Sapi Indonesia tahun 1950 an hanya bisa menghasilkan 7 liter per hari. Setelah dilakukan inseminasi buatan, generasi pertama bisa menghasilkan 12 liter per hari. Generasi kedua, dengan inseminasi buatan lagi, dapat menghasilkan 15 liter per hari. Semua ini adalah sapi2 di perusahaan susu yang dapat bermacam-macam rumput yang bagus, seperti rumput gajah, yang tingginya bisa 2 m lebih, daun turi yang memberikan hasil susu tinggi, daun kacang tanah, dan juga makanan penguat seperti katul beras, jagung giling, ketela pohon, bungkil kelapa, bungkil kacang yang kaya protein. Kabarnya generasi sapi sekarang di tempat yang dingin seperti Bogor, menghasilkan rata2 17 liter per hari. Di Belanda dengan rumputnya yang bagus dan udara sejuk, dan dengan jenis sapi unggul Frissian- Holstein dapat diperoleh rata2 30 liter/hari. Tidak tahu di India bisa berapa liter/hari. Orang beli sapi di Boyolali langsung ditakar hasilnya waktu pagi, dan waktu siang. Dijumlahkan untuk perhitungan harga sapi. Maka jual beli bisa berlangsung cepat, karena ada patokan harga berdasarkan produksi per liter. Tetapi kalau produksi terlalu rendah, perusahaan susu tidak mau beli. Produksi susu menurun sekali dalam setahun. Terlalu repot ngurusi sapi yang berpenghasilan rendah. Sapi di perusahaan susu umumnya dapat menghasilkan susu ca. 2 liter/hari lebih tinggi dari pada waktu di desa, karena pangan sapinya jauh lebih baik dp. waktu di desa. Ada juga sapi yang stress waku dipindah naik prahoto ke kota. Ditunggu beberapa hari hingga normal. Kalau tetap stress ya, dikirim balik. Jual beli batal. Sapi di kandang produksinya lebih rendah dari pada sapi yang dibiarkan di padang rumput, karena stress hidup di kandang. Ada yang mencoba dengan muziek untuk mengurangi stress sapi, atau dengan diberi suntikan vitamine B12.
2017-11-11 6:35 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > Peduli amat dgn Prabowo dan Tommy Soeharto! > > Apakah benar ikan, daging, ayam dll itu lebih murah? > Di India digalakkan susu karena susu paling murah dgn nutrisi yg banyak > dan kwalitas protein yg setara dgn daging sapi. Pada dasarnya sapi cukup > dikasih makan rumput sudah bisa produksi susu 30 liter perhari (sumber: > Djie). > > > ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : > > Ooouup, ... anda salah menangkap dan mengartikan kalimat yg saya tulis: > “Maka, sekarang, *khususnya dimasyarakat sudah makmur*, justru yang > didorong LEBIH BANYAK makan sayur2an, ...” jadi tidak ada pengertian saya > menyatakan Indonesia sudah makmur! > > Kedua, sekalipun menghadapi kenyataan masih ada 1/3 anak2 Indonesia > kekurangan gizi, jalan keluar terbaik dan lebih cepat tidak mesti dengan > SUSU-SAPI! Kenapa tidak perbaiki makanannya dengan lebih banyak makan ikan, > ayam dll ternak yg jauh lebih mudah, lebih murah dan lebih cepat bisa > diperoleh ketimbang susu-sapi! Kenapa pemerintah TIDAK gencarkan dan dukung > kuat usaha NELAYAN untuk memperbaiki produksi ikan, agar masyarakat bisa > dapatkan berbagai jenis ikan lebih murah dan SEGAAAR! Perbaiki peternakan > ayam, bebek, kamping, bahkan babi yang jauh lebih mudah, lebih murah dan > lebih cepat ketimbang ternak sapi! Bahkan juga bisa kembangkan tanaman > sayuran untuk dapatkan protein, lemak, dari kedelai, jenis kacang2an dan > kelapa juga bisa, kok. Kenapa harus mengutamakan SUSU??? > > Apalagi yang sedang dihadapi pemerintah RI sekarang ini, seruan > Revolusi-putih nya jenderal Prabowo yg hendak kembangkan peternakan sapinya > Tommy Suharto! Pemerintah tidak seharusnya menunjang usaha mereka dengan > mengatas namakan kesehatan masyarakat yg juga jelas SALAH kaprah itu! > > Salam, > ChanCT > > *From:* jonathangoeij@... [GELORA45] > *Sent:* Saturday, November 11, 2017 10:36 AM > *To:* [email protected] > *Subject:* Re: [GELORA45] Re: Susu Sapi Bukan untuk Manusia > > > > Makmur apanya? > 1/3 anak Indonesia kekurangan gizi, dibutuhkan penyelamat gizi khususnya > protein. > > Kutipan berita: > Kita patut prihatin karena masih banyak saudari dan saudara, khususnya > anak-anak yang berkekurangan gizi. Mari becermin dari data kekurangan gizi > pada anak-anak Indonesia. Menteri Kesehatan menyatakan, sebanyak 37,2 > persen jumlah anak Indonesia atau sekitar 9 juta anak kekurangan gizi. > Akibatnya, anak-anak balita gagal tumbuh, sehingga tinggi badan tidak > sesuai dengan usia. Kekuarangan gizi terjadi sejak bayi masih berada dalam > kandungan dan awal usai lahir. > http://www.koran-jakarta.com/hps--banyak-anak-kurang-gizi/ > > ---In [email protected], <SADAR@...> wrote : > > Manusia seringkali main comot pernyataan tokoh masyarakat TANPA melihat > kondisi ketika itu, dianggap kondisi sekarang masih saja TETAP sama tanpa > berubah dan berkembang! Coba perhatikan saat Gandhi menyatakan SAPI sebagai > “BUNDA SAPI”, India begitu miskin, melarat masyarakatnya serba kekurangan > GIZI, ... tentu saja minum susu-sapi merupakan PENYELAMAT gizi, khususnya > protein yg sangat dibutuhkan pertumbuhan anak2! > > Tapi, sekarang setelah kesejahteraan masyarakat meningkat, makan segala > daging hewan, ... yg sudah berlebih begitu jadi banyak anak2 kegemukan, > kalau masih saja dianjurkan setiap hari minum susu 2 gelas, ... mungkin > akan berakibat CELAKA bagi anak2 itu! Maka, sekarang, khususnya > dimasyarakat sudah makmur, justru yg didorong LEBIH BANYAK dimakan > sayur2an, ... bukan SUSU lagi! Susu cukup diminum sampai usia 2 tahun saja, > selebihnya tentu boleh2 saja sebagai penikmat dimulut saja, bukan utk > kesehatan lagi! > > Prinsip apa yang kita makan harus sesuai dengan KEBUTUHAN TUBUH kita > sendiri jangan dilanggar! Kurang tentu saja kita jadi sakit, tapi berlebih > juga jadi sakit! Jadi apa yang kita makan harus seimbang sesuai kebutuhan > tubuh kita sendiri! > > Salam, > ChanCT > > *From:* jonathangoeij@... [GELORA45] > *Sent:* Saturday, November 11, 2017 1:06 AM > *To:* [email protected] > *Subject:* [GELORA45] Re: Susu Sapi Bukan untuk Manusia > > > Mahatma Gandhi memanggil sapi "bunda sapi" karena memberi minum susu anak2 > India. > > Di US orang2 India sekarang dipandang tinggi karena keahlihan dalam STEM. > Apakah hal itu karena susu, ada kemungkinan besar karena susu sapi telah > jadi bahan makanan utama India yg dicampurkan dibanyak produk makanan > selain diminum begitu saja. > > > ---In [email protected], <inengahk@...