari'e Muhammad adalah
> salah satu sosok personal yang dalam mencapai karirnya tidak seperti
> yang kamu gambarkan itu. Juga tidak sedikit orang yang rela
> mengorbankan karier demi idealisme.
> Demikian. Salam.
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke