Saya tidak setuju.

Memangnya bung Karno juga seideologi dengan Suharto karena bung karno tidak 
bisa apa2 juga dalam pembunuhan 1965?

Begitu juga Gus Dur!

 

Bung terlalu mengkerdilkan Jokowi dalam hal. Bung tidak tahu siapa dia termasuk 
idealisme dan ideology pribadinya!

Bung hanya ingin melihat hasil akhirnya tanpa mau melihat prosesnya!

 

Apakah bung juga melabel mereka2 yang menulis dimilis2 dan berkoar2 dipinggiran 
dalam menuntut pembongkaran atas pembunuhan massal 1965 sebagai seideologi 
dengan Suharto karena mereka2 ini tidak dan belum berhasil membuat NKRI meminta 
maaf atas peristiwa itu?

 

Bung kurang bijaksana ketika hanya melimpahkan dosa peristiwa 1965 ini kepundak 
Jokowi saja!

Ini yang biasanya digunakan oleh musuh2 politiknya Jokowi!

 

Nesare

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, October 2, 2016 12:31 PM
To: [email protected]; roeslan <[email protected]>; GELORA_In 
<[email protected]>; [email protected]
Subject: Re: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

 

  

Karena itu bisa disimpulkan bahwa Jokowi apalagi si Kalajengking
kedua-duanya ideologis pengikut Suharto. Ada yang tidak setuju? Hehehe.

Am Sun, 2 Oct 2016 17:59:14 +0200
schrieb "roeslan [email protected] <mailto:[email protected]>  
[GELORA45]"
<[email protected] <mailto:[email protected]> >:

