Aditya,
(1) Plume tectonics sebagai mantle plume hypothesis telah dikemukakan pertama
kalinya oleh Wilson (1963 - A possible origin of the Hawaiian islands: Can. J.
Phys, 41, 863-870) dan Morgan (1971 - Convection plumes in the lower mantle:
Nature, 230, 42-43) saat menjelaskan hotspot volcanoes seperti di Hawaii dan
Iceland. Saat itu, mantle plume didefinisikan sebagai massa ringan (buoyant)
material mantel yang naik karena keringanannya secara densitas (buoyancy). Saat
mencapai litosfer, dikenal yang namanya plume heads dengan diameter 500–3000
km, dan plume tails yang diameternya 100–500 km yang masuk jauh ke mantel atas.
Pentingnya peranan mantle plume, terutama superplume, dalam evolusi geodinamika
Bumi, pertama kali diajukan oleh Maruyama (1994 - Plume tectonics: J. Geol.
Soc. Jpn., 100, 24-49) yang menyebutnya sebagai plume tectonics theory. Plume
tectonics secara komprehensif dibahas dalam buku tulisan Condie (2001 - Mantle
Plumes and Their Record in Earth History, Camridge University Press, Cambridge,
306 ps).
Plume tectonics akan tetap dalam bentuk hipotesis kalau tidak dapat sokongan
seismic tomography. Seismic tomography adalah suatu teknik untuk menentikan
struktur 3-dimensi interior Bumi dengan cara menggabungkan informasi dari
sejumlah besar gelombang seismik yang melintasi Bumi baik di permukaan maupun
interiornya yang bersal dari sumber-sumber seismik alamiah maupun buatan. Ada
global tomography, ada local/regional tomography; dan untuk plume tectonics,
sumbangan global tomography yang dipelopori oleh Dziewonski (1984 -Mapping the
lower mantle: determination of lateral heterogeneity in P velocity up to degree
and order 6: J. Geophys. Res., 89, 5929-5952) besar sekali.
Model2 plume tectonics dari berbagai peneliti tentu ada, misalnya: (1) Grand
et al. (1997 -Global seismic tomography: A snapshot of convection in the Earth:
GSA Today, 7, 1–7, (2)Anderson (2000 - The thermal state of the upper mantle:
No role for mantle plumes: Geophys. Res. Lett., 27, 3623–3626), (3) Bijwaard et
al. (1998- Closing the gap between regional and global travel time tomography.
J. Geophys. Res., 103, 30055–30078), dan (4) Garnero (2000 - Heterogeneity of
the lowermost mantle. Annu. Rev. Earth Planet. Sci. 28, 509–537). Hubungan
dengan teori plate tectonics yang telah berkembang lebih dahulu pun telah ada
publikasinya, misalnya: Foulger (2003 - Plumes, or plate tectonic processes?
Astron. Geophys., 43, 6.19–6.23 atau Griffiths & Richards (1989 - The
adjustment of mantle plumes to changes in plate motion: Geophys. Res. Lett., 16,
437–440.
Tentu tidak mudah memperoleh artikel-artikel di jurnal2 yang saya sebutkan di
atas, tetapi melalui amazone.com kita bisa memperoleh dua buku paling tidak
yang baik untuk mengetahui lebih jauh soal plume tectonics, yaitu: (1) Condie
(2001 - Mantle Plumes and Their Record in Earth History, Camridge University
Press, Cambridge, 306 ps) dan (2) Yuen et al. (eds), 2007 - Superplumes: Beyond
Plate Tectonics, Springer, Dordrecht, 569 ps.
Untuk penerapan plume tectonics di Indonesia, pernah dibahas beberapa kali,
misalnya: Bijwaard, H., W. Spakman, and E. Engdahl (1998) Closing the gap
between regional and global travel time tomography. J. Geophys. Res., 103,
30055–30078; Van derVoo, R.,W. Spakman, and H.
Bijwaard (1999b) Tethyan subducted slabs under India. Earth Planet.
Sci. Lett., 171, 7–20. Prof. Sri Widiyantoro, ITB, salah seorang anggota milis
yang saya tembuskan ini (Forum HAGI) adalah juga seorang ahli mantle tomography
dan banyak mempublikasikan mantle tomography bersama koleganya, termasuk untuk
Indonesia. Silakan Pak Sri menambahkan.
