http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0506/17/ilpeng/1820529.htm

Tulisan Pak Arief B Witarto (Editor in Chief IJAS) di Kompas.  Mungkin bisa 
menjadi pengetahuan tambahan bagi bidang terkait.

-- 
Tatang Sopian

Tokyo University of Agriculture and Technology
Department of International Environmental and Agricultural Science
Laboratory of Plant Genetics and Biotecnology

--------------------------------------------------------------

Kloning Terapi Makin Jadi Kenyataan

Arief B Witarto

ISTILAH "kloning" selama ini lebih banyak memberikan kesan menakutkan daripada 
harapan. Ini dikarenakan perkembangan teknologi kloning yang muncul lebih 
banyak mengarah kepada kloning reproduksi, yaitu membuat individu baru yang 
identik. Walaupun banyak pula manfaatnya, terutama untuk peternakan seperti 
pemuliaan sapi unggul, tetapi sangat mudah disalahgunakan untuk menciptakan 
manusia kloning yang sangat kontroversial.

Kloning yang dinantikan sesungguhnya adalah kloning terapi, yaitu membuat sel, 
jaringan, sampai organ yang identik sehingga tidak menimbulkan penolakan untuk 
keperluan pencangkokan/transplantasi. Ilmuwan dari Korea Selatan berhasil 
memberikan kontribusi besar menuju kloning terapi itu melalui keberhasilannya 
mendapatkan sel tunas dari embrio manusia hasil kloning yang dipublikasikan di 
jurnal Science (19 Mei 2005).

Setahun sebelumnya, kelompok peneliti yang dipimpin oleh Woo Suk Hwang dari 
Fakultas Kedokteran Hewan, Seoul National University itu, telah berhasil 
melakukan kloning sel manusia tetapi masih menggunakan sel telur yang menjadi 
penerima/akseptor inti sel dan sel somatik/dewasa yang menjadi pemberi/donor 
inti sel dari pasien yang sama.

Dalam praktik kloning terapi nanti, hal seperti ini justru jarang terjadi. 
Seorang pasien laki-laki tidak mungkin menyediakan sel telurnya sendiri karena 
laki-laki tidak memproduksi sel telur, misalnya. Namun, hasil penelitian yang 
dipublikasikan di jurnal Science (12 Maret 2004) itu telah banyak memberikan 
informasi penting tentang hal teknis yang belum diketahui untuk kesuksesan 
kloning sel manusia.

Dalam tahapan kloning sel, setelah inti sel dari sel dewasa ditransfer ke dalam 
sel telur yang telah dihilangkan intinya, diperlukan waktu untuk sel tersebut 
didiamkan yang disebut waktu "pemrograman kembali".

Pada saat itu, genom atau keseluruhan DNA dalam inti sel yang menjadi cetak 
biru kehidupan mengalami adaptasi dari yang sebagian digunakan dan sebagian 
lagi dimatikan pada sel dewasa menjadi seakan "diformat" kembali.

Setelah itu, sel telur diaktifkan oleh kondisi tertentu untuk menjadi embrio. 
Lalu dikultur dalam media khusus sehingga embrio berkembang sampai tahap 
blastosis yang mengandung sel tunas embrio.

Tiga hal penting di atas telah berhasil diperoleh dari eksperimen awal ini, 
yaitu untuk waktu pemrograman kembali diperlukan dua jam. Kemudian, kondisi 
pengaktifan sel telur lebih baik menggunakan senyawa kimia alami, yaitu 
calcimycin dan DMAP, pada konsentrasi dan lama waktu tertentu daripada dengan 
cara fisik, seperti medan listrik atau mekanik yang sebelumnya digunakan.

Terakhir, komposisi media untuk kultur lebih optimal dengan penambahan protein 
human serum albumin dan gula jenis fruktosa juga pada konsentrasi tertentu.

Berbekal keberhasilan awal itulah, kelompok peneliti yang masih dipimpin oleh 
peneliti yang sama tetapi dengan jumlah anggota yang lebih besar, dari 13 
menjadi 24 peneliti itu, mendapatkan pencapaian yang spektakuler dalam waktu 
relatif singkat, satu tahun.

Dalam hasil penelitian terbaru ini, sel donor berasal dari pasien laki-laki 
maupun perempuan dari usia 2 tahun sampai 56 tahun.

