PLN jangan maksain beli gas ato batu bara dg harga TDLnya dong, aku sekarang 
lagi garap Minemouth (MM) sumsel IPP 9 dan 10 tapi setelah di lihat harga 
belinya BB harus murah banget krn di kasi ancer2 pemenangnya kalau bisa jual 
6-7 cent USD/ kwh, nah ini kalo di transfer ke harga BB di MM menjadi sekitar 
USD 13.0 tiga tahun pertama kemudian naik ke USD 16.0 di 2016, padahal lifting 
costnya aja USD17/ton dg SR (stripping ratio tertentu) lah ini ngasi proyek apa 
ngajak bangkrut. Belum lagi kalau pembangunan IPPnya lebih dari USD600jt maka 
sudah pasti rugi.

Sebetulnya dari pebisnis "rule" nya simple kalau "Pay out time (POT)" pendek 
kurang dari 2th dg IRR >20% pasti OK, tapi proyek IPP PLN kan POTnya 5th 
setelah itu IRR 10% itupun dg DCF 10% biasanya di pake DCF 15%, maka itu kang 
Mangil sering proyek IPP kurang klop dg para pengusaha

Tapi herannya ada yg nekat tuh, aku ga ngerti jadinya

Lam salam
Sambil potong kambing cet pencet

Avi

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: <[email protected]>
Date: Fri, 26 Oct 2012 14:08:42 
To: <[email protected]>
Reply-To: <[email protected]>
Subject: RE: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam atau Natuna ?
Persoalan klasiknya masalah harga, para pemakai di dlm negeri (
PLN , Industri ( keramik, makanan, dll ) maunya pakai harga
sesuai kekonomian produk yg dijual , disisi lain para produser
pakai harga keekonomian lapangannya. PLN karena semua produk
nya ( setrum) dijual dg harga Yg sdh ditetapkan ( TDL) maka
harus bisa menghemat Biaya Pokok Penyediaannya (BPP )Tadi pagi wawancara Pak DI 
di MetroTV beliau Siap kalau mau
dipenjara karena resiko jabatan, ini terkait dg Kelangkaan Gas
untuk DKI sehingga kalau Tidak pakai BBM ( HSD/MFO) maka
Jakarta akan ada pemadaman yg tidak jelas berakhirnya (
menunggu gas datang ), Pak DI memilih Jakarta Tetap Terang
tanpa ada pemadaman dg resiko Pembangkitnya ( Muara Tawar,Muara
Karang dan Priok ) menggunakann BBM untuk menggantikan gas yg
mengakibatkan pemborosan BPP sampai berlipat lipat. PLN saat
ini membutuhkan gas untuk seluruh pembangkitnya sdh mencapai
lebih dari 2000 bbtud untuk menghidupkan PLTG nya yg kapasitas
terpasangnya sudah mencapai 11.000 MW atau sekitar 29% dalam
energy mixnya. namun kebutuhan gas tersebut baru terpenuhi 40
an %. Kalau kita lihat asumsi harga energy primernya yg dibuat
pada tahunlalu dg kurs 8000 Rp/$ dg ICP 100USD/barel , maka
harga rata rata HSD 21,5 USD/mmbtu, Gas pipa 5,5 USD/mmbtu, Gas
ex LNG 12$/mmbtu dan batubara 4,6 USD/mmbtu. jadi meskipun dg
harga gas 17 $ pun masih lbh untung dari pada pakai BBM,
persoalannya ternyata bukan hanya di harga tapi infra struktur
dan ketersediaan pasokan untuk pemakian saat ini dimana Setrum
Tidak boleh Mati ( menunggu sampai ada gas mengalir) bisa
barabe Jakarta bisa peteng ndedet , padahal jakarta ini
kebutuhannya sudah sekitar 6000 MW lebih .Ini baru Gas, kalau dibedah lagi 
Batubara pun tidak kalah
ramainya , contoh kecil Proyek 10.000 MW yg gagas jamanya JK
untuk secepatnya menggantikan BBM ternyata kasusnya sami mawon
, permasalahan suplai energy primernya ( permasalahan pasokan
batubaranya )
Dalam APBN 2013 yg barusan diketok palu kemarin telah disetujui
Kanaikan TDL 15% , ini pun tidak akan membantu banyak, paling
hanya bisa menhemat 10an T saja, karena problem utamanya di
energy primernya wabil khususon gas dan batubara.
Permasalahan energy primer ini tidak bisa diselesaikan secara
partial karena harus ada sinkronisasi antara hulu dan hilirnya
karena masing maisng beda lurahnya.Nah Apa yg bisa disumbang pikirankan dari 
Organisasi
Profesional Intektual ini terhadap Kemandirian dan ketahanan
SDA ( energy) nya monggo lanjut.
ISM




