dituntaskan sendiri-sendiri aja.Kalau dibahas terbatas menurut saya agak
melecehkan
kemampuan yg lain. Hari gene gitu lho.....mana bisa kita merubah
keyakinan seseorang.
 
Hebat-hebat pula orangnya. Coba aja kita doktrin tukang beca atau orang
yg lulusan SD sekalipun,
belum tentu bisa... (cobalah kalau ga percaya). Apalagi orang yg "makan
sekolahan".
 
Sebagai pemikiran silahkan dicerna masing-masing sesuai dengan
kemampuannya dan wawasannya.
Mungkin ada banyak juga yg menurut istilah Bang Datuk
"diantukkan"......Lewat begitu saja...
Tapi menurut Fikih : Kalau informasi sudah sampai jatuhlah hukum. Kalau
waktu SD kita kan 
diberitahu bahwa orang2 di pedalaman yg tidak sampai informasi ttg Islam
tidak berdosa dia. Tapi
begitu tahu informasinya jatuhlah hukum kalau tidak mengikutinya. Bukan
begitu ?
 
Paling tidak saya harapkan jadi baca-baca buku lagi dan meneliti
sumber-sumber informasi yg ada.
Mungkin sudah lama ga baca buku-buku karena sibuk kerja......Paling
tidak hari-hari libur
jadi pergi  lagi ke toko-toko buku (untuk meng-update  ilmu dan
informasi terbaru...)
 
Wassalam,  

________________________________

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
agustin peranginangin
Sent: Tuesday, May 22, 2007 8:19 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



udahlah anggap tuntas aja dulu.. daripada tidak tuntas...


----- Original Message ----
From: Teuku Gandawan <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Sunday, May 20, 2007 11:38:22 PM
Subject: Re: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



Ass.
 
Cak ikut aku sikit...
 
"Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al quran  dan Kamilah yang akan
menjaganya " (QS. Al Hijr: 9)
 
Saya pribadi menangkap ayat ini bahwa yang ALLAH sebut Al Quran yang
turun dan akan dijaga adalah isinya/content- nya, bukan kitabnya. 
Jadi penekanannya bukan kepada kitab seperti yang sekarang ini dikenal
atau disusun dalam belum mushaf/kitab. 
 
Secara fisik kitab Al Quran itu kan cuma kertas, tinta dan motif.
Yang bisa diproduksi oleh siapa saja dan juga bisa dipalsukan oleh siapa
saja.
 
Tetapi secara konten Al Quran adalah firman.
Yang jadi panutan kontennya bukan fisiknya.
Itu kenapa umat Islam yang baik dan benar itu hafal Al Quran dan
maknanya (kalau soal ini sama awak dengan si Muslim... lebih hafal awak
lagu pop). 
Itu juga kenapa di muka bumi ini senantiasa ada orang-orang yang hafal
30 juz Al Quran, karena memang mereka dihadirkan oleh ALLAH untuk
menjaganya di antara umat Islam. 
 
Semua musuh Islam bisa membakar kitab Al Quran setiap hari.
Tapi untuk memusnahkan Al Quran di muka bumi, maka diperlukan membunuh
semua para hafiz Al Quran di muka bumi. 
 
Sampe sini aja dulu... awak tak tertarik berdebat tak tuntas macam ni...
Takut awak ada yang bergeser imannya karena tak kuat/paham.. .
Jadi sia-sia diskusi ini dan tak tuntas pulak...
 
Bagusnya kalau mau dibahas, terbatas aja... misalnya Bang Dody, Bang
Datuk, Bang Muslim berbalas bertiga... 
Hasil diskusinya nanti, sampaikan ke forum IMMAM.
Begitu Bang Dody... jadi tak usah takut gagasannya tak sampai ke
teman-teman IMMAM.
Sayang juga kalau ada yang ikut membaca sepotong dan terjebak dengan
sepotong itu.
Aku rasa Bang Muslim sudah pernah juga menawarkan seperti ini.
 
Macam tu dululah...
 
