Setelah selesai pemetaan geologi batubara Sekitar Mahakam th 1977, saya pernah 
beberapa kali membaca tulisan R.J. Weimer ttg Cek. Kutei (maklum waktu itu bhs 
Inggris saya sangat minim, jadi harus baca berulang-ulang). Seingat saya, Tuan 
Weimer (kalau tak salah, beliau itu adalah pembimbingnya Pak Prof. RPK di CSM 
dulu ?) menuangkan pikirannya dalam bentuk "sebuah impression" pada majalah 
Geologi Indonesia (IAGI); jadi belum berdasarkan suatu analisis yang mendalam - 
berdasarkan suatu penelitian sistimatik yang ditujukan untuk itu. Anehnya, buah 
pikiran yang sangat bagus ini tidak pernah ditindaklanjuti dengan 
penelitian-penelitian lanjutan kearah sana; mungkin Andang Bachtiar yang sangat 
peduli dengan Kutei Basin dan mencoba menjelaskan sejarah dan mekanisme 
terjadinya cekungan ini, dan juga memperhatikan pikiran Weimer tsb.

Salam untuk Prof. R.P. Koesoemadinata, Pak Awang, Pak Andang, serta rekan-rekan 
lain dalam milis ini. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa, semoga kita menjadi 
lebih Taqwa, amiin .... amiin.

Wassalam,
CN

Awang Harun Satyana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Koesoema,

Sbenarnya, kalau mengacu secara penuh kepada tulisan pertama tentang aulacogen 
oleh N.S. Shatski, geologist Rusia yang menciptakan istilah ini, tahun 1946 
dalam papernya "Basic features of the structures and development of the East 
European Platform - Comparative tectonics of ancient platform, Izvestiya 
Akademii Nauk SSSR no. 1, p. 5-64, atau ke definisi aulacogen dari Sengor 
(1987) bahwa aulacogen = rift that originated in relation to an ocean-opening 
event, open into the ocean or into mountain belt, and strikes into and 
internally segments a craton"; hipotesis Kutei sebagai aulacogen akan segera 
gugur.

Alasannya : (1) Makassar Strait bukan ocean-opening event (dalam pengertian 
sea-floor spreading), tetapi ia hanya rifted extended and attenuated continent; 
(2) Lengan satunya yang gagal membuka itu, yang arahnya sekitar B-T, bukanlah 
masuk ke craton, tetapi masuk ke dalam weak zone antara terranes yang menyusun 
Kalimantan. Craton Kalimantan ada di sebelah selatan-BD Kutei, yaitu Schwaner 
(SW Kalimantan) Core.

Tetapi, barangkali definisi aulacogen di atas bisa diubah atau tidak ? Bisa 
saja Celal Sengor tak tahu kasus Mahakam saat membuat definisi aulacogen. Atau, 
kita bisa buat pengklasifikasian aulacogen ? Bisa saja yang Mahakam-Kutei ini 
"incipient aulacogen". Di Indonesia semuanya serba unik, Makassar Strait yang 
sedianya passive margin dan sea-floor spreading, apa daya ia gagal membuka 
terus karena di sisi Sulawesi timur jadi convergent margin pada Neogen. Dan 
Kalimantan juga bukan seperti Afrika (Niger) yang banyak cratonnya; tetapi 
Kalimantan adalah collage of terranes. Maka definisi aulacogen seperti yang 
ditulis Sengor (1987) tak cocok di Indonesia. Atau, memang Kutei-Mahakam bukan 
aulacogen by definition.

Menarik kalau mau membahas masalah ini; saya pikir ini terlewatkan saja, 
bukannya Moss et al menolak aulacogen sebab mereka tak pernah membahasnya 
dengan detail persoalan aulacogen Kutei. Kalau tak ada pembahasan detail kita 
tak bisa apriori bahwa Moss et al menolak konsep Kutei is an aulacogen.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
Sent: Tuesday, September 18, 2007 9:57 C++
To: iagi-net@iagi.or.id
Subject: Re: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was : tsunami-genic 
normal faulting EQ ...)

