Bapak Dosen Eko (ikut2an nich) dan rekan-rekan IASA
Berbicara tentang beras dan ketahanan pangan, secara garis besar ada 4 syarat bagi berlangsungnya kehidupan sektor pertanian (tentunya termasuk kesejahteraan petaninya)
1. Adanya akses terhadap tanah
2. Input produksi dan teknologi
3. Akses ke pasar
4. Kebebasan dalam berproduksi dan membentuk organisasi
Selama ini selalu kita berbicara mengenai benih unggul, subsidi pupuk, kebijakan harga dan akses pasar, tetapi faktor pertama dan keempat jarang kita singgung. Okelah yang nomor empat bisa kita singkirkan dulu, tetapi untuk faktor nomor satu, dimanakah kepedulian pemerintah untuk memecahkan permasalahan akses lahan bagi petani. Data dari sensus pertanian 1983, 1993 dan 2003 menunjukkan bahwa jumlah petani gurem (lahan kurang atau sama dengan 0.5 ha) semakin bertambah. Tahun 1993 masih 10,8 juta dan menjadi 13,7 juta tahun 2003 dengan 75% berada di Pulau Jawa.
Jika 13,7 juta petani dengan penguasaan lahan 0.5 ha berarti petani gurem menguasai 6.85 juta ha. Kalau katakan 1 ha menghasilkan 4 ton gabah, berarti petani gurem total menghasilkan 27,4 juta ton gabah. Bandingkan dengan total produksi gabah nasional 2004 yang mencapai 54 juta ton, ternyata separoh produksi gabah kita dihasilkan dari petani gurem. Nach kalau kita masih menggantung nasib ketahanan pangan kepada petani gurem, apa tidak riskan? karena kita tahu sendiri bahwa petani dengan penguasaan aset lahan yang hanya 0.5 ha, banyak yang mudah berubah profesi, mungkin jadi tukang batu atau malah sawahnya dijual untuk dibelikan sepeda motor buat ngojek. Nach kalau pemerintah tidak mengantisipasi hal permasalahan akses penguasaan lahan oleh petani gurem ini, sampai kapan kita mampu mempertahankan ketahanan pangan kita?
Jepang, China, Thailand, Vietnam, Korsel adalah contoh2 negara yang kuat pertaniannya, tetapi mereka bisa kuat karena faktor akses petani terhadap lahannya sudah diantisipasi jauh-jauh sebelumnya melalui land consolidation dan land reformation. Sekarang bagaimana dengan kita? saya ngga tahu pasti apakah sudah ada pemikiran dari pemerintah untuk melakukan hal serupa mencotoh negara-negara yang maju pertaniannya. Semoga menjadi pemikiran kita.
Salam
Aris
KUS PRISETIAHADI <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Yth. Bapak Dosen Eko,
Maaf Mbak Jahroh soalnya Pak Eko ngasih tahunya
telat...:)
Itu soal kemauan politik dari pemerintah aja
sebenarnya seperti halnya di Jepun sini, harga beras
itu dilindungi dan keberadaan tanah pertanian selalu
dipertahankan ?
Salam,
Kus
--- eko_ipb <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mang Kus, nu mang Kus maksud Mas Jahroh itu awewe
> lagi. Eh.... ti
> suarana ge geus kanyahoan.... awewe kitu .....
> Masih keneh single
> loh.....
> Kembali ke padi.... saya heran, petani kita selalu
> jadi kalahan
> aja nih..... Coba kalau para petani demo.....
> wuih.... dasyat.
> Mahasiswa pun akan kalah dibuatnya. Mangkanya...
> jangan terus-
> terusan ngalahin petani deh,.....
>
> Salam,
> Eko
__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around
http://mail.yahoo.com
=========================================================================
"Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA :
http://welcomte.to/iasa_japan
http://www.geocities.com/iasa_japan/iasa.html
http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
=========================================================================
Yahoo! Groups Links