Roeslan:  Dalam tulisan bung , yang saya beri latar belakang warna kuning, 
terkesan kuat bahwa bung  secara sengaja hendak memanipulasi tulisan saya, 
dengan cara mengaburkan antara Pancsila 1 Juni 1945, dengan Kesaktian Pancasila 
ciptaan orde baru; Yang dua-duanya bung tanggapi sebagai Pancasila titik.

 

Nesare: saya mengerti opini bung yang setuju/pro Pancasila 1 juni dan saya juga 
mengerti opini bung yang tidak setuju dengan kesaktian pancasilanya orba . Dan 
saya sependapat dalam hal ini. Saya tanya bung sunny ttg Pancasila itu krn saya 
mengatakan saya tidak setuju ketika siapapun presiden Indonesia termasuk Jokowi 
dituduh sebagai satu ideology dengan soeharto karena merayakan kesaktian 
Pancasila. Bung sudah tahu belum lama ini juni 2016 jokowi sudah mengkepreskan 
1 juni sebagai hari lahir Pancasila? Saya yakin Jokowi mengikuti perayaan hari 
kesaktian Pancasila 1 oktober itu adalah taktis saja untuk mendekati militer. 
Bung ini apakah buta bahwa militer itu masih begitu berkuasanya?! Apakah bung 
juga tidak tahu Gus Dur jatuh itu salah satu penyebabnya adalah kekuatan 
militer ini?! bagaimana bisa Jokowi yang sudah menetapkan 1 juni sebagai hari 
libur nasional dikatakan seideologi dengan soeharto? Bung mengerti tidak 
konsekwensi kepres nya ttg 1 juni ini dimata militer?!

 

Roeslan: Tulisan bung yang saya beri latar belkang kuning itu bisa menyesatkan 
orang banyak, orang bisa mengagap bahwa roeslan tidak setuju Pancasila. 
Pancasila bagi saya hanyalah Pancasila 1 Juni 1945, ciptaan Bung Karno. Bukan 
Pancsila 1 juni titik; seperti yang bung sebar luaskan dimilis ini.

Nesare: kalau yang baca mau berpersepsi demikian, saya tidak bisa apa. Tetapi 
saya tidak mencoba menyesatkan orang lain berpikiran demikian. 

Sekali lagi 1 juni sudah ditetapkan Jokowi sbg hari libur nasional dan akan 
berlaku 2017 http://kalender.web.id/2017.html


1 Juni 2017

Kamis

Hari Lahir Pancasila

Hari Libur baru mulai 2017 sesuai keputusan presiden Jokowi

 

Roeslan: Tentang ideologi Neoliberalisme. Betul jika bung katakan bahwa saya 
menolak ideologi neoliberalisme, karena penurut ilmu pengetahuan empiris 
menunjukakn bahwa ideologi neoliberalisme bisa masuk ke NKRI dibawah pajung 
hukum yang berpedoman pada ideologi kesaktian pancasila, ciptaan diktator 
militer fasis (TNI AD) Soeharto. 

 

Jadi ada saling hubungan yang erat antara kesaktian pancasila ciptaan orde baru 
dengan  idiologi neoliberalisme. Artinya menolak ideologi kesaktian pancasila, 
berarti hasus menolak neoliberalsme; dan sebakiknya menerima kesaktian 
pancasila berarti menrima ideologi neoliberalisme. Demikianlah yang kita 
saksikan di negara ini.  Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa Jokowi setiap 
tahun selalu melakukan upacara memuja-muja kesaktian Pancasila, dibawah patung 
kesaktian Pancasila; yang di era  almarhum Gus Dur berkuasa sudah ditiadakan. 
Ini berarti bahwa Jokowi menerima secara legowo kesaktian pancasila, dalam 
praktek politik konkrit Jokowi telah menerima secara legowo ideologi 
neoliberalisme, oleh karana itulah dalam konteks ini saya menenilai bahwa rezim 
Jokowi adalah rezim Neoliberal. 

 

Jadi kesimpulannya saya menolak ideologi Kesaktian Pancasila ciptaan orde baru 
dan juga menolak ideologi Neoliberalisme,ciptaan kaum kapitalis neolibearal 
yang sudah menggelobal; yang dua-duanya telah di dukung secara legowo oleh 
Jokowi.

