Saya ingin kembali menanyakan, hatta Ali ra  pun membakar mushafnya dan 
menyetujui mushaf Utsman, bukankah Utsman ra merupakan sepupu Muawiyah? 
Bukankah mushaf Utsman yg dipimpin penyusunannya oleh Zaid bin Tsabit warisan 
Abu Bakar ra dan Umar ra? Koq Ali ra tidak menolaknya padahal pengikutnya 
sangat keras menolak sahabat2 tersebut karena telah merampas kekhalifahan yg 
seharusnya milik Ali? (menurut pengikutnya lho, karena Ali ra yg saya tahu tdk 
pernah menginginkan kekuasaan). Atau sebenarnya kaum Syiah punya AlQuran versi 
tersendiri?


  ----- Original Message ----- 
  From: Nasution, Dody Arfiandi 
  To: [email protected] 
  Sent: Monday, May 21, 2007 10:57 AM
  Subject: RE: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an



  Inilah yg membedakan kita.
  Hatta Muawiyah saja dimasukkan sebagai penulis wahyu.....

  Siapakah Muawiyah itu ? Orang yg memusuhi Nabi seumur hidupnya
  Bersama Bapaknya Abu Sofyan dan Ibunya (Hindun) yg memakan jantung Hamzah 
paman Nabi SAW pada perang Uhud.
  Kapan dia masuk Islam, dimana dia tinggal (Mekkah atau Madinah).Apakah 
menyertai Nabi.

  Susah memang kalau kita tidak memakai kriteria yg jelas dalam memahami Islam.
  Maka musuh2 Nabi kita jadi ga tahu karena semua adalah Sahabat . bagaimana 
bisa mencari Kebenaran ??

  La Hawla Wa La Quwwata Illa Billahi



------------------------------------------------------------------------------
  From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of 
ekaaurihandj
  Sent: Monday, May 21, 2007 7:31 AM
  To: [email protected]
  Subject: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an


  Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran 
  Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB 
  Kirim Pertanyaan | Kirim teman 
  Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh. 
  Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab suci 
  Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan:

  1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan? 
  2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran 
  sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang?

  3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan 
  makna al-Quran yang sebenarnya? 
  Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz 
  sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi orang 
  yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al-
  Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya.

  Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. 
  Amir Mahmud
  amir_mahmud at eramuslim.com 
  Jawaban 
  Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, 
  Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di masa 
  sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin cetrak 
  modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja. Tapi 
  kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran yang 
  terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal 
  saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali 
  turun.

  Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya 
  melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari 
  kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab 
  dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun, 
  beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan 
  tempat ayat tersebut dalam surah.

  Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun itu 
  atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka 
  menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit 
  atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin 
  Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit 
  binatang."

  Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik 
  dalam bentuk hafalan maupun tulisan. 
  Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu 
  mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. 
  Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di 
  antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid 
  bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi 
  Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid 
  bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di 
  hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas.

  Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal 
  dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, 
  ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat-
  ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara 
  terpisah dalam tujuh huruf.

  Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh 
  (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra' dan 
  ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan 
  membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti 
  turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula 
  terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun 
  sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut 
  tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan 
  di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan 
  bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu.

  Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di 
  antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan 
  membawa perubahan bila wahyu turun lagi.

  Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada 
  zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, 
  penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu 
  dengan wafatnya Rasulullah."

  Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid 
  bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang 
  Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam 
  surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf.

  Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu 
  mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap 
  sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya 
  dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf 
  secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya 
  yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal 
  ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan 
  usulan Umar radhiyalahu 'anhum.

  2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu 
  dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain 
  mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata 
  letak ayat tersebut di dalam Al-Quran.

  3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan 
  dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab 
  tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa.

  Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya 
  sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin 
  membidik pemahamannya terhadap A-Quran.

  Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi 
  wabarakatuh,
  Ahmad Sarwat, Lc.




   

Kirim email ke