Dengan kata lain orang2 seperti Moss et al dan juga dari Lasmo tidak percaya 
atau menolak hypothesa aulacogene. Apa lagi C. Dewi membuktikan bahwa lantai 
selat Makassar masih continental crust, walaupun extended. Yang terjadi 
mungkin hanya E-W rifting dengan rekahan N-S sampai NNE-SSW sebagai mana 
banyak dibahas Moss et al, dan orang2 Lasmo, Cloke dll
Yang diperlukan untuk membuktikan aulacogene adalah adanya tanda2 
rekahan/sesar yang menunjukkan keberadaan lengan ke-3 yang berarahkan kira2 
kasarnya E-W, dan bukti2 ini tidak pernah ada, mungkin tertutup oleh sedimen 
neogene tebal dari delta Mahakam, atau memang hypothesa aulacogene ini harus 
ditolak.
Wassalam
RPK
----- Original Message ----- 
From: "Awang Harun Satyana" 
To: 
Sent: Tuesday, September 18, 2007 7:58 AM
Subject: RE: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was : 
tsunami-genic normal faulting EQ ...)


Ya Pak Koesoema, dua lengan aulacogen yang mekar di Makassar Strait banyak 
yang membahas sebab di situlah minyak dan gas Kutei-Makassar basinal areas 
berkumpul, datanya banyak sekali. Tetapi, itu pun tak ditujukan untuk 
membahas aulacogen Weimer (1975).

Sedangkan, satu lengan aulacogen yang gagal membuka (tetapi sekedar 
tenggelam), yaitu di onshore dan terutama upper Kutei Basin, sedikit sekali 
dibahas. Publikasi2 dari Moss et al. adalah yang paling detail; ada beberapa 
dari Wain dan Berod (1985) juga teman2 Lasmo yang pernah bekerja di Runtu 
Block (John Chambers, Timothy Daley, Elly Guritno, dll). Tetapi, semua 
publikasi itu juga tak ditujukan untuk membahas aulacogen Weimer (1975).

Maka, benar seperti yang Pak Koesoema tulis, aulacogen Weimer (1975) tetap 
sebagai hipotesis, yang dibangun Weimer setelah melihat Mahakam Delta, 
rifting Makassar, dan mengingat Niger delta. Saya berpikir juga bahwa model 
aulacogen bisa berjalan di Kutei ke Mahakam ke Makassar Strait. Secara 
teknis, prasyarat2 untuk aulacogen di sini telah dipenuhi semua. Hanya, 
setahu saya, belum ada yang membahas hipotesis Weimer ini dengan detail dan 
menggunakan semua data yang ada sampai sekarang.

Salam,
awang

-----Original Message-----
From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, September 18, 2007 5:26 C++
To: iagi-net@iagi.or.id
Subject: Re: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was : 
tsunami-genic normal faulting EQ ...)

Terima kasih atas ulasannya yang panjang lebar. Sebetulnya masalahnya adalah
tidak ada bukti yang nyata mengenai teori aulogene itu. Weimer hanya
berkunjung ke Balikpapan hanya satu dua hari saja, dan apa yang dia nyatakan
adalah "impressions" saja, sehingga lebih bersifat suatu hypothesis. Juga
pengarang2 lainnya yang Anda berikan hanya sekadar menyebut saja soal
aulacogene ini.
Andang juga hanya menyebut saja. Sebetulnya aulacogene ini suatu failed rift
system, tetapi Moss dll, hanya menyebutkan N-S rift system sejajar dengan
Makassar Strait rifting, dan tidak menyebutkan lengan yang satunya lagi yang
. Sebetulnya saya cenderung menerima teori aulacogene, hanya sampai kini
belum pernah ada pembuktian secara nyata. Saya hanya penasaran saja apakah
pernah ada yang menulis mengenai aulacogene ini secara mendetail, ternyata
tidak ada. Saya mendapatkan kesan Moss et al dan jago2nya Kutei basin
termasuk Andang tentunya mengabaikan teori aulacogene  ini.
Wassalam
RPK
----- Original Message ----- 
From: "Awang Satyana" 
To: ; "Geo Unpad" 
Sent: Monday, September 17, 2007 10:48 PM
Subject: RE: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was :
tsunami-genic normal faulting EQ ...)