 

Nesare: setuju! saya dari dulu juga berpendapat begini. Begitu juga banyak 
orang mengerti masalah ini bahwa ada perbedaan Pancasila bung karno 1 juni 
(lahirnya pancasila) dan Orba 1 oktober (kesaktian Pancasila). Saya juga setuju 
kesaktian Pancasila adalah ciptaan orba. Saya juga setuju dengan orba menjual 
hasil kekayaan negara. Saya juga setuju pemerintahan Jokowi adalah kapitalisme 
dan neolib. Pertanyaan saya adalah siapa yang bisa merubah wajah kapitalisme 
dan neolib ini? jangankan di Indonesia, diseluruh dunia sekarang ini juga 
wajahnya adalah kapitalisme dan neolib! Apa yang ingin bung inginkan dari NKRI 
ini? NKRI seperti Tatiana, bung karno atau apa? Tatiana jelas sekali pandangan 
kirinya yang saya sangat hargai. Pandangan Tatiana tidak sama dengan bung 
karno. Bung karno tidak membenci kapitalisme. Bung karno bukan komunis. Apa 
pandangan bung? Ini konteks ideology yang saya bilang saya tidak setuju dan 
pertanyakan kepada bung sunny dan saya berani berargumen bahwa Jokowi tidak 
seideologi dengan soeharto baik dari segi Pancasila maupun kapitalisme dan 
neolib! Ini argument saya utk kapitalisme/neolib. Dipermukaan memang Jokowi dan 
soeharto menerapkan kapitalisme. Begitu juga bung karno dan seluruh dunia 
sekarang ini. tetapi ketika dipertanyakan kapitalisme seperti apa yang 
diterapkan oleh Jokowi dan soeharto, kita bisa menganalisa lebih jauh. Begitu 
juga di USA Obama itu sangat berbeda dengan presiden2 sebelumnya terutama dari 
sayap kanannya republican party. Jokowi sudah memulai dengan universal 
healthcare dan pension plan yang sangat kiri. Setengah mati dia menerapkan 
program ini yg sangat tidak popular krn perlu duit banyak. Sampai2 harus 
mengurangi subsidi BBM dan tax amnesty yg menjadi boomerang sampai sekarang. 
Banyak orang bermimpi ingin melaksanaka program2 kiri tetapi semuanya hanya 
mimpi. Ketika masuk ke praktisnya, lihat dibombardir, dikritik, dicerca dst.

 

Roeslan: Semua orang yang melek sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik 
Indonesia pasti tahu bahwa, ideologi Neoliberalisme itu ditolak oleh Proklamasi 
Kemerdekaan Republik Indonesia (17 Agustus 1945), yang lazim disebut NKRI 
sekarang ini. 

 

Nesare: kenapa? Saya tidak melihat founding fathers NKRI semuanya menolak 
kapitalisme. Bung Karno pun tidak! yang saya tahu bung Karno begitu juga para 
dedongkot komunisme seperti aidit dll itu anti imperialisme! Bukan anti 
kapitalisme! Apakah bung mengartikan neolib itu lain dari kapitalisme? Saya 
menggampangkan istilah ini saja bahwa neolib itu kepanjangan kapitalisme. Jadi 
saya samakan artinya secara umum.

 

Roeslan: Tentu saja pernyataan saya ini menyebabkan bung tersinggung dan marah, 
sehingga kehilangan akal sehat, lalu  menyebarkan berita fiitnah bahwa roeslan 
anti Pancasila. 

 

Nesare: saya kira concern bung ini sudah saya jawab seperti diatas dimana saya 
tidak pernah beranggapan bahwa bung anti Pancasila melainkan bung sangat 
percaya atas pancasilanya bung Karno 1 juni. Jadi bung tidak harus mengambil 
kesimpulan yang gegabah sebelum bertanya kesaya. Diskusi saya dengan bung sunny 
saja belum jalan, bagaimana bung bisa menuduh saya tersinggung dan marah bahkan 
menyebarkan fitnah.

 

Roeslan: Tapi apa boleh buat, karena sekarang ini sudah bukan zamannya Orede 
Baru, sekarang ini kita bangsa Indonesia sudah masuk dalam suatu zaman yang 
katanya adalah zaman REFORMASI, jadi seharusnya kita harus kembali pada 
Pancasila 1 Juni 1945, dan membuang jauh-jauh kesaktian Pancasila yang telah 
memakan korban 3 juta Rakyat yang tak bersalah.

 

Nesare: setuju! Seharusnya bangsa Indonesia harus kembali ke Pancasila 1 juni 
bukan 1 oktober yg digembar gemborkan oleh soeharto.

 

Roeslan: Satu pertanyaan,harus bung jawab.  Bung menulis, saya kutip : Ataukah 
bung ada ideology yang lain yg luput dari mata saya dalam membaca tulisan bung 
Roeslan? Tanggapan  saya, Kita ini mau bediskusi secara ilmiah atau debat 
kusir, kalau ilmiah bung harus berani secara terus terang menyatakan dugaan 
bung, tentang adanya idiologi lain yang saya sembunyikan, sehingga luput dari 
mata bung. Jika dalam konteks dikusi Pancasila 1 Juni 1945 ini, bung tidak bisa 
menemukan itu, berarti itu hanya khayalan dalam pikiran bung sendiri, atau 
hasil rekayasa pikiran bung, karena mungkin bung sudah meindap apa yang disebut 
Schizophrene Psychosen (paranoide Symptomatik). 