(2a) Hotspots tersebar tak teratur tetapi nonrandom di permukaan Bumi. Mereka
lebih banyak tersebar di dekat divergent plate boundaries (mid-ocean ridges),
dan biasanya menghilang dari wilayah2 di dekat convergent plate boundaries/
subduction zones. Asal hotspots umumnya dihubungkan ke mantle plumes (Wilson,
1963; Morgan, 1971), tetapi ada juga yang berhubungan dengan intraplate
volcanism oleh plate tectonic processes (Anderson, 2000; Foulger, 2003).
Hubungan antara hotspot dan mantle plume terbaik ditunjukkan oleh Yellowstone.
Yellowstone adalah the best known continental hotspot. Beberapa
studi teleseismic tomography telah dilakukan untuk wilayah ini
(Evans, 1982; Saltzer and Humphreys, 1997; Schutt and Humphreys, 2004; Yuan and
Dueker, 2005). Hasil studi memperlihatkan 100-km diameter upper mantle plume
terlihat yang meluas dari Yellowstone volcanic caldera sampai kedalaman 500 km.
Mantle plume adalah lidah-lidah yang mencuat ke atas dari suatu massa
superplume, dan menerobos ke permukaan sebagai hotspot.
(2b) LIPs -large igneous provinces. LIPs adalah wilayah-wilayah di kerak Bumi
yang memiliki sebaran batuan beku di luar kewajaran, begitu luasnya. LIPs yang
terkenal adalah Siberian Traps di wilayah Siberia, Ontong Java
Plateau di Samudra Pasifik utara Papua New Guinea, dan Deccan Trap di
India. Di Indonesia pun, kita punya LIPs dalam skala lebih kecil :
Radjabasa Basalt Plateau di Lampung dan Toba Ignimbrit (welded tuff) di
sekitar Danau Toba.
Para ahli batuan beku dan tektonik mempermasalahkan asal kejadian LIPs
ini, termasuk membahasnya sebagai antipode (titik seberang) dari suatu
titik benturan meteorit/komet besar di kerak Bumi dari seberang yang
lain. Saat meteorit/komet besar menghantam di satu titik di permukaan
Bumi, goncangannya akan menggetarkan seluruh mantel dan inti Bumi,
gelombang kejutnya diteruskan ke seberang bola Bumi yang lain, termasuk
membawa material mantel melalui mekanisme plume tectonics sehingga
terekstrusi ke permukaan di titik seberangnya. Mekanisme antipodal
igneous province ini pernah saya tulis di milis ini ketika membahas asal
Deccan Traps dan Siberian Traps. Siberian Traps adalah pada antipodal
position benturan meteorit Permian di Antarktika yang beberapa bulan
lalu ditemukan impact craternya oleh para ahli geologi dan geofisika
melalui survey gayaberat. Diyakini, bahwa benturan meteorit Permian ini
berhubungan dengan kepunahan massal flora dan fauna di ujung Paleozoic -
sebuah kepunahan massal yang lebih besar daripada di ujung Kapur.
Tetapi sekarang, jurnal-jurnal geologi lebih banyak membahas suatu
mekanisme baru sebagai asal LIPs, yaitu delaminasi di batas kerak dan
mantel. Delaminasi adalah proses de-laminasi : tersobeknya urutan
lapisan (laminasi) oleh proses geologi. Dalam hal delaminasi
kerak-mantel, maka yang dimaksud adalah sobeknya/lepasnya lithospheric
mantle (batas litosfer-mantel) dari kerak benua di atasnya karena batas
litosfer-mantel ini lebih dingin dan lebih padat dibandingkan dengan
astenosfer di bawahnya. Kehilangan massa karena delaminasi ini akan segera
diikuti oleh kompensasi isostatik berupa pengangkatan, sehingga terbentuklah
Colorado Plateau misalnya dan semua gejala magmatik ikutannya. Colorado Plateau
ini adalah salah satu LIPs juga. Don Anderson, seorang experimental petrologist
dari Seismological Laboratory Caltech, yang banyak publikasinya soal interior
Bumi, dalam jurnal "Elements" vol. 1 p. 271-275 (Desember 2005) menulis bahwa
ketika kerak benua terlalu tebal, bagian bawah kerak ini yang disusun oleh
eklogit akan terlepas (delaminasi), menyebabkan uplift, asthenospheric
upwelling, dan pressure-release melting. Proses delaminasi ini akan menyebabkan
segmen kerak bagian bawah yang punya titik lebur rendah terintroduksi ke
mantel; kemudian segmen ini terpanaskan, naik, dekompres, dan lebur. Eklogit
hasil delaminasi akan lebih panas dan kurang padat dibandingkan dengan kerak
samudra yang tertunjam di zone subduksi. Bisa
disimpulkan bahwa LIPs memang berhubungan dengan plume tectonics, secara
langsung sebagai massa buoyant superplume maupun tidak langsung melalui
delaminasi kerak-mantel.