> Pak Koesoema,
>
>  Paper2 Steve Moss dan groupnya (SE Asia Research Group, mis Ian Cloke,
> Carter, Jason Ali, Moyra Wilson) tak pernah mencantumkan Weimer (1975) di
> dalam referensinya. Hal itu bisa dicek di Moss et al. (1997) - new
> observations on the sedimentary and tectonic evolution of the Tertiary
> Kutei Basin; Moss et al (1998) - late Oligocene uplift and volcanism on
> the northern margins of the Kutei Basin; Moss and Chambers (1999) -
> Tertiary facies architecture in the Kutei Basin.
>
>  R.J. Weimer menerbitkan analisisnya tentang Kutei-Mahakam sebagai
> aulacogen di majalah Geologi Indonesia vol 2 no. 2 (1975). Ini publikasi
> yang tak gampang dicari, saat ini pun kita akan susah mencarinya. Bisa
> saja saat Steve Moss et al rajin meneliti Kutei dari 1994-1999, mereka tak
> tahu publikasi Weimer (1975) ini. Banyak peneliti asing yang apriori
> dengan paper2 di proceedings IAGI atau di Majalah Geologi Indonesia.
> Publikasi yang ditulis terutama dalam bahasa Indonesia, membuat mereka tak
> meliriknya (padahal yang ditulis dalam bahasa Inggris pun banyak).
>
>  Tetapi kalau kita ikuti uraian evolusi Kutei Basin berdasarkan Moss et al
> (1997) dan Moss dan Chambers (1999), maka mereka menyatakan bahwa evolusi
> Kutei Basin erat berkaitan dengan rifting Makassar Strait -sesuatu yang
> mendekati teori aulacogen Weimer (1975), hanya mereka tak menyebutnya
> sebagai aulacogen. Lagipula, penelitian Moss dkk lebih terkonsentrasi di
> failed rift system-nya di Kutei onshore; sedangkan  Weimer (1975) lebih
> banyak membahas dua lengan lain yang mekar yang menjadi tempat delta
> Mahakam berkembang.
>
>  Jago Kutei Basin kita, Andang Bachtiar, yang disertasi S-3-nya (ITB,
> 2004) tentang stratigrafi sekuen dan geokimia batuan induk Miosen Awal
> lower Kutei Basin menyatakan bahwa Kutei Basin mengalami deformasi
> polifase. Cekungan berawal sebagai forearc basin pada pre-Tertiary, lalu
> jadi intra-arc sampai backarc pada Paleosen,dan akhirnya menjadi back-arc
> basin pada Miosen Tengah melalui fase singkat aulacogen. Tentu saja Pak
> Andang mengenal analisis Weimer (1975) itu, maka memasukkan dalam
> evaluasinya. Bukan begitu Pak Andang ? Hanya analisis Pak Andang berbeda
> dengan analisis Steve Moss dkk. baik dalam evolusi maupun timing-nya.
> Wajar berbeda interpretasi.
>
>  Tahun 2000, Steve Moss dari group Robert Hall mempresentasikan paper
> tentang evolusi north Makassar Strait di AAPG Bali. Dikatakan, kerak
> samudera melandasi north Makassar Strait berdasarkan banyak metode. Tahun
> 2005, Sinchia Dewi Puspita, murid Robert Hall mempresentasikan di IPA hal
> yang sama, tetapi menyatakan bahwa north Makassar Strait dilandasi oleh
> kerak kontinen yang menipis (attenuated continental basement) karena
> rifting. Saya menanyakan ke Sinchia, mana nih yang benar, kok sama2 dari
> group Robert Hall tetapi interpretasinya bertolak belakang. Pertanyaan
> saya langsung dijawab Robert Hall : "data bertambah interpretasi bisa
> berubah" Betul Robert Hall, betul Sinchia; data gravity dan magnetik, juga
> seismik dalam lima tahun terakhir menunjukkan bahwa tak ada kerak samudera
> di bawah North Makassar Basin.
>
>  Benang merahnya adalah bahwa wajar interpretasi berbeda, saya akan
> mengikuti yang mana yang didukung data.
>
>  salam,
>  awang
>
>
>
>  Koesoemadinata wrote :
>
>  Anehnya jago2 Kutei Basin seperti Steve Moss dll, tidak pernah
> menyinggung-nyinggung Kutei Basin sebagai aulocogene.
>
>
> Awang Harun Satyana  wrote:
>  Pak Koesoema,
>
> Setahu saya, Weimer (1975 - Majalah Geologi Indonesia) adalah orang yang