 

nesare: pertanyaan saya sederhana dalam kaitannya dengan yang ini. bung tidak 
mengerti pertanyaan saya itu. Maksud saya apakah bung sunny ada ideology yang 
lain yg dimaksudnya selain 2 ideology yg telah saya tulis: Pancasila dan neolib 
dimana saya luput dalam mengartikan tulisan bung.

saya dari dulu selalu diskusi serius. Hanya 2 orang (ajeg dan jonathan) saja 
yang saya ikuti eyel2an karena mereka memang ngeyel. Ini hanya masalah approach 
saja. tetapi substansinya selalu saya jawab dengan serius.. Saya kira 
pertanyaan saya mudah. Lucunya koq bagaimana bisa bung artikan saya beranggapan 
bung mempunyai ideologi lain? Sedangkan sekali lagi pertanyaan saya ke bung 
sunny adalah apakah ada yg luput dari pemahaman saya atas tulisan bung. Saya 
tidak tahu apakah bung sunny ada persepsi lain ttg tulisan bung. Pertanyaan ini 
seharusnya bung tujukan kebung sunny bukan saya. Jadi bung tidak seharusnya 
melabel saya sebagai Schizophrene Psychosen, kalau bung belum mengerti maksud 
kalimat itu. Coba tanya baik2 sebelum melabel orang.

 

Kalau ada waktu akan saya tulis pendapat saya tentang Pancasila dari kacamata 
saya sendiri.

 

Salam

Nesare

 

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Monday, October 3, 2016 12:43 PM
To: [email protected]; [email protected]
Subject: AW: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

 

  

BLS . Roeslan : Harap dicermati bahwa diskusi ini dalam konteks Pancasila 1 
Juni 1945,yang secara tegas menolak Kesaktian Pancasila rekasaya politik orde 
baru. Atau secara singkat dapat dikatakan kita berdiskusi dalam kontes 
Pancasila 1 Juni 1945. Jadi yang harus kita diskusikan adalah masalah-masalah 
ideologi yang berkaitan dengan konteksnya, yaitu Pancasila 1 Juni 1945 dan 
Kesaktian Pancasila ciptaan orde baru

 

Nasere :  ada 2 klaim bung roeslan yg tidak disetujuinya. Pertama Pancasila 1 
juni. Kedua: ideology neolib.

Yang mana yang bung setujui: Jokowi seideologi dengan Suharto karena tidak 
menerima Pancasila 1 juni ataukah mereka sama2 berideologi neolib?

Ataukah bung ada ideology yang lain yg luput dari mata saya dalam membaca 
tulisan bung Roeslan? (kutipan selesai )

Nasere : ada 2 klaim bung roeslan yg tidak disetujuinya. Pertama Pancasila 1 
juni ; Kedua: ideology neolib

 

Roeslan:  Dalam tulisan bung , yang saya beri latar belakang warna kuning, 
terkesan kuat bahwa bung  secara sengaja hendak memanipulasi tulisan saya, 
dengan cara mengaburkan antara Pancsila 1 Juni 1945, dengan Kesaktian Pancasila 
ciptaan orde baru; Yang dua-duanya bung tanggapi sebagai Pancasila titik.

 

Tulisan bung yang saya beri latar belkang kuning itu bisa menyesatkan orang 
banyak, orang bisa mengagap bahwa roeslan tidak setuju Pancasila. Pancasila 
bagi saya hanyalah Pancasila 1 Juni 1945, ciptaan Bung Karno. Bukan Pancsila 1 
juni titik; seperti yang bung sebar luaskan dimilis ini.

 

Tentang ideologi Neoliberalisme.

 

Betul jika bung katakan bahwa saya menolak ideologi neoliberalisme, karena 
penurut ilmu pengetahuan empiris menunjukakn bahwa ideologi neoliberalisme bisa 
masuk ke NKRI dibawah pajung hukum yang berpedoman pada ideologi kesaktian 
pancasila, ciptaan diktator militer fasis (TNI AD) Soeharto. Jadi ada saling 
hubungan yang erat antara kesaktian pancasila ciptaan orde baru dengan  
idiologi neoliberalisme. Artinya menolak ideologi kesaktian pancasila, berarti 
hasus menolak neoliberalsme; dan sebakiknya menerima kesaktian pancasila 
berarti menrima ideologi neoliberalisme. Demikianlah yang kita saksikan di 
negara ini.  Pernyataan ini didukung oleh fakta bahwa Jokowi setiap tahun 
selalu melakukan upacara memuja-muja kesaktian Pancasila, dibawah patung 
kesaktian Pancasila; yang di era  almarhum Gus Dur berkuasa sudah ditiadakan. 
Ini berarti bahwa Jokowi menerima secara legowo kesaktian pancasila, dalam 
praktek politik konkrit Jokowi telah menerima secara legowo ideologi 
neoliberalisme, oleh karana itulah dalam konteks ini saya menenilai bahwa rezim 
Jokowi adalah rezim Neoliberal. Jadi kesimpulannya saya menolak ideologi 
Kesaktian Pancasila ciptaan orde baru dan juga menolak ideologi 
Neoliberalisme,ciptaan kaum kapitalis neolibearal yang sudah menggelobal; yang 
dua-duanya telah di dukung secara legowo oleh Jokowi.

