*Karet sangat bagus dan berguna, karena bisa ditarik ke berbagai jurusan
sesuai kebutuhan yang berkepentingan.*


https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam
*Elastisitas Ajaran Islam*

Penulis: *Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta*Pada: Minggu,
12 Mei 2019, 07:10 WIB *RENUNGAN RAMADAN*
<https://mediaindonesia.com/renungan-ramadan>



KELENTURAN dan elastisitas ajaran­ Islam dijelaskan secara indah oleh SH
Nasser dalam Ideal and Realities of Islam. Dia melukiskan dengan indah
sinkronisasi nilai-nilai Islam yang universal dengan budaya dan peradaban
lokal.

Mereka tidak saling mengorbankan, tetapi saling mengisi dan sangat
menguntungkan untuk kemanusiaan. Keduanya tidak perlu dihadap-hadapkan
karena nilai-nilai universal Islam bersifat terbuka. Dalam arti fleksibel
dan dapat mengakomodasi nilai-nilai lokal. Bukti keterbukaan itu, Islam
dapat diterima dari Timbuktu, ujung barat Afrika, sampai Merauke­, ujung
timur Indonesia.

Peradaban Islam ialah peradaban­ kemanusiaan. Disebut apa saja peradaban
itu asal sejalan dengan nilai-nilai universal atau yang biasa juga disebut
ajaran dasar Islam dapat diterima sebagai peradaban Islam. Mungkin pada
awalnya ada penyesuaian, tetapi masa itu tidak terlalu lama karena esensi
nilai-nilai Islam sejalan dengan asas kemanusiaan.

Tidak mengherankan jika Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat
menyaksikan sendiri ajaran agama yang dibawanya menyebar ke berbagai
penjuru dunia. Menurut Thomas Carlile, tidak ada seorang tokoh selain Nabi
Muhammad yang mampu menyaksikan ajarannya dianut hampir separuh belahan
dunia.

Misi peradaban Nabi Muhammad SAW bukan dimulai dari nol atau membangun
sesuatu dari awal, melainkan bagaimana melestarikan yang sudah baik dan
mengembangkan yang masih sederhana, juga mengkreasikan sesuatu yang belum
ada. Ini dipertegas dalam hadis nabi: Innama bu’itstu li utammi makarim
al-akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia).
Tamma berarti menyempurnakan yang sudah ada dan akhlak ialah sebuah kreasi
positif, apakah itu berupa benda atau nonbenda.

Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak perlu terancam. Kearifan­ lokal
sesungguhnya juga kearifan Islam. Islam tidak mempertentangkan kearifan
lokal dengan nilai-nilai universal, yang penting mengabdi kepada
kemanusiaan.

Ketegangan konseptual terjadi manakala nilai-nilai universal dipahami
secara kaku di satu sisi. Sementara di sisi lain berhadapan dengan
fanatisme buta penganut nilai-nilai lokal. Namun, biasanya bisa
diselesaikan dengan kearifan tokoh penganjur kedua pihak.

Titik temu atau jalan tengah biasanya diambil melalui persepakatan adat
istiadat setempat. Dalam Islam, hal ini dimungkinkan karena penerapan
nilai-nilai Islam tidak serta merta harus dilakukan sekaligus.

Tuhan Yang Mahakuasa pun memberi waktu 23 tahun untuk turunnya keseluruhan
ayat Alquran. Penerapan nilai-nilai Islam dikenal prinsip tadarruj, yaitu
nilai-nilai secara berangsur, tahap demi tahap. Selain itu juga dikenal
sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada saatnya menjelma
menjadi nilai-nilai yang utuh.

Keutuhan nilai-nilai universalitas Islam dicapai melalui sinergi antara
nilai-nilai lokal dengan ajaran dasar Islam. Dengan demikian, Islam
dirasakan sebagai kelanjutan sebuah tradisi yang sudah mapan di dalam
masyarakat. Bukannya menghadirkan sesuatu yang serbabaru melalui
penyingkiran nilai-nilai lokal.

Bisa dibayangkan, bagaimana nilai-nilai lokal Minangkabau yang matriarkal
bisa menyatu dengan nilai-nilai Islam yang cenderung patriarkal.

Penyatuan kedua sistem budaya ini melahirkan sintesis kebudayaan yang
indah, yang sering dilukiskan sebagai: Adat bersendi Syara’, Syara’
bersendi Kitabullah.

Bukan hanya Sumatra ­Barat yang menggunakan moto ini, melainkan juga daerah
lain, seperti Jawa, Sulawesi, ­Kalimantan, dan Maluku.

Meskipun asal-usul Islam berasal cukup jauh dari Nusantara, keduanya bisa
berangkul­an mesra satu sama lain.
Sejauh apa pun sebuah negeri muslim selalu didekatkan dengan kehadiran
Kabah sebagai pusat gravitasi spiritual sekaligus kiblat bersama umat
Islam.


<https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam>
 
<https://twitter.com/home/?status=Elastisitas%20Ajaran%20Islam%20https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam%20via%20@mediaindonesia>

*T*

Kirim email ke