Waktu anda memuji Gonggong konteksnya juga jelas telah anda kemukakan 
sebelumnya "Peristiwa pembunuhan massal 1965".

Kutipan:Jangan begitu. Peristiwa pembunuhan massal 1965 ini banyak yang tidak 
tahu. Yang tahupun tidak sepenuhnya tahu benar apa yang sebenarnya sudah 
terjadi.Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih waras.Dia 
tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang sejarah. 
Disini dia objektif. Dia tidak personal.

---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Oh tidak. Ane tidak pernah memuji anhar gonggong. Ane bilang anhar gonggong 
waras, objektif, tidak personal dll. Ane tidak memuji anhar gonggong.Ente yang 
memaksakan ide itu yaitu ide ane memuji anhar gonggong! Ane kasih argumennya 
bagaimana anhar gonggong itu waras, objektif dan tidak personal.Ente tidak ada 
argument sama sekali!Yang ente klaim: “objektif = memuji; waras = memuji; tidak 
personal = memuji” ini adalah permainan bahasa. Argumennya tidak ada! Karena 
tujuan ente itu bashing nesare dan bukan berdiskusi tentang substansi 
omongannya anhar gonggong.Jadi ente bener threat ini adalah eyel2an bukan 
diskusi karena yg ngeyel itu adalah ente!Kalau ane berdiskusi kasih argument 
apa substansi omongannya anhar gonggong, kenapa anhar gonggong waras, tidak 
personal, objektif dll. Ini kan tidak ente gubris karena memang ente sibuk 
bashing nesare. Ini kan persis dengan omongan trump bahwa Obama is very good 
man, ente bilang trump memuji Obama. Semua orang ketawa ada pendapat seperti 
ini. tanya saja sama kunyuk2 di precint ente itu. Bisa2 ente ini intel nya 
trump ya?!?! Begitu juga ini kan persis dengan habib sidiq yang menggunakan al 
maidah utk bashing ahok. Habib sidiq di persidangan kan gak terbukti tidak bisa 
membuktikan al maidah tidak memperbolehkan kafir utk memimpin. Kan substansinya 
bukan disitu. Substansinya habib sidiq itu adalah menjegal ahok. Menjegal ini 
adalah bashing dan ini persis yg seperti ente lakukan sekarang ini bashing 
nesare. Ujung2nya ente = habib sidiq = trump.Apakah ente memuji habib sidiq dan 
ente memuji trump. Wallahu alam.Ane tidak mau jump to conclusion tetapi ane 
berani bilang sekali lagi bahwa  kelakuannya ente = habib sidiq = trump! Nesare 
 From: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Thursday, March 23, 2017 10:45 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai   
Apakah anda bermaksud menelan pujian anda pd Gonggong yang sedemikian tulus 
itu? Bilang saja nggak apa2 kokSaya tidak bermaksud menjawab pertanyaan eyelan 
"koq bisa 1+1=2".  ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :

Hehehehe memang sengaja ane posting pendapat positif nya anhar gonggong.Eh 
ditelan sama orang pinter satu ini. hehehehehe.Kan memang ini modus operansi 
ente! Yaitu: mau menang sendiri, sok pinter dan suka maksa orang lain utk 
percaya atas idenya ente yg salah. Tapi lucunya malahan ane yg dituduh memaksa. 
Lucu ndak?! Kan sudah ane tulis dari awal, tujuan ente itu mau bashing ane. 
Ente itu gak pusing dengan anhar gonggong, pujian dll. Ente hanya pake’ anhar 
gonggong dan pujian sbg sarana. Ini kan persis dengan al maidah yg dipakai oleh 
habib sidiq utk menyerang ahok. Habib sidiq mana mampu berargumen. Dipengadilan 
kan kacau balau argumentnya. Ini kan persis dengan ente. Gak ada argument sama 
sekali. Hanya menyimpulkan objektif = memuji; waras = memuji; tidak personal = 
memuji. Malah di analogikan dengan 1+1=2. Lucu ndak? Terus ditanya koq bisa 
1+1=2, diam lagi. Koq bisa “objektif = memuji; waras = memuji; tidak personal = 
memuji” disamakan dengan “1+1=2”??? Kata dan tulisan “objektif” saja beda 
dengan “memuji”, koq maknanya mau disamakan?Ini hanya Bahasa loh. Logika? Mana 
ada logikanya? Wong argumennya ndak ada, koq bisa ada logika? Hehehehehe 
kesimpulannya ente: trump memuji Obama dan Obama memuji trump. Hebat negara 
ente itu!Memang ente itu waras sekali dalam mengeyel. Persis ini yg ente 
lakukan dari dulu dengan kesimpulan ente2 bahwa: semua interest sama; private 
company = swasta; hukum mati = haus darah dll. Ente itu hanya sembunyi 
dibelakang istilah2 keren: demokrasi, bela rakyat, anti hukuman mati 
dst…dst…Sayangnya ente gak ada rasa cinta. Rasa cinta itu adalah kasih sayang 
yg diajarin oleh Tuhannya ente.Yang ente perjuangkan itu adalah istilah2 bukan 
orangnya. Makanya komentar2 ane jadi nightmare buat ente. Ente akan selalu 
merasa uncomfortable dengan nightmare nightmare ini sepanjang hidup ente. 
Kenapa? Karena ente merasa paling hebat dalam menyuarakan: demokrasi, humanism, 
anti hukuman mati dll.Ente adalah budak dari istilah2 itu!Ente tidak punya rasa 
cintah kasih untuk manusianya!Makanya ente buta apa sedang terjadi di republic 
tercinta itu! Jangan mencampuri negara orang lain! Urus negara ente dimana 
sudah banyak orang lari menerobos perbatasan ke kanada gara2 presiden ente yg 
suka memuji muji junjungan ente itu. Nesare  From: [email protected] 
[mailto:[email protected]] 
Sent: Wednesday, March 22, 2017 10:30 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai  Anda 
berhasil membuktikan pujian anda pada Gonggong itu ternyata tulus. ---In 
[email protected], <nesare1@...> wrote :


