Bagi saya cukup gamblang. Arti reformasi adalah: re=kembali; formasi=susunan. Jadi karena sesudah Soeharto dijatuhkan namun garis politik tidak berobah, maka re-FORMASI adalah cuma "penyusunan kembali KEKUATAN SOEHARTO  dengan orang-orang yang belum dikenal umum yang selama Soeharto diatas tidak kebagian kursi"......Kalau mau lebih jelas, coba periksa, semenjaK 1998, siapakah tokoh pejabat yang tidak ikut "politik Soeharto" ? Semua meneruskan politik, rekayasa dan tipu muslihat Soeharto, bahkan sampai sekarang, hari ini, bukan? Tidak ada yang namanya  "menjebol dan membangun" demi perbaikan nasib rakyat, dan Revolusi Indonesia seperti yang dikatakan Bung Karno, semua pejabat pada memburu kekayaan diri sendiri................!!! Tidakkah begitu......???

------ Original Message ------
From: "Roeslan [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
To: [email protected]; "'Yoseph T Taher'" <[email protected]>
Sent: Sunday, 26 Nov, 2017 At 2:18 AM
Subject: AW: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
    
  
      
                    

REFLEKSI :  Menurut pengamatan saya, apa yang dikatakan reformasi itu secara hakekat adalah bentuk pemunduran strategis dari Orde Baru, ini dibuktikan bahwa setelah 19 tahun reformasi, maka  gejala orde baru mulai muncul dipermukaan, dalam bentuk mengidolakan PKI sebagai hantu. Idola PKI sebagai hantu ini dapat digolongkan dalam kategori idola tribus (tribus = bangsa), adalah semacam prasangka-prasangka yang dihasilkan oleh tuduhan-tuduhan  kejahatan-kejahatan PKI sebagai dalang peristiwa 1965 yang di suntikkan oleh rezim militer fasis pimpinan jendelal TNI AD Suharto, kepada bangsa Indonesia. Dampak dari suntikan itu sampai sekarng masih terus melekat ertat dalam sanubari bangsa Indonesia dan para elite - elite bangsanya; sehinga terkesan kuat, bahwa idola PKI sebagi hantu telah di dewa-dewakan oleh rezim-rezim ``reformasi``; Sehingga  orang tak sanggup memandang keadaan  yang objektif. Ini terjermin dalam seruan Jokowi, yang mengatakan ``kalau PKI bangkit, gebuk saja`` , padahal seruan itu tidak didukung oleh keadaan objektif, PKI sudah dikubur selalma stengah abad yang lalu, kader-kadrenya sudah disiksa dan dibunuh tanpa melalui proses pengadilan apapun. Tapi sebagian masyarakat Indonesia masih terus mengatakan PKI bangkit, dan anehnya direspon oleh presiden Jokowi, sehingga keluarlah seruan ``kalau KPI bangkit, gebuk saja``.  Seharusnya sebagai seorang negarawan yang sejati, Jokowi harus mampu memberikan pencerahan kepada bangsanya tentang benar atau tidaknya apa yang dikatakan oleh FPI baha PKI telah bangkit. Dalam konteks ini bisa dipercaya bahwa Jokowi mempunyai berbagai macam aparat keamanan, misalnya Pulisi, intelejen, milier dll.  Jadi seruan Jokowi yang mengatakan ``kalau PKI bangkit, gebuk`` sungguh menertawakan, karena sekedar latah dalam menerima dan menaggapi seruan FPI, yang secara energitis menyatakan bahwa PKI telah bangkit kembali, tanpa dsertai bukti-bukti yang nyata.
Demikianlan penomena rezim ``refprmasi`` Indonesia.
 
Roeslan,
 
 

Von: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected] <mailto:[email protected]> ]
Gesendet: Donnerstag, 23. November 2017 11:11
An: [email protected] <mailto:[email protected]>
Betreff: Re: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"

 
 


 

Jokowi lahir tahun 1961. Jadi waktu kejadian G30S tahun 1965,  beliau baru berumur 4 tahun. Sesudah Soeharto menang mengkudeta Bung Karno dan merekayasa serta merobah sejarah, Jokowi masuk sekolah......SD....SMP.....SMA.....Fakultas..........semua pengajaran dan kurikullum sekolah ikut "ajaran Orba Soeharto". Tidak mau ikut kurikulum/ajaran Soeharto pasti tidak bakal lulus......! Tidak bakal jadi sarjana.......!
 