> pertama kali menyebut bahwa Kutei dan Delta Mahakam berkembang sebagai
> sistem aulacogen. Saat itu, Weimer tengah menjadi tamu di ITB dan sempat
> menganalisis Kutei Basin dan menuliskannya di MGI. Pak Koesoema pasti
> lebih tahu dari saya soal Weimer ke ITB ini.
>
> Setahu saya belum ada artikel detail yang meneliti analisis Weimer ini.
> Paper-paper tentang Kutei yang menyebutkan sistem aulacogen untuk Kutei
> ada beberapa, misalnya Hutchison (1989 - dalam buku terkenalnya,
> Geological Evolution of SE Asia, hal. 55). Charles Hutchison menulis bahwa
> Makassar fracture system terbentuk dalam mekanisme yang sama yang
> membentuk Kutei, yaitu aulacogen atau failed arm of the Makassar rift.
>
> Juga paper2 Burollet dan Salle (1981 -the geology and tectonics of Eastern
> Indonesia, GRDC Spec. Publ 2), Rose dan Hartono (1978 - IPA), dan Katili
> (1978 - Tectonophysics 45) mengindikasi aulacogen Kutei.
>
> Salam,
> awang
>
> -----Original Message-----
> From: R.P. Koesoemadinata [mailto:[EMAIL PROTECTED]
> Sent: Monday, September 17, 2007 12:08 C++
> To: iagi-net@iagi.or.id
> Subject: Re: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was :
> tsunami-genic normal faulting EQ ...)
>
> Sdr. Awang: Selain Weimer (1975) apakah ada artikel lain yang menyatakan
> Kutei Basin sebagai aulocogene?
> RPK
> ----- Original Message ----- 
> From: "Awang Satyana"
> To: ; "Geo Unpad" ;
> "Eksplorasi BPMIGAS"
> Sent: Sunday, September 16, 2007 9:40 PM
> Subject: [iagi-net-l] delta dan strike-slip faulting (was : tsunami-genic
> normal faulting EQ ...)
>
>
>> Pak Franc,
>>
>> Saya ganti lagi subyeknya karena diskusi sudah jauh dari subyek semula.
>>
>> Saya pikir strike-slip faulting bukan pengontrol utama delta2 di dunia.
>> Delta2 besar dan prolific di dunia banyaknya berkembang di sistem
>> aulacogen passive margin, bukan di releasing bend strike-slip faulting.
>> Contoh langsungnya adalah Mahakam dan Niger delta.
>>
>> Delta Mahakam berkembang dalam sistem aulacogen Makassar Strait rifting.
>> Satu arm yang masuk ke Kalimantan craton menjadi wilayah fluvial Mahakam,
>> dua arm yang masing-masing ke utara dan selatan Makassar Strait menjadi
>> wilayah pengendapan delta. Awal sedimentasi delta terjadi di triple
>> junction antara arms aulacogen.
>>
>> Delta Niger pun berkembang di sistem aulacogen yang terbentuk di relic
>> rifting dan spreading antara Afrika dan Amerika Selatan. Sistemnya sama,
>> satu arm yang masuk ke craton Afrika (Benue trough) menjadi alur sungai
>> feeder delta; deltanya sendiri berprogradasi ke barat baratdaya
>> berseberangan dengan Campos Basin di Brazil offshore, Amerika Selatan.
>>
>> Delta2 di Sarawak juga berhubungan dengan aulacogen South China Sea
>> spreading.
>>
>> Strike-slip faulting yang kebetulan berkembang di wilayah delta,seperti
>> di Kutei bisa juga memodifikasi, tetapi tak signifikan. Pengaruhnya ke
>> pembentukan struktur pun tak terlalu besar. Kasus di Mahakam Delta,
>> struktur2 di dekat pantai terbentuk oleh antiklinorium yang berhubungan
>> dengan kompensasi tektonik akibat gliding/detachment yang diakibatkan
>> naiknya Kuching High di pedalaman Kalimantan; sedangkan struktur2 jauh di
>> wilayah offshore berhubungan dengan progradasi delta.
>>
>> Strike-slip faulting yang besar di Kalimantan ada dua : Lupar-Adang Fault
>> dan Mangkalihat-Tinjar Fault, kedua sesar ini menerus ke wilayah
>> Indocina.
>> Sesar mendatar di area Kutei hanya sebagai transversal fault yang
>> berhubungan dengan rifting Makassar Strait.
>>
>> Strike-slip faulting lebih banyak membentuk pull-apart basin, bukan delta
