ELASTIS KARENA SUATU AYAT DAPAT DIBERI BERBAGAI TAFSIR ATAU ADA BEGITU
BANYAK
AYAT YANG BERBEDA ?

Pada tanggal Sen, 13 Mei 2019 pukul 12.09 Sunny ambon [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> menulis:

>
>
>
> *Karet sangat bagus dan berguna, karena bisa ditarik ke berbagai jurusan
> sesuai kebutuhan yang berkepentingan.*
>
>
> https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam
> *Elastisitas Ajaran Islam*
>
> Penulis: *Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta*Pada:
> Minggu, 12 Mei 2019, 07:10 WIB *RENUNGAN RAMADAN*
> <https://mediaindonesia.com/renungan-ramadan>
>
>
>
> KELENTURAN dan elastisitas ajaran­ Islam dijelaskan secara indah oleh SH
> Nasser dalam Ideal and Realities of Islam. Dia melukiskan dengan indah
> sinkronisasi nilai-nilai Islam yang universal dengan budaya dan peradaban
> lokal.
>
> Mereka tidak saling mengorbankan, tetapi saling mengisi dan sangat
> menguntungkan untuk kemanusiaan. Keduanya tidak perlu dihadap-hadapkan
> karena nilai-nilai universal Islam bersifat terbuka. Dalam arti fleksibel
> dan dapat mengakomodasi nilai-nilai lokal. Bukti keterbukaan itu, Islam
> dapat diterima dari Timbuktu, ujung barat Afrika, sampai Merauke­, ujung
> timur Indonesia.
>
> Peradaban Islam ialah peradaban­ kemanusiaan. Disebut apa saja peradaban
> itu asal sejalan dengan nilai-nilai universal atau yang biasa juga disebut
> ajaran dasar Islam dapat diterima sebagai peradaban Islam. Mungkin pada
> awalnya ada penyesuaian, tetapi masa itu tidak terlalu lama karena esensi
> nilai-nilai Islam sejalan dengan asas kemanusiaan.
>
> Tidak mengherankan jika Islam yang dibawa Nabi Muhammad SAW dapat
> menyaksikan sendiri ajaran agama yang dibawanya menyebar ke berbagai
> penjuru dunia. Menurut Thomas Carlile, tidak ada seorang tokoh selain Nabi
> Muhammad yang mampu menyaksikan ajarannya dianut hampir separuh belahan
> dunia.
>
> Misi peradaban Nabi Muhammad SAW bukan dimulai dari nol atau membangun
> sesuatu dari awal, melainkan bagaimana melestarikan yang sudah baik dan
> mengembangkan yang masih sederhana, juga mengkreasikan sesuatu yang belum
> ada. Ini dipertegas dalam hadis nabi: Innama bu’itstu li utammi makarim
> al-akhlaq (Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia).
> Tamma berarti menyempurnakan yang sudah ada dan akhlak ialah sebuah kreasi
> positif, apakah itu berupa benda atau nonbenda.
>
> Dengan demikian, nilai-nilai lokal tidak perlu terancam. Kearifan­ lokal
> sesungguhnya juga kearifan Islam. Islam tidak mempertentangkan kearifan
> lokal dengan nilai-nilai universal, yang penting mengabdi kepada
> kemanusiaan.
>
> Ketegangan konseptual terjadi manakala nilai-nilai universal dipahami
> secara kaku di satu sisi. Sementara di sisi lain berhadapan dengan
> fanatisme buta penganut nilai-nilai lokal. Namun, biasanya bisa
> diselesaikan dengan kearifan tokoh penganjur kedua pihak.
>
> Titik temu atau jalan tengah biasanya diambil melalui persepakatan adat
> istiadat setempat. Dalam Islam, hal ini dimungkinkan karena penerapan
> nilai-nilai Islam tidak serta merta harus dilakukan sekaligus.
>
> Tuhan Yang Mahakuasa pun memberi waktu 23 tahun untuk turunnya keseluruhan
> ayat Alquran. Penerapan nilai-nilai Islam dikenal prinsip tadarruj, yaitu
> nilai-nilai secara berangsur, tahap demi tahap. Selain itu juga dikenal
> sedikit demi sedikit (taqlil al-taklif) hingga pada saatnya menjelma
> menjadi nilai-nilai yang utuh.
>
> Keutuhan nilai-nilai universalitas Islam dicapai melalui sinergi antara
> nilai-nilai lokal dengan ajaran dasar Islam. Dengan demikian, Islam
> dirasakan sebagai kelanjutan sebuah tradisi yang sudah mapan di dalam
> masyarakat. Bukannya menghadirkan sesuatu yang serbabaru melalui
> penyingkiran nilai-nilai lokal.
>
> Bisa dibayangkan, bagaimana nilai-nilai lokal Minangkabau yang matriarkal
> bisa menyatu dengan nilai-nilai Islam yang cenderung patriarkal.
>
> Penyatuan kedua sistem budaya ini melahirkan sintesis kebudayaan yang
> indah, yang sering dilukiskan sebagai: Adat bersendi Syara’, Syara’
> bersendi Kitabullah.
>
> Bukan hanya Sumatra ­Barat yang menggunakan moto ini, melainkan juga
> daerah lain, seperti Jawa, Sulawesi, ­Kalimantan, dan Maluku.
>
> Meskipun asal-usul Islam berasal cukup jauh dari Nusantara, keduanya bisa
> berangkul­an mesra satu sama lain.
> Sejauh apa pun sebuah negeri muslim selalu didekatkan dengan kehadiran
> Kabah sebagai pusat gravitasi spiritual sekaligus kiblat bersama umat
> Islam.
>
> 
> <https://www.facebook.com/share.php?u=https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam>
>  
> <https://twitter.com/home/?status=Elastisitas%20Ajaran%20Islam%20https://mediaindonesia.com/read/detail/235041-elastisitas-ajaran-islam%20via%20@mediaindonesia>
>
> *T*
>
>
> 
>

Kirim email ke