benar2 gonggong double gong, goblok sekali.......... 2017-03-13 15:20 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>:
> > > Gimana bisa selesai? Supersemar itu cacat hukum. Supersemar itu cacat > sejarah. > > Koq bisa seorang anhar gonggong katanya sejarahwan bilang supersemar itu > sudah selesai? > > Aduh ini omongan seorang anhar gonggong yang anti komunisme. > > Sayangnya dia lebih memposisikan dirinya sebagai pembenci dibandingkan > sebagai seorang sejarahwan! > > > > Korban nyawa rakyat Indonesia yang tidak ketahuan ujung pangkalnya harus > di”selesaikan” begitu saja oleh seorang anhar gonggong? > > Sejahrawan satu ini perlu mengetahui artinya hukum dan pembalasan sejarah > atas suatu peristiwa sejarah. > > Saya tidak yakin dia ini seorang sejahrawan. Sekurang2nya dia perlu > mikirin hal ini apakah dia seorang sejarahwan. > > > > Jelas dia gak akan mengerti bagaimana sejarah hittler nazi dan yahudi > dimana sampai sekarangpun orang yahudi masih belum selesai nguber orang2nya > hittler nazi. > > > > Nesare > > > > > > > > *From:* [email protected] [mailto:[email protected]] > *Sent:* Monday, March 13, 2017 4:04 AM > *To:* [email protected]; [email protected]; > [email protected] > *Subject:* [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai [5 > Attachments] > > > > > > > > > > https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui- > peristiwa-supersemar- > <https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai> > > sudah-selesai > <https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/13/078744643/sejarawan-ui-peristiwa-supersemar-sudah-selesai> > Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah Selesai > > Sabtu, 13 Februari 2016 | 15:15 WIB > > - [image: share facebook] > - [image: share twitter] > - [image: share google+] > - [image: share pinterest] > > [image: Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah Selesai] > > Anhar Gonggong. TEMPO/Yosep Arkian > > *TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Sejarawan Universitas Indonesia > Anhar Gonggong menyatakan, keberadaan Surat Perintah Sebelas Maret > (Supersemar) seharusnya tidak perlu diperdebatkan lagi. Menurut dia, salah > satu kejadian sejarah tersebut telah usai. > > "Apalagi Pak Harto sudah meninggal, Bung Karno juga sudah meninggal," ujar > Anhar dalam diskusi Peringatan 50 Tahun Supersemar yang diselenggarakan > oleh Keluarga Mahasiswa dan Alumni Penerima Beasiswa Supersemar di Hotel > Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 13 Februari 2016. > > Menurut Anhar, publik selalu menyangsikan keberadaan dokumen Supersemar > yang asli. Namun, ia meyakini bahwa dokumen itu pasti ada. "Pasti ada. > Saya melakukan berbagai observasi tentang itu. Isinya lah yang menjadi > persoalan," ujarnya. > > Menurut Anhar, ketika Supersemar digunakan oleh Letnan Jenderal Soeharto > untuk membubarkan PKI, Presiden RI saat itu, Soekarno, marah dan mencabut > surat itu melalui surat yang dikeluarkan pada 13 Maret. "Tapi, kalau > Soeharto tidak membubarkan PKI, semakin tinggi tuntutan orang untuk > membubarkan itu. Siapa yang bisa menahan massa pada saat itu?" > > > > > *Baca: *Pembuatan KTP Anak Gratis, Biaya Ditanggung APBN > <https://nasional.tempo.co/read/news/2016/02/12/173744404/pembuatan-ktp-anak-gratis-biaya-ditanggung-apbn> > > > > Karena itu, menurut Anhar, Supersemar bukan sekedar surat perintah yang > digunakan oleh Soeharto untuk merebut kekuasaan. Supersemar, dikeluarkan > melalui proses yang lama untuk mencari jalan penyelesaian. "Wajar jika > menimbulkan konflik. Jadi, apanya yang perlu dijernihkan?" ujarnya. > > Dengan begitu, menurut Anhar, perdebatan mengenai latar belakang > dikeluarkannya Supersemar oleh Soekarno juga telah berakhir. Soekarno dan > Soeharto memiliki perannya masing-masing bagi bangsa ini. "Saya nggak > pernah mengartikan Soekarno dan Soeharto jelek sepenuhnya." > > Anhar berujar, Supersemar bukan salah satu tonggak sejarah Indonesia. > Tonggak sejarah hanya lah peristiwa pergerakan nasional 28 Oktober, > Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus, dan Hari Pahlawan 10 November. "Mari > kita tempatkan ini sebagai peristiwa sejarah yang biasa saja." > > *ANGELINA ANJAR SAWITRI* > > > > >