Ane bilang: Anhar gonggong ini salah satu sejarahwan Indonesia yang masih 
waras.Dia tidak membela PKI maupun Soeharto. Dia melihatnya dari sudut pandang 
sejarah. Disini dia objektif. Dia tidak personal. Ente bilang: objektif = 
memuji; waras = memuji; tidak personal = memuji. Gimana bisa objektif = 
memuji?Gimana bisa waras = memuji?Gimana bisa tidak personal = memuji? Dibawah 
ini sebagian argumen anhar gonggong itu waras. MANA ARGUMEN ENTE? Coba cerna 
apakah anhar gonggong ini objektif dari sudut pandang sejarah. Lihat gimana dia 
bilang pemerintah lebih mendengar taufik ismail drpd sejarahwan: 
http://news.liputan6.com/read/130034/kontroversi-sejarah-g30spkiSejarawan Anhar 
Gonggong mengatakan propaganda mengenai PKI adalah isu paling mudah diletupkan 
untuk peralihan kekuasaan saat itu."Ketika Pak Harto berkuasa, tidak ada yang 
secara terbuka mengatakan bahwa yang mengatur G30S/PKI itu adalah Pak Harto," 
kata Anhar dalam sebuah diskusi sejarah bangsa di Jakarta. Sekarang, kata 
Anhar, keadaan sudah terbuka. "Artinya apa? Ada proses pemikiran untuk lebih 
pada pencarian kebenaran oleh berbagai pihak," ujar dia. 
https://www.eramuslim.com/berita/bincang/dr-anhar-gonggong-selesaikan-polemik-sejarah-pki-dengan-cara-akademis-bukan-politis.htm#.WNGJFaK1uUkKejaksaan
 Agung dalam keputusan Jaksa Agung nomor 019/A/JA/03 tahun 2007 tertanggal 5 
Maret 2007 yang melarang penerbitan dan peredaran buku sejarah Kurikulum 2004 
untuk SMP, Madrasah Tsanawiyah (MTs), SMA, Madrasah Aliyah (MA), dan Sekolah 
Menengah Kejuruan (SMK). Salah satu pertimbangan pelarangan, buku-buku teks itu 
menghilangkan keterlibatan Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam pemberontakan 
di Madiun, Jawa Timur, pada 1948, dan pemberontakan pada 1965. Selain itu 
buku-buku itu dianggap tidak sepenuhnya mencatat fakta kebenaran sejarah bangsa 
Indonesia.Sejarawan dari Universitas Indonesia Dr. Anhar Gonggong menyayangkan 
langkah pelarangan yang melibatkan pihak kejaksaan. Menurutnya, larangan oleh 
kejaksaan itu kurang tepat. Berikut bincang-bincang eramuslim dengan Dr Anhar 
Gonggong. Sampai saat ini peristiwa pemberontakan PKI masih menjadi persoalan 
yang sensitif. Masih menjad polemik di masyarakat. Bagaimana seharusnya 
pemerintah menangani persoalan ini?
Semestinya ya itu sederhana saja menyelesaikannya, ketika G30S itu diadakan, 
kata PKI-nya kan memang tidak ada. Baru setelah Untung cs kalah baru 
ditambahkan PKI, begitu prosesnya. Jadi sepanjang orde baru itu, ya PKI itu 
yang diberikan cap. Tetapi itu bisa diselesaikan lewat buku-buku itu. Bisa 
dikatakan enggak apa-apa, tidak ada kata PKI dibelakangnya, selain itu dapat 
juga diterangkan bahwa tidak apa-apa ada kata PKI dimasukan didalamnya, tetapi 
dengan memakai kata G30S PKI.Tapi harus ada penjelasannya juga, ketika gerakan 
itu ada, kata PKI-nya tidak ada. Baru kemudian setelah dia kalah, pemerintah 
orde baru menambahkan kata PKI, jadi bisa diatur seperti itu, kan tidak susah. 
http://indonesiabuku.blogspot.com/2007/05/anhar-gonggong-faktanya-pemerintah.htmlOleh
 Fadila Fikriani Armadita, Rhoma Aria Dwi Yuliantri



Anhar Gonggong: “Faktanya, Pemerintah Lebih Mendengarkan Taufiq Ismail 
Ketimbang Sejarawan” 
I: Kontroversi peristiwa sejarah untuk SMA itu apa saja?
AG: Ada beberapa, sepanjang yang saya ingat waktu saya pernah mengumpulkan 75 
guru SMP-SMA seluruh Jakarta-Bogor. Tiga tahun berturut-turut dengan guru yang 
berbeda dengan harapan saya bisa mendapat informasi apa kesulitan mereka di 
dalam mengajarkan sejarah. Dikarenakan hal-hal yang dianggap oleh pemerintah 
tidak boleh diberikan. Pertama Pancasila. Pancasila tidak boleh dikatakan bahwa 
lahirnya Pancasila 1 Juni. Bahwa lahirnya Pancasila adalah ketika Jamin yang 
katanya berpidato pada tgl 29 Mei yang sudah membuat rumusan yang sama dengan 
Pancasila atau tanggal 18 Agustus. Guru sangat sulit mengajarkan itu. Karena 
itu memang tujuannya desoekarnoisasi. Karena kalau tanggal 1 Juni itu berarti 
identik Soekarno. Ada dosa besar dari pemerintah Orde Baru dalam kaitan dengan 
itu. Dalam arti kata bahwa melakukan deSoekarnoisasi. Bahwa bukan Bung Karno 
yang merumuskan Pancasila pertama kali itu faktual salah sebagai perumus awal, 
tetapi sebagai hari lahir Pancasila sebagai dasar negara ya memang tidak, sebab 
1 Juni atau 22 Juni belum ada negara Kita merdeka tanggal 17 Agustus. Pancasila 
dirumuskan Bung Karno untuk digunakan sebagai dasar negara kalau kelak kita 
merdeka. Jadi istilah Pak Notonegoro itu tanggal 1 Juni dan 22 Juni itu adalah 
hari dari lahirnya atau dirumuskannya calon-calon dasar negara yang nantinya 
setelah dirumuskan akan dimasukkan dalam alinea keempat pembukaan UUD 45 yang 
ditetapkan sebagai dasar negara pada tanggal 18 Agustus. Tapi jangan salah 
sebenarnya istilah Pancasila hanya sekali digunakan oleh Bung Karno tanggal 1 
Juni. Dan selanjutnya rumusan Pancasila yang kita kembangkan—kalau benar yang 
kita terima adalah pembukaan UUD tanggal 18 Agustus di alinea keempat—itu tak 
ada istilah Pancasila. Silakan cari, istilah pancasila tidak ada. 