(2c) lempeng-lempeng bergerak dengan dua cara: (1) push-ridge dan (2) slab
pull; sementara di bawahnya bersirkulasi mantle material melalui sel-sel
konveksi. Gerak push ridge terjadi di MOR sementara gerak slab-pull terjadi di
subduction zone. Dua gerakan utama ini memberikan energi buat Wilson cycle
berjalan. Mantle plume yang dibatasi dua sel konveksi di MOR mau tak mau akan
membawa mantle plume upwelling di MOR, yang lalu kemudian akan segera diikuti
push ridge dari material yang telah jadi suite ofiolit. Maka upwelling mantle
plume di spreading zone secara tak langsung menggerakkan Wilson cycle.
(3). plume tectonics dan pipa intan kimberlite: Kalimantan case.
Anthony Evans dalam bukunya, "An Introduction to Economic Geology and Its
Environmental Impact" (Blackwell Science, 1997) menulis kadar2 intan di pipa
kimberlite/lamproite di seluruh dunia. Yang paling miskin (kimberlit Lesotho :
0,309 karat/ton) - yang paling kaya (Argyle AK1 Lamproite di Australia Barat
punya kadar intan 4 karat/ton). Bandingkan dengan kadar intan Pamali intrusive
breccia yang hanya 0,0035 karat/ton. Bagaimana intan Martapura bisa punya kadar
0,47 karat/ton ? Rasanya, proses enrichment pun tak akan mendongkrak kadar
sampai 134 kali bukan ? Lalu, dari mana asal intan Martapura ?
Melihat peta penyebaran intan di seluruh dunia (Evans, 1997), jelas tergambar
di situ bahwa deposit intan yang besar selalu berasosiasi dengan daerah
continental craton (> 1500 Ma old). Teori terbaru sekarang tentang origin of
diamonds adalah bahwa intan bukanlah hasil kristalisasi magma di intrusi
ultrabasa (akan in-situ), tetapi bahwa intan adalah ex-situ, mereka adalah
mineral2 di upper mantle yang terbawa hot plume mantle yang sedang up-welling.
Maka, intan bukanlah fenokris, tetapi xenokris.
Mengherankan, sejak Koolhoven (1935) menulis laporannya tentang asal intan
Kalimantan ("Het Primaire Voorkomen van den Zuid-Borneo Diamant" - Primary
Occurrences of the South Kalimantan Diamond), riset tentang ini tak mengalami
kemajuan yang signifikan sampai saat ini pun.
Prof. Adjat Sudradjat, di dalam bukunya, "Teknologi dan Manajemen Sumberdaya
MIneral" (ITB, 1999) masih menulis bahwa asal intan Kalimantan ini tak
diketahui dari mana. Lima puluh tahun sebelumnya (1949), van Bemmelen pun
mengindikasikan hal yang sama. Memang, Koolhoven (1935) menyebutkan bahwa a
pipe of ultrabasic rock yang disebutnya "Pamali intrusive breccia" adalah
sumber intan di Kalimantan Selatan. Tetapi, semua buku menuliskan bahwa kadar
intan di breksi Pamali (bukan Pemali seperti di Jawa Tengah ya..) sangat kecil,
jauh di bawah kadar intan yang ditemukan di endapan placer-nya. Kata Pak
Soetarjo Sigit dkk di bukunya "Mineral Deposits of Indonesia" (1962), tidak
ekonomis menambang intan di breksi Pamali itu.
Ini kadar2 intan di Kalimantan Selatan (van Bemmelen, 1949 vol IB) : pipa
ultrabasa breksi intrusif Pemali : 0,0035 karat/ton (1 karat intan = 0,20 g),
enriched top soil Pamali : 0,035 karat/ton, diamond bearing gravels placer
deposits : 0,47 karat/ton. Nah, intan terbesar yang pernah ditemukan di endapan
plaser itu adalah yang ditemukan di desa Cempaka, Kal Sel seberat 166 karat (33
gram). Cukup besar, hampir sebanding dengan intan Kohinoor kepunyaan raja
Lahore, India sebelum dibelah (186 karat), tetapi jauh lebih kecil dibandingkan
intan terbesar yang pernah ditemukan di Afrika Selatan, intan Cullinan (3024
karat - 602 gram) yang kata buku Munaf (1956) - Ensiklopedia Indonesia
(termasuk ensiklopedia Indonesia pertama) dihadiahkan pemerintah AfSel ke raja
Inggris Edward VII.