> Kutipan : Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila.
> Di satu sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan
> Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi
> lain, Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap
> tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila (kutipan selesai)-
> warna kuning dari saya.
> 
> 
> 
> REFLEKSI : Kutipan diatas saya tanggapi sebagai pengkhianatan rezim
> diktator militer fasis (orde baru) pimpinan jendral militer fasis
> (TNI AD) Soeharto terhadap Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung karno.
> Ironinya rezim neoliberal Jokowi-JK di era reformasi ini, tetap setia
> sepenuh hatinya terhadap rezim diktator militer fasis pimpinan
> jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto. Kesetiaan rezim neoliberal
> Jokowi-JK terghadap orde baru ini tercermin dalam Upacara sumpah
> setia didepan patung kesaktian pancasila ciptaan rezim militer fasis
> Soeharto pada tanggal 1 Oktober 2016. 
> 
> 
> 
> Kesaktian Pancasila saya tanggapi sebagai dasar ideologi, yang
> digunakan oleh TNI AD dibawah pimpinann jendral militer fasis (TNI
> AD) Soeharto, untuk menghalalkan pembantaian massal 3 juta Rakyat
> Indonesia yang tak bersalah (genosida), pemenjaraan, penyiksaan dan
> pembuangan ke Pulau Buru terhadap ratusan ribu Rakyat yang tak
> bersalah, yang setia membela Ideologi negara yaitu Pancasila 1 Juni
> 1945; kecualai itu kesaktian Pancasila rekayasa politik Soeharto juga
> untuk menghalalkan pembunuhan biadap, yaitu pembunuhan pelan-pelan
> terhadap Presiden Soekarno pencipta Pancasila 1 Juni 1945 sebagai
> ideologi NKRI, proklamtor kemerdekaan Republik Indonesia dan
> presiden pertama NKRI. 
> 
> 
> 
> Dan selanjutnya dengan kesaktian Pancasila 1 Juni 1970 sebagai dasar
> ideologinya, Soeharto memproklamirkan dirinya sendir sebagai presiden
> di NKRI. Demikian secara singkat proses kupdeta merangkak klik
> militer fasis (TNI AD) pimpinan Jendral Soeharto; yang hingga saat
> ini di tetap junjung tinggi oleh rezim neoliberal Jokowi-JK.
> 
> 
> 
> Roeslan.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> 
> 
> share on:
> <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F>
> Facebook
> <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D
>  
> <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
>  
> &url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
> Twitter
> <http://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F>
> Google +
> 
> Monumen Pancasila Sakti
> 
> Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. Di satu
> sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan Hari
> Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi lain,
> Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap tanggal 1
> Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
> 
> Siapapun tak bisa menyangkal, Pancasila lahir dari pidato Bung Karno
> tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai (Badan
> Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI). Dan, tidak bisa
> disangkal pula, bahwa penggali Pancasila adalah Bung Karno.
> 
> Sayang, sejak Orde Baru berkuasa, proses pemalsuan sejarah intensif
> dilakukan. Termasuk terkait sejarah Pancasila. Sejak tahun 1971, Orde
> baru melalui ideolognya, Nugroho Notosusanto, mulai menyusun versi
> manipulatif terkait sejarah Pancasila. Hasilnya gampang ditebak:
> peranan Bung Karno dihilangkan dan 1 Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya
> Pancasila dikaburkan.
> 
> Sebaliknya, Orde Baru kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari
> Kesaktian Pancasila. Ini diputuskan sendiri oleh Soeharto melalui
> Surat Keputusan Presiden No. 153/1967. Alhasil, selama 32 tahun
> kekuasaan orde baru, hari kelahiran Pancasila tidak pernah
> diperingati, tetapi Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati.
> 
> 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa
> dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak
> itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi
> glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas
> komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila.
> 
> Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965
> mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat
> Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan
> Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru.
> 
> Saya sendiri punya beberapa alasan mengapa peringatan 1 Oktober 1965
> itu harus digugat. Pertama, aksi politik yang dilakukan oleh Soeharto
> dan sekelompok tentara pada 1 Oktober 1965 dan sesudahnya adalah aksi
> kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yakni pemerintahan Bung Karno.
> Saya kira, tidak etis bila bangsa ini terus merayakan sebuah
> kejahatan demokrasi, yakni kudeta terhadap pemerintahan yang sah dan
> didukung oleh rakyat, sebagai Hari Nasional: Kesaktian Pancasila.
> 
> Kedua, 1 Oktober 1965 merupakan “titik balik” dari perjuangan bangsa
> Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Kita tahu, hanya
> beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai Presiden, PT.
> Freeport mulai menjarah kekayaan alam di Papua.
> 
> Lalu, setelah UU PMA tahun 1967 diteken, Soeharto mulai mengundang
> korporasi asing untuk mengembang-biakkan keuntungannya di Indonesia,