I: Jamin punya istilah apa?
AG: Tidak ada, hanya merumuskan dasar saja. Kalau Soekarno jelas ada istilah 
Pancasila. Dulu dia usulkan pertama Pancasila, kalau tidak senang bisa diperas 
menjadi tri sila, kalau tidak senang bisa dirubah menjadi ekasila. Itu yang 
saya maksud dosa besar pemerintah Orde Baru tatkala mengatakan bahwa bukan Bung 
Karno yang merumuskan dan memberi nama rumusannya dengan Pancasila. Kata 
Pancasila itu adalah monopoli Bung Karno. Dalam arti kata, dialah orang pertama 
yang merumuskannya. Hanya saja oleh karena kompromi politik, maka begitu 
selesai bicara tanggal 1 Juni kekuatan BPUPKI terbelah menjadi kekuatan 
nasionalis mendukung Pancasila, kekuatan Islam yang mendukung Islam sebagai 
dasar negara. Setelah rumusan 22 Juni, 18 Agustus adalah proses kompromi 
sebenarnya. Tetapi dalam kaitan Pancasila dengan Bung Karno tidak bisa 
dihilangkan dalam situasi apa pun. Dia yang merumuskan pada 1 Juni, dia ketua 
panitia panitia sembilan yg merumuskan Piagam Jakarta. Ketika 18 Agustus saat 
disahkan sebagai pembukaan UUD 1945 dia juga ketua PPKI. Tiga proses perumusan 
Pancasila dari awal-akhir Bung Karno selalu ada. Di sini ini dosa besar Nugroho 
Notosusanto dan Soeharto.

I: Lalu di mana sebetulnya letak kesulitan guru. Karena buku ajar atau ada 
kesulitan lain?
AG: Antara lain buku ajar. Buku yang diajarkan menyebutkan bukan 1 Juni tetapi 
18 Agustus, dengan mengacu pada bukunya Jamin. Selain itu ketakutan menerangkan 
karena dia merasa dirinya diawasi. Kondisi ketika itu kepala sekolah punya 
kekuatan otoriter. Bisa-bisa dia dituduh PKI atau kehilangan pekerjaannya. 

I: Kenapa mesti Jamin yang dirujuk?
AG: Buku Jamin memang unik, itu berasal dari dokumen-dokumen sidang BPUPKI. Ada 
3000 halaman tebalnya. Lalu dokumen itu dipinjam oleh Jamin dari Pringgodigdo 
yang saat itu sebagai sekretaris dari BPUPKI. Dia pinjam tetapi tidak pernah 
dikembalikan. Buku itu yang diolah jadi buku kontroversial. Kontroversinya 
adalah ada pengantar Soekarno yang membenarkan isi buku itu. Ini yang susah.

