https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai>
sudah-selesai
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai>
Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah
Selesai
Sabtu, 13 Februari 2016 | 15:15 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah Selesai
Anhar Gonggong. TEMPO/Yosep Arkian
*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Sejarawan Universitas
Indonesia Anhar Gonggong menyatakan, keberadaan Surat Perintah Sebelas
Maret (Supersemar) seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut
dia, salah satu kejadian sejarah tersebut telah usai.
"Apalagi Pak Harto sudah meninggal, Bung Karno juga sudah meninggal,"
ujar Anhar dalam diskusi Peringatan 50 Tahun Supersemar yang
diselenggarakan oleh Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa
Supersemar di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 13
Februari 2016.
Menurut Anhar, publik selalu menyangsikan keberadaan dokumen Supersemar
yang asli. Namun, ia meyakini bahwa dokumen itu pasti ada. "Pasti ada.
Saya melakukan berbagai observasi tentang itu. Isinya lah yang menjadi
persoalan," ujarnya.
Menurut Anhar, ketika Supersemar digunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto
untuk membubarkan PKI, Presiden RI saat itu, Soekarno, marah dan
mencabut surat itu melalui surat yang dikeluarkan pada 13 Maret. "Tapi,
kalau Soeharto tidak membubarkan PKI, semakin tinggi tuntutan orang
untuk membubarkan itu. Siapa yang bisa menahan massa pada saat itu?"
*Baca: *Pembuatan KTP Anak Gratis, Biaya Ditanggung APBN
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/12/173744404/pembuatan-ktp-anak-gratis-biaya-ditanggung-apbn>
Karena itu, menurut Anhar, Supersemar bukan sekedar surat perintah yang
digunakan oleh Soeharto untuk merebut kekuasaan. Supersemar,
dikeluarkan melalui proses yang lama untuk mencari jalan penyelesaian.
"Wajar jika menimbulkan konflik. Jadi, apanya yang perlu dijernihkan?"
ujarnya.
Dengan begitu, menurut Anhar, perdebatan mengenai latar belakang
dikeluarkannya Supersemar oleh Soekarno juga telah berakhir. Soekarno
dan Soeharto memiliki perannya masing-masing bagi bangsa ini. "Saya
nggak pernah mengartikan Soekarno dan Soeharto jelek sepenuhnya."
Anhar berujar, Supersemar bukan salah satu tonggak sejarah Indonesia.
Tonggak sejarah hanya lah peristiwa pergerakan nasional 28 Oktober,
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, dan Hari Pahlawan 10 November. "Mari
kita tempatkan ini sebagai peristiwa sejarah yang biasa saja."
*ANGELINA ANJAR SAWITRI*