Muhammad saw: the Real Transformational Leader Suatu kali terbersit dalam benakku akan ke-naif-an para scholars dan expert di bidang organisational studies yang menutup mata atas prestasi sosok manusia luar biasa yang bernama Muhammad saw. Sedikit kalau tidak mau dibilang tidak ada di antara mereka yang mau mengkaji kesukesan sang Nabi dalam melakukan perubahan organisasi dunia. Kalau dibilang bahwa beliau adalah bukan manusia biasa aku setuju, tapi substansi tindak-tanduk kemanusiaannya masih dalam batas-batas kesanggupan manusia biasa, karena beliau tidak pernah menunjukkan `keluarbiasaaan' dirinya, sekali pun dalam peribadatan. Inilah indikasi bahwa beliau ingin status `keluarbiasaan'-nya dianggap 'biasa' sehingga orang-orang disekitarnya merasa bahwa mereka pun dapat melakukan apa-apa yang dikerjakannya. Lihatlah cara beliau mengingatkan beberapa orang sahabatnya yang lupa pada `kemanusian' mereka, yang ingin beribadah-terus-terusan tanpa henti laksana malaikat. Sabdanya "aku berpuasa, tapi aku juga berbuka. Aku salat malam tapi aku juga menyisakan waktu untuk tidur. Dan aku juga menikah."
Dalam kaitannya dengan sukses beliau dalam mentransformasi masyarakat dalam waktu yang sangat singkat, prinsip `double loop learning' adalah ujung tombak dalam melakukan perubahan. Sekedar ingin menyamakan bingkai berfikir, double loop learning adalah perubahan yang dilakukan untuk mendorong proses pembelajaran berkelanjutan sehingga ketiadaan figur sentral di di antara anggota kelompoknya tidak menghentikan proses perubahan itu sendiri. Perubahan tetap berlangsung, transformasi terus menggelinding seperti bola salju yang semakin lama semakin besar, menunjukkan berlipatnya hasil perubahan. Double loop learning yang didorong Muhammad saw adalah sejalan dengan konsep `sharing vision' seperti yang dipostulasi para pakar perubahan organisasi termasuk Peter Senge dalam teori 'learning organization'-nya. Menurutnya Senge, seorang pemimpin harus mampu membagi dan meyebarkan visinya atas perubahan kepada bawahan yang menjadi obyek dan subyek dalam perubahan sehingga para bawahannya mampu menanamkan visi itu dalam dirinya sampai pada suatu kondisi dimana mereka mengklaim visi itu sebagai bagian dari visi dirinya (juga). Sharing vision yang dilakukan Rosululloh saw adalah melalui `dakwah' dan `taushiyah'. Secara substansi, kedua istilah tersebut adalah proses menularkan ide tentang sebuah keyakinan yang dipegang teguh oleh penyampainya kepada objek dakwah dan taushiyah tersebut, tidak perduli yang didakwahkan dan di-taushiyah-kan itu kebaikan atau keburukan. Sharing vision tidak berhenti pada penyampaian visi kepada objek penebaran visi, tapi juga men-generate perubahan status `objek perubahan' menjadi `subyek perubahan'. Inilah perbedaan yang mendasar antara double loop dengan single loop learning. Keberhahsilan tahap awal dari double loop learning diukur pada sejauh mana objek perubahan merasa memiliki keyakinan bahwa visi tersebut adalah visi dirinya juga terhadap perubahan. Kondisi yang baru disebutkan akan mendorong keberhasilan lebih jauh sehingga orang-orang yang sudah tertulari visi yang sama dengan penebar visi pertama menjadi penerus estafet penebaran visi perubahan pada tahap selanjunya. Bila dilihat figur-figur yang dihasilkan proses sharing vision, kurang-lebih demikian yang dilakukan Nabi saw dalam proses societal change. Beliau mentransformasi objek perubahan menjadi subyek perubahan yang turut serta aktif menebarkan visi sehingga prinsip `amar ma'ruf nahi munkar' tetap disyiarkan para sahabatnya sekembali Muhammad saw ke haribaan Ilahi. Jadilah para successor setelahnya sebagai penebar visi dalam proses double loop learning tahap selanjutnya, dan jadilah kesuksesan itu menyebar ke seluruh sudut dunia. Wallohu a'lam