I: Kontroversi pertama tadi Pancasila, yang lainnya apa?
AG: Lainnya Serangan Oemoem 1 Maret. Guru juga susah, dia mau mengatakan Sultan 
tidak terlibat. Dalam buku yang diberikan disebutkan Soeharto Memang tujuannya 
agar Soeharto diterima dan dia pantas jadi presiden. Sebenarnya sederhana yang 
menjadi persoalan, siapa yang mengambil inisiatif. Ada jenjang kepemimpinan 
dalam militer. Sultan punya 2 posisi; tidak hanya sebagai Raja Jogja tetapi 
juga Menteri Pertahanan. Di bawah Sultan ada Jenderal Sudirman sebagai Panglima 
Besar. Di bawah Sudirman ada Nasution sebagai Panglima Komando Jawa. Nah, 
Soeharto ketika itu hanya sebagai Komandan Brigade Mataram; pangkatnya Letnan 
Kolonel. Selain Sultan, Soedirman, Nasution, ada lagi Bambang Sugeng sebagai 
Gurbenur Militer. Itu Bambang Sugeng yang membuat kertas instruksi rahasia yang 
di dalamnya menginstruksikan kepada Soeharto supaya menyiapkan serangan 
besar-besaran dan bukan istilahnya serangan umum ke ibukota Jogja. Jadi itu 
dirubah, tidak otentik istilah serangan umum. Jadi ada 4 orang di atas 
Soeharto. Kalau dilihat dari situ nggak mungkin dia mengambil inisiatif. Tetapi 
sebagai pengatur serangan, dia yang berperanan penting. Ada bukti betapa 
Soeharto sangat dihargai tinggi oleh Kolonel Van Langen, Komandan Tentara 
Belanda Jawa. Ketika sudah berdamai dia datang ke Jogya dan bertemu dengan 
Soeharto dan dia mengatakan, ”Oh.ini yang namanya Soeharto.” Mengapa Serangan 1 
Maret sangat dikagumi oleh Belanda itu sendiri? Karena dilakukan pada siang 
hari. Tidak pernah terbayang oleh Belanda dia akan mendapat serangan pada siang 
hari karena menurut taktik militer itu sangat berbahaya. Itulah kekaguman 
Kolonel Van Langen pada Soeharto. Artinya dia bukanlah orang yang tidak 
mempunyai peranan penting. Cuma kalau dikatakan dirinya yang berinisiatif itu 
perlu dipertanyakan mengingat 4 komandan di atasnya dengan posisinya cuma 
Letnan Kolonel, Komandan Brigade di Yogyakarta.

I: Guru tidak mampu mengajarkan hal itu karena tak tahu atau karena takut?
AG: Dua-duanya terjadi. Berdasar pertemuan dengan guru-guru, mereka mengaku 
pengetahuan mereka minim karena memang membacanya kurang. Buku yang dia pegang 
cuma buku standar dan buku paket. 

I: Selain Pancasila dan Serangan Oemoem ada lagi peristiwa kontroversial?
AG: G 30 S. Itukan sangat banyak hal-hal yang berkaitan dengannya. Orang 
dipaksa untuk mengatakan itu PKI, padahal pada kenyataannya ketika gerakan itu 
dicetuskan tidak ada PKI-nya Hanya setelah Soeharto menang barulah disebutkan 
otaknya PKI. Ditambahlah istilah itu menjadi G30 S/PKI. Berkaitan dengan itu 
yang sangat kontroversial adalah Supersemar. Pertanyaan yang sering diajukan 
ada dua, apa benar surat perintah ada; kalau ada isinya apa. Kemudian apa surat 
itu bisa untuk menjatuhkan Soekarno. Kalau keberadaannya saya yakin itu ada. 
Saya cek kepada beberapa orang ada. Di pidato Bung Karno juga ada. Hanya saja 
Bung Karno marah jadi tidak digunakan semestinya.

