Ooouh, kalau judul asli dalam bhs. Jawa "Mbukak Pepeteng", berarti
"Membuka Kegelapan" (pengertian saya yang gak becus bhs. Jawa?!)
mestinya lebih mantap ketimbang "Habis Gelap Terbitlah Terang", seperti
kegelapan yang dihadapi kaum wanita akan menjadi terang dengan
sendirinya, TANPA melalui perjuangan berat! Padahal kenyataan setelah
lewat berabad sampai hari ini sekalipun agak cerah, tetap masih saja
terjadi ketidak adilan, ...yang HARUS diperjuangkan terus!
'tmaslam.2007' [email protected] [GELORA45] 於 2020/4/22 上午 12:32
寫道:
Hehehehehe, ya bung saya jadi terpingkel sendiri, maaf, ya apa boleh
buat, terjemahan tahun '57. Kata-kata yg dipakai juga kedengaran lucu.
Yah telan sajalah bung. Malah mungkin yg bahasa Jawa itu lebih cocok?
"Mbukak pepeteng"?-itu judulnya.
Salam,
Titiek Maslam
Verzonden vanaf mijn Samsung Galaxy-smartphone.
-------- Oorspronkelijk bericht --------
Van: "kh djie [email protected] [GELORA45]" <[email protected]>
Datum: 21-04-20 17:39 (GMT+01:00)
Aan: Gelora45 <[email protected]>, suharti maslam
<[email protected]>
Onderwerp: Re: [GELORA45] Mengenan g jasa besar Ibu Kartini
Zus Titiek,
Titel buku Armijn Pane, Habis gelap terbitlah terang kok terasa kurang
sreg.
Ya, mungkin perasaan saya saja., karena tanpa melakukan apa2 ya dengan
sendirinya malam jadi siang, dari gelap dengan sendirinya jadi terang,
padahal
proses dari gelap jadi terang yang dilakukan oleh Kartini dll. adalah
perjoangan berat.
Salam,
Djie
Op di 21 apr. 2020 om 17:12 schreef [email protected]
<mailto:[email protected]> [GELORA45] <[email protected]
<mailto:[email protected]>>:
Aku punya buku "Panggil Aku Kartini Saja" yang diterbitkan baik
thn 1962 oleh N.V. Nusantara - Bukittinggi - Djakarta; terdiri
dari 2 buku, bagian 1 dan bagian 2. Sedangkan thn 2003 diterbitkan
oleh Lentera Dipantara , di mana bagian 1 dan bagian 2 dijadikan
satu buku - ini aku juga punya. Sangat banyak literatuur tentang
Kartini ini. Jadi yang lebih bermanfaat memang adalah
bagian-bagian mana yang bisa ditarik kebersamaan dari membaca
karya Kartini itu sendiri. Hal ini tentu tidak mudah dan terus
berproses dari zaman ke zaman.
Salam,
Titiek Maslam
*Van:* [email protected] <mailto:GELORA45@yahoogroups. com>
<[email protected] <mailto:[email protected]>>
*Verzonden:* dinsdag 21 april 2020 14:03
*Aan:* [email protected]
<mailto:[email protected]>; [email protected]
<mailto:[email protected]>; Chalik Hamid
[email protected] <mailto:[email protected]>
[nasional-list] <[email protected]
<mailto:[email protected]>>
*Onderwerp:* [GELORA45] Mengenang jasa besar Ibu Kartini
Para sahabat yb.
Kita mengenang hari kelahir an Ibu Kartini yang ke
seratusempatpuluhsatu
tahun. Sampai sekarang banyak yang mengenangnya tapi sekedar terbatas
pada peranan beliau dari segi wanita. Sudah memadaikah itu? Belum
dan sangat terbatas.
Nah untuk menambah wawasan pengetahuan dan juga sekaligus menelisik
mengapa hari kelahiran Ibu Kartini ini diperingati dengan pengetahuan
yang hanya secuwil itu, saya unggah dalam bentuk pdf beberapa karya
beliau yang dipublikasi oleh Pram lewat karyanya: "Panggil Aku Kartini
Saja" yang sejak tahun 1997 sudah pernah di cetak ulang oleh Penerbit
Hasta Mitra di Jakarta.
Untuk mengawalinya saya kutipkan pada uraian ttg Abdullah Abdulkadir
Munsyi dan Kartini:
.......
<< Orang Melayu bangga punya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, yang
telah
abadikan peralihan jaman dan berkembangnya imperialisme Inggris di
Asia
Tenggara. Juga Indonesia bangga punya Kartini, yang biasanya hanya
dilihat dari segi emansipasi wanita, tetapi s ebagaimana halnya dengan
Abdullah dialah satu-satunya yang telah mengabadikan peralihan
penjajahan Eropa dari taraf kuno ke taraf modern dengan segala
segi dan
akibatnya. Berbeda dari Abdullah, Kartini menggunakan bahasa yang
bukan
bahasa nenek-moyangnya. Kartini hendak bicara langsung dengan jantung
imperialisme, Abdullah bicara langsung dengan orang-orang sebangsanya
(?)..>>
........
Selamat menikmati literatur seni budaya dan salam mengenang jasa besar
Ibu Kartini.
Lusi.-