> dengan menjarah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan bangsa
> Indonesia sebagai kuli murah di negeri sendiri.
> 
> Praktis, sejak itulah cita-cita Revolusi Nasional Indonesia, yang
> berkeinginan melikuidasi struktur ekonomi kolonial, telah berakhir di
> tangan Soeharto dan begawan-begawan ekonominya yang disebut “Mafia
> Barkeley”. Ironisnya, Soeharto menipu rakyat dengan menyebut sistem
> ekonomi kapitalistiknya sebagai “ekonomi Pancasila”.
> 
> Tidak masuk akal, sistem ekonomi yang begitu tuntuk kepada kapital
> asing, yang hanya memperkaya segelintir kapitalis, yang mengesahkan
> pencolengan uang negara, yang mewarisi kita hutan luar negeri ribuan
> Triliun, justru disebut “ekonomi Pancasila”.
> 
> Ketiga, sejak 1 Oktober 1965, dalam rangka menumpas pendukung Bung
> Karno dan membangun kekuasaannya, orde baru melakukan pembantaian
> terhadap jutaan orang. Dari dokumen sejarah yang kita dapatkan hari
> ini, banyak diantara mereka yang dibantai itu—petani, buruh,
> mahasiswa kiri, perempuan, seniman progressif, dan intelektual—adalah
> pendukung loyal politik Bung Karno.
> 
> Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Konon, kejahatan kemanusiaan rezim
> Orde Baru merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua setelah
> Holocaus Nazi/Hitler. Saya kira, sebagai negara yang berdasarkan
> Pancasila, yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak pantas
> memperingati hari dimulainya Genosida (1 Oktober 1965) itu sebagai
> hari kemenangan nasional.
> 
> Keempat, 1 Oktober 1965 menandai dimulainya gelombang budaya
> anti-demokasi dan barbarian. Sejak itu, jutaan buku, terbitan, dan
> bacaan-bacaan hasil karya manusia Indonesia dibakar. Kebudayaan
> rakyat yang progressif dan demokratis, karena dianggap budaya PKI,
> kemudian dimusnahkan dan dilarang.
> 
> Begitu Orde Baru berkuasa, kritik dan kebebasan berpendapat dilarang.
> Para seniman tidak bebas berekspresi. Lantas, tidak sedikit media
> massa, terutama koran, yang dibredel. Di era Orde Baru, membakar buku
> adalah hal yang lazim. Padahal, kata Heinrich Heine, penyair Jerman
> yang terkenal itu: “where books are burned, human beings are destined
> to be burned too…”
> 
> Kelima, aksi kontra-revolusi Soeharto dan kelompoknya, bagi saya,
> menyisakan beban sejarah dan kerugian yang sangat besar bagi bangsa
> Indonesia hingga sekarang.
> 
> Praktek pemberangusan ideologi di era Orde Baru, terutama ideologi
> kiri, menyebabkan bangsa kita mengalami kemandekan, miskin imajinasi,
> tidak kritis, dan kurang kreatif. Hingga sekarang, banyak generasi
> Indonesia, terutama yang dilahir di era Orba hingga sekarang, masih
> gelap ketika melihat sejarah negerinya.
> 
> Sebagian kontrak karya pertambangan yang merugikan bangsa Indonesia,
> seperti dengan Freeport, adalah hasil kongkalikong Soeharto dan modal
> asing. Utang luar negeri yang terus membebani APBN kita hingga
> sekarang juga sebagian besar adalah warisan rezim orde baru.
> 
> Sekarang ini, 68 tahun usia Pancasila dan menjelang 68 tahun usia
> Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, saatnya kita menyambungkan
> kembali benang sejarah bangsa yang pernah diputus oleh Orde Baru.
> Mari menghidupkan kembali roh Pancasila yang sangat anti-kolonialisme
> dan anti-imperialisme untuk kembali membebaskan negeri ini dari
> penjajahan baru: neo-kolonialisme.
> 
> Mahesa Danu
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Von: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> [mailto:[email protected]] 
> Gesendet: Sonntag, 2. Oktober 2016 15:07
> An: GELORA_In; kh djie
> Cc: [email protected] <mailto:[email protected]> 
> Betreff: Re: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> 
> 
> 
> 
> 
> APA YANG SAKTI DIDUNIA INI ......? Jendral Bintang Lima dan Bintang
> TUJUH pun akhirnya toh masuk Liang Kubur .....Lalu dimana
> Kesaktiannya ..... ? 
> 
> 
> 
> 2016-10-02 14:19 GMT+02:00 kh djie [email protected] <mailto:[email protected]> 
>  [GELORA45]
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >:
> 
> 
> 
> Hari Kesaktian atau hari kesakitan....... ???
> 
> 
> 
> 2016-10-02 14:03 GMT+02:00 '[email protected]'
> [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >:
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> 
> 
> 
> 
> " ... 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa
> dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno. Sejak
> itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila” menjadi
> glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya menumpas
> komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila.
> 
> Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa 1965
> mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai penyelamat
> Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk membersihkan
> Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru. ... "
> 
> 
> 
> Selengkapnya:
> 
> http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
> <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
>  
> <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
>  &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
> &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork
> 
> 
> 
> 
> 
> A.H.
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 



Kirim email ke