> Pak Bambang,
>
>
>
> Memang menanggulangi gas kita banyak salah kaprah. Kita
> impor gas dari Bontang ke teluk Jakarta. PLN bayar
> $11/mmbtu. Kita cari gampangnya. Gas tersedia di Bontang,
> gas kekurangan di Jawa. Tinggal transfer. Tidak perlu
> eksplorasi karena semuanya telah tersedia. Padahal kalau
> dijual ke Taiwan yang sudah jalan bertahun-tahun, harganya
> $17/mmbtu. Jadi secara terselubung kita subsidi gas sebesar
> $6/mmbtu. Minyak sudah kita habsikan untuk subsidi, sekarang
> ganti gas kita subsidi.
>
>
>
> Sampai Jakarta dilakukan regassing oleh PT Regassing
> Nusantara, JV antara swasta, Pertamina dan PN Gas. Harga
> untuk regassing sekitar $2-3/mmbtu. Diluar negeri, harga
> regassing cuma $0,50/mmbtu, karena justru kelebihan energi
> yang bisa dipakai untuk lainnya. Sampai Jakarta dijadikan
> gas pipa untuk dialirkan ke PLN. Ditambah biaya handling
> oleh PLN, harga gas pipa menjadi sekitar $15-17/mmbtu. Baru
> bulan Maret, 2012,  ESDM menaikkan harga beli gas K3S dari
> $2-3/mmbtu menjadi $5-6/mmbtu. Padahal PLN diperkenankan
> impor LNG dari Bontang yang harganya setelah regassing
> menjadi $15-17/mmbtu.  Seyogianya ESDM juga memberikan harga
> tsb. kepada K3S, yaitu tiga kali lipat dari harga yang
> sekarang. Ini adalah fair. Dengan harga gas pipa $15/mmbtu,
> eksplorasi stranded gas di Jawa dan Sumatra Selatan akan
> digiatkan dan demikian juga CBM South Sumatra yang
> intrisiknya memerlukan harga yang lebih tinggi. Dengan harga
> $15/mmbtu, K3S bisa memasang pipa dari Sumatra ke Jawa dan
> di Pulau Jawa sendiri. Dengan harga $15/mmbtu, dapat
> dipastikan akan terjadi penemuan gas baru hingga kita tidak
> perlu lagi impor LNG dari Bontang dan LNG Bontang bisa tetap
> di-ekspor ke Taiwan dengan harga $17/mmbtu.
>
>
>
> Salam Pak Bambang,
>
>
>
> HL.Ong
>
>
>
>
>
> From: Bambang P. Istadi
> [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, October 25, 2012 4:22 PM
> To: [email protected]
> Subject: RE: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam
> atau Natuna ?
>
>
>
> Ide menarik nih om OQ,..
>
>
>
> Pembangunan receiving terminal cocok juga, apalagi untuk
> Indonesia Timur, paling tidak pembeli utama adalah PLN bisa
> menghemat $10/mmbtu meskipun pakai LNG import karena
> kebanyakan masih pakai bbm yang bersubsidi. Andaikata US
> sudah bisa meng-export LNG, penghematan bahkan akan lebih
> banyak lagi, karena harga sampai disini bisa $9-10 atau
> dibawah dengan asumsi harga Henry Hub  masih sama. Saat ini
> di Louisiana (Sabine Pass milik Total, Chevron, Cheniere)
> dengan LNG 3 train sudah hampir jalan, ExxonMobil saya
> denger buat juga di Texas, begitu pula Canada (Kitimat,
> milik Encana, Apache, EOG) sudah dapat persetujuan
> pemerintah BC untuk bangun 2 LNG train.
>
>
>
> Kenapa import LNG? Karena LNG receiving terminal satu2nya,
> Nusantara Regas, dengan kapasitas 3 juta MT, paling baru
> kepakai sekitar sepertiganya, artinya masih ada spare
> capacity untuk alirkan gas kepasar domestik. TAPI, mau cari
> posokan tambahan dari dalam negeri belum dapat, yaa import
> saja. Saya pikir Jawa Barat masih kekurangan pasokan gas,
> masih ada industri yang mau beli gas dengan harga LNG
> internasional, apalagi kalau sekarang masih pakai BBM.
> Lokasi FSRU hanya beberapa kilometer saja dari pipa SSWJ,
> bisa interkoneksi agar bisa memenuhi kebutuhan gas Jawa
> Barat.
>
>
>
> Pompa gas untuk kendaraan yang om OQ sebut, nah,.. ini
> dia,.. energi alternatif dan CNG ngga bakalan bisa bersaing,
> karena harga BBM subsidi masih dibawah harga keekonomian
> CNG. Mana ada yang mau beli conversion kit dan investor
> tanamkan uang di infrastruktur SPBG, atau mother-daughter
> station dan NGV kalau harga BBM bersubsidi lebih murah. Saya
> kira para investor yang mau bergerak di tanaman jarak,
> minyak jelantah untuk biodiesel atau tebu untuk methanol,
> mati suri ngga bakalan jalan selama BBM subsidi lebih murah
> daripada harga keekonomian bahan bakar alternatif ini.
>
>
>
> Pertanyaannya bila Natuna disimpan saja untuk anak cucu,
> boleh ngga import LNG? Saya dengar dari teman2, ada lebih
> 100 perizinan yang musti didapat untuk buat receiving
> terminal,.. weleh weleh,..
>
>
>
> Untuk teman2 yang merayakan,.. saya mengucapkan SELAMAT IDUL
> ADHA 1433 H.
>
>
>
> Salam,
>
> Bambang
>
>
>
>
>
> From: o - musakti [mailto:[email protected]]
> Sent: Thursday, October 25, 2012 3:26 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of urgency : Mahakam
> atau Natuna ?
>
>
>
>
> Kenapa kita gak moratorium semua proyek gas baru.
> Konsentrasi pada pembangunan receiving LNG terminal,
> backbone distribusi ( pipa gas dari ujung sumatra sampai
> bali atau lombok), infrastruktur town gas dan pompa gas
> untuk kendaraan ?
>
> Ini untuk antisipasi jatuhnya harga LNG saat proyek CBM,
> floating LNG dan shale gas export bareng2 on stream.jadi
> bisa impor Gas dengan harga murah....
>
> Kemaren kita teriak kekayaan alam kita dirampok ke LN, besok
> kita bisa bangga merampok kekayaan alam Australia dan Amrik,
> hitung2 perubahan paradigma...
>
>
>
>  _____
>
> From: Muharram Jaya Panguriseng <[email protected]>;
> To: Iagi-net <[email protected]>; [email protected]
> <[email protected]>;  Subject: Re: [iagi-net-l] Re: Sense of
> urgency : Mahakam atau Natuna ?  Sent: Thu, Oct 25, 2012
> 7:39:39 AM
>
>
>
> Daripada memaksakan diri mengembangkan gas Natuna sekarang
> hanya untuk dijual murah ke negara tetangga, kenapa kita
> tidak menunggu momentum booming shale gas Amerika lewat
> untuk kita kembangkan Natuna kemudian? Katakanlah
> dicadangkan untuk kebutuhan domestik 10 tahun yang akan
> datang yang akan kekurangan seperti yang Abah sampaikan.
> Shale gas selain produksi per sumurnya lebih kecil,
> decline-nya juga akan cepat. Saya kira itu yang Paman Sam
> sadari makanya masih senang mengumbar ancaman untuk
> mendapatkan lapangan gas conventional di negara lain. Tak
> tanggung2 kalau betul Obama dan Armada 7 ikut bergerak he he
> he...
>
> Selamat idul adha 10 Zulhijjah 1433 H bagi yang merayakan.
> Mari rame2 kita potong koruptor...eh maaf salah... maksudnya
> mari kita potong sifat hewan dalam diri koruptor, save
> Indonesia.
>
> Salam,
> MJP
>
> Sent from Yahoo! Mail on Android
>
>



