Entah apa dan bagaimana yang terjadi sesungguhnya dengan pemberitaan
"RATUSAN perempuan Pakistan Dijual jadi ISTRI di Tiongkok" ini!
Adalah kenyataan jumlah pemuda di Tiongkok lebih banyak dari pemudi dan
dengan globalisasi yg terjadi tidak sedikit pemuda-pemuda Tionghoa yang
bekerja di luarnegeri, pulang membawa istri asing. Banyak kisah-kisah
kehidupan mereka yang menarik bisa diikuti, ... sesuatu kehidupan
manusia yang normal dan wajar-wajar saja jatuh cinta sampai membangun
keluarga baru, sekalipun orang-tua kedua belah pihak menentang!
Sebelumnya, masih ditahun-tahun 80-an, banyak terdengar berita perempuan
Singkawang, perempuan Tionghoa miskin untuk membantu kehidupan keluarga,
melalui comblang yang pertemukan pemuda Tionghoa asal Tiongkok, akhirnya
kawin dan hidup di Tiongkok atau HongKong dan Taiwan. Tentu dengan
comblang perkenalan demikian ada yang berhasil baik tapi juga ada yang
berakhir dengan kegagalan, bercerai, ... Dan, karena keluarga dibangun
bukan atas dasar percintaan dari perkenalan yg cukup baik, jadi lebih
banyak faktot untung-untungan bagaimana mereka berdua bisa tidak dengan
baik memecahkan masalah yang dihadapi bersama dalam kehidupan keluarga.
Kemudian berlanjut dengan perempuan dari Vietnam, Tahiland dan sekarang,
untuk pertama kali terdengar berita ratusan perempuan Pakistan
dijual!Tentu, bagi pemerintah kedua belah pihak, kudu perhatikan jangan
sampai hubungan perkawinan dikomersialkan mengejar keuntungan oleh
sementara comblang! Harus bisa menemukan cara yang baik untuk
kesungguhan dan kesediaan pemuda-pemudi itu membangun keluarga yang baik
dan sehat, ... khususnya memberikan jaminan lebih baik agar pihak
perempuan tidak dijadikan alat pelampiasan nafsu birahi lelaki saja.
On 12/12/2019 上午3:33, Sunny ambon [email protected] [GELORA45] wrote:
https://www.abc.net.au/indonesian/2019-12-05/ratusan-perempuan-pakistan-dijual-untuk-dijadikan-istri-ke-china/11768886
_*Ratusan Perempuan Pakistan Dijual Untuk Dijadikan Istri ke China*_
*
Other share options
Mail
Print
Posted Thursday at 02:0
_<https://www.abc.net.au/indonesian/2019-12-05/ratusan-perempuan-pakistan-dijual-untuk-dijadikan-istri-ke-china/11768886#lightbox-content-lightbox-6>_
Penyelidik Pakistan sedang berusaha mengungkapkan rantai perdagangan
perempuan dari Pakistan ke China untuk dijadikan istri namun banyak
mengalami kesulitan.
<https://www.abc.net.au/indonesian/2019-12-05/ratusan-perempuan-pakistan-dijual-untuk-dijadikan-istri-ke-china/11768886#lightbox-content-lightbox-6>
(AP: K.M. Chaudary)
*Sebuah penyelidikan yang dilakukan pihak berwenang Pakistan
menyebutkan bahwa lebih dari 600 perempuan dari negeri itu telah
dijual untuk dijadikan istri ke China selama 18 bulan terakhir.*
Namun mereka mengatakan usaha untuk membantu para perempuan tersebut
mendapat banyak hambatan.
Para penyelidik sudah memiliki daftar 629 perempuan Pakistan yang
tercatat dalam sistem manajemen perbatasan, yang mencatat semua
perjalanan ke luar negeri lewat bandara.
Informasi tersebut mencakup nomor KTP, nama suami mereka di China, dan
tanggal pernikahan, yang terjadi selama tahun 2018 sampai April 2019.
Menurut sebuah sumber kepada kantor berita Associated Press, daftar
itu dikumpulkan bulan Juni 2019 namun dihentikan karena adanya tekanan
dari pejabat pemerintahan Pakistan.
Saleem Iqbal adalah seorang pegiat beragama Kristen yang membantu
orangtua menyelematkan anak-anak perempuan mereka dari China dan
mencegah mereka dijual ke sana.
Menurutnya, pemerintah Pakistan berusaha menghentikan penyelidikan
yang sedang dilakukan pejabat dari Badan Penyelidik Federal Pakistan.
*'Tidak seorang pun membantu mereka'*
Laporan HRW bulan Desember mengenai perdagangan perempuan dari Myanmar
ke China mengatakan praktek ini sekarang semakin menyebar.
<https://www.abc.net.au/indonesian/2019-12-05/ratusan-perempuan-pakistan-dijual-untuk-dijadikan-istri-ke-china/11768886#lightbox-content-lightbox-12>
(Human Rights Watch)
Bulan Oktober lalu, pengadilan di kota Faisalabad membebaskan 31 warga
China yang sebelumnya dikenai tuduhan perdagangan manusia.
Beberapa perempuan yang sebelumnya sudah berbicara dengan polisi
kemudian menolak memberikan kesaksikan di pengadilan karena mereka
diancam atau disuap untuk tidak berbicara.
Beberapa pejabat senior Pakistan mengatakan peyelidiikan mengenai
perdagangan manusia ke China sekarang menurun, dan para penyelidik
juga merasa frustrasi.
Media Pakistan juga disebutkan ditekan untuk menulis laporan mengenai
perdagangan manusia.
Beberapa pejabat juga tidak mau menyebut namanya ketika berbicara
dengan AP karena takut.
"Tidak seorang pun yang melakukan sesuatu untuk membantu para wanita
tersebut."
"Perdagangan manusia ini terus berlanjut dan semakin membesar.
Mengapa? Karena mereka tahu mereka tidak akan diselidiki."
"Pemerintah tidak mau melakuka penyelidikan mendalam, semua orang
ditekan untuk tidak menyelidiki. Perdagangan meningkat sekarang."
Salah seorang pejabat itu mengatakan mau berbicara 'karena hati
nuraninya terganggu.
"Dimana rasa kemanusiaan kita?." katanya.
Di China saat ini ada 34 juta lebih banyak laki-laki dibandingkan
perempuan, karena adanya kebijakan satu anak yang dilakukan negeri itu
selama 35 tahun yang baru diakhiri tahun 2015.
Juga banyak keluarga yang mementingkan anak laki-laki dibandingkan
perempuan, sehingga sekarang perdagangan untuk membawa perempuan dari
luar China meningkat.
*Pelanggaran HAM*
Lembaga HAM Human Rights Watch (HRW) builan Desember baru menerbitkan
laporan yang mengatakan perdagangann perempuan dari Myanmar ke China
meningkat.
Dikatakan juga Pakistan, Kamboja, Indonesia, Laos, Myanmar, Nepal,
Korea Utara dan Vietnam telah mejadi 'negara sumber bagi bisnis yang
brutal tersebut.'
"Yang paling mengejutkan dalam masalah ini adalah betapa cepatnya
peningkatan jumlah negara yang terlibat sebagai sumber dalam
perdagangan perempuan ini." kata Heather Barr penulis laporan HRW.
Direktur kampanye Amnesty International untuk Asia Selatan Omar
Warriach mengatakan Pakistan 'tidak harus membiarkan kedekatan
hubungan dengan China untuk menutup mata mengenai pelanggaran HAM
terhadap warga mereka sendiri."
"Sangat mengerikan bahwa para perempyan ini diperlukan sedemikian rupa
tanpa adanya perhatian yang diberikan oleh pihak berwenang di kedua
negara. Dan juga mengejutkan ini terjadi dalam skala seperti ini."
Departemen Luar Negeri China mengatakan mereka tidak tahu adanya
daftar tersebut.
"Kedua pemerintahan China dan Pakistan mendukung pembentukan keluarga
bahagia antar warga berdasarkan pertemuan sukarela menurut hukum dan
aturan, dan dalam waktu bersamaan, kami tidak mentolerir dan akan
memerangi siapa saja yang terlibat dalam perdagangan manusia antar
perbatasan." kata Departemen Luar Negeri China.
Kementerian Dalam Negeri dan Luar Negeri Pakistan menolak memberikan
komentar.
Lihat artikelnya dalam bahasa Inggris di *sini*
<https://www.abc.net.au/news/2019-12-05/investigators-reveal-hundreds-of-pakistani-women-sold-to-china/11767898>