Kalau saya dan bung Ajek bicara soal "Kepepet" dalam hubungannya dengan 
perjuangan rakyat yang berhasil menekan kaum imperialis untuk mengubah 
sikapnya. Si Chan, yang memang berideologi pedagang konglomerat dan pemodal, 
pikirannya hanya didominasi oleh uang!!! Yang ada di dalam  WTO antara 
negara-negara imperialisnya adalah PERSAINGAN dalam merebut pasar...penanaman 
modal dsb. Persaingan itu SAMA SEKALI TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN RAKYAT DAN 
PERJUANGANNYA!!! Masa bodo amat siapa yang menang dan siapa yang rugi di 
kalangan kaum imperialis besar dan kecil itu!! emangnya gue pikirin!!! cukup 
orang-orang remo seperti anda saja yang memikirkannya!!! Dikiranya rakyat ikut 
gembira kalau Tiongkok menang dalam persaingan dagangnya  dengan AS????!!! 
Busyeeet!!! gobloknya!!! 

    On Sunday, February 11, 2018 1:56 PM, Chan CT <[email protected]> wrote:
 

 Inilah nenek yang tidak bisa melihat setiap negara, setiap orang mempunyai 
kondisi yang berbeda-beda dan boleh-boleh saja bersikap dan menentukan sendiri 
strategi-taktik dalam menghadapi WTO atau apa saja untuk memperjuangkan 
kepentingan negara dan bangsanya! TIDAK MESTI apalagi harus bersikap sama 
dengan negara lain, ...! RRT sesuai dengan kondisi dan kemampuannya bertarung 
dalam WTO, sekalipun AS bermaksud gempur ekonomi RRT dengan neoliberalisme yg 
dijalankan, ternyata beberapa tahun terakhir malah AS sendiri kewalahan dengan 
dibanjiri barang-barang Made In China! Bukan hanya beberapa tahun yl. ban mobil 
RRT yg akhirnya harus dikenai pajak tinggi, sekarang baja, mesin cuci juga 
dikenai pajak tinggi. Bahkan elektronik RRT tidak boleh masuk AS! Coba bilang 
siapa yang kepepet dalam persaingan ekonomi di WTO yg terjadi? Hehehee, ...   
From: Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sent: Sunday, February 
11, 2018 6:55 PMTo: Yahoogroups ; Daeng ; Rachmat Hadi-Soetjipto ; Harry 
Singgih ; Farida Ishaja ; Gol ; Mitri ; Lingkar Sitompul ; Ronggo A. ; 
[email protected] ; Billy Gunadi ; Oman Romana ; Harsono Sutedjo ; 
[email protected] ; Sie Tik Tan ; Sahala Silalahi ; Tjoa ; Andreas Sungkono ; 
GELORA_In ; Nunu Nugroho Subject: [GELORA45] Usir WTO dari Argentina!   
Momentumnya sudah lewat, tapi untuk si Chan yang ngotot membela kaum remo 
Tiongkok. Siapa yang harus keluar dari tempurungnya???? Lihat, Chan , bagaimana 
rakyat Argentina menuntut WTO (OMC dalam bahasa Spanyol) keluar dari 
ARGENTINA...
 