I: Bagaimana bisa banyak orang menyalahartikan Supersemar itu?
AG: Itulah soalnya. Jadi Soekarno sendiri mengakui itu memang ada. Saya pernah 
tanya beberapa orang mengakui memang ada. Tapi yang jadi persoalan kalau kita 
baca isinya itu kan unuk mengamankan Soekarno. Tapi justru digunakan untuk 
menjatuhkan Soekarno. Namun itu bukan sesuatu yang salah dalam dunia politik. 
Orang bisa melakukan apa saja untuk meraih kekuasaan. Itu yang menjadi 
kesulitan bagi guru apa benar isinya seperti itu. Buku resmi yang digunakan 
mengatakan itu ada, dan isinya mengatakan bisa digunakn untuk menajtuhkan 
Soekarno karena memang Soekarno sudah menyeleweng dari Pancasila dan UUD 1945.

I: Pak Anhar sendiri memandang peristiwa G 30 S itu?
AG: Kalau saya memandangnya biasa saja. Gampang menerangkannya secara 
faktual-historis tanpa ada muatan politik. Katakan saja ketika untuk 
mengumumkan gerakan itu pada tanggal 1 Oktober kan kata PKI tidak ada.

I:Kalau peristiwa pasca PKI?
AG: Kalau pasca PKI, kata PKI itu dicantumkan berdasar atas penemuan2 dari 
mereka yang menang. Saat itulah baru dikatakan gerakan ini harus dberitahu 
kepada masyarakat bahwa yang melakukan adalah PKI. Jadi perlu ditambahkan kata 
PKI di belakang G30s. Penambahan kata PKI dilakukan oleh Orde Baru di bawah 
pimpinan Suharto-Nasution ketika itu.

I: Keterlibatan PKI sendiri seperti apa?
AG: Nah itu yang susah, kalau menurut Soeharto PKI terlibat, kalau Anda tanya 
orang PKI mereka bilang tidak terlibat. Ada sekian banyak versi ada yang 
mengatakan bahwa ini adalah pertentangan lingkungan Angkatan Darat. Ada yang 
mengatakan ini CIA, China, Unisoviet, PKI, bahkan terakhir ada yang bilang 
Soeharto terlibat. Paling tidak ada semnbilan versi tentang siapa sih dalang 
dari Gerakan 30. Mana yang benar?

I: Kalau Bapak sendiri cenderung siapa yang terlibat?
AG: Saya lebih cenderung PKI terlibat kalau melihat proses pada tahun 
1960-1964. Di sini PKI bersama Soekarno bermain dan memperoleh posisinya yang 
kuat. PKI melakukan berbagai kegiatan dengan menggunakan jargon mendukung 
pemeritah besar revolusi tanpa reserve; dia berusaha menggunakan Nasakom untuk 
meraih kekuasaan yang lebih kuat di pemerintahan. Terkait dengan pemberontakan 
itu tidak berarti orang seperti Jamin, Nasution, Soekarno, tidak tahu. Mungkin 
yang bikin mereka kaget dilakukannya pembunuhan pada 6 Jenderal dan 1 Perwira. 
Mereka tidak menduga. Banyak perwira tahu, ini menurut saya lho.... masak 
seorang Panglima Angkatan Darat, Menko Keamanan, tidak dapat laporan dari 
intelejen. Menurut analisis mereka cuma sebuah kudeta atau penyerangan pada 
batas tertentu tidak ada pembunuhan sekejam itu.  Nesare   From: 
[email protected] [mailto:[email protected]] 
Sent: Tuesday, March 21, 2017 10:37 AM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Sejarawan UI: Peristiwa Supersemar Sudah,Selesai  Yang 
bilang itu anda bukan Gonggong, kalau Gonggong yg ngomong itu namanya 
menyombongkan atau membanggakan diri, kalau anda bilang tentang Gonggong itu 
namanya memuji ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :


Ya jelas ente yang ngeyel.Ane kasih argument. Gak mampu baca kan?! Dari pertama 
ente menyerang ane, bilang ane memuji anhar gonggong lalu dicuplik tulisan ane 
dan ambil kesimpulan begini:Objektif = memuji?Waras = memuji?Tidak personal = 
memuji?

(Message over 64 KB, truncated)

Kirim email ke