Untuk lebih mendekatkan pada tujuan kloning terapi, pasien yang memberikan 
selnya adalah penderita penyakit yang disebabkan oleh kerusakan sel tertentu 
sehingga bisa disembuhkan dengan pencangkokan sel normal yang tentu saja harus 
identik supaya tidak ada penolakan.

Penyakit dan sel yang perlu diganti itu masing-masing adalah penyakit genetik 
kerusakan imunitas CGH dengan sel tunas hematopoetik darah, penyakit kerusakan 
saraf punggung seperti yang diderita aktor film Superman, Christopher Reeve, 
dengan sel saraf motorik, dan penyakit diabetes dengan sel beta-islet yang 
memproduksi hormon insulin.

Keberhasilan transfer inti sel dari sejenis sel dewasa cukup tinggi, yaitu 
membutuhkan 5 sampai 48 sel telur, tergantung dari usia perempuan asal sel 
telur itu, yaitu yang di atas usia 30 tahun umumnya lebih rendah 
keberhasilannya. Perkembangan embrio hasil kloning sampai menjadi blastosis pun 
juga tinggi, yaitu rata-rata 69,7 persen. Dari blastosis inilah diperoleh sel 
tunas embrio yang kali ini secara keseluruhan diperoleh 11 galur sel. Kebenaran 
sel tunas embrio itu telah dicek berdasar berbagai penanda berupa aktivitas 
enzim maupun ekspresi protein tertentu. Yang juga penting bahwa sel tunas 
embrio identik secara genetik dan imunologi dengan sel pasien yang menjadi 
donor inti sel telah dikonfirmasi menggunakan beberapa segmen DNA penanda 
maupun karakterisasi protein MHC di permukaan sel. Bentuk kromosom sel tunas 
embrio pun tampak normal setelah diamati dengan mikroskop. Terakhir, kemampuan 
sel embrio tunas untuk berdiferensiasi berubah menjadi sel spesialis telah 
dicek secara in vitro/dalam tabung reaksi maupun in vivo/dalam tubuh.

Setelah keberhasilan ini, apa selanjutnya perkembangan yang dinanti dalam 
kloning terapi? Bagi pasien penderita penyakit genetik, perlu dilakukan terapi 
genetik terhadap sel yang dijadikan donor inti sel agar sel embrio tunas yang 
diperoleh sudah tidak mengandung cacat genetik lagi.

Terapi genetik seperti ini telah dikembangkan lebih dulu daripada teknologi 
kloning sendiri. Setelah berhasil melakukan pencangkokan sel, tantangan berikut 
adalah pencangkokan jaringan, seperti kulit, pembuluh darah, dan tulang rawan.

Karena jaringan dibentuk oleh sel yang serupa, sel tunas embrio hasil kloning 
dapat ditumbuhkan di atas cetakan dari polimer biologi yang sudah dibentuk 
sesuai dengan jaringan yang hendak dibuat. Teknologi rekayasa jaringan ini 
telah dikembangkan sejak tahun 1987 oleh Robert Langer dan Joseph Vacanti dari 
Massachussets, Amerika Serikat.

Sementara pembuatan organ seperti jantung dan hati yang lebih kompleks 
membutuhkan waktu penelitian yang lebih lama. Namun jelas, tahapan-tahapan 
menuju kloning yang bermanfaat untuk kesejahteraan manusia semakin menjadi 
kenyataan dengan keberhasilan tim Korea Selatan ini.

DR Arief B Witarto M Eng Peneliti Bioteknologi LIPI di Cibinong Science Center


__________________________________________________________________
Switch to Netscape Internet Service.
As low as $9.95 a month -- Sign up today at http://isp.netscape.com/register

Netscape. Just the Net You Need.

New! Netscape Toolbar for Internet Explorer
Search from anywhere on the Web and block those annoying pop-ups.
Download now at http://channels.netscape.com/ns/search/install.jsp


=========================================================================
                   "Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 
 untuk Kesejahteraan Rakyat dan Kelestarian Sumber Daya Alam Indonesia"
-------------------------------------------------------------------------
Related homepages to IASA : 
           http://www.iasa-online.org/
           http://www.greendigitalpress.net/publications/ijas/
========================================================================= 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/iasa/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke