Teman-teman miliser yang budiman,
Tulisan saya berikut ini hanya merupakan tambahan dari liputan berita tentang
Seminar Cash Management yang sebelumnya telah disampaikan oleh Pak Subasita.
Pada hari Rabu tanggal 19 Maret 2008 lalu, di Gedung Priyadi Kantor Pusat
Ditjen PBN telah diselenggarakan Seminar tentang Cash Management. Seminar yang
menampilkan tiga presenter (Mr. Ian Lienert, Mr. Piyush Desai dan Pak Tata
Suntara) tersebut dimoderatori oleh Pak Hekinus Manao dan dihadiri, antara
lain, oleh para pejabat eselon I Depkeu, para Direksi Perbankan, beberapa
Kakanwil Ditjen PBN, dan para pejabat eselon III Ditjen PBN di Jakarta dan
sekitarnya.
Selaku Keynote Speaker, Bu Menteri berpesan agar Pak Tata dan para Stafnya
segera melakukan perubahan (Reform) dalam mengelola kas negara. Keberhasilan
Pak Tata dan para Stafnya dalam melaksanakan Reform in Cash Management akan
menjadi tolok ukur sejauhmana keberhasilan DJPB dalam melaksanakan fungsi
Treasurynya. Kepada para peserta seminar, Bu Menteri berpesan agar
memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan berdiskusi dengan Mr Ian Lienert dan
Mr Piyush Desai, serta mempelajari pengalaman-pengalaman dari sejumlah negara
maju (OECD Countries), dalam upaya mencari pola pengelolaan kas yang tepat bagi
negara kita.
Mr Ian Lienert menyoroti Cash Management dari sisi International Good Practices
yang diadopsi oleh beberapa OECD Countries (USA, France, UK, Sweden dan New
Zealand) dalam merancang dan mengatur strategi pelaksanaan TSAnya. Menurut
Ian, (Government-)Cash Management diperlukan karena (1) untuk menjamin
kebutuhan kas dalam rangka memenuhi komitmen pemerintah, dan (2) uang
pemerintah mempunyai nilai yang besarnya tergantung pada pemanfaatannya dari
waktu ke waktu. Dalam pengertian tersebut, pemanfaatan idle cash tidak boleh
mengurbankan kebutuhan penyediaan kas untuk memenuhi komitmen-komitmen yang
telah dibuat oleh pemerintah.
Mr Piyush Desai menggarisbawahi pentingnya (1) kegiatan-kegiatan dan SDM yang
dibutuhkan untuk keperluan short-term cash planning, dan (2) penempatan idle
cach balances di BI, Bank-bank komersial dan Other Financial Markets
(SUN/SPN). Ia juga menekankan pentingnya kerjasama antara MOF dan BI dan
juga to minimize idle cash balances and generate interest revenue for the
government budget. Hal lain yang menarik adalah usulan Mr Piyush tentang
perlunya dibentuk Directorate Financial Markets Operations (pada tanggal
25/03/2008 kemarin Pak Subasita telah menyampaikan informasi tentang Dit FMO
secara lebih lengkap).
Semangat Mr Piyush dalam mempromosikan pemanfaatan Idle Cash tersebut
mengingatkan saya pada semangat Sutan Takdir Alisjahbana dalam mempromosikan
Westernisasi di Indonesia(?) ketika ia terlibat dalam suatu Polemik
Kebudayaan pada tahun 1930-an.
Dalam presentasinya Pak Tata Suntara mengemukakan bahwa Current Reforms yang
dilaksanakan oleh Dit PKN dalam rangka Cash Management adalah terkait dengan
pelaksanaan (1) TSA, (2) Cash Forecasting, (3) Cash Placement.Investment, dan
(4) BIG-eB (sistem atau sarana elektronik yang disediakan BI untuk Depkeu untuk
memonitor saldo, memonitor mutasi rekening, mencetak laporan, mengunduh data
rekening, melakukan tata usaha pengguna, dan melakukan transaksi secara
elektronik dan online).
Menurut Pak Tata, beberapa tantangan utama yang dihadapi oleh Dit PKN dalam
rangka melaksanakan Cash Management Reforms adalah terkait dengan (1) Human
Resources, (2) IT Resources, (3) koordinasi dengan BI, dan (4) perubahan mind
set. Selain itu, Pak Tata juga mengakui bahwa selama ini Dit PKN memang
lebih disibukkan pada kegiatan-kegiatan yang terkait dengan penyusunan laporan
realisasi (anggaran) penerimaan dan pengeluaran(?).
Saya kira Bu Menteri benar ketika mengatakan bahwa Dit PKN harus segera
berubah. Tetapi kalau Dit PKN harus berubah sesuai dengan mimpi Bu Menteri
maka sebagai konsekuensinya, menurut saya, Ditjen PBN juga harus berubah.
Pembagian tupoksi antar unit-unit di lingkungan Ditjen PBN, menurut saya, perlu
ditinjau/dipertegas kembali.
Seiring dengan pelaksanaan perubahan (reform) tersebut, kualitas SDM kita juga
perlu ditingkatkan. Kalaupun para Praktisi Kita ternyata memang benar-benar
lebih pintar dari Dosen dan Profesor Kita di Perguruan Tinggi, menurut saya,
kita (Ditjen PBN) bisa belajar dari negara-negara lain yang lebih maju tentang
bagaimana mereka mengelola (merancang, melaksanakan dan mengembangkan)
Treasury. Tetapi kita tidak bisa sekadar meniru dari negara maju apabila
tujuan kita adalah untuk menang dalam suatu persaingan. Saya kira, untuk
menang dalam persaingan, kita membutuhkan injeksi suplemen Inovasi dan
Creativity dalam dosis yang cukup tinggi.
Akhirnya, saya ingin mengutip kalimat seseorang dalam email pribadinya yang
disampaikan kepada saya beberapa waktu lalu, yang saya kira sejalan dengan
mimpi Bu Menteri, bahwa It is time for Dit PKN (DJPB) to Change.
Semoga informasi tersebut di atas bermanfaat bagi pembaca.
Salam,
budisan
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]
------------------------------------
Hentikan korupsi dana APBN dengan alasan apa pun.
Hentikan sekarang juga.Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/forum-prima/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/