Nah, benarkah Koolhoven bahwa breksi intrusif Pamali itu sumber primer intan di
Martapura ? Tidak tahu, sebab praktis tak ada riset ke arah situ yang serius.
Kalau melihat kadar2 intan antara placer deposits di Martapura dan primary
deposits di breksi Pamali itu, maka diragukanlah kebenaran Koolhoven itu.
Koolhoven (1935) dan van Bemmelen (1949) menyebutkan bahwa breksi intrusif
Pamali itu adalah model kimberlitic pipe intrusive di Afrika Selatan. Betulkah
? Kadar intan yang dilaporkan mereka tak mendukung analogi ini.
Bagaimana hubungan antara intan dan craton bagus dipelajari dari artikel Dante
Canil (University of Victoria, British Columbia, Canada) yang risetnya dalam 15
tahun terakhir berhubungan dengan mantle listosphere, dalam ”GSA Today” vol.
18, no. 6, June 2008, hal. 4-10, melaporkan kemajuan terbaru tentang
pengetahuan ini.
Dalam artikel berjudul, “Canada’s craton : A bottoms-up view, Canil menulis
tentang bagian craton Canada di Archean Slave Province, Mackay Lake, yang
disusun polymetamorphic gneiss berumur sekitar 3300 juta tahun. Craton ini
diintrusi banyak sekali pipa kimberlit yang membawa intan. Pipa kimberlit ini
membawa xenolith peridotit dan sedikit eklogit berasal dari akar craton di
wilayah mantel.
Penelitian ini beraplikasi kepada eksplorasi intan pada pipa kimberlit yang
menembus craton, dan keberadaan intra-cratonic basin yang bisa menjadi habitat
hidrokarbon organik dan anorganik.
Craton didefinisikan sebagai bagian stabil lempeng benua yang tidak lagi
mengalami deformasi tektonik dalam waktu yang lama (milyaran tahun) (Bleeker,
2003, the late Archean record : puzzle in ca. 35 pieces, Lithos v. 71,
p.99-134). Saat ini telah diidentifikasi sebanyak 35 segmen/provinsi kerak Bumi
berumur Archean (> 2500 juta tahun, berdasarkan skala waktu geologi terbaru
dari Gradstein et al., 2004) yang diidentifikasi sebagai craton.
Bagian massa litosfer terbesar dari suatu craton adalah bagian litosfer yang
terletak di bawah diskontinuitas M (Mohorovicic) yang lazim disebut litosfer
mantel. Kekuatan dan stabilitas jangka panjang suatu craton bergantung kepada
sifat litosfer mantelnya. Begitu berpengaruhnya, sehingga sifat litosfer mantel
ini akan menentukan asal benua. Dalam hal ini, patut diperhatikan perbedaan
definisi antara berapa tebal kerak benua, posisi diskontinuitas M, tebal
litosfer, dan tebal astenosfer (agar tak membingungkan, pengertian dasar
pembagian kerak-mantel-inti harus dibedakan dengan
litosfer-astenosfer-mesosfer-inti).
Artikel Canil (2008) memberikan ringkasan tentang faktor-faktor termal,
petrologi, dan geologi untuk pehamaman evolusi cratonic lithosphere (meliputi
kerak benua maupun mantle lithosphere) berdasarkan xenoliths yang dibawa pipa
kimberlit yang mengintrusi craton.
Canada berpusat di suatu craton yang besar dan bagian tersingkapnya merupakan
singkapan kerak Archean terluas di dunia. Kayanya pipa-pipa kimberlit yang
membawa intan ke permukaan menjadikan wilayah ini sebagai fokus utama riset
eksplorasi intan selama 15 tahun terakhir.
Survey geofisika dalam proyek-proyek bernama DeepProbe, Kaapvaal, dan
sebagainya selama beberapa tahun terakhir dilakukan di atas craton Canada.
Tujuan survey ini adalah untuk mendapatkan geophysical imaging litosfer di
bawah craton. Penelitian geologi dan geokimia atas singkapan batuan-batuan
mantel berupa xenoliths yang dibawa kimberlit seolah bagai jendela untuk masuk
ke dalam mantel. Gambaran craton dan litosfer mantel di bawahnya yang diperoleh
dari geophysical imaging dan sifat komposisi serta ciri termal bagian bawah
craton berdasarkan xenoliths, bila digabungkan akan memberikan gambaran lebih
utuh tentang craton dan evolusinya.