 

Semua orang yang melek sejarah perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia pasti 
tahu bahwa, ideologi Neoliberalisme itu ditolak oleh Proklamasi Kemerdekaan 
Republik Indonesia (17 Agustus 1945), yang lazim disebut NKRI sekarang ini. 
Tapi belum semua elite politik yang berkuasa di negara ini  mau membuka matanya 
(melek) terhadap kenyataan  bahwa rezim Militer fasis pimpinan jendral TNI AD 
Soeharto- lah yang secara terang-terangan telah menerima dan memaksakan dengan 
kekerasan ideologi Neoliberalisme sebagai gantinya Pancasila 1 Juni 1945 di 
NKRI, sehingga dampaknya telah memakan korban 3 juta rakyat Indonesia yang tak 
bersalah kehilangan nyawanya atau mati.

 

Tentu saja pernyataan saya ini menyebabkan bung tersinggung dan marah, sehingga 
kehilangan akal sehat, lalu  menyebarkan berita fiitnah bahwa roeslan anti 
Pancasila. 

 

Tapi apa boleh buat, karena sekarang ini sudah bukan zamannya Orede Baru, 
sekarang ini kita bangsa Indonesia sudah masuk dalam suatu zaman yang katanya 
adalah zaman REFORMASI, jadi seharusnya kita harus kembali pada Pancasila 1 
Juni 1945, dan membuang jauh-jauh kesaktian Pancasila yang telah memakan korban 
3 juta Rakyat yang tak bersalah.

 

Satu pertanyaan,harus bung jawab.  Bung menulis, saya kutip : Ataukah bung ada 
ideology yang lain yg luput dari mata saya dalam membaca tulisan bung Roeslan?  
.  

 

Tanggapan  saya, Kita ini mau bediskusi secara ilmiah atau debat kusir, kalau 
ilmiah bung harus berani secara terus terang menyatakan dugaan bung, tentang 
adanya idiologi lain yang saya sembunyikan, sehingga luput dari mata bung. Jika 
dalam konteks dikusi Pancasila 1 Juni 1945 ini, bung tidak bisa menemukan itu, 
berarti itu hanya khayalan dalam pikiran bung sendiri, atau hasil rekayasa 
pikiran bung, karena mungkin bung sudah meindap apa yang disebut Schizophrene 
Psychosen (paranoide Symptomatik). 

 

Roeslan

 

 

Von: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Gesendet: Sonntag, 2. Oktober 2016 21:26
An: [email protected] <mailto:[email protected]> 
Betreff: RE: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

 

  

Roeslan: Kutipan diatas saya tanggapi sebagai pengkhianatan rezim diktator 
militer fasis (orde baru) pimpinan jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto 
terhadap Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan Bung karno. Ironinya rezim neoliberal 
Jokowi-JK di era reformasi ini, tetap setia sepenuh hatinya terhadap rezim 
diktator militer fasis  pimpinan jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto. 
Kesetiaan rezim neoliberal Jokowi-JK terghadap orde baru ini tercermin dalam 
Upacara sumpah setia didepan patung kesaktian pancasila ciptaan  rezim militer 
fasis Soeharto pada tanggal 1 Oktober 2016.  

 

Kesaktian Pancasila saya tanggapi sebagai dasar ideologi, yang digunakan oleh 
TNI AD dibawah pimpinann jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto, untuk 
menghalalkan pembantaian massal 3 juta Rakyat Indonesia yang tak bersalah 
(genosida), pemenjaraan, penyiksaan dan pembuangan ke Pulau Buru terhadap 
ratusan ribu Rakyat yang tak bersalah, yang setia membela Ideologi negara yaitu 
Pancasila 1 Juni 1945; kecualai itu kesaktian Pancasila rekayasa politik 
Soeharto juga untuk menghalalkan pembunuhan biadap, yaitu pembunuhan 
pelan-pelan terhadap Presiden Soekarno  pencipta Pancasila 1 Juni 1945 sebagai 
ideologi NKRI, proklamtor kemerdekaan Republik  Indonesia dan presiden pertama 
NKRI.  

 

Dan selanjutnya dengan kesaktian Pancasila 1 Juni 1970 sebagai dasar 
ideologinya, Soeharto memproklamirkan dirinya sendir sebagai presiden di NKRI. 
Demikian secara singkat proses kupdeta merangkak klik militer fasis (TNI AD) 
pimpinan Jendral Soeharto; yang hingga saat ini di tetap  junjung tinggi oleh 
rezim neoliberal Jokowi-JK.