                                                     Usir WTO dari Argentina! 
Di Argentina, negeri tempat lahirnya “guerrillero heroico” Che Guavara, 
Desember adalah bulan terjadinya banyak protes dan demonstrasi rakyat berbagai 
sektor melawan kebijakan berbagai lembaga imperialis dan juga kebijakan 
pemerintah Argentina sendiri.  Pesta Natal dan Tahun Baru  dirayakan secara 
umum dan luas sehingga kebutuhan rakyat pada bulan Desember  jauh lebih besar 
dari pada bulan-bulan sebelumnya. Tapi kebijakan Pemerintah justru tidak 
meme-nuhi kebutuhan itu. Begitulah kata kawan-kawan Argentina. 
Dari tanggal 10 sampai dengan 13 Desember 2017, Argentina menjadi tuan rumah 
KTT ke-11 Organi-sasi Perdagangan Dunia (WTO). Negeri-negeri industri maju dan 
korporasi transnasionalnya  menggunakan WTO untuk meraih peraturan baru guna 
mencapai kesepakatan perdagangan bebas lainnya. Tujuannya sudah tentu untuk 
lebih memperluas dan memperkuat hak dan wewenang perusahaan transnasional, 
mengintensifkan perampasan sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) 
dunia guna mencegah krisis over-produksi sistem kapitalisme monopoli global 
yang berikut. 
Kenyataan dengan jelas membuktikan bahwa keberadaan WTO selama 22 tahun telah 
menye-babkan kehancuran mata pencaharian ratusan juta petani dan nelayan miskin 
di negeri-negeri Asia, Afrika dan Amerika Latin. Berbagai macam organisasi 
massa dan lembaga di dunia   yang sadar bawah WTO adalah alat kaum imperialis 
telah dan akan terus dengan aktif berjuang me-lawan dan menuntut dibubarkannya 
WTO. Sebagaimana juga lembaga imperialis lainnya seperti Bank Dunia dan Dana 
Moneter Internasional, WTO adalah musuh rakyat sedunia. 
Ketika WTO menyelenggarakan KTT ke-9 di Bali, Desember 2013, berbagai ormas 
progresif na-sional dan internasional mengadakan People’s Global Camp Against 
WTO (Kemah Rakyat Sedu-nia). Argentina tidak ketinggalan! KTT ke-11 WTO 
dinyatakan ‘non-grata’ oleh banyak ormas dan lembaga nasional dan 
interrnasional yang berkumpul di Buenos Aires sejak tanggal 8 De-sember. 
Seminar Anti-Imperialis Revolusioner Ketiga diselenggarakan oleh Liga 
Internasional Perjuangan Rakyat Chapter Argentina dari tanggal 8 sampai dengan 
10 Desember. Tema pokok dibagi dalam 5 blok besar. Blok pertama tentang HAM, 
penindasan dan persekusi terhadap perjuangan rakyat dan masyarakat adat dan 
tahanan politik. Salah satu subtema penting dalam blok ini adalah perjuangan 
Bangsa Mapuche yang selama tiga abad membela haknya untuk hidup dalam sistim 
sosial, politik, budaya dan kepercayaan komunitas kolektifnya melawan, pertama, 
Imperium Inca, kemudian penjajah kolonial Spanyol dan dewasa ini, Negara 
Argentina dan Chili. Wilayah bangsa Mapuche menjadi terpisah oleh terbentuknya 
Chili dan Argentina selama pen-jajahan kolonial Spanyol.  
Tema pokok dalam blok kedua adalah Imperialisme dan kaum reaksi di Amerika 
Latin dan perlawanan rakyat. Dalam blok ini seorang kawan dari Venezuela 
menjelaskan keadaan politik dan ekonomi aktuil di negerinya Hugo Chavez dan 
sambutan Jose Maria Sison sebagai Ketua ILPS.  
Kesehatan dan Lingkungan menjadi tema blok ketiga dengan tiga pembicara dari 
Argentina dan satu dari Filipina.  
Tema pokok blok keempat adalah krisis imperialisme yang dibagi dalam empat 
subtema. Subte-ma pertama adalah pemerintahan Trump, perang agresi dan 
kemungkinan perang antar-impe-rialis. Subtema kedua diisi oleh wakil dan jubir 
Republik Demokratis Rakyat Korea yang turut serta melalui Skype di mana 
dijelaskan situasi serta perlawanan rakyat Korea terhadap intimi-dasi dan 
ancaman perang serta blokade dan sanksi ekonomi kaum imperialis guna mencekik 
dan menghapus RDRK dari muka bumi. Subtema ketiga adalah konfrontasi di Timur 
Tengah dengan perang agresi, perlawanan rakyat dan kompetisi antara kekuatan 
