Minggu 12 Mei 2019, 08:20 WIB
People Power 98 Tak Mungkin Terulang di 2019, Ini Beda Kondisinya
Yakub Mulyono - detikNews
Share*0*
<https://news.detik.com/berita/d-4545891/people-power-98-tak-mungkin-terulang-di-2019-ini-beda-kondisinya#>Tweet
<https://news.detik.com/berita/d-4545891/people-power-98-tak-mungkin-terulang-di-2019-ini-beda-kondisinya#>Share*0*
<https://news.detik.com/berita/d-4545891/people-power-98-tak-mungkin-terulang-di-2019-ini-beda-kondisinya#>79
komentar
<https://news.detik.com/berita/d-4545891/people-power-98-tak-mungkin-terulang-di-2019-ini-beda-kondisinya#>
People Power 98 Tak Mungkin Terulang di 2019, Ini Beda KondisinyaFoto:
Oce Madril (andi/detikcom)
*Jember*- People power tahun 1998 berhasil menumbangkan Presiden
Soeharto karena krisis nasional. Namun di 2019 ini, hal itu tidak
mungkin terulang karena seruan people power hanya menyoal kekalahan
pemilu yang sudah demokratis.
"Harus diketahui dulu motivasi dari gagasan people power itu sendiri.
Kalau pada tahun 1997 -1998 berhasil menumbangkan sebuah rezim, karena
saat itu memang rakyat sudah lama ingin menegakkan sebuah demokrasi.
Nah, untuk yang sekarang ini, motivasinya apa dulu?" kata Ketua Pusat
Kajian Anti Korupsi Universitas Gajah Mada (Pukat UGM) Oce Madril, dalam
seminar nasional 'Ancaman People Power Terhadap Demokrasi
Konstitusional' yang digelar Puskapsi di Fakultas Hukum Universitas
Jember, Sabtu (11/5/2019) kemarin.
*Baca juga:*Unggah 'People Power-Bunuh Polisi', Dosen Solatun Selalu
Jadi Provokator
<https://news.detik.com/read/2019/05/11/123955/4545253/486/unggah-people-power-bunuh-polisi-dosen-solatun-selalu-jadi-provokator>
Menurut Oce, people power tahun 1998 yang dimotori mahasiswa saat itu
berhasil menumbangkan rezim Orba karena mendapat dukungan masyarakat
luas. Dukungan ini muncul akibat tersumbatnya keran demokrasi yang sudah
terjadi selama puluhan tahun.
"Salah satu tolak ukur dari berjalannya demokrasi adalah pemilu yang
berjalan reguler, jujur dan adil. People Power yang terjadi 1998 adalah
karena kepemimpinan yang ada dinilai cenderung otoriter akibat pemilu
yang kurang demokratis, jujur dan adil," kata Oce.
"Selain itu, juga ada agenda bersama seluruh rakyat, yakni melawan
Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) yang sudah berlangsung sangat lama,"
tambah dia.
Oleh sebab itu, lanjut Oce, setelah era Reformasi, muncullah lembaga -
lembaga yang menjadi wadah bagi masyarakat. Di antaranya Mahkamah
Konstitusi (MK), Ombusdman, KPU dan Bawaslu. Juga ada lembaga KPK yang
fokus dalam pemberantasan korupsi.
"Nah, apakah motivasi people power yang digaungkan saat ini sama dengan
yang ada pada tahuh 1998? Itu pertanyaan yang paling mendasar dulu,"
kata Oce.
Menurut Oce, gagasan people power yang ada saat ini motivasinya adalah
persoalan pemilu. Sekelompok orang yang tidak puas dengan hasil pemilu,
kemudian mendengungkan dilakukannya People Power.
People Power 98 Tak Mungkin Terulang di 2019, Ini Beda KondisinyaFoto:
Seminar People Power di Jember (yakub/detikcom)
"Dari berita - berita yang saya baca, dari pernyataan - pernyataan yang
saya dengar, dari beberapa orang tokoh, motivasinya mungkin sederhana,
karena kalah pemilu," ujar Oce.
*Baca juga:*Beda Pendapat BPN dan TKN soal People Power
<https://tv.detik.com/readvideo/2019/05/11/081209/190511006/160106442/beda-pendapat-bpn-dan-tkn-soal-people-power>
Padahal, lanjut Oce, menyelesaikan sengketa pemilu sudah ada jalurnya,
yakni bisa lewat Mahkamah Konstitusi (MK). Ketika lembaga ini diabaikan
dalam penegakan keadilan pemilu, maka menurut Oce, gagasan people power
menjadi tidak masuk akal.
"Apakah itu yang akan menjadi cara kita berdemokrasi? Ketika kalah,
kemudian demo, pengerahan massa mengatasnamakan people power, yang
ujung-ujungnya berpotensi timbulnya kerusakan infrastruktur. Padahal
tahun 2020 kita akan menghadapi pilkada serentak. Kalau yang kalah
mengutamakan pengerahan massa daripada upaya menempuh jalur hukum, maka
kerusuhan yang akan terjadi," pungkas Oce.
*Tonton juga video Eggi Sudjana Demo Bareng Kivlan: Inilah Bentuk People
Power!:*
*(asp/asp)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com