Maksudku bukan mau melecehkan yg lain2. Perlu bang Dody ketahui, tidak semua berminat mengikuti konflik Sunnah-Syiah, kita harus menghargai mereka, apalagi email yg bang Dody tulis lebih banyak mempertanyakan keimanan sahabat2 nabi yang utama, nah seperti pertanyaanku yang lalu, kalaulah benar bang Dody lagi mencari jawaban atas pertanyaan tersebut saya ingin mempertemukan bang Dody dengan sepupuku yg intens mengikuti perdebatan Sunnah-Syiah sehingga mudah2an pertanyaan2 bang Dody terjawab. Tetapi kalo bang Dody punya jawaban sendiri yang sangat gamblang katakan saja to the point, misalnya dari riwayat2 yg bang Dody sampaikan, mana sahabat yang tidak bisa dipercaya sehingga jatuhlah hukum yg seperti bang Dody sampaikan sehingga kami tinggal mengikuti atau mengingkarinya, bang Dody gak usah khawatir kalo kami berdosa karena tidak mengikuti hukum yg bang Dody sampaikan, toh dosa ditanggung masing2, yg penting bang Dody sudah menyampaikan.
Aku sendiri sebenarnya tidak berminat membahasnya lagi karena tidak ada yg baru bagiku makanya email2 dulu itu tidak aku tanggapi, aku ajak kita bersatu sajalah dgn keyakinan masing2, toh masing2 punya konsekwensi atas keyakinan tsb tapi karena bang Dody masih intens dengan pandangan Syiah terhadap sahabat terpaksa aku tanggapi jugalah supaya berimbang (karena aku memang masih mencintai sahabat). Makanya bang Dody, email2ku terakhir sengaja aku bikinkan pertopik supaya kita fokus membahasnya tidak hanya permainan kata2. Cuma memang kita harus meluangkan waktu menulis disela2 kesibukan kita..... Salam, MA ----- Original Message ----- From: Nasution, Dody Arfiandi To: [email protected] Sent: Tuesday, May 22, 2007 11:09 AM Subject: RE: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an dituntaskan sendiri-sendiri aja.Kalau dibahas terbatas menurut saya agak melecehkan kemampuan yg lain. Hari gene gitu lho.....mana bisa kita merubah keyakinan seseorang. Hebat-hebat pula orangnya. Coba aja kita doktrin tukang beca atau orang yg lulusan SD sekalipun, belum tentu bisa... (cobalah kalau ga percaya). Apalagi orang yg "makan sekolahan". Sebagai pemikiran silahkan dicerna masing-masing sesuai dengan kemampuannya dan wawasannya. Mungkin ada banyak juga yg menurut istilah Bang Datuk "diantukkan"......Lewat begitu saja... Tapi menurut Fikih : Kalau informasi sudah sampai jatuhlah hukum. Kalau waktu SD kita kan diberitahu bahwa orang2 di pedalaman yg tidak sampai informasi ttg Islam tidak berdosa dia. Tapi begitu tahu informasinya jatuhlah hukum kalau tidak mengikutinya. Bukan begitu ? Paling tidak saya harapkan jadi baca-baca buku lagi dan meneliti sumber-sumber informasi yg ada. Mungkin sudah lama ga baca buku-buku karena sibuk kerja......Paling tidak hari-hari libur jadi pergi lagi ke toko-toko buku (untuk meng-update ilmu dan informasi terbaru...) Wassalam, ------------------------------------------------------------------------------ From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of agustin peranginangin Sent: Tuesday, May 22, 2