imperialis yang dijelaskan oleh seorang profesor, wartawan dan ahli dalam 
masalah Timur Tengah dari Chili. Subtema keempat adalah strategi perlawanan 
rakyat Palestina melawan Zionisme yang diurai-kan oleh seorang peneliti dan 
penulis blog dari Uruguay. 
Blok terakhir berhubungan dengan peringatan seratus tahun Revolusi Oktober 
Bolshevik. Tema “Warisan Revolusi Oktober dan hubungannya dengan Trotskisme dan 
Revisionisme Modern” merupakan makalah yang diajukan oleh wakil dari Indonesia 
dan Venezuela. 
Seminar Anti-Imperialis Revolusioner Ketiga ditutup hari minggu, 10 Desember, 
dengan pawai besar melawan WTO. Jam dua siang ribuan peserta aksi dari berbagai 
organisasi massa dan partai politik berangkat dari Obelisco, sebuah monumen 
sejarah yang dibangun tahun 1936 dan dianggap sebagai ikon kota Buenos Aires. 
Pawai menyusuri Avenida 9 de Julio, jalan raya paling lebar di dunia. Bendera 
dan panji berbagai organisasi berkibar ditiup angin cukup kencang sehingga 
panas matahari terasa berkurang. Ditengah-tengah tambur  yang ramai ditabuh, 
slogan-slogan anti-WTO, anti-kapitalisme dan anti-imperialisme diteriakkan. 
Semua orang, laki-laki dan perempuan, tua dan muda dan anak-anak jalan dengan 
penuh semangat. Tak terasa sampailah kami pada barisan polisi dan tentara 
bersenjata lengkap, siap menghadang jalan maju pawai. Di belakang mereka 
terlihat kendaraan militer berwarna hitam yang pasti tak akan ragu-ragu 
bergerak jika pawai bermaksud maju menerobos halangan yang dipasang alat 
keke-rasan Negara. 
Pawai terus maju sampai berhadap-hadapan dengan barisan polisi dan tentara. 
Lagu-lagu revolusioner dinyanyikan, slogan-slogan diteriakkan dan tambur terus 
ditabuh. Tiba-tiba terdengar aba-aba. Berhenti slogan, nyanyian dan tambur.  
Para wakil dari berbagai organisasi massa dan serikat buruh mulai berpidato. 
Semua mengutuk keberadaan WTO sebagai alat korporasi multi-nasional dan kaum 
imperialis yang telah dan akan terus menyengsarakan rakyat jika rakyat ti-dak 
berjuang menuntut pembubarannya. 
Sementara itu di Plaza del Congreso, sebuah lapangan di depan gedung Parlemen, 
berbagai macam ormas dan lembaga menyelenggarakan Festival dengan panggung 
budaya melawan WTO. Setelah ikut pawai besar, kami sempat turut serta dalam 
Festival. Sebuah grup musik menyanyikan lagu-lagu revolusioner. Las Madres de 
la Plaza de Mayo (Ibu-ibu Lapangan Mei) juga hadir dan mengucapkan pidato yang 
mendorong semangat untuk terus melanjutkan per-juangan sampai kemenangan 
tercapai. 
Dari tanggal 11 sampai dengan 13 Desember, sebagai bagian dari “Seminggu Aksi 
Global Melawan WTO” yang sudah dimulai tanggal 7 Desember, diselenggarakan KTT 
Rakyat dengan tema:”Usir WTO—Bangun Kedaulatan” di Fakultas Ilmu Sosial, 
Universitas Buenos Aires. Ber-bagai macam forum, seminar, debat dan diskusi 
serta loka karya digelar dengan tema , antara lain  “Hak dan Kedaulatan Vs 
Perdagangan Bebas, Utang dan Kekuasaan Korporasi”, “Interna-sionalisme dan 
Solidaritas di Benua Amerika Kita, Lawan Kapitalisme”, “Kedaulatan dalam 
Pen-didikan”, “Kedaulatan dalam Sanitasi, Dampak Neoliberalisme pada 
Kesehatan”, “Perdagangan Bebas dan Mega-Korporasi, Implikasi Agribisnis pada 
HAM dan Kedaulatan Pangan”, “Senjata yang Membunuh Rakyat Palestina dan 
Menindas Rakyat Argentina adalah Zionisme dan WTO”, “Imperialisme dan 
Militerisme”. 
Tanggal 12 Desember, mulai jam 6 sore, rakyat kembali turun ke jalan. Pawai 
berangkat dari Plaza del Congreso. Manifestasi hari itu jauh lebih besar dari 
pada yang sudah diorganisasi tanggal 10 desember. Pawai menyusuri jalan raya 
Callao menuju Obelisco. Setelah berjalan kurang lebih dua jam sampailah pawai 
di Obelisco. Para peserta aksi berkebangsaan asing tidak diijinkan terus ikut 
pawai, demi menjaga keselamatan.  Para warga asing diminta untuk belok ke kanan 
dan jalan menyusuri jalan raya 9 de Julio menjauhi Obelisco. Tiba-tiba 