>> di passive margin. Contoh yang bagus di Indonesia ada di Ombilin Basin,
>> Melawi Basin, dan Ketungau Basin. Bentuk ketiga basin ini pun sangat khas
>> pull-apart basin, yaitu sempit, panjang, dan dalam. Pull-apart basin ini
>> terbentuk oleh bends, oversteps, dan fault junctions strike-slip faulting
>> yang releasing atau divergent.
>>
>> Sementara itu, tiga danau di wilayah upper Mahakam river (Jempang,
>> Melintang, Semayang) juga lebih terbentuk karena di wilayah itu terdapat
>> tinggian basement (gravity high) yang mengurangi gradien sungai,
>> melandai,
>> sehingga secara geomorfologi membentuk danau. Yang lebih menarik adalah
>> memikirkan asal Kutei gravity high ini. Tetapi, kalau sesar mendatar yang
>> Pak Franc sebutkan itu memotong wilayah danau2 ini menarik juga apakah di
>> wilayah ini ia ada dalam releasing bends. Tetapi, kalau melihat bahwa
>> orientasi danau ini membentuk kelurusan BD-TL, kelihatannya ia lebih
>> dikendalikan oleh gravity high yang sejajar dengan antiklinorium
>> Samarinda
>> atau Meratus, sebab strike-slip di sini umumnya berarah BL-Tenggara atau
>> BBL-Timur Tenggara.
>>
>> Limestone build up di offshore Selat Makassar yang berhubungan dengan
>> Adang Fault adalah Makassar Strait field yang ditemukan Ashland awal
>> tahun
>> 1970-an dan yang kini sedang dikembangkan oleh Pearl Sebuku. Ini bukan
>> build up yang tumbuh di restraining Adang Fault, tetapi re-deposited
>> Berai
>> carbonates yang dierosi dari Paternoster platform kemudian membentuk
>> submarine fan di suatu celah graben yang sejajar dengan orientasi graben2
>> di Barito Basin (Barat Baratlaut-Timur Tenggara).
>>
>> salam,
>> awang
>>
>> Franciscus B Sinartio wrote:
>> Terima kasih penjelasannya Pak Awang,
>>
>> dan sebagai tambahan kita perlu ingat bahwa suatu strike slip bisa saja
>> punya releasing bend disuatu tempat dan restraining bend di tempat yang
>> lain, tergantung tergantung bend nya (-90 derajat < sdt < 0 derajat) atau
>> ( 0 < sdt < 90 derajat).
>> Dan kalau yang releasing bend besar sudut nya lebih besar 45 derajat(?)
>> maka bisa jadi pull apart basin.
>>
>> contoh di Kalimantan:
>> 1.Adang fault: Wain Basin (releasing bend) sedangkan restraining bend
>> nya:
>> limestone build up di offshore selat makassar (sorry lupa apa nama
>> fieldnya) (ini terjadi restarining bend sehingga ada tinggian di laut
>> sehingga cocok untuk terumbu untuk hidup mungkin karena cukup)2, sinar
>> matahari, dan tidak terganggu sama sediment yang datang dari P
>> Kalimantan)
>>
>> 2. Mahakam Delta: releasing bend di depan mulut delta, sehingga terjadi
>> delta, lalu restraining bed di laut dan juga di sebelah dalam pedalaman P
>> Kalimantan. Saya tidak tahu nama dari strike slip fault nya. seingat saya
>> waktu kerja di Vico belum dinamai. Fault ini yang memisahkan Badak+Nilam
>> dengan lapangan2 di selatannya.
>> Apakah ketiga danau yang ada pesutnya merupakan pull apart basin dari
>> strike slip system ini ?
>>
>>
>> contoh di Niger delta:
>>
>> 1.Niger delta releasing bend nya dan Charcoat seamount restraining bend
>> nya.
>>
>> 2. ada lagi beberapa, tapi belum seratus persen disetujui ide nya sama
>> team disini.
>>
>> he.. he..he... dari gempa dibalikin lagi ke HC exploration.
>>
>>
>> contoh di Bengal Delta:
>> mari kita tunggu ulasan Pak Awang. (sekalian delta yang di utara dan
>> selatan Mahakam delta, banyak yang menamakan paleo Mahakam, saya rasa
>> tidak cocok karena delta ini berbeda dengan mahakam delta. dan pada suatu
>> saat pernah ketiga delta ini ada secara bersamaan.)
>>
>>
