Zus Titiek, Titel buku Armijn Pane, Habis gelap terbitlah terang kok terasa kurang sreg.. Ya, mungkin perasaan saya saja., karena tanpa melakukan apa2 ya dengan sendirinya malam jadi siang, dari gelap dengan sendirinya jadi terang, padahal proses dari gelap jadi terang yang dilakukan oleh Kartini dll. adalah perjoangan berat. Salam, Djie
Op di 21 apr. 2020 om 17:12 schreef [email protected] [GELORA45] < [email protected]>: > > > Aku punya buku "Panggil Aku Kartini Saja" yang diterbitkan baik thn 1962 > oleh N.V. Nusantara - Bukittinggi - Djakarta; terdiri dari 2 buku, bagian 1 > dan bagian 2. Sedangkan thn 2003 diterbitkan oleh Lentera Dipantara , di > mana bagian 1 dan bagian 2 dijadikan satu buku - ini aku juga punya. Sangat > banyak literatuur tentang Kartini ini. Jadi yang lebih bermanfaat memang > adalah bagian-bagian mana yang bisa ditarik kebersamaan dari membaca karya > Kartini itu sendiri. Hal ini tentu tidak mudah dan terus berproses dari > zaman ke zaman. > > > > Salam, > > > > Titiek Maslam > > > > > > *Van:* [email protected] <[email protected]> > *Verzonden:* dinsdag 21 april 2020 14:03 > *Aan:* [email protected]; [email protected]; Chalik > Hamid [email protected] [nasional-list] < > [email protected]> > *Onderwerp:* [GELORA45] Mengenang jasa besar Ibu Kartini > > > > > > Para sahabat yb. > > Kita mengenang hari kelahiran Ibu Kartini yang ke seratusempatpuluhsatu > tahun. Sampai sekarang banyak yang mengenangnya tapi sekedar terbatas > pada peranan beliau dari segi wanita. Sudah memadaikah itu? Belum > dan sangat terbatas. > > Nah untuk menambah wawasan pengetahuan dan juga sekaligus menelisik > mengapa hari kelahiran Ibu Kartini ini diperingati dengan pengetahuan > yang hanya secuwil itu, saya unggah dalam bentuk pdf beberapa karya > beliau yang dipublikasi oleh Pram lewat karyanya: "Panggil Aku Kartini > Saja" yang sejak tahun 1997 sudah pernah di cetak ulang oleh Penerbit > Hasta Mitra di Jakarta. > > Untuk mengawalinya saya kutipkan pada uraian ttg Abdullah Abdulkadir > Munsyi dan Kartini: > > ...... > > << Orang Melayu bangga punya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, yang telah > abadikan peralihan jaman dan berkembangnya imperialisme Inggris di Asia > Tenggara. Juga Indonesia bangga punya Kartini, yang biasanya hanya > dilihat dari segi emansipasi wanita, tetapi sebagaimana halnya dengan > Abdullah dialah satu-satunya yang telah mengabadikan peralihan > penjajahan Eropa dari taraf kuno ke taraf modern dengan segala segi dan > akibatnya. Berbeda dari Abdullah, Kartini menggunakan bahasa yang bukan > bahasa nenek-moyangnya. Kartini hendak bicara langsung dengan jantung > imperialisme, Abdullah bicara langsung dengan orang-orang sebangsanya > (?).>> > > ........ > > Selamat menikmati literatur seni budaya dan salam mengenang jasa besar > Ibu Kartini. > > Lusi.- > > >