Selama 32 tahun Soeharto nongkrong jadi penguasa Indonesia, semua berobah balik kanan gerak........nggak ada lagi yang namanya "revolusi agustus 45". Semua berobah untuk kepentingan Imperialis Asing, Amerika dan Inggris dan anteknya Orde Baru Soeharto. Sejarahpun ikut kemauan Soeharto yang dianggap "pemenang", dan dia dengan bangga bisa bilang "Nyang nggak sukak thak gebug..!" Sebab 'politiknya' adalah bedil dan bayonet. Anggota MPRS dibersihkan, dirombak dan dipreteli, orang-orang yang benar dan simpati kepada Soekarno semua dibuang, dipecat, ditangkap dan ditahan atau dibunuh dan diganti dengan orang-orang yang bisa mengucapkan "nggih ndoro" kepada anak Kemusuk Soeharto.......! Dalam keadaan hampir 100% anggota MPRS adalah orang-orangnya Soeharto, sipil dan militer, dalam saat itulah "Nato" (Nasution dan Soeharto) menciptakan segala Tap-Tap MPRS yang dipaksakan, yang merugikan Rakyat, Bangsa bahkan Founding Father Revolusi Indonesia Bung Karno. Sesudah Soeharto lengser dan mati karena sakit otak (40 dokter mencoba menyelamatkan nyawanya di Rumah Sakit tapi tak berhasil), tidak ada kekuatan baik dari Rakyat maupun dari Langit yang bisa merobah segala Tap dan Peraturan MPRS yang diwariskan oleh Jenderal Dajal pembunuh 3 juta rakyat Indonesia tak bersalah itu. Apalagi, 32 tahun (1965-1998) bukanlah waktu yang singkat yang digunakannya untuk menciptakan pengikut-pengikut yang bisa membebek dan menjalankan segala ajaran "Jenderal Besar" Soeharto, dan yang sampai sekarang bisa berhasil nongkrong dalam partai dan pemerintahan "re-Formasi" tanpa ada yang tahu isi perutnya........Dan justru sejarah yang diputar balik oleh Orba Soeharto itulah yang dipakai dan digunakan oleh bangsa dan pemerintahan Indonesia sampai sekarang.........! Bangsa Indonesia takut untuk berpikir (bayangkan: berpikir sajapun takut....!), apakah benar PKI berontak tahun 1965 itu? Benarkah PKI kudeta pada tahun 1965 itu? Benarkah G30S itu didalangi oleh PKI? Kenapa partai besar pemenang nomor 4 Pemilu yang beranggotakan jutaan orang, tidak melakukan perlawanan dan 3 juta anggotanya dibantai tentara Soeharto seperti membantai ayam dalam kandang tanpa perlawanan, dan 2 juta ditangkap dan ditahan dan banyak yang yang mati karena dihilangkan/dibunuh dan kurang makan? Apakah mereka yang berkuasa sekarang berani membongkar dan memeriksa kembali apa sebenarnya yang terjadi, ketimbang 'mewarisi' ucapan dan pameo tokoh-tokoh pembantai rakyat itu?
K.H. Abdurrahman Wahid Mantan Presiden RI pernah mengatakan:
“Kalau kita ingin supaya masa depan bangsa ini cerah, harus ada keberanian untuk membongkar yang lama, sehingga kita tahu betul peristiwa ini bagaimana sebetulnya, adanya, dan sebagainya:” (dari film dokumen Kawan Tiba Senja) Surat kabar Riau Pos Pekanbaru pada tanggal 1 Oktober 2006  menulis: "Sejarah adalah milik pemenang. Realitas tersebut terbukti dalam pengungkapan fakta peristiwa G30S selama ini yang merupakan interpretasi sejarah dari penguasa orde baru“ Nah.......adakah keberanian bangsa dan pemimpin Indonesia untuk memeriksa kembali masa lalu yang sangat kejam dan biadab itu selain menikmati, mewarisi dan melanjutkan kejahatan kemanusiaan yang "dilakukan dan dihasilkan" ordebaru Soeharto itu.......??? (YTT).