terdengar suara berisik kendaraan polisi dan tentara yang mondar mandir dan 
diselingi bunyi tembakan. Penindasan alat kekerasan Negara  dimulai. 
Perundingan KTT WTO berakhir 13 Desember tanpa dokumen deklarasi umum karena 
gagal mengatasi perbedaan pendapat yang membawanya ke jalan buntu. 
Sebelum KTT WTO, rakyat Argentina sudah mulai turun ke jalan untuk menentang 
reformasi tenaga kerja dan pensiun yang diajukan oleh presiden Macri, boneka 
kaum burjuasi besar Ar-gentina dan imperialisme AS.  Reformasi tenaga kerja 
berarti jam kerja diperpanjang, kontribusi majikan untuk pensiun para 
pekerjanya berkurang, mempermudah majikan untuk memecat pekerjanya tanpa 
pesangon. Dengan kata lain menghapus hasil perjuangan kelas pekerja Argen-tina 
yang telah dicapai dalam periode sejarah sebelumnya. 
29 November yang lalu di seluruh Argentina sudah dimulai protes dan manifestasi 
menentang reformasi tenaga kerja dan pensiun.. Selesai dengan manifestasi 
menentang WTO, rakyat Argen-tina meneruskan perlawanannya menentang rencana 
reformasi pemerintah neoliberal Macri. 
14 Desember, pagi hari berbagai macam organisasi politik dan sosial serta 
konfederasi sindikal  turun ke jalan dan menjadi bagian dari  pawai raksasa  
menuju gedung Parlemen  untuk menga-wal perdebatan parlementer yang sedang 
berlangsung . Namun kekuatan polisi dan tentara menghalangi para peserta aksi 
untuk mendekati  Parlemen. Maka terjadilah dorong mendorong antara para 
demonstran dan tentara serta polisi yang berusaha  membubarkan konsentrasi 
ribuan manusia di sekeliling Parlemen dengan paksa dan kekerasan. Polisi dan 
tentara mulai memukul, menyemprot air dan gas air mata dan menembak.  
Tekanan massa rakyat  membuat Parlemen menunda keputusan tentang reformasi 
tenaga kerja dan pensiun. Penundaan sementara ini telah membuat pimpinan CGT 
(konfederasi terbesar di Argentina) membatalkan pemogokan yang rencananya akan 
dilaksanakan 16 Desember.  Peng-khianatan pimpinan CGT kepada kelas pekerja 
lebih lanjut tercermin dengan kesediaannya untuk menerima reformasi tenaga 
kerja dan pensiun. Sikap pimpinan birokrat  CGT ini sama sekali tidak 
mengejutkan karena sesuai dengan sifat kelas dan keberpihakannya. 
Namun terdapat konfederasi sindikal yang lebih militan yang menyatakan 
pemogokan kereta api dan metro selama 24 jam, dimulai 18 desember, jam 12 siang 
sampai keesokan harinya.   18 Desember, rakyat  turun lagi ke jalan walaupun 
sudah terjadi penindasan ketika mereka menggelar pawai dan mengepung Parlemen. 
Polisi dan tentara kembali mengerahkan segala alat kekerasannya, mobil 
penyemprot air dan gas air mata, pasukan dengan anjing-anjingnya yang sudah 
dilatih untuk menerkam dan melukai peserta aksi. Pemukulan, penembakan dan 
penangkapan terjadi bahkan terhadap orang-orang yang hanya kebetulan saja 
berada di sekitar daerah di mana terjadi “pertempuran” yang berlangsung selama 
lima jam. Seorang pemudi dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya 
ditangkap, dipukul dan dipaksa naik ke dalam mobil polisi. Kira-kira 45 orang 
ditangkap. 
19 Desember, setelah bersidang selama 17 jam dan 12 jam perdebatan, Parlemen 
dengan 128 suara menerima reformasi tenaga kerja dan pensiun menjadi 
undang-undang. 116 suara meno-lak dan 2 abstein.  Hari depan yang lebih baik 
dan cerah bagi kelas pekerja memang sangat sulit dapat diperjuangkan di 
Parlemen sebuah pemerintahan yang anti-rakyat. Akhirnya rakyat akan sadar jalan 
tepat mana yang harus diambil guna membela hak dan kepentingannya. (Tatiana 
Lukman) 
Lihat  video ini Chan!!! Rakyat Argentina menentang WTO!!!! WTO musuh rakyat!!!!
Manifestación en Buenos Aires contra la OMC - parte 1/2 - YouTube
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Manifestación en Buenos Aires contra la OMC - parte 1/2 - YouTube
  |  |