Wass.
Ganda
 

 



 
On 5/21/07, Nasution, Dody Arfiandi <dody.nasution@ hp.com
<mailto:[EMAIL PROTECTED]> > wrote: 

        
        Inilah yg membedakan kita.
        Hatta Muawiyah saja dimasukkan sebagai penulis wahyu.....
         
        Siapakah Muawiyah itu ? Orang yg memusuhi Nabi seumur hidupnya
        Bersama Bapaknya Abu Sofyan dan Ibunya (Hindun) yg memakan
jantung Hamzah paman Nabi SAW pada perang Uhud.
        Kapan dia masuk Islam, dimana dia tinggal (Mekkah atau
Madinah).Apakah menyertai Nabi.
         
        Susah memang kalau kita tidak memakai kriteria yg jelas dalam
memahami Islam.
        Maka musuh2 Nabi kita jadi ga tahu karena semua adalah Sahabat .
bagaimana bisa mencari Kebenaran ??
         
        La Hawla Wa La Quwwata Illa Billahi

        From: [EMAIL PROTECTED] com <mailto:[email protected]>
[mailto:immam@ yahoogroups. com <http://yahoogroups.com/> ] On Behalf Of
ekaaurihandj
        Sent: Monday, May 21, 2007 7:31 AM
        To: [EMAIL PROTECTED] com <mailto:[email protected]> 
        Subject: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an
        
         
        

        Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran 
        Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB 
        Kirim Pertanyaan | Kirim teman 
        Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh. 
        Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab
suci 
        Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan:
        
        1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan? 
        2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat
al-Quran 
        sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang? 
        
        3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan 
        makna al-Quran yang sebenarnya? 
        Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz 
        sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi
orang 
        yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al-
        Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya.
        
        Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 
        Amir Mahmud
        amir_mahmud at eramuslim.com <http://eramuslim.com/>  
        Jawaban 
        Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
        Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di
masa 
        sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin
cetrak 
        modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja.
Tapi 
        kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran
yang 
        terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah
dikenal 
        saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama
kali 
        turun.
        
        Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya 
        melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu
dari 
        kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin
K'ab 
        dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun, 
        beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan 
        tempat ayat tersebut dalam surah.
        
        Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun
itu 
        atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka 
        menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar,
kulit 
        atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid
bin 
        Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit 
        binatang."
        
        Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah
baik 
        dalam bentuk hafalan maupun tulisan. 
        Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu

        mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain.

        Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di 
        antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab,
Zaid 
        bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi

        Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa
Zaid 
        bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di 
        hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.
        
        Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah
dihafal 
        dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di
atas, 
        ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan
ayat-
        ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara 
        terpisah dalam tujuh huruf.
        
        Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang
menyeluruh 
        (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra'
dan 
        ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan 
        membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti

        turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang
pula 
        terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun 
        sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak
menurut 
        tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun
dituliskan 
        di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan 
        bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.
        
        Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di

        antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu
akan 
        membawa perubahan bila wahyu turun lagi. 
        
        Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf
pada 
        zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab
itu, 
        penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua,
yaitu 
        dengan wafatnya Rasulullah."
        
        Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari
Zaid 
        bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang 
        Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam

        surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu
mushaf.
        
        Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam
satu 
        mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap 
        sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa
turunnya 
        dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan
mushaf 
        secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan
janjinya 
        yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan
hal 
        ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas
pertimbangan 
        usulan Umar radhiyalahu 'anhum.
        
        2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode
wahyu 
        dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW
selain 
        mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan
tata 
        letak ayat tersebut di dalam Al-Quran.
        
        3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan

        dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab

        tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.
        
        Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya 
        sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang
ingin 
        membidik pemahamannya terhadap A-Quran. 
        
        Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
        wabarakatuh,
        Ahmad Sarwat, Lc.
        
        

        

        




________________________________

Sucker-punch spam
<http://us.rd.yahoo.com/evt=49981/*http://advision.webevents.yahoo.com/m
ailbeta/features_spam.html>  with award-winning protection.
Try the free Yahoo! Mail Beta.
<http://us.rd.yahoo.com/evt=49981/*http://advision.webevents.yahoo.com/m
ailbeta/features_spam.html>  

 

Kirim email ke