REFLEKSI :  Menurut pengamatan saya, apa yang dikatakan reformasi itu secara 
hakekat adalah bentuk pemunduran strategis dari Orde Baru, ini dibuktikan bahwa 
setelah 19 tahun reformasi, maka  gejala orde baru mulai muncul dipermukaan, 
dalam bentuk mengidolakan PKI sebagai hantu. Idola PKI sebagai hantu ini dapat 
digolongkan dalam kategori idola tribus (tribus = bangsa), adalah semacam 
prasangka-prasangka yang dihasilkan oleh tuduhan-tuduhan  kejahatan-kejahatan 
PKI sebagai dalang peristiwa 1965 yang di suntikkan oleh rezim militer fasis 
pimpinan jendelal TNI AD Suharto, kepada bangsa Indonesia. Dampak dari suntikan 
itu sampai sekarng masih terus melekat ertat dalam sanubari bangsa Indonesia 
dan para elite - elite bangsanya; sehinga terkesan kuat, bahwa idola PKI sebagi 
hantu telah di dewa-dewakan oleh rezim-rezim ``reformasi``; Sehingga  orang tak 
sanggup memandang keadaan  yang objektif. Ini terjermin dalam seruan Jokowi, 
yang mengatakan ``kalau PKI bangkit, gebuk saja`` , padahal seruan itu tidak 
didukung oleh keadaan objektif, PKI sudah dikubur selalma stengah abad yang 
lalu, kader-kadrenya sudah disiksa dan dibunuh tanpa melalui proses pengadilan 
apapun. 

Tapi sebagian masyarakat Indonesia masih terus mengatakan PKI bangkit, dan 
anehnya direspon oleh presiden Jokowi, sehingga keluarlah seruan ``kalau KPI 
bangkit, gebuk saja``.  Seharusnya sebagai seorang negarawan yang sejati, 
Jokowi harus mampu memberikan pencerahan kepada bangsanya tentang benar atau 
tidaknya apa yang dikatakan oleh FPI baha PKI telah bangkit. Dalam konteks ini 
bisa dipercaya bahwa Jokowi mempunyai berbagai macam aparat keamanan, misalnya 
Pulisi, intelejen, milier dll.  Jadi seruan Jokowi yang mengatakan ``kalau PKI 
bangkit, gebuk`` sungguh menertawakan, karena sekedar latah dalam menerima dan 
menaggapi seruan FPI, yang secara energitis menyatakan bahwa PKI telah bangkit 
kembali, tanpa dsertai bukti-bukti yang nyata. 

Demikianlan penomena rezim ``refprmasi`` Indonesia.

 

Roeslan,

 

 

Von: [email protected] [mailto:[email protected]] 
Gesendet: Donnerstag, 23. November 2017 11:11
An: [email protected]
Betreff: Re: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"

 

  

 

Jokowi lahir tahun 1961. Jadi waktu kejadian G30S tahun 1965,  beliau baru 
berumur 4 tahun. Sesudah Soeharto menang mengkudeta Bung Karno dan merekayasa 
serta merobah sejarah, Jokowi masuk 
sekolah......SD....SMP.....SMA.....Fakultas..........semua pengajaran dan 
kurikullum sekolah ikut "ajaran Orba Soeharto". Tidak mau ikut kurikulum/ajaran 
Soeharto pasti tidak bakal lulus......! Tidak bakal jadi sarjana.......!