> wrote : > > Dari milist sebelah > > > Susu Sapi Bukan untuk Manusia > > Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu > -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu > sudah > tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti > menyalahi > perilaku yang alami seperti itu? > > "Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof > Dr > Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme > (Keajaiban > Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. > Padahal, > katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. > Manusia > seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya > minum > susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya. > > Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi > penyebab > osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk > mulut > langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim > yang > diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin > berat. > Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali > dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan > "enzim > induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk > pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk > terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan > lebih > mudah terkena osteoporosis. > > Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka > di > dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan > tumor di > usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti > dia > sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah > memeriksa > keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. > Dia > memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter > terus > mondar-mandir di antara dua negara itu. > > Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan > penelitian. > Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan > dan > minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti > yang > makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu > antara > lain susu dan daging. > > Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan > makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, > bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan > karet > gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. > Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat > bagus, > bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar. > > Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia > lakukan > kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya > kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, > pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel > radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, > makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang > menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan > menimbulkan penyakit lagi. > > Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia > hanya > menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang > masuk ke > perut. > > Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, > keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita > menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak > makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu > berarti > bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen > dari > seluruh makanan yang kita perlukan. > > Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang > kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" > oleh > mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang > tidak > makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat. > > Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. > Makanan itu, > katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak > keras > harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting > agar di > mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga > kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, > tulisnya, > sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus > lebih > dulu. > > Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, > ketahuan. > Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar > setelah > makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur > itu, > tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya > diterapkan, > orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak > akan > gembrot. > > Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah > diberi > "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan > di > dalam "lumbung enzim-induk" . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari > "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan > hari > itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros > menguras > lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung > masing-masing. > > Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan > langsing > haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan > cara > selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. > Semua > makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara > akan > mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di > udara > terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian. > > Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah > persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau > makan > makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau > makanan itu > sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, > sangat > bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim > yang > banyak. > > Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. > Jangan > terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi > keperluan > tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya > pun > memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. > Untuk > apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim > dan > untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim. > > Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu > dengan > sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah > sakit. > Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan > makanan > yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas > usus > terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus > atau > terlalu sering. > > Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. > Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan > dengan > "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta > mengikuti > cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, > katanya, > banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang > dokter > yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter > jantung > hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di > usus. > Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah > yang > menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya. > > Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru > bisa 50 > persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi > sebulan > ke depan. > > Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus > makan > makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah > senang > dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat > enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei! > > Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009 > > > > _______________________________________________ > > > >