 

Nesare: ada 2 klaim bung roeslan yg tidak disetujuinya. Pertama Pancasila 1 
juni. Kedua: ideology neolib.

Yang mana yang bung setujui: Jokowi seideologi dengan Suharto karena tidak 
menerima Pancasila 1 juni ataukah mereka sama2 berideologi neolib?

Ataukah bung ada ideology yang lain yg luput dari mata saya dalam membaca 
tulisan bung Roeslan?

 

Nesare

 

 

 

 

 

From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
[mailto:[email protected]] 
Sent: Sunday, October 2, 2016 2:37 PM
To: [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >
Subject: Re: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”

 

  

Label ideologi yang saya berikan pada dua orang itu seperti yang
dijelaskan oleh bung Roeslan.

Am Sun, 2 Oct 2016 14:18:59 -0400 schrieb
"[email protected] [GELORA45] <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " 
<[email protected] <mailto:[email protected]> >:

> Oh kalau begitu mestinya harus ditegaskan dulu label ideology apa
> yang bung coba sematkan kepada Jokowi yang sama dengan Suharto?
> 
> Coba diperjelas pendapat bung sebelum saya lanjutkan.
> 
> 
> 
> Nesare
> 
> 
> 
> From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> [mailto:[email protected]] 
> Sent: Sunday, October 2, 2016 2:12 PM
> To: [email protected] <mailto:[email protected]>  [GELORA45] 
> <[email protected] <mailto:[email protected]> >;
> GELORA_In <[email protected] <mailto:[email protected]> >; 
> [email protected] <mailto:[email protected]> 
> Subject: Re: [GELORA45] FW: Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> 
> 
> 
> 
> 
> Waktu Suharto menetapkan apa yang disebut kesaktian itu Bung Karno
> sudah jadi tawanan perang dalam negerinya rajaperang itu. Jadi
> raisopopo. Tapi secara pribadi Bung Karno masih tetap berideologi
> nasakom sampai meninggal. Dan tetap tidak setuju pembubaran PKI.
> Atau mungkin pengertian antar kita ttg apa itu ideologi tidak sama. Yo
> rapopo.
> 
> Am Sun, 2 Oct
> 2016 13:18:31 -0400 schrieb "[email protected] [GELORA45] 
> <mailto:[email protected]%20[GELORA45]%0b%3e%20%3cmailto:[email protected]%20[GELORA45]%3e%20>
>  
> <mailto:[email protected]%20[GELORA45]> " <[email protected] 
> <mailto:[email protected]%0b> 
> <mailto:[email protected]> >:
> 
> > Saya tidak setuju.
> > 
> > Memangnya bung Karno juga seideologi dengan Suharto karena bung
> > karno tidak bisa apa2 juga dalam pembunuhan 1965?
> > 
> > Begitu juga Gus Dur!
> > 
> > 
> > 
> > Bung terlalu mengkerdilkan Jokowi dalam hal. Bung tidak tahu siapa
> > dia termasuk idealisme dan ideology pribadinya!
> > 
> > Bung hanya ingin melihat hasil akhirnya tanpa mau melihat prosesnya!
> > 
> > 
> > 
> > Apakah bung juga melabel mereka2 yang menulis dimilis2 dan berkoar2
> > dipinggiran dalam menuntut pembongkaran atas pembunuhan massal 1965
> > sebagai seideologi dengan Suharto karena mereka2 ini tidak dan belum
> > berhasil membuat NKRI meminta maaf atas peristiwa itu?
> > 
> > 
> > 
> > Bung kurang bijaksana ketika hanya melimpahkan dosa peristiwa 1965
> > ini kepundak Jokowi saja!
> > 
> > Ini yang biasanya digunakan oleh musuh2 politiknya Jokowi!
> > 
> > 
> > 
> > Nesare
> > 
> > 
> > 
> > From: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > <mailto:[email protected]>
> > [mailto:[email protected]] Sent: Sunday, October 2, 2016
> > 12:31 PM To: [email protected] <mailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> ; roeslan
> > <[email protected]  
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> >;
> > GELORA_In <[email protected] <mailto:[email protected]%0b> 
> > <mailto:[email protected]> >; [email protected] 
> > <mailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> Subject: Re: [GELORA45] FW:
> > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > Karena itu bisa disimpulkan bahwa Jokowi apalagi si Kalajengking
> > kedua-duanya ideologis pengikut Suharto. Ada yang tidak setuju?
> > Hehehe.
> > 
> > Am Sun, 2 Oct 2016 17:59:14 +0200
> > schrieb "roeslan [email protected] <mailto:[email protected]> 
> > <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]>
> > [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]%0b> 
> > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]>
> > <mailto:[email protected]> >:
> > 
> > > Kutipan : Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan
> > > Pancasila. Di satu sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru
> > > melarang peringatan Hari Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap
> > > tanggal 1 Juni. Di sisi lain, Orde Baru kemudian membuat
> > > peringatan sendiri, yakni setiap tanggal 1 Oktober sebagai Hari
> > > Kesaktian Pancasila (kutipan selesai)- warna kuning dari saya.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > REFLEKSI : Kutipan diatas saya tanggapi sebagai pengkhianatan
> > > rezim diktator militer fasis (orde baru) pimpinan jendral militer
> > > fasis (TNI AD) Soeharto terhadap Pancasila 1 Juni 1945 ciptaan
> > > Bung karno. Ironinya rezim neoliberal Jokowi-JK di era reformasi
> > > ini, tetap setia sepenuh hatinya terhadap rezim diktator militer
> > > fasis pimpinan jendral militer fasis (TNI AD) Soeharto. Kesetiaan
> > > rezim neoliberal Jokowi-JK terghadap orde baru ini tercermin
> > > dalam Upacara sumpah setia didepan patung kesaktian pancasila
> > > ciptaan rezim militer fasis Soeharto pada tanggal 1 Oktober 2016. 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Kesaktian Pancasila saya tanggapi sebagai dasar ideologi, yang
> > > digunakan oleh TNI AD dibawah pimpinann jendral militer fasis (TNI
> > > AD) Soeharto, untuk menghalalkan pembantaian massal 3 juta Rakyat
> > > Indonesia yang tak bersalah (genosida), pemenjaraan, penyiksaan
> > > dan pembuangan ke Pulau Buru terhadap ratusan ribu Rakyat yang tak
> > > bersalah, yang setia membela Ideologi negara yaitu Pancasila 1
> > > Juni 1945; kecualai itu kesaktian Pancasila rekayasa politik
> > > Soeharto juga untuk menghalalkan pembunuhan biadap, yaitu
> > > pembunuhan pelan-pelan terhadap Presiden Soekarno pencipta
> > > Pancasila 1 Juni 1945 sebagai ideologi NKRI, proklamtor
> > > kemerdekaan Republik Indonesia dan presiden pertama NKRI. 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Dan selanjutnya dengan kesaktian Pancasila 1 Juni 1970 sebagai
> > > dasar ideologinya, Soeharto memproklamirkan dirinya sendir sebagai
> > > presiden di NKRI. Demikian secara singkat proses kupdeta merangkak
> > > klik militer fasis (TNI AD) pimpinan Jendral Soeharto; yang hingga
> > > saat ini di tetap junjung tinggi oleh rezim neoliberal Jokowi-JK.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Roeslan.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> > > 
> > > 
> > > share on:
> > > <http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F>
> > > Facebook
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D
> > >  
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D%0b>
> > >  
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D%0b>
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D
> > >  
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D%0b>
> > >  
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D
> > >  
> > > <https://twitter.com/intent/tweet?text=Menggugat+%E2%80%9CHari+Kesaktian+Pancasila%E2%80%9D&url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
> > >  
> > > &url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
> > > &url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
> > > &url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F&via=Berdikari+Online>
> > > Twitter
> > > <http://plus.google.com/share?url=http%3A%2F%2Fwww.berdikarionline.com%2Fmenggugat-hari-kesaktian-pancasila%2F>
> > > Google +
> > > 
> > > Monumen Pancasila Sakti
> > > 
> > > Coba lihat kejanggalan Orde Baru memperlakukan Pancasila. Di satu
> > > sisi, sejak 1 Juni 1970, rezim Orde Baru melarang peringatan Hari
> > > Lahirnya Pancasila yang jatuh setiap tanggal 1 Juni. Di sisi lain,
> > > Orde Baru kemudian membuat peringatan sendiri, yakni setiap
> > > tanggal 1 Oktober sebagai Hari Kesaktian Pancasila.
> > > 
> > > Siapapun tak bisa menyangkal, Pancasila lahir dari pidato Bung
> > > Karno tanggal 1 Juni 1945 di hadapan Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai
> > > (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan/BPUPKI). Dan, tidak
> > > bisa disangkal pula, bahwa penggali Pancasila adalah Bung Karno.
> > > 
> > > Sayang, sejak Orde Baru berkuasa, proses pemalsuan sejarah
> > > intensif dilakukan. Termasuk terkait sejarah Pancasila. Sejak
> > > tahun 1971, Orde baru melalui ideolognya, Nugroho Notosusanto,
> > > mulai menyusun versi manipulatif terkait sejarah Pancasila.
> > > Hasilnya gampang ditebak: peranan Bung Karno dihilangkan dan 1
> > > Juni 1945 sebagai Hari Lahirnya Pancasila dikaburkan.
> > > 