 

 

 

 

 

 

 



------ Original Message ------
From: "'Chan CT' [email protected] <mailto:[email protected]> [GELORA45]" <[email protected] <mailto:[email protected]>

To: "GELORA_In" <[email protected] <mailto:[email protected]> >
Sent: Monday, 20 Nov, 2017 At 5:48 PM
Subject: [GELORA45] Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
   
 
     
                   
 
Jokowi: "Kalau PKI bangkit, gebuk saja"
Pewarta: Joko  Susilo  Senin,  20 November 2017 13:18  WIB
 
Presiden Joko Widodo  . (ANTARA /Puspa Perwitasari)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo  mengkritik cara-cara tak beretika dan melupakan kesantunan dalam berpolitik  sehingga masih sering keluar tuduhan tidak berdasar seperti klaim bangkitnya  Partai Komunis Indonesia (PKI), padahal undang-undang, yakni TAP MPRS,  jelas-jelas menjadi payung hukum yang membuat PKI mustahil hidup lagi di  Indonesia. "Coba kita lihat, masih banyak yang teriak-teriak  antek asing, antek aseng, mengenai PKI bangkit. Kalau saya, PKI bangkit gebug  saja sudah, gampang. payung hukumnya jelas, TAP MPRS masih ada, ngapain  banyak-banyak masalah ini. Juga mengenai anti Islam, anti ulama, Cara politik  yang beretika harus mulai kita sampaikan," kata Presiden kepada para senior PPAD  (Persatuan Purnawirawan Angkatan Darat), FKPPI (Forum Komunikasi Putra Putri  Purnawirawan dan Putra Putri TNI-Polri dan Yayasan Suluh Nuswantara Bakti  (YSNB), saat membuka Simposium Nasional Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta,  Senin. Presiden menyebut masih banyak elit politik yang  tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat, terutama generasi muda.  Oleh karena itu dia meminta generasi muda meneladankan kesantunan dalam  berpolitik. "Memberikan nilai-nilai itu kepada generasi muda,  bagaimana berpolitik yang beretika, cara-cara bicara yang beretika, bagaimana  menghargai sebuah senioritas, bagaimana menjaga nilai-nilai kesantunan," kata  Presiden Presiden mengatakan cara-cara berpolitik santun  harus dikembangkan dan disampaikan kepada masyarakat, terutama pada anak-anak  agar nilai keindonesian tidak hilang. Untuk itu, lanjut Jokowi, pemerintah telah  membentuk Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIPI) dan  mengeluarkan Perpres nomor 87/2017 tentang Pendidikan tentang Penguatan  Pendidikan Karakter untuk memberikan kepada generasi muda tidak tergerus  nilai-nilai ke-Indonesiannya. "Nilai-nilai keindonesiaan, yakni nilai  kesopanan, kesantunan, semua terkandung dalam ideologi Pancasila harus terus  disampaikan pada anak-anak kita, bagaimana mengenai kerukukanan, bagaimana  persaudaraan, bagaimana mengenai toleransi," kata Presiden. Jokowi  mengakui bahwa saat ini, pendidikan generasi muda saat ini tidak hanya menerima  pendidikan dari guru dan orang tua saja tetapi juga dari media sosial. "Jangan  keliru, yang mendidik anak kita sekarang ini bukan dari guru, orang tua, tetapi  lebih banyak oleh media sosial. Kekuatan keterbukaan kekuatan media sosial  sekarang mempengaruhi sekali dari semua aspek baik ekonomi, politik maupun  sosial, dan ini yang harus kita antisipasi," kata Jokowi. Presiden  mengingatkan bahwa perkembangan yang sangat cepat teknologi informasi tidak bisa  dibendung yang membuat lanskap ekonomi dan politik baik internasional maupun  nasional berubah. "Jika ini tidak diantisipasi, tidak disiapkan  nilai-nilai karakter keindonesia kita, nilai karekter bangsa akan tergerus,  kalau penyiapannya betul-betul tidak mulai dari tahapan yang benar," kata  Presiden. 
Editor: Jafar M  Sidik

     
               
               




      
                

                

Kirim email ke