Saya kurang tahu jumlahnya seberapa banyak mahasiswa RRT sekolah keluar negerinya. Juga saya kurang tahu bagaimana komposisi beasiswa yang diberikan oleh RRT dan atau negara asing kepada mahasiswa RRT ini. Kedua2nya penting. Beasiswa itu bukan hanya diberikan oleh pemerintah Deng dalam menyongsong dibukanya RRT ditahun2 akhir 1970an akibat kosongnya mahasiswa RRT yang belajar keluar negeri akibat cultural revolution sejak merdeka s/d 1965 (sekitar Orba berdiri).
Tsinghua university yang terkenal itu sudah dari dulu didirikan diawal 1900 an yg bekerja sama dengan USA. Ini masalah politik barat yg meredam dinasti qing yg terakhir juga mengirim mahasiswa dengan beasiswa ke USA. Begitu juga ditahun 1920an dimana nasionalis menikmati masa tenang setelah chaos yg luar biasa di RRT. Tshinghua univ. juga adalah penggerak/motor dalam mengirim mhsw keluar negeri ini. Setelah cultural revolution, ditangan Deng dengan open policynya mulai lagi mengirim mhsw keluar negeri. Ini saya kira lebih banyak pemerintah yg kasih beasiswanya krn rakyatnya masih miskin sekali. Tetapi setelah 1980an ini baru dimulai era modernisasi RRT yg sampai sekarang terus mengirim mhsw nya keluar negeri. Disini saya kurang tahunya seberapa banyak mhsw yang dikasih beasiswa oleh pemerintah RRT dan atau pemerintah negara asing. Banyak sekali yg saya tahu mhsw RRT datang ke USA dengan beasiswa yg diberikan oleh universitas2 di USA. Mereka2 ini tidak dapat beasiswa dari pemerintah RRT. Setelah peristiwa tian an men meletus, mayoritas (hampir semua) dapat green card/permanent resident di USA dan tidak mau pulang. Saya kenal ada seorang yang tadinya dapat beasiswa dari universitasnya di tiongkok utara utk belajar di USA. Walaupun dia sdh mendapatkan green card karena tian an men massacre dan sdh jadi warganegara USA, akhirnya tetap memilih pulang ditahun 1998 dan balik mengajar diuniversitasnya di tiongkok utara. Jadi memang ada yg pulang dengan pertimbangan pribadi. Tetapi mayoritas tidak pulang. Sekarang sudah berubah total. Bukan mhsw RRT saja yang sdh dengan uang sendiri utk belajar keluar negeri, murid SMA pun sudah banyak yg belajar di sekolah2 swasta SMA diluar negeri. Saya kurang tahu utk SD dan SMP. Kalau SMA saya tahu memang ada. Tujuan mereka adalah SMA yang bagus2 seperti di NY dan Boston yang punya koneksi utk masuk ke ivy league. Kalau kita bandingkan mhsw Indonesia yg sedikit sekali dibandingkan dengan mhsw dari ASEAN apalagi RRT yg belajar keluar negeri, kita mesti bertanya kenapa? Yang saya lihat adalah yang mampu pergi itu adalah yg kaya. Ini yg bikin universitas2 di USA (ini yg saya tahu. Saya kurang tahu dengan dieropa) kurang tertarik utk kasih beasiswa ke mhsw Indonesia. Sebetulnya pertimbangan beasiswa yg diberikan oleh univ di USA itu bukan krn pintar dan bhs inggris. Mereka mencari diversity dan ingin mengembangkan reputasi nama universitasnya keluar negeri. Ini pertimbangan utamanya. Jadi competency/syarat akademis maupun Bahasa mhsws asing ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan mhsw USA sendiri. apalagi mhsw Indonesia itu adalah staff pengajar diuniversitas di Indonesia akan jauh lebih mudah utk mendapatkan beasiswa di univ di USA. Ini yang saya lihat kurang diketahui oleh orang2 indonesia. Banyak sekali univ di USA yg ingin memberikan beasiswa ini, hanya saja memang murid2 SMA diindonesia kurang paham. Mereka2 yang pintar2 biasanya sekolah2 bagus seperti kanisius dll kebanyakan sudah mapan. Mereka pergi ke univ USA dgn biaya sendiri. ini secara tidak langsung bikin persepsi “orang Indonesia kaya”. Belum lagi terus banyak mhsw Indonesia ini beli mobil mewah waktu sekolah di USA dan kalau graduation wah pestanya hebat2. Sewaktu asia crisis menyerang Indonesia sampai2 ada universitas di USA yang membatalkan keinginan utk memberikan keringanan kepada mhsw Indonesia krn persepsi “orang Indonesia kaya” ini. kasihan sekali mereka2 orang Indonesia yg pas2an dan miskin krn asia crisis itu. Banyak yg pulang krn tidak mampu beli dollar dengan rupiah yg melemah habis2an. Akhir kata sebetulnya banyak beasiswa yg tersedia di univ di USA. Masalahnya orang Indonesia itu kurang paham dan hidupnya kurang tough dalam mencari beasiswa itu. Aplikasi, menulis essay dan prosedur2 lainnya bikin murid2 SMA ini malas. Hidupnya sudah enak2 di Indonesia apalagi mereka yg sdh mapan. Kalau mau ada beasiswa itu. Yang saya lihat yg rajin dan tekun bukan kepintaran yg biasanya mendapatkan beasiswa itu. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Saturday, April 15, 2017 3:45 AM To: [email protected] Subject: Re: [GELORA45] Fwd: Chinese recruitment RRT telah menanam modal yg. telah dan akan sangat berguna untuk kemajuan Tiongkok, yg. dimulai oleh Deng Xiaoping dimana ratusan ribu student (undergraduate dan postgraduate utk. mendapat PhD) dikirim ke Luar Negeri dan belajar di universitas2 atau institut2 teknologi yg. top di dunia seperti Caltech (California Insitute of Technology), Princenton University, Stanford University dll. Dan sekarang tidak sedikit dosen2 di universitas2 dan Institute Technology di AS yg. asalnya dari Tiongkok. Memang betul, banyak student yg. "kecantol" di AS dan tidak mau atau segera pulang ke Tiongkok. Tetapi sebagian telah pulang ke Tiongkok (reverse brain drain) dan sangat berguna untuk kemajuan Tiongkok. Tentunya tidak gampang utk. student2 dari Luar Negeri utk. bisa diterima atau masuk ke top universitas2 di AS. Tetapi student2 dari Tiongkok tidak kalah dengan student2 dari Amerika sehingga boleh dibilang top2 universitas/institut teknologi "dikuasai" oleh student2 dari Tiongkok. Kenapa student2 dari Tiongkok tidak kalah dgn. student2 dari AS (orang putih)? Salah satu faktor, barangkali (hypothesis) karena anak2 dari Tiongkok dari kecil sudah harus belajar huruf Chinese (huruf kanji) yg. ratusan banyaknya dan akan mempengaruhi perkembangan otak yg. masih berkembang secara positif (IQ). Fakta ilmiah yang ada adalah bahwa IQ dari orang2 Oriental (Korean, Chinese, Japanese) lebih tinggi dari IG orang2 kulit putih (white). Faktor yg. sama dari mereka (Korean, Chinese, Japanese) adalah mereka semua belajar raturan huruf sedari kanak2. Salam, BH Jo ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <djiekh@... <mailto:djiekh@...> > wrote : Bung Nesare, Terimakasih untuk penjelasannya. Salam, KH On 13 April 2017 at 17:50, nesare1@... <mailto:nesare1@...> [GELORA45] <[email protected] <mailto:[email protected]> > wrote: Memang benar banyak perusahaan RRT coba narik orang pintar Chinese overseas. Ada kenalan mechanical engineering yang kerja di caterpillar di Peoria Illinois pusatnya juga bilang begitu. Hanya saja tidak mudah bagi mereka utk pindah kesana. Kemauan pindah besar sekali tetapi faktor keluarga terutama anak2 bukan isteri dan gaji serta tunjangan menjadi perhatian utama. Tidak banyak yg pindah kira2 begitu kesimpulannya. Paling2 yang bisa pindah adalah posisi yg tinggi dan sangat tinggi shg gaji dan tunjangan sudah bukan masalah lagi. Kalau masih hitung2an duit, Chinese overseas ini masih lebih memilih tetap di USA krn walaupun gajinya tidak terlalu tinggi tetapi mengingat tunjangan hari tua dan kesempatan anak utk sekolah (gratis disekolah negeri dan bayar di swasta) dan mutu pendidikan bhs inggris bikin mereka tetap memilih tinggal di USA. Factor yang lain adalah factor kebebasan. Begitu juga factor makanan cukup berperan. Ketika kenalan ini pindah dari Peoria ke aurora yang dekat Chicago 13 tahun yl, brain drain Chinese overseas ini sudah banyak dibicarakan. Makanya caterpillar memilih memindahkan pusatnya dari Peoria ke Chicago gak lama lagi krn pertimbangan talent ini penting sekali. Peoria terlalu kecil utk retain talent. Karena perusahaannya lagi turun salesnya, ya management harus bikin move, salah satu movenya: pindahin kantor pusat ke Chicago. Drain brain ini selalu penting utk dibicarakan oleh setiap perusahaan dan negara kalau memang mau competitive. Dunia ini globalisasi nya adalah globalisasi pengetahuan. Istilahnya: knowledge globalization. Globalisasi itu bukan globalisasi barang dan jasa lagi seperti yg ditakuti oleh kelompok kiri dimana barang dan jasa diperjualbelikan antar negara. Globalisasi ditakuti atau tidak adalah realitas dunia. Mau tidak mau setiap negara akan harus mengadopsi globalisasi kecuali kalau mau menutup diri yg disebut sbg: proteksionisme. Hainan airlines itu luar biasa pesat perkembangannya. Ini akan menjadi icon buat RRT diluar air china yg kurang professional. Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected] om <mailto:[email protected]> ] Sent: Thursday, April 13, 2017 10:48 AM To: Gelora45 <[email protected] <mailto:[email protected]> >; [email protected] <mailto:[email protected]> Subject: [GELORA45] Fwd: Chinese recruitment ---------- Forwarded message ---------- Chinese recruiters are scouring Western firms By CECILY LIU | China Daily UK | Updated: 2017-04-13 17:25 Seven years ago, Weichai Group, a leading Chinese manufacturer of engines for heavy-duty trucks and construction machinery, recruited a promising young engineer from Caterpillar, a United States rival. Weichai made him the head of its electric control unit leading a research and development team of more than 130 people. Within a few years, 48-year-old Li Daming had helped Weichai develop its own ECU technology, the engine's brain, and put an end to the company's reliance on overseas ECU technology. The change has significantly helped the company reduce its production costs. Li's career path highlights a growing trend among Chinese companies to grab talented people from international rivals and use them as they globalize. Wechai, Hainan Airlines, Eastern Airlines and many other Chinese companies have sent human resources teams overseas to hunt for talent in recent years. Their targets range from fresh graduates to experienced managers. "We are hunting for Chinese talents with overseas experience who can contribute toward our team their valuable skills, international mindsets and understanding of overseas markets as we expand abroad," said Lyu Shousheng, vice-general manager of Weichai, who led a team of recruiters to a job fair at Queen Mary University in London on Sunday. In recent years, Weichai has made equity investments in Western companies, including Germany's Kion, Linde Hydraulics, and Dematic, Italy's Ferretti, and France's Moteurs Baudouin. Recruiting people whose technical skills and cultural understanding can bridge between Weichai and its overseas subsidiaries is crucial, Lyu said. Both Hainan Airlines and China Eastern Airlines have also participated in job fairs at institutions including University College London, Imperial College, the University of Cambridge, and the University of Manchester. Meanwhile Tianjin Airlines held its own recruitment event last month at London's Gatwick Airport with the intention of attracting talent from rival Western airlines. Gao Leqi, general manager of the Manchester branch of Hainan Airlines, was surprised by the level of interest he encountered when his team staged a recruitment day at the University of Manchester last year. "From morning to late afternoon, our team met over a thousand Chinese students coming from universities in the English Midlands and Northern England. I was so impressed by their eagerness and enthusiasm," said Gao. The companies' overseas recruitment drives are supported by Chinese government policies, such as the Thousand Talents Plan that started in 2008. So far, it has attracted more than 40,000 talented individuals back to China, through financial rewards and visa privileges. Such initiatives reduce the cost to companies of recruiting people from overseas. Fast career progression thanks to China's tremendous economic growth is attractive to many talented Chinese people working overseas, but some still hesitate. "Some graduates initially hoped that we were recruiting for our UK team, and felt disappointed when they realized the jobs were in China," Gao said. He said some graduates were worried about lower salaries in China and about not being able to pick the Chinese city of their choice after their return.