> > > Sebaliknya, Orde Baru kemudian menetapkan 1 Oktober sebagai Hari
> > > Kesaktian Pancasila. Ini diputuskan sendiri oleh Soeharto melalui
> > > Surat Keputusan Presiden No. 153/1967. Alhasil, selama 32 tahun
> > > kekuasaan orde baru, hari kelahiran Pancasila tidak pernah
> > > diperingati, tetapi Hari Kesaktian Pancasila selalu diperingati.
> > > 
> > > 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni peristiwa
> > > dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan Bung Karno.
> > > Sejak itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari Kesaktian Pancasila”
> > > menjadi glorifikasi terhadap rezim Orde Baru atas jasa-jasanya
> > > menumpas komunisme dan sebagai ‘penyelamat’ Pancasila.
> > > 
> > > Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa
> > > 1965 mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai
> > > penyelamat Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk
> > > membersihkan Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru.
> > > 
> > > Saya sendiri punya beberapa alasan mengapa peringatan 1 Oktober
> > > 1965 itu harus digugat. Pertama, aksi politik yang dilakukan oleh
> > > Soeharto dan sekelompok tentara pada 1 Oktober 1965 dan sesudahnya
> > > adalah aksi kudeta terhadap pemerintahan yang sah, yakni
> > > pemerintahan Bung Karno. Saya kira, tidak etis bila bangsa ini
> > > terus merayakan sebuah kejahatan demokrasi, yakni kudeta terhadap
> > > pemerintahan yang sah dan didukung oleh rakyat, sebagai Hari
> > > Nasional: Kesaktian Pancasila.
> > > 
> > > Kedua, 1 Oktober 1965 merupakan “titik balik” dari perjuangan
> > > bangsa Indonesia melawan kolonialisme dan imperialisme. Kita
> > > tahu, hanya beberapa minggu setelah Soeharto dilantik sebagai
> > > Presiden, PT. Freeport mulai menjarah kekayaan alam di Papua.
> > > 
> > > Lalu, setelah UU PMA tahun 1967 diteken, Soeharto mulai mengundang
> > > korporasi asing untuk mengembang-biakkan keuntungannya di
> > > Indonesia, dengan menjarah kekayaan alam Indonesia dan menjadikan
> > > bangsa Indonesia sebagai kuli murah di negeri sendiri.
> > > 
> > > Praktis, sejak itulah cita-cita Revolusi Nasional Indonesia, yang
> > > berkeinginan melikuidasi struktur ekonomi kolonial, telah berakhir
> > > di tangan Soeharto dan begawan-begawan ekonominya yang disebut
> > > “Mafia Barkeley”. Ironisnya, Soeharto menipu rakyat dengan
> > > menyebut sistem ekonomi kapitalistiknya sebagai “ekonomi
> > > Pancasila”.
> > > 
> > > Tidak masuk akal, sistem ekonomi yang begitu tuntuk kepada kapital
> > > asing, yang hanya memperkaya segelintir kapitalis, yang
> > > mengesahkan pencolengan uang negara, yang mewarisi kita hutan
> > > luar negeri ribuan Triliun, justru disebut “ekonomi Pancasila”.
> > > 
> > > Ketiga, sejak 1 Oktober 1965, dalam rangka menumpas pendukung Bung
> > > Karno dan membangun kekuasaannya, orde baru melakukan pembantaian
> > > terhadap jutaan orang. Dari dokumen sejarah yang kita dapatkan
> > > hari ini, banyak diantara mereka yang dibantai itu—petani, buruh,
> > > mahasiswa kiri, perempuan, seniman progressif, dan
> > > intelektual—adalah pendukung loyal politik Bung Karno.
> > > 
> > > Ini adalah kejahatan kemanusiaan. Konon, kejahatan kemanusiaan
> > > rezim Orde Baru merupakan tragedi kemanusiaan terbesar kedua
> > > setelah Holocaus Nazi/Hitler. Saya kira, sebagai negara yang
> > > berdasarkan Pancasila, yang menjunjung tinggi kemanusiaan, tidak
> > > pantas memperingati hari dimulainya Genosida (1 Oktober 1965) itu
> > > sebagai hari kemenangan nasional.
> > > 
> > > Keempat, 1 Oktober 1965 menandai dimulainya gelombang budaya
> > > anti-demokasi dan barbarian. Sejak itu, jutaan buku, terbitan, dan
> > > bacaan-bacaan hasil karya manusia Indonesia dibakar. Kebudayaan
> > > rakyat yang progressif dan demokratis, karena dianggap budaya PKI,
> > > kemudian dimusnahkan dan dilarang.
> > > 
> > > Begitu Orde Baru berkuasa, kritik dan kebebasan berpendapat
> > > dilarang. Para seniman tidak bebas berekspresi. Lantas, tidak
> > > sedikit media massa, terutama koran, yang dibredel. Di era Orde
> > > Baru, membakar buku adalah hal yang lazim. Padahal, kata Heinrich
> > > Heine, penyair Jerman yang terkenal itu: “where books are burned,
> > > human beings are destined to be burned too…”
> > > 
> > > Kelima, aksi kontra-revolusi Soeharto dan kelompoknya, bagi saya,
> > > menyisakan beban sejarah dan kerugian yang sangat besar bagi
