Seandainya sapi itu "tugas alamnya" hanya untuk menyusui anaknya, mengapa sapi itu menghasilkan susu sampai 30 liter sehari ( produksi susu di negeri Belanda), padahal anak sapi minum susu tidak lebih dari 8 liter sehari ? Lalu apa jeleknya orang Mongol kok minum susu kuda. Penunggang kuda tetapi tulangnya tidak rapuh ? Pengaruh gerak badan/olahraga dalam mencegah osteoporese belum dibicarakan. Juga pengaruh DNA/ras.
2017-11-10 18:06 GMT+01:00 [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > > Mahatma Gandhi memanggil sapi "bunda sapi" karena memberi minum susu anak2 > India. > > Di US orang2 India sekarang dipandang tinggi karena keahlihan dalam STEM. > Apakah hal itu karena susu, ada kemungkinan besar karena susu sapi telah > jadi bahan makanan utama India yg dicampurkan dibanyak produk makanan > selain diminum begitu saja. > > > ---In [email protected], <inengahk@...> wrote : > > Dari milist sebelah > > > Susu Sapi Bukan untuk Manusia > > Tidak ada makhluk di dunia ini yang ketika sudah dewasa masih minum susu > -kecuali manusia. Lihatlah sapi, kambing, kerbau, atau apa pun: begitu > sudah > tidak anak-anak lagi tidak akan minum susu. Mengapa manusia seperti > menyalahi > perilaku yang alami seperti itu? > > "Itu gara-gara pabrik susu yang terus mengiklankan produknya," ujar Prof > Dr > Hiromi Shinya, penulis buku yang sangat laris: The Miracle of Enzyme > (Keajaiban > Enzim) yang sudah terbit dalam bahasa Indonesia dengan judul yang sama. > Padahal, > katanya, susu sapi adalah makanan/minuman paling buruk untuk manusia. > Manusia > seharusnya hanya minum susu manusia. Sebagaimana anak sapi yang juga hanya > minum > susu sapi. Mana ada anak sapi minum susu manusia, katanya. > > Mengapa susu paling jelek untuk manusia? Bahkan, katanya, bisa menjadi > penyebab > osteoporosis? Jawabnya: karena susu itu benda cair sehingga ketika masuk > mulut > langsung mengalir ke kerongkongan. Tidak sempat berinteraksi dengan enzim > yang > diproduksi mulut kita. Akibat tidak bercampur enzim, tugas usus semakin > berat. > Begitu sampai di usus, susu tersebut langsung menggumpal dan sulit sekali > dicerna. Untuk bisa mencernanya, tubuh terpaksa mengeluarkan cadangan > "enzim > induk" yang seharusnya lebih baik dihemat. Enzim induk itu mestinya untuk > pertumbuhan tubuh, termasuk pertumbuhan tulang. Namun, karena enzim induk > terlalu banyak dipakai untuk membantu mencerna susu, peminum susu akan > lebih > mudah terkena osteoporosis. > > Profesor Hiromi tentu tidak hanya mencari sensasi. Dia ahli usus terkemuka > di > dunia. Dialah dokter pertama di dunia yang melakukan operasi polip dan > tumor di > usus tanpa harus membedah perut. Dia kini sudah berumur 70 tahun. Berarti > dia > sudah sangat berpengalaman menjalani praktik kedokteran. Dia sudah > memeriksa > keadaan usus bagian dalam lebih dari 300.000 manusia Amerika dan Jepang. > Dia > memang orang Amerika kelahiran Jepang yang selama karirnya sebagai dokter > terus > mondar-mandir di antara dua negara itu. > > Setiap memeriksa usus pasiennya, Prof Hiromi sekalian melakukan > penelitian. > Yakni, untuk mengetahui kaitan wujud dalamnya usus dengan kebiasaan makan > dan > minum pasiennya. Dia menjadi hafal pasien yang ususnya berantakan pasti > yang > makan atau minumnya tidak bermutu. Dan, yang dia sebut tidak bermutu itu > antara > lain susu dan daging. > > Dia melihat alangkah mengerikannya bentuk usus orang yang biasa makan > makanan/minuman yang "jelek": benjol-benjol, luka-luka, bisul-bisul, > bercak-bercak hitam, dan menyempit di sana-sini seperti diikat dengan > karet > gelang. Jelek di situ berarti tidak memenuhi syarat yang diinginkan usus. > Sedangkan usus orang yang makanannya sehat/baik, digambarkannya sangat > bagus, > bintik-bintik rata, kemerahan, dan segar. > > Karena tugas usus adalah menyerap makanan, tugas itu tidak bisa dia > lakukan > kalau makanan yang masuk tidak memenuhi syarat si usus. Bukan saja ususnya > kecapean, juga sari makanan yang diserap pun tidak banyak. Akibatnya, > pertumbuhan sel-sel tubuh kurang baik, daya tahan tubuh sangat jelek, sel > radikal bebas bermunculan, penyakit timbul, dan kulit cepat menua. Bahkan, > makanan yang tidak berserat seperti daging, bisa menyisakan kotoran yang > menempel di dinding usus: menjadi tinja stagnan yang kemudian membusuk dan > menimbulkan penyakit lagi. > > Karena itu, Prof Hiromi tidak merekomendasikan daging sebagai makanan. Dia > hanya > menganjurkan makan daging itu cukup 15 persen dari seluruh makanan yang > masuk ke > perut. > > Dia mengambil contoh yang sangat menarik, meski di bagian ini saya rasa, > keilmiahannya kurang bisa dipertanggungjawabk an. Misalnya, dia minta kita > menyadari berapakah jumlah gigi taring kita, yang tugasnya mengoyak-ngoyak > makanan seperti daging: hanya 15 persen dari seluruh gigi kita. Itu > berarti > bahwa alam hanya menyediakan infrastruktur untuk makan daging 15 persen > dari > seluruh makanan yang kita perlukan. > > Dia juga menyebut contoh harimau yang hanya makan daging. Larinya memang > kencang, tapi hanya untuk menit-menit awal. Ketika diajak "lomba lari" > oleh > mangsanya, harimau akan cepat kehabisan tenaga. Berbeda dengan kuda yang > tidak > makan daging. Ketahanan larinya lebih hebat. > > Di samping pemilihan makanan, Prof Hiromi mempersoalkan cara makan. > Makanan itu, > katanya, harus dikunyah minimal 30 kali. Bahkan, untuk makanan yang agak > keras > harus sampai 70 kali. Bukan saja bisa lebih lembut, yang lebih penting > agar di > mulut makanan bisa bercampur dengan enzim secara sempurna. Demikian juga > kebiasaan minum setelah makan bukanlah kebiasaan yang baik. Minum itu, > tulisnya, > sebaiknya setengah jam sebelum makan. Agar air sudah sempat diserap usus > lebih > dulu. > > Bagaimana kalau makanannya seret masuk tenggorokan? Nah, ini dia, > ketahuan. > Berarti mengunyahnya kurang dari 30 kali! Dia juga menganjurkan agar > setelah > makan sebaiknya jangan tidur sebelum empat atau lima jam kemudian. Tidur > itu, > tulisnya, harus dalam keadaan perut kosong. Kalau semua teorinya > diterapkan, > orang bukan saja lebih sehat, tapi juga panjang umur, awet muda, dan tidak > akan > gembrot. > > Yang paling mendasar dari teorinya adalah: setiap tubuh manusia sudah > diberi > "modal" oleh alam bernama enzim-induk dalam jumlah tertentu yang tersimpan > di > dalam "lumbung enzim-induk" . Enzim-induk ini setiap hari dikeluarkan dari > "lumbung"-nya untuk diubah menjadi berbagai macam enzim sesuai keperluan > hari > itu. Semakin jelek kualitas makanan yang masuk ke perut, semakin boros > menguras > lumbung enzim-induk. Mati, menurut dia, adalah habisnya enzim di lumbung > masing-masing. > > Maka untuk bisa berumur panjang, awet muda, tidak pernah sakit, dan > langsing > haruslah menghemat enzim-induk itu. Bahkan, kalau bisa ditambah dengan > cara > selalu makan makanan segar. Ada yang menarik dalam hal makanan segar ini. > Semua > makanan (mentah maupun yang sudah dimasak) yang sudah lama terkena udara > akan > mengalami oksidasi. Dia memberi contoh besi yang kalau lama dibiarkan di > udara > terbuka mengalami karatan. Bahan makanan pun demikian. > > Apalagi kalau makanan itu digoreng dengan minyak. Minyaknya sendiri sudah > persoalan, apalagi kalau minyak itu sudah teroksidasi. Karena itu, kalau > makan > makanan yang digoreng saja sudah kurang baik, akan lebih parah kalau > makanan itu > sudah lama dibiarkan di udara terbuka. Minyak yang oksidasi, katanya, > sangat > bahaya bagi usus. Maksudnya, mengolah makanan seperti itu memerlukan enzim > yang > banyak. > > Apa saja makanan yang direkomendasikan? Sayur, biji-bijian, dan buah. > Jangan > terlalu banyak makan makanan yang berprotein. Protein yang melebihi > keperluan > tubuh ternyata tidak bisa disimpan. Protein itu harus dibuang. Membuangnya > pun > memerlukan kekuatan yang ujung-ujungnya juga berasal dari lumbung enzim. > Untuk > apa makan berlebih kalau untuk mengolah makanan itu harus menguras enzim > dan > untuk membuang kelebihannya juga harus menguras lumbung enzim. > > Prof Hiromi sendiri secara konsekuen menjalani prinsip hidup seperti itu > dengan > sungguh-sungguh. Hasilnya, umurnya sudah 70 tahun, tapi belum pernah > sakit. > Penampilannya seperti 15 tahun lebih muda. Tentu sesekali dia juga makan > makanan > yang di luar itu. Sebab, sesekali saja tidak apa-apa. Menurunnya kualitas > usus > terjadi karena makanan "jelek" itu masuk ke dalamnya secara terus-menerus > atau > terlalu sering. > > Terhadap pasiennya, Prof Hiromi juga menerapkan "pengobatan" seperti itu. > Pasien-pasien penyakit usus, termasuk kanker usus, banyak dia selesaikan > dengan > "pengobatan" alamiah tersebut. Pasiennya yang sudah gawat dia minta > mengikuti > cara hidup sehat seperti itu dan hasilnya sangat memuaskan. Dokter, > katanya, > banyak melihat pasien hanya dari satu sisi di bidang sakitnya itu. Jarang > dokter > yang mau melihatnya melalui sistem tubuh secara keseluruhan. Dokter > jantung > hanya fokus ke jantung. Padahal, penyebab pokoknya bisa jadi justru di > usus. > Demikian juga dokter-dokter spesialis lain. Pendidikan dokter spesialislah > yang > menghancurkan ilmu kedokteran yang sesungguhnya. > > Saya mencoba mengikuti saran buku ini sebulan terakhir ini. Tapi, baru > bisa 50 > persennya. Entah, persentase itu akan bisa naik atau justru turun lagi > sebulan > ke depan. > > Yang menggembirakan dari buku Prof Hiromi ini adalah: orang itu harus > makan > makanan yang enak. Dengan makan enak, hatinya senang. Kalau hatinya sudah > senang > dan pikirannya gembira, terjadilah mekanisme dalam tubuh yang bisa membuat > enzim-induk bertambah. Nah..... gan pei! > > Sumber: Jawa Pos, 15 Mei 2009 > > > > _______________________________________________ > > >
