Ini Ujaran Sukmawati Soal Nabi dan Bung Karno di Video YouTube
Reporter:
M Yusuf Manurung
Editor:
Dwi Arjanto
Sabtu, 16 November 2019 12:37 WIB
Sukmawati Soekarnoputri. Dok. TEMPOSukmawati Soekarnoputri. Dok. TEMPO
*TEMPO.CO*,*Jakarta*-Diah MutiaraSukmawati
<https://www.tempo.co/tag/sukmawati>Soekarnoputri dilaporkan ke
Kepolisian Daerah Metro Jaya atas dugaan tindak pidanapenistaan agama
<https://www.tempo.co/tag/penistaan-agama>.
Sukmawati
<https://metro.tempo.co/read/1272932/sukmawati-dipolisikan-usai-bandingkan-nabi-muhammad-saw-sukarno>,
salah satu putri Presiden RI pertama, Ir. Sukarno itu dilaporkan oleh
warga bernama Ratih Puspa Nusanti yang merupakan salah anggota
Koordinator Bela Islam (Korlabi).
"Benar. Korbali mendampingi Ibu Ratih," ujar Sekretaris Jenderal
Korlabi, Novel Bamukmin kepada Tempo pada Sabtu, 16 November 2019.
Sukmawati diduga melakukan penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam laporan polisi bernomor LP/7393/XI/2019/PMJ/Dit.Reskrimum itu,
Sukmawati Soekarnoputri disangkakan dengan Pasal 156A Kitab
Undang-Undang Hukum Pidana atau KUHP. Novel Bamukmin termasuk salah satu
saksi yang didaftarkan dalam laporan yang dibuat pada 15 November 2019
tersebut.
Video Sukmawati Soekarnoputri yang membandingkan Bung Karno dan Nabi
Muhammad SAW telah beredar di media sosial seperti Youtube.
Tempo menemukan salah satu videonya dan dibenarkan oleh Novel Bamukmin
sebagai ucapan yang dipermasalahkan ke polisi, terkait penistaan agama.
ADVERTISEMENT
Dalam video itu, Sukmawati Soekarnoputri tampak mengucapkan kalimat
tersebut dalam sebuah forum. Ia berdiri di atas mimbar dan berbicara
menggunakan pengeras suara. Berikut cuplikan ucapannya:
"Mana lebih bagus Pancasila sama Al Quran? Gitu kan. Sekarang saya mau
tanya ini semua, yang berjuang di abad 20 itu nabi yang mulia Muhammad,
apa Insinyur Sukarno? Untuk kemerdekaan. Saya minta jawaban, silakan
siapa yang mau menjawab berdiri, jawab pertanyaan Ibu ini,"
ujarSukmawati
<https://nasional.tempo.co/read/1098790/sukmawati-senang-polisi-hentikan-kasus-puisinya>Soekarnoputri.