> > > bangsa Indonesia hingga sekarang.
> > > 
> > > Praktek pemberangusan ideologi di era Orde Baru, terutama ideologi
> > > kiri, menyebabkan bangsa kita mengalami kemandekan, miskin
> > > imajinasi, tidak kritis, dan kurang kreatif. Hingga sekarang,
> > > banyak generasi Indonesia, terutama yang dilahir di era Orba
> > > hingga sekarang, masih gelap ketika melihat sejarah negerinya.
> > > 
> > > Sebagian kontrak karya pertambangan yang merugikan bangsa
> > > Indonesia, seperti dengan Freeport, adalah hasil kongkalikong
> > > Soeharto dan modal asing. Utang luar negeri yang terus membebani
> > > APBN kita hingga sekarang juga sebagian besar adalah warisan
> > > rezim orde baru.
> > > 
> > > Sekarang ini, 68 tahun usia Pancasila dan menjelang 68 tahun usia
> > > Proklamasi Kemerdeaan Republik Indonesia, saatnya kita
> > > menyambungkan kembali benang sejarah bangsa yang pernah diputus
> > > oleh Orde Baru. Mari menghidupkan kembali roh Pancasila yang
> > > sangat anti-kolonialisme dan anti-imperialisme untuk kembali
> > > membebaskan negeri ini dari penjajahan baru: neo-kolonialisme.
> > > 
> > > Mahesa Danu
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Von: [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > > <mailto:[email protected]>
> > > <mailto:[email protected]>
> > > [mailto:[email protected]] Gesendet: Sonntag, 2. Oktober
> > > 2016 15:07 An: GELORA_In; kh djie Cc: [email protected] 
> > > <mailto:[email protected]> 
> > > <mailto:[email protected]>
> > > <mailto:[email protected]> Betreff: Re: [GELORA45] FW:
> > > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > APA YANG SAKTI DIDUNIA INI ......? Jendral Bintang Lima dan
> > > Bintang TUJUH pun akhirnya toh masuk Liang Kubur .....Lalu dimana
> > > Kesaktiannya ..... ? 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 2016-10-02 14:19 GMT+02:00 kh djie [email protected] 
> > > <mailto:[email protected]> 
> > > <mailto:[email protected]> <mailto:[email protected]> [GELORA45]
> > > <[email protected]  
> > > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]%0b> 
> > > <mailto:[email protected]%0b>
> > > <mailto:[email protected]> >:
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Hari Kesaktian atau hari kesakitan....... ???
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 2016-10-02 14:03 GMT+02:00 '[email protected]'
> > > [email protected] <mailto:[email protected]>  
> > > <mailto:[email protected]>
> > > <mailto:[email protected]> [GELORA45]
> > > <[email protected]  
> > > <mailto:[email protected]%20%3cmailto:[email protected]%0b> 
> > > <mailto:[email protected]%0b>
> > > <mailto:[email protected]> >:
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Menggugat “Hari Kesaktian Pancasila”
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > " ... 1 Oktober sendiri mengacu pada 1 Oktober 1965, yakni
> > > peristiwa dimulainya “kudeta merangkak” terhadap pemerintahan
> > > Bung Karno. Sejak itu, peringatan 1 Oktober sebagai “Hari
> > > Kesaktian Pancasila” menjadi glorifikasi terhadap rezim Orde Baru
> > > atas jasa-jasanya menumpas komunisme dan sebagai ‘penyelamat’
> > > Pancasila.
> > > 
> > > Sekarang ini, setelah berbagai fakta sejarah mengenai peristiwa
> > > 1965 mulai terungkap, ada baiknya predikat Orde Baru sebagai
> > > penyelamat Pancasila perlu ditinjau ulang. Ini sekaligus untuk
> > > membersihkan Pancasila dari lumuran dosa rezim Orde Baru. ... "
> > > 
> > > 
> > > 
> > > Selengkapnya:
> > > 
> > > http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
> > >  
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic%0b>
> > >  
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic%0b>
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
> > >  
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic%0b>
> > >  
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic
> > >  
> > > <http://www.berdikarionline.com/menggugat-hari-kesaktian-pancasila/?utm_campaign=shareaholic&utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
> > >  &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
> > > &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
> > > &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork>
> > > &utm_medium=facebook&utm_source=socialnetwork
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > A.H.
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > > 
> > 
> > 
> > 
> 
> 
> 



Kirim email ke