Karena itu bisa disimpulkan bahwa Jokowi apalagi si Kalajengking kedua-duanya ideologis pengikut Suharto. Ada yang tidak setuju? Hehehe.
Am Sun, 2 Oct 2016 17:59:14 +0200 schrieb "roeslan [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>: > Kutipan : Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. > Di satu sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan > Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi > lain, Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap > tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila (kutipan selesai)- > warna kuning dari saya. > > > > REFLEKSI : Kutipan diatas saya tanggapi sebagai pengkhianatan rezim > diktator militer fasis (orde baru) pimpinan jendral militer fasis > (TNI AD) Soeharto terhadap Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung karno. > Ironinya rezim neoliberal Jokowi-JK di era reformasi ini, tetap setia > sepenuh hatinya terhadap rezim diktator militer fasis pimpinan > jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto. Kesetiaan rezim neoliberal > Jokowi-JK terghadap orde baru ini tercermin dalam Upacara sumpah > setia didepan patung kesaktian pancasila ciptaan rezim militer fasis > Soeharto pada tanggal 1 Oktober 2016. > > > > Kesaktian Pancasila saya tanggapi sebagai dasar ideologi, yang > digunakan oleh TNI AD dibawah pimpinann jendral militer fasis (TNI > AD) Soeharto, untuk menghalalkan pembantaian massal 3 juta Rakyat > Indonesia yang tak bersalah (genosida), pemenjaraan, penyiksaan dan > pembuangan ke Pulau Buru terhadap ratusan ribu Rakyat yang tak > bersalah, yang setia membela Ideologi negara yaitu Pancasila 1 Juni > 1945; kecualai itu kesaktian Pancasila rekayasa politik Soeharto juga > untuk menghalalkan pembunuhan biadap, yaitu pembunuhan pelan-pelan > terhadap Presiden Soekarno pencipta Pancasila 1 Juni 1945 sebagai > ideologi NKRI, proklamtor kemerdekaan Republik Indonesia dan > presiden pertama NKRI. > > > > Dan selanjutnya dengan kesaktian Pancasila 1 Juni 1970 sebagai dasar > ideologinya, Soeharto memproklamirkan dirinya sendir sebagai presiden > di NKRI. Demikian secara singkat proses kupdeta merangkak klik > militer fasis (TNI AD) pimpinan Jendral Soeharto; yang hingga saat > ini di tetap junjung tinggi oleh rezim neoliberal Jokowi-JK. > > > > Roeslan. > > > > > > > > > > > > > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila” > > > share on: > <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F> > Facebook > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online> > Twitter > <http://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F> > Google + > > Monumen Pancasila Sakti > > Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. Di satu > sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan Hari > Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi lain, > Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap tanggal 1 > Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila. > > Siapapun tak bisa menyangkal, Pancasila lahir dari pidato Bung Karno > tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan > Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI). Dan, tidak bisa > disangkal pula, bahwa penggali Pancasila adalah Bung Karno. > > Sayang, sejak Orde Baru berkuasa, proses pemalsuan sejarah intensif > dilakukan. Termasuk terkait sejarah Pancasila. Sejak tahun 1971, Orde > baru melalui ideolognya, Nugroho Notosusanto, mulai menyusun versi > manipulatif terkait sejarah Pancasila. Hasilnya gampang ditebak: > peranan Bung Karno dihilangkan dan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya > Pancasila dikaburkan. > > Sebaliknya, Orde Baru kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari > Kesaktian Pancasila. Ini diputuskan sendiri oleh Soeharto melalui > Surat Keputusan Presiden No. 153/1967. Alhasil, selama 32 tahun > kekuasaan orde baru, hari kelahiran Pancasila tidak pernah > diperingati, tetapi Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati. > > 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa > dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak > itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi > glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas > komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila. > > Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965 > mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat > Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan > Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru. > > Saya sendiri punya beberapa alasan mengapa peringatan 1 Oktober 1965 > itu harus digugat. Pertama, aksi politik yang dilakukan oleh Soeharto > dan sekelompok tentara pada 1 Oktober 1965 dan sesudahnya adalah aksi > kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan Bung Karno. > Saya kira, tidak etis bila bangsa ini terus merayakan sebuah > kejahatan demokrasi, yakni kudeta terhadap pemerintahan yang sah dan > didukung oleh rakyat, sebagai Hari Nasional: Kesaktian Pancasila. > > Kedua, 1 Oktober 1965 merupakan “titik balik” dari perjuangan bangsa > Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Kita