 

Selama 32 tahun Soeharto nongkrong jadi penguasa Indonesia, semua berobah balik 
kanan gerak........nggak ada lagi yang namanya "revolusi agustus 45". Semua 
berobah untuk kepentingan Imperialis Asing, Amerika dan Inggris dan anteknya 
Orde Baru Soeharto. Sejarahpun ikut kemauan Soeharto yang dianggap "pemenang", 
dan dia dengan bangga bisa bilang "Nyang nggak sukak thak gebug..!" Sebab 
'politiknya' adalah bedil dan bayonet. Anggota MPRS dibersihkan, dirombak dan 
dipreteli, orang-orang yang benar dan simpati kepada Soekarno semua dibuang, 
dipecat, ditangkap dan ditahan atau dibunuh dan diganti dengan orang-orang yang 
bisa mengucapkan "nggih ndoro" kepada anak Kemusuk Soeharto.......! Dalam 
keadaan hampir 100% anggota MPRS adalah orang-orangnya Soeharto, sipil dan 
militer, dalam saat itulah "Nato" (Nasution dan Soeharto) menciptakan segala 
Tap-Tap MPRS yang dipaksakan, yang merugikan Rakyat, Bangsa bahkan Founding 
Father Revolusi Indonesia Bung Karno. Sesudah Soeharto lengser dan mati karena 
sakit otak (40 dokter mencoba menyelamatkan nyawanya di Rumah Sakit tapi tak 
berhasil), tidak ada kekuatan baik dari Rakyat maupun dari Langit yang bisa 
merobah segala Tap dan Peraturan MPRS yang diwariskan oleh Jenderal Dajal 
pembunuh 3 juta rakyat Indonesia tak bersalah itu. Apalagi, 32 tahun 
(1965-1998) bukanlah waktu yang singkat yang digunakannya untuk menciptakan 
pengikut-pengikut yang bisa membebek dan menjalankan segala ajaran "Jenderal 
Besar" Soeharto, dan yang sampai sekarang bisa berhasil nongkrong dalam partai 
dan pemerintahan "re-Formasi" tanpa ada yang tahu isi perutnya........Dan 
justru sejarah yang diputar balik oleh Orba Soeharto itulah yang dipakai dan 
digunakan oleh bangsa dan pemerintahan Indonesia sampai sekarang.........! 
Bangsa Indonesia takut untuk berpikir (bayangkan: berpikir sajapun takut....!), 
apakah benar PKI berontak tahun 1965 itu? Benarkah PKI kudeta pada tahun 1965 
itu? Benarkah G30S itu didalangi oleh PKI? Kenapa partai besar pemenang nomor 4 
Pemilu yang beranggotakan jutaan orang, tidak melakukan perlawanan dan 3 juta 
anggotanya dibantai tentara Soeharto seperti membantai ayam dalam kandang tanpa 
perlawanan, dan 2 juta ditangkap dan ditahan dan banyak yang yang mati karena 
dihilangkan/dibunuh dan kurang makan? Apakah mereka yang berkuasa sekarang 
berani membongkar dan memeriksa kembali apa sebenarnya yang terjadi, ketimbang 
'mewarisi' ucapan dan pameo tokoh-tokoh pembantai rakyat itu?

K.H. Abdurrahman Wahid Mantan Presiden RI pernah mengatakan:

“Kalau kita ingin supaya masa depan bangsa ini cerah, harus ada keberanian 
untuk membongkar yang lama, sehingga kita tahu betul peristiwa ini bagaimana 
sebetulnya, adanya, dan sebagainya:” (dari film dokumen Kawan Tiba Senja)

Surat kabar Riau Pos Pekanbaru pada tanggal 1 Oktober 2006  menulis: "Sejarah 
adalah milik pemenang. Realitas tersebut terbukti dalam pengungkapan fakta 
peristiwa G30S selama ini yang merupakan interpretasi sejarah dari penguasa 
orde baru“

Nah.......adakah keberanian bangsa dan pemimpin Indonesia untuk memeriksa 
kembali masa lalu yang sangat kejam dan biadab itu selain menikmati, mewarisi 
dan melanjutkan kejahatan kemanusiaan yang "dilakukan dan dihasilkan" ordebaru 
Soeharto itu.......??? (YTT).

