Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
Pewarta: Joko Susilo  Senin, 20 November 2017 13:18 WIB
 
Presiden Joko Widodo . (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo mengkritik cara-cara tak beretika 
dan melupakan kesantunan dalam berpolitik sehingga masih sering keluar tuduhan 
tidak berdasar seperti klaim bangkitnya Partai Komunis Indonesia (PKI), padahal 
undang-undang, yakni TAP MPRS, jelas-jelas menjadi payung hukum yang membuat 
PKI mustahil hidup lagi di Indonesia.

"Coba kita lihat, masih banyak yang teriak-teriak antek asing, antek aseng, 
mengenai PKI bangkit. Kalau saya, PKI bangkit gebug saja sudah, gampang. payung 
hukumnya jelas, TAP MPRS masih ada, ngapain banyak-banyak masalah ini. Juga 
mengenai anti Islam, anti ulama, Cara politik yang beretika harus mulai kita 
sampaikan," kata Presiden kepada para senior PPAD (Persatuan Purnawirawan 
Angkatan Darat), FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan Putra 
Putri TNI-Polri dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti (YSNB), saat membuka 
Simposium Nasional Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta, Senin.

Presiden menyebut masih banyak elit politik yang tidak memberikan pendidikan 
yang baik kepada masyarakat, terutama generasi muda. Oleh karena itu dia 
meminta generasi muda meneladankan kesantunan dalam berpolitik.

"Memberikan nilai-nilai itu kepada generasi muda, bagaimana berpolitik yang 
beretika, cara-cara bicara yang beretika, bagaimana menghargai sebuah 
senioritas, bagaimana menjaga nilai-nilai kesantunan," kata Presiden

Presiden mengatakan cara-cara berpolitik santun harus dikembangkan dan 
disampaikan kepada masyarakat, terutama pada anak-anak agar nilai keindonesian 
tidak hilang.

Untuk itu, lanjut Jokowi, pemerintah telah membentuk Unit Kerja Presiden 
Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIPI) dan mengeluarkan Perpres nomor 87/2017 
tentang Pendidikan tentang Penguatan Pendidikan Karakter untuk memberikan 
kepada generasi muda tidak tergerus nilai-nilai ke-Indonesiannya.

"Nilai-nilai keindonesiaan, yakni nilai kesopanan, kesantunan, semua terkandung 
dalam ideologi Pancasila harus terus disampaikan pada anak-anak kita, bagaimana 
mengenai kerukukanan, bagaimana persaudaraan, bagaimana mengenai toleransi," 
kata Presiden.

Jokowi mengakui bahwa saat ini, pendidikan generasi muda saat ini tidak hanya 
menerima pendidikan dari guru dan orang tua saja tetapi juga dari media sosial.

"Jangan keliru, yang mendidik anak kita sekarang ini bukan dari guru, orang 
tua, tetapi lebih banyak oleh media sosial. Kekuatan keterbukaan kekuatan media 
sosial sekarang mempengaruhi sekali dari semua aspek baik ekonomi, politik 
maupun sosial, dan ini yang harus kita antisipasi," kata Jokowi.

Presiden mengingatkan bahwa perkembangan yang sangat cepat teknologi informasi 
tidak bisa dibendung yang membuat lanskap ekonomi dan politik baik 
internasional maupun nasional berubah.

"Jika ini tidak diantisipasi, tidak disiapkan nilai-nilai karakter keindonesia 
kita, nilai karekter bangsa akan tergerus, kalau penyiapannya betul-betul tidak 
mulai dari tahapan yang benar," kata Presiden. 


Editor: Jafar M Sidik

Kirim email ke