https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam
/*Elastisitas Ajaran Islam*/
Penulis: *Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta* Pada:
Minggu, 12 Mei 2019, 07:10 WIB Renungan Ramadan
<https://mediaindonesia.com/renungan-ramadan>
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam>
<https://twitter.com/home/?status=Elastisitas Ajaran Islam
https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam
via @mediaindonesia>
Elastisitas Ajaran Islam
<https://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2019/05/ce6d458def3ac71c51bc6eec10a74a40.jpg>
/MI/Seno/
Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta
KELENTURAN dan elastisitas ajaran Islam dijelaskan secara indah oleh SH
Nasser dalam Ideal and Realities of Islam. Dia melukiskan dengan indah
sinkronisasi nilai-nilai Islam yang universal dengan budaya dan
peradaban lokal.
Mereka tidak saling mengorbankan, tetapi saling mengisi dan sangat
menguntungkan untuk kemanusiaan. Keduanya tidak perlu dihadap-hadapkan
karena nilai-nilai universal Islam bersifat terbuka. Dalam arti
fleksibel dan dapat mengakomodasi nilai-nilai lokal. Bukti keterbukaan
itu, Islam dapat diterima dari Timbuktu, ujung barat Afrika, sampai
Merauke, ujung timur Indonesia.
Peradaban Islam ialah peradaban kemanusiaan. Disebut apa saja peradaban
itu asal sejalan dengan nilai-nilai universal atau yang biasa juga
disebut ajaran dasar Islam dapat diterima sebagai peradaban Islam.
Mungkin pada awalnya ada penyesuaian, tetapi masa itu tidak terlalu lama
karena esensi nilai-nilai Islam sejalan dengan asas kemanusiaan.
Tidak mengherankan jika Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat
menyaksikan sendiri ajaran agama yang dibawanya menyebar ke berbagai
penjuru dunia. Menurut Thomas Carlile, tidak ada seorang tokoh selain
Nabi Muhammad yang mampu menyaksikan ajarannya dianut hampir separuh
belahan dunia.
Misi peradaban Nabi Muhammad SAW bukan dimulai dari nol atau membangun
sesuatu dari awal, melainkan bagaimana melestarikan yang sudah baik dan
mengembangkan yang masih sederhana, juga mengkreasikan sesuatu yang
belum ada. Ini dipertegas dalam hadis nabi: Innama bu’itstu li utammi
makarim al-akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak
mulia). Tamma berarti menyempurnakan yang sudah ada dan akhlak ialah
sebuah kreasi positif, apakah itu berupa benda atau nonbenda.
Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak perlu terancam. Kearifan lokal
sesungguhnya juga kearifan Islam. Islam tidak mempertentangkan kearifan
lokal dengan nilai-nilai universal, yang penting mengabdi kepada
kemanusiaan.
Ketegangan konseptual terjadi manakala nilai-nilai universal dipahami
secara kaku di satu sisi. Sementara di sisi lain berhadapan dengan
fanatisme buta penganut nilai-nilai lokal. Namun, biasanya bisa
diselesaikan dengan kearifan tokoh penganjur kedua pihak.
Titik temu atau jalan tengah biasanya diambil melalui persepakatan adat
istiadat setempat. Dalam Islam, hal ini dimungkinkan karena penerapan
nilai-nilai Islam tidak serta merta harus dilakukan sekaligus.
Tuhan Yang Mahakuasa pun memberi waktu 23 tahun untuk turunnya
keseluruhan ayat Alquran. Penerapan nilai-nilai Islam dikenal prinsip
tadarruj, yaitu nilai-nilai secara berangsur, tahap demi tahap. Selain
itu juga dikenal sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada
saatnya menjelma menjadi nilai-nilai yang utuh.
Keutuhan nilai-nilai universalitas Islam dicapai melalui sinergi antara
nilai-nilai lokal dengan ajaran dasar Islam. Dengan demikian, Islam
dirasakan sebagai kelanjutan sebuah tradisi yang sudah mapan di dalam
masyarakat. Bukannya menghadirkan sesuatu yang serbabaru melalui
penyingkiran nilai-nilai lokal.
Bisa dibayangkan, bagaimana nilai-nilai lokal Minangkabau yang
matriarkal bisa menyatu dengan nilai-nilai Islam yang cenderung patriarkal.
Penyatuan kedua sistem budaya ini melahirkan sintesis kebudayaan yang
indah, yang sering dilukiskan sebagai: Adat bersendi Syara’, Syara’
bersendi Kitabullah.
Bukan hanya Sumatra Barat yang menggunakan moto ini, melainkan juga
daerah lain, seperti Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan Maluku.
Meskipun asal-usul Islam berasal cukup jauh dari Nusantara, keduanya
bisa berangkulan mesra satu sama lain.
Sejauh apa pun sebuah negeri muslim selalu didekatkan dengan kehadiran
Kabah sebagai pusat gravitasi spiritual sekaligus kiblat bersama umat
Islam.
<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam>
<https://twitter.com/home/?status=Elastisitas Ajaran Islam
https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam
via @mediaindonesia>