Xenoliths ini umumnya berupa peridotit. Maka disimpulkan bahwa mantle
lithosphere adalah residu leburan peridotit. Pada tekanan di bawah 3 Gpa (giga
pascal) sistem ini akan menghasilkan olivin.
Berdasarkan pemelajaran termal, diketahui bahwa struktur termal bagian craton
Canada di Slave Province mantle tak berubah secara signifikan selama 500 juta
tahun terakhir. Struktur termal yang tetap ini kontras dengan struktur
petrologinya yang bervariasi baik secara lateral maupun vertikal diikuti dengan
tingkat depletion-nya yang berbeda-beda berdasarkan bukti garnet geochemistry.
Variasi ini juga sejajar dengan kejadian seismic anisotropy. Thermal
steady-state ini tidak diketahui apakah begitu juga untuk periode yang lebih
tua, misalnya pada ujung Archean (2500 juta tahun) saat Slave Province mulai
stabil. Indikasi dari paleogeothermal masih sulit untuk diduga-duga.
Untuk mengetahui umur cratonic mantle “roots” digunakan isotop Re-Os
(Renium-Osmium) dan isotop 187Osmium-188Osmium pada peridotit yang dibawa pipa
kimberlit dari mantle lithosphere. Hasilnya bervariasi dari 3500 juta tahun
sampai 500 juta tahun. Disimpulkan bahwa mantle lithosphere telah berperan
dalam pembentukan craton pertama (3,5 Ga) juga “pengakaran”-nya (cratonic
mantle “rooting”) kembali pada periode berikutnya (0,5 Ga).
Geophysical imaging menunjukkan bahwa di bawah craton Archean ini ada tumpukan
mantle lithosphere yang membentuk sistem “perakaran” bagi craton. Berdasarkan
bukti-bukti geologi dan geokronologi, diketahui bahwa pembentukan tahap akhir
dan amalgamasi mantle root ini terjadi 500-1000 juta tahun lebih kemudian
daripada umur litosfer Archean yang membentuk craton.
Demikian sedikit catatan dari artikel Canil (2008). Craton Canada adalah craton
yang paling banyak dipelajari di dunia. Banyak riset tentang craton yang
dilakukan di sini menjadi model untuk craton lain di seluruh dunia (seperti
craton-craton di Australia, Afrika, Asia, Amerika).
Pengetahuan ini tidak hanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan geologi, tetapi
juga telah bermanfaat untuk eksplorasi intan. Geophysical imaging-nya dapat
dimanfaatkan untuk eksplorasi migas di intra-crattonic basin, dan struktur
termalnya dapat dimanfaatkan dalam hal pengkajian pembentukan migas secara
anorganik.
Nah, di Kalimantan kita punya craton kecil (Schwaner) yang disebut dan
disatukan dengan Laut Jawa sampai ke Malaya oleh Ian Metcalfe (1996) menjadi SW
Kalimantan craton. Dan di Kalimantan, intan tak hanya ada di Martapura, tetapi
juga di Purukcahu (KalTeng) dan Sanggau (KalBar). Mengapa kita tak mencoba
mengkaji origin of diamonds in Kalimantan secara lebih serius ?
Tetapi secara ringkas boleh disebutkan bahwa belum ada bukti intrusi pipa
kimberlite ditemukan di Kalimantan. Pak Dr. Ade Kadarusman (INCO) yang pernah
mempelajari asal intan di Kalimantan pernah menulis (2005) alternatif2 asal
intan di Kalimantan sebagai berikut:
-Ultrahigh pressure (UHP) metamorphic origin; source from Meratus Complex
-Peridotitic origin (Pearson et al., 1995); source from Bobaris peridotite
(largely based on Koolhoven and van Bemmelen description).
-Meteoritic origin; presence of textites and impact-crater like structure in
north Martapura
-Kimberlite/lamproite origin (Bergman et al, 1987;1988; Spencer et al, 1988);
source from the cratonic core of central Borneo (now eroded)
-Lamproite origin (Parkinson et al, 2000); source from rifted Australian
fragment containing diamondiferous craton.
(4) Tidak ada hubungan antara superplume atau plume yang mungkin ada di bawah
SE Sundaland dengan petroleum system Barito Basin yang Tersier. Kaitan ke
heatflow mungkin kalau dihubung2kan bisa saja, tetapi harus dikaji lebih jauh.
