Mahatma Gandhi memanggil sapi "bunda sapi" karena memberi minum susu anak2 
India.
 

 Di US orang2 India sekarang dipandang tinggi karena keahlihan dalam STEM. 
Apakah hal itu karena susu, ada kemungkinan besar karena susu sapi telah jadi 
bahan makanan utama India yg dicampurkan dibanyak produk makanan selain diminum 
begitu saja.
 

---In [email protected], <inengahk@...> wrote :

 Dari milist sebelah
 
 
 Susu Sapi Bukan untuk Manusia
 
 Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu 
 -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu sudah 
 tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti menyalahi 
 perilaku yang alami seperti itu?
 
 "Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof Dr 
 Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme 
(Keajaiban 
 Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. 
Padahal, 
 katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. Manusia 
 seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya 
minum 
 susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya.
 
 Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi 
penyebab 
 osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk mulut 
 langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim yang 
 diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin berat. 
 Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali 
 dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan "enzim 
 induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk 
 pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk 
 terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan lebih 
 mudah terkena osteoporosis.
 
 Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka di 
 dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan tumor 
di 
 usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti dia 
 sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah memeriksa 
 keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. Dia 
 memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter 
terus 
 mondar-mandir di antara dua negara itu.
 
 Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan penelitian. 
 Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan dan 
 minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti yang 
 makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu 
antara 
 lain susu dan daging.
 
 Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan 
 makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, 
 bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan karet 
 gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. 
 Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat bagus, 
 bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar.
 
 Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia lakukan 
 kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya 
 kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, 
 pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel 
 radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, 
 makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang 
 menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan 
 menimbulkan penyakit lagi.
 
 Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia 
hanya 
 menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang masuk 
ke 
 perut.
 
 Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, 
 keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita 
 menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak 
 makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu berarti 
 bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen dari 
 seluruh makanan yang kita perlukan.
 
 Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang 
 kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" oleh 
 mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang tidak 
 makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat.
 
 Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. Makanan 
itu, 
 katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak keras 
 harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting agar di 
 mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga 
 kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, 
tulisnya, 
 sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus lebih 
 dulu.
 
 Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, ketahuan. 
 Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar setelah 
 makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur itu, 
 tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya diterapkan, 
 orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak 
akan 
 gembrot.
 
 Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah diberi 
 "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan di 
 dalam "lumbung enzim-induk" . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari 
 "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan hari 
 itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros 
menguras 
 lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung 
 masing-masing.
 
 Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan langsing 
 haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan cara 
 selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. 
Semua 
 makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara akan 
 mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di udara 
 terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian.
 
 Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah 
 persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau makan 
 makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau makanan 
itu 
 sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, sangat 
 bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim 
yang 
 banyak.
 
 Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. Jangan 
 terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi keperluan 
 tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya pun 
 memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. Untuk 
 apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim dan 
 untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim.
 
 Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu 
dengan 
 sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah sakit. 
 Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan 
makanan 
 yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas usus 
 terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus atau 
 terlalu sering.
 
 Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. 
 Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan 
dengan 
 "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta mengikuti 
 cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, katanya, 
 banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang 
dokter 
 yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter jantung 
 hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di usus. 
 Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah 
yang 
 menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya.
 
 Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru bisa 50 
 persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi sebulan 
 ke depan.
 
 Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus makan 
 makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah 
senang 
 dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat 
 enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei!
 
 Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009
 
 
 
 _______________________________________________

Kirim email ke