Dengan hipotesis itu artinya orang Taiwan akan lebih tinggi IQ-nya dibanding 
Tiongkok karena huruf kanji tradisional yg lebih sukar dan banyak jumlahnya 
dibanding Tiongkok yg sudah disederhanakan dan jumlah karakter-nya pun sudah 
jauh lebih sedikit. Sedang orang Indonesia yg bahasanya sederhana jadi IQ-nya 
paling rendah, sedang mereka yg Islam mempunyai IQ lebih tinggi karena harus 
belajar/menghapal ayat2 dalam bahasa Arab. Apakah demikian kira2?

---In [email protected], <bhjo@...> wrote :

 Bung Jonathan menyingung ttg hubungan antara IQ dan keunggulan ras tertentu 
dimana dalam hyothesis ini faktor keturunaan (genetic/race) yg dianggap sebagai 
faktor penting dalam hal keunggulan IQ (Internal Factor). Sedangkan saya 
menyinggung ttg hopothesis External Factor dimana perkembangan otak/IQ 
dipengaruhi oleh stimulus yg diberikan dari luar seperti harus 
belajar/menghafal ratusan huruf kanji/chinese. Kemungkinan kedua-dua faktor, 
Internal dan External, penting dalam mempengaruhi perkembangan IQ.

 

 Hubungan antara tingginya IQ dan ras tertentu, telah diteliti antara lain oleh 
Professor J. Philippe Rushton di Kanada yg  asalnya dari UK. Misalnya, Rushton 
juga meneliti ttg besarnya otak, alat kelamin, IQ. Ternyata orang hitam/Black 
dari Afrika memunyai otak yg paling kecil diukur dgn brain scan tetapi 
mempunyai alat kelamin yg terbesar. Sedang Oriental sebaliknya dan orang 
putih/White berada diantara Oriental dan Black. Rushton adalah orang White 
tetapi mengakui bahwa dari penelitiannya IQ dari Oriental lebih baik dari 
White. Fakta ilmiah ini ditentang oleh politisi yg menganggap tidak benar, 
karena politically incorrect. Dan akan merugikan ras tertentu terutama Black. 
Posisi tenure Rushton sebagai profesor dicopot di universitas di Kanada.
 

 Salam, 
 BH Jo
 

 

 

 

 

 

 



Kirim email ke