Mantle plume atau superplume mungkin ada pengaruhnya ke rifting Selat Makassar
pada saat Paleogen, tetapi itu baru hipotesis spekulatif sebab mekanisme
pembukaan Selat Makassar bisa dicari dengan berbagai pendekatan, dan apa yang
terjadi sebenarnya bisa juga merupakan gabungan berbagai mekanisme (Satyana,
2003- Accretion and Dispersion
of Southeast Sundaland : the Growing and Slivering of a Continent, Joint
Convention of IAGI-HAGI; Satyana, 2010 - Crustal Structures of the Eastern
Sundaland’s Rifts, Central Indonesia: Geophysical Constraints and Petroleum
Implications, SEG-HAGI Convention).
Demikian, semoga cukup menjawab pertanyaan2.
salam,
Awang
--- Pada Sen, 17/10/11, Aditya Ariewijaya <[email protected]> menulis:
Dari: Aditya Ariewijaya <[email protected]>
Judul: Superplume (Plume Tectonic)
Kepada: [email protected]
Tanggal: Senin, 17 Oktober, 2011, 4:23 AM
Selamat Pagi Pak Awang,
Saya mahasiswa teknik geologi UGM, yang tempo hari mengikuti Course AAPG
mengenai "Tectonics, Basin Cnfigurations, and Petroleum System" . Kemarin,
karena keterbatasn waktu ada beeberapa pertanyaan saya yang tidak bisa saya
ajukan. Terutama mengenai mantle plume (plume tectonic)
1. Superplume pada model maruyama adalah salah satu model dari superplume,
mengenai kaitannya dan bagaimana terjadinya, adakah paper-paper lain mengenai
plume tectonic ini? terutama model - model yang mampu mengakomodasi tectonic
configuration yang terjadi di dunia (indonesia) yang telah mampu dijelaskan
oleh lateral tectonic (Plate Tectonics)?
2. Dalam model Maruyama (1999), akan terjadi suatu intrusi ke arah kerak dari
arah mantel, setelah terjadi akumulasi dari krak samudera pada mantel. Yang
saya tanyakan, apakah yang mempengaruhi suatu Superplume yang menyembul ke atas
(kerak) menjadi suatu
- hot spot?
- LIP (Large Igneous Province)?
- sebagai "penggerak" dari spreading pada kerak?
3. Pda Model Maruyama (1999), terdapat superplume yang akan menuju ke arah
kerak apbila akumulasi kerak samudera telah mencapai mantel bawah. Terkait
dengan hal tersebut, ada teori yang saya pernah baca yang mengatakan ada
keterkaitan antara intrusi hot spot yang muncul pada kraton, akan menghasilkan
kimberlit, yang contohnya terdapat di Afrika. Kalimantan, Martapura, memiliki
tambang berlian yang hingga kini hanya diketahui sebagai placer deposit (sejauh
yg saya tahu). Yang ingin saya tanyakan; apakah mungkin kimberlit telah terjadi
di Martapura (Kalimantan) akibat dari superplume yang terjadi tepat pada saat
akumulasi krak samudera hasil subduksi akhir kapur mencapai ambang batasnya,
dan akhirnya meengintrusi kraton (kerak benua) Sundaland dan menghasilkan
kimberlit sebagai sumber dari placer deposit dari berlian di kalimantan?
4. Kemudian terakhir, apakah ada keterkaitan superplume yang terjadi
berdasarkan pertanyaan no. 3, terhadap terjadinya petroleum system di cekungan
Barito dan cekungan sekitarnya?
Demikian hal-hal yang masih membingungkan dan menarik bagi saya untuk saya
ketahui pak. Semoga pertanyaan saya ini tidak mengganggu kegiatan bapak.
Maafkan apabila masih terdapat banyak salah istilah ataupun pemahaman yang
salah dalam pertanyaan saya pak.
Terimakasih sebesar-besarnya atas waktu yang diberikan.--
Best Regards
Aditya Ariewijaya TGL UGM '07
--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2008-2011:
ketua umum: LAMBOK HUTASOIT, [email protected]
sekjen: MOHAMMAD SYAIFUL, [email protected]
* 2 sekretariat (Jkt & Bdg), 5 departemen, banyak biro...
--------------------------------------------------------------------------------
Ayo siapkan diri....!!!!!
Hadirilah Joint Convention Makassar (JCM), HAGI-IAGI, Sulawesi, 26-29
September 2011
-----------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------