tahu, hanya > beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden, PT. > Freeport mulai menjarah kekayaan alam di Papua. > > Lalu, setelah UU PMA tahun 1967 diteken, Soeharto mulai mengundang > korporasi asing untuk mengembang-biakkan keuntungannya di Indonesia, > dengan menjarah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan bangsa > Indonesia sebagai kuli murah di negeri sendiri. > > Praktis, sejak itulah cita-cita Revolusi Nasional Indonesia, yang > berkeinginan melikuidasi struktur ekonomi kolonial, telah berakhir di > tangan Soeharto dan begawan-begawan ekonominya yang disebut “Mafia > Barkeley”. Ironisnya, Soeharto menipu rakyat dengan menyebut sistem > ekonomi kapitalistiknya sebagai “ekonomi Pancasila”. > > Tidak masuk akal, sistem ekonomi yang begitu tuntuk kepada kapital > asing, yang hanya memperkaya segelintir kapitalis, yang mengesahkan > pencolengan uang negara, yang mewarisi kita hutan luar negeri ribuan > Triliun, justru disebut “ekonomi Pancasila”. > > Ketiga, sejak 1 Oktober 1965, dalam rangka menumpas pendukung Bung > Karno dan membangun kekuasaannya, orde baru melakukan pembantaian > terhadap jutaan orang. Dari dokumen sejarah yang kita dapatkan hari > ini, banyak diantara mereka yang dibantai itu—petani, buruh, > mahasiswa kiri, perempuan, seniman progressif, dan intelektual—adalah > pendukung loyal politik Bung Karno. > > Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Konon, kejahatan kemanusiaan rezim > Orde Baru merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah > Holocaus Nazi/Hitler. Saya kira, sebagai negara yang berdasarkan > Pancasila, yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak pantas > memperingati hari dimulainya Genosida (1 Oktober 1965) itu sebagai > hari kemenangan nasional. > > Keempat, 1 Oktober 1965 menandai dimulainya gelombang budaya > anti-demokasi dan barbarian. Sejak itu, jutaan buku, terbitan, dan > bacaan-bacaan hasil karya manusia Indonesia dibakar. Kebudayaan > rakyat yang progressif dan demokratis, karena dianggap budaya PKI, > kemudian dimusnahkan dan dilarang. > > Begitu Orde Baru berkuasa, kritik dan kebebasan berpendapat dilarang. > Para seniman tidak bebas berekspresi. Lantas, tidak sedikit media > massa, terutama koran, yang dibredel. Di era Orde Baru, membakar buku > adalah hal yang lazim. Padahal, kata Heinrich Heine, penyair Jerman > yang terkenal itu: “where books are burned, human beings are destined > to be burned too…” > > Kelima, aksi kontra-revolusi Soeharto dan kelompoknya, bagi saya, > menyisakan beban sejarah dan kerugian yang sangat besar bagi bangsa > Indonesia hingga sekarang. > > Praktek pemberangusan ideologi di era Orde Baru, terutama ideologi > kiri, menyebabkan bangsa kita mengalami kemandekan, miskin imajinasi, > tidak kritis, dan kurang kreatif. Hingga sekarang, banyak generasi > Indonesia, terutama yang dilahir di era Orba hingga sekarang, masih > gelap ketika melihat sejarah negerinya. > > Sebagian kontrak karya pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia, > seperti dengan Freeport, adalah hasil kongkalikong Soeharto dan modal > asing. Utang luar negeri yang terus membebani APBN kita hingga > sekarang juga sebagian besar adalah warisan rezim orde baru. > > Sekarang ini, 68 tahun usia Pancasila dan menjelang 68 tahun usia > Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, saatnya kita menyambungkan > kembali benang sejarah bangsa yang pernah diputus oleh Orde Baru. > Mari menghidupkan kembali roh Pancasila yang sangat anti-kolonialisme > dan anti-imperialisme untuk kembali membebaskan negeri ini dari > penjajahan baru: neo-kolonialisme. > > Mahesa Danu > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > > Von: [email protected] [mailto:[email protected]] > Gesendet: Sonntag, 2. Oktober 2016 15:07 > An: GELORA_In; kh djie > Cc: [email protected] > Betreff: Re: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila” > > > > > > APA YANG SAKTI DIDUNIA INI ......? Jendral Bintang Lima dan Bintang > TUJUH pun akhirnya toh masuk Liang Kubur .....Lalu dimana > Kesaktiannya ..... ? > > > > 2016-10-02 14:19 GMT+02:00 kh djie [email protected] [GELORA45] > <[email protected]>: > > > > Hari Kesaktian atau hari kesakitan....... ??? > > > > 2016-10-02 14:03 GMT+02:00 '[email protected]' > [email protected] [GELORA45] <[email protected]>: > > > > > > > > > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila” > > > > > " ... 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa > dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak > itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi > glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas > komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila. > > Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965 > mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat > Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan > Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru. ... " > > > > Selengkapnya: > > http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork> > &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork > > > > > > A.H. > > > > > > > > >