 |

 |

  Incidentes en la marcha contra la OMC
 
|  
|  
|  
|  |   |

 |

 |
|  
|   |  
Incidentes en la marcha contra la OMC
  |  |

 |

 |

 

 
 Yang kepalanya ditutup dengan duk putih adalah ketua dari "Las Abuelas de la 
Plaza de Mayo" . Nenek-nenek, tapi semangat tetap tinggi menentang 
Imperialisme!!! Hanya si remo chan yang menjajakan kolaborasi dengan 
imperialisme dan semua lembaga internasionalnya!!Dan disebelah kirinya adalah 
Adolfo Perez Esquivel, pemenang hadiah Nobel 1980, juga hadir dalam manifestasi 
menentang WTO  dan G20.Lihat semua ini Chan!!! Ini hanya contoh kecil bagaimana 
rakyat membenci dan melawan lembaga-lembaganya imperialis!! Tiongkok menjadi 
bagian dari lembaga internasional tersebut, maka Tkk juga menjadi bagian dari 
musuh rakyat sedunia!!! Ajukan argumentasi untuk membantah ini!!! 
#yiv7409154043 #yiv7409154043 -- #yiv7409154043ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-mkp #yiv7409154043hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mkp #yiv7409154043ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mkp .yiv7409154043ad 
{padding:0 0;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mkp .yiv7409154043ad p 
{margin:0;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mkp .yiv7409154043ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-sponsor 
#yiv7409154043ygrp-lc {font-family:arial;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-sponsor #yiv7409154043ygrp-lc #yiv7409154043hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-sponsor #yiv7409154043ygrp-lc .yiv7409154043ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7409154043 #yiv7409154043actions 
{font-family:verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7409154043
 #yiv7409154043activity span {font-weight:700;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv7409154043 #yiv7409154043activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7409154043 #yiv7409154043activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv7409154043 #yiv7409154043activity span 
.yiv7409154043underline {text-decoration:underline;}#yiv7409154043 
.yiv7409154043attach 
{clear:both;display:table;font-family:arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv7409154043 .yiv7409154043attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv7409154043 .yiv7409154043attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7409154043 .yiv7409154043attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7409154043 .yiv7409154043attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv7409154043 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv7409154043 .yiv7409154043bold 
{font-family:arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7409154043 
.yiv7409154043bold a {text-decoration:none;}#yiv7409154043 dd.yiv7409154043last 
p a {font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv7409154043 dd.yiv7409154043last p 
span {margin-right:10px;font-family:verdana;font-weight:700;}#yiv7409154043 
dd.yiv7409154043last p span.yiv7409154043yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv7409154043 div.yiv7409154043attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv7409154043 div.yiv7409154043attach-table 
{width:400px;}#yiv7409154043 div.yiv7409154043file-title a, #yiv7409154043 
div.yiv7409154043file-title a:active, #yiv7409154043 
div.yiv7409154043file-title a:hover, #yiv7409154043 div.yiv7409154043file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7409154043 div.yiv7409154043photo-title a, 
#yiv7409154043 div.yiv7409154043photo-title a:active, #yiv7409154043 
div.yiv7409154043photo-title a:hover, #yiv7409154043 
div.yiv7409154043photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7409154043 
div#yiv7409154043ygrp-mlmsg #yiv7409154043ygrp-msg p a 
span.yiv7409154043yshortcuts 
{font-family:verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7409154043 
.yiv7409154043green {color:#628c2a;}#yiv7409154043 .yiv7409154043msonormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv7409154043 o {font-size:0;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043photos div {float:left;width:72px;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7409154043
 #yiv7409154043reco-category {font-size:77%;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043reco-desc {font-size:77%;}#yiv7409154043 .yiv7409154043replbq 
{margin:4px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-mlmsg select, #yiv7409154043 input, #yiv7409154043 textarea 
{font:99% arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-mlmsg pre, #yiv7409154043 code {font:115% 
monospace;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-mlmsg #yiv7409154043logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-msg p a 
{font-family:verdana;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-msg 
p#yiv7409154043attach-count span {color:#1e66ae;font-weight:700;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-reco #yiv7409154043reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-sponsor 
#yiv7409154043ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-sponsor #yiv7409154043ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-sponsor #yiv7409154043ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-text 
{font-family:georgia;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv7409154043 #yiv7409154043ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7409154043 
#yiv7409154043ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv7409154043 

   

Kirim email ke