___________________________________________________________
indomail - Your everyday mail - http://indomail.indo.net.id



--------------------------------------------------------------------------------
PP-IAGI 2011-2014:
Ketua Umum: Rovicky Dwi Putrohari, rovicky[at]gmail.com
Sekjen: Senoaji, ajiseno[at]ymail.com
--------------------------------------------------------------------------------
Jangan lupa PIT IAGI 2012 di Jogjakarta tanggal 17-20 September 2012.
REGISTER NOW !
Contact Person:
Email : [email protected]
Phone : +62 82223 222341 (lisa) 
--------------------------------------------------------------------------------
To unsubscribe, send email to: iagi-net-unsubscribe[at]iagi.or.id
To subscribe, send email to: iagi-net-subscribe[at]iagi.or.id
For topics not directly related to Geology, users are advised to post the email 
to: [email protected]
Visit IAGI Website: http://iagi.or.id
Pembayaran iuran anggota ditujukan ke:
Bank Mandiri Cab. Wisma Alia Jakarta
No. Rek: 123 0085005314
Atas nama: Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
Bank BCA KCP. Manara Mulia
No. Rekening: 255-1088580
A/n: Shinta Damayanti
IAGI-net Archive 1: http://www.mail-archive.com/iagi-net%40iagi.or.id/
IAGI-net Archive 2: http://groups.yahoo.com/group/iagi
---------------------------------------------------------------------
DISCLAIMER: IAGI disclaims all warranties with regard to information posted on 
its mailing lists, whether posted by IAGI or others. In no event shall IAGI or 
its members be liable for any, including but not limited to direct or indirect 
damages, or damages of any kind whatsoever, resulting from loss of use, data or 
profits, arising out of or in connection with the use of any information posted 
on IAGI mailing list.
---------------------------------------------------------------------

Kirim email ke