>> happy hunting HC
>>
>> fbs
>>
>>
>>
>>
>>
>>
>> ----- Original Message ----
>> From: Awang Satyana
>> To: iagi-net@iagi.or.id; Geo Unpad ; Eksplorasi BPMIGAS
>> Sent: Saturday, September 15, 2007 3:47:10 PM
>> Subject: [iagi-net-l] tsunami-genic normal faulting EQ vs. tsunami-genic
>> thrust/reverse faulting EQ (was : Gempa Lagi 7.7 SR ...)
>>
>> Pak Franc,
>>
>> Tsunami terjadi kalau ada kolom air laut yang terganggu oleh pematahan
>> vertikal dasar laut. Kita mengartikan pematahan vertikal adalah dip-slip
>> fault, yang menembus dasar laut dari rupture zone hiposentrum/pusat/fokus
>> gempa dangkal. Semakin dangkal pusat gempa, semakin mungkin pematahannya
>> sampai ke dasar laut. Semakin dalam pusat gempa semakin mungkin
>> pematahannya hanya sebagai blind fault, atau sesar yang tak sampai ke
>> permukaan. Berdasarkan statistik, gempa dangkal yang menyebabkan tsunami
>> adalah gempa dengan pusat lebih dangkal dari 45 km dan pematahannya
>> vertikal.
>>
>> Kita tahu pematahan vertikal (dip-slip) terdiri atas normal fault,
>> reverse
>> fault, dan thrust fault. Kalau dihubungkan dengan strike-slip fault
>> seperti yang ditulis pak Franc, normal fault berkembang di lingkungan
>> transtension atau releasing bend; sedangkan reverse dan thrust fault
>> terjadi di tranpression atau restraining bend.
>>
>> Berdasarkan kejadian2 tsunami, baik pematahan vertikal blok dasar laut
>> oleh normal fault dan reverse/thrust fault menyebabkan tsunami. Saya
>> sependapat dengan pak Franc bahwa normal faulting akan menyebabkan
>> tsunami
>> yang lebih besar dibandingkan reverse/thrust fault. Alasan ini didasarkan
>> kepada wilayah "vakum" (meminjam istilah pak Franc) yang lebih besar yang
>> dihasilkan oleh sesar normal dibandingkan reverse/thrust fault.
>> Reverse/thrust fault juga akan membentuk wilayah vakum, tetapi tak akan
>> sebesar normal faulting. Wilayah vakum reverse/thrust fault akan terjadi
>> di sayap hanging wall block akibat lapisan ini miring oleh penyesaran
>> naik
>> atau anjak. Sedangkan pada normal fault, wilayah vakumnya terbentuk lebih
>> besar karena lapisan2 tiba-tiba runtuh atau seluruh hanging wall bocknya
>> turun - jelas ini akan menciptakan wilayah vakum yang besar.
>>
>> Tsunami terjadi hanya sebagai usaha kolom air menuju keseimbangannya
>> kembali. Dalam normal faulting earthquake (EQ), airlaut tiba2 akan
>> bergerak mengisi wilayah vakum normal fault di dasar laut, maka massa air
>> di pantai2 terdekat akan surut tiba2 sebab massa air tetap sebegitu
>> volumenya. Lalu, sesaat setelah itu, karena efek "bounce back" (meminjam
>> lagi istilah pak Franc), atau saya sebut ayunan osilasi gelombang laut,
>> air laut yang tersedot dari pantai itu melalui proses mekanika fluida
>> akan
>> kembali ke pantai dengan kecepatan ratusan km/jam, dengan massa yang sama
>> tetapi dengan efek kejut dan membawa energi yang luar biasa besarnya
>> (megajoules). Karena menuju pantai semakin mendangkal sementara massa air
>> laut adalah tetap, akibatnya terjadi gelombang tsunami (run up) yang bisa
>> beberapa meter lebih tinggi daripada biasanya. Ketinggian gelombang
>> tsunami juga akan ditentukan oleh morfologi pantai, puluhan sentimeter
>> sampai puluhan meter pernah tercatat
>> sebagai run up
>> tsunami.
>>
>> Pada thrusting fault EQ, airlaut di pantai bisa surut bisa tidak,
>> bergantung kepada posisi vakum area limb thrust (sayap thrust) itu
>> relatif
>> terhadap pantai. Dalam kasus air menyurut, berarti vakum area dan

=== message truncated ===

       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

Kirim email ke