 

 

 

 

 

 

 







------ Original Message ------
From: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To: "GELORA_In" <[email protected]>
Sent: Monday, 20 Nov, 2017 At 5:48 PM
Subject: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"

    

  

      

                    

 


Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"


Pewarta: Joko  Susilo  Senin,  20 November 2017 13:18  WIB

 

Presiden Joko Widodo  . (ANTARA /Puspa Perwitasari)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo  mengkritik cara-cara tak beretika 
dan melupakan kesantunan dalam berpolitik  sehingga masih sering keluar tuduhan 
tidak berdasar seperti klaim bangkitnya  Partai Komunis Indonesia (PKI), 
padahal undang-undang, yakni TAP MPRS,  jelas-jelas menjadi payung hukum yang 
membuat PKI mustahil hidup lagi di  Indonesia.

"Coba kita lihat, masih banyak yang teriak-teriak  antek asing, antek aseng, 
mengenai PKI bangkit. Kalau saya, PKI bangkit gebug  saja sudah, gampang. 
payung hukumnya jelas, TAP MPRS masih ada, ngapain  banyak-banyak masalah ini. 
Juga mengenai anti Islam, anti ulama, Cara politik  yang beretika harus mulai 
kita sampaikan," kata Presiden kepada para senior PPAD  (Persatuan Purnawirawan 
Angkatan Darat), FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri  Purnawirawan dan Putra 
Putri TNI-Polri dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti  (YSNB), saat membuka 
Simposium Nasional Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta,  Senin.

Presiden menyebut masih banyak elit politik yang  tidak memberikan pendidikan 
yang baik kepada masyarakat, terutama generasi muda.  Oleh karena itu dia 
meminta generasi muda meneladankan kesantunan dalam  berpolitik.

"Memberikan nilai-nilai itu kepada generasi muda,  bagaimana berpolitik yang 
beretika, cara-cara bicara yang beretika, bagaimana  menghargai sebuah 
senioritas, bagaimana menjaga nilai-nilai kesantunan," kata  Presiden

Presiden mengatakan cara-cara berpolitik santun  harus dikembangkan dan 
disampaikan kepada masyarakat, terutama pada anak-anak  agar nilai keindonesian 
tidak hilang.

Untuk itu, lanjut Jokowi, pemerintah telah  membentuk Unit Kerja Presiden 
Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIPI) dan  mengeluarkan Perpres nomor 87/2017 
tentang Pendidikan tentang Penguatan  Pendidikan Karakter untuk memberikan 
kepada generasi muda tidak tergerus  nilai-nilai ke-Indonesiannya.

"Nilai-nilai keindonesiaan, yakni nilai  kesopanan, kesantunan, semua 
terkandung dalam ideologi Pancasila harus terus  disampaikan pada anak-anak 
kita, bagaimana mengenai kerukukanan, bagaimana  persaudaraan, bagaimana 
mengenai toleransi," kata Presiden.

Jokowi  mengakui bahwa saat ini, pendidikan generasi muda saat ini tidak hanya 
menerima  pendidikan dari guru dan orang tua saja tetapi juga dari media sosial.

"Jangan  keliru, yang mendidik anak kita sekarang ini bukan dari guru, orang 
tua, tetapi  lebih banyak oleh media sosial. Kekuatan keterbukaan kekuatan 
media sosial  sekarang mempengaruhi sekali dari semua aspek baik ekonomi, 
politik maupun  sosial, dan ini yang harus kita antisipasi," kata Jokowi.

Presiden  mengingatkan bahwa perkembangan yang sangat cepat teknologi informasi 
tidak bisa  dibendung yang membuat lanskap ekonomi dan politik baik 
internasional maupun  nasional berubah.

"Jika ini tidak diantisipasi, tidak disiapkan  nilai-nilai karakter keindonesia 
kita, nilai karekter bangsa akan tergerus,  kalau penyiapannya betul-betul 
tidak mulai dari tahapan yang benar," kata  Presiden. 

Editor: Jafar M  Sidik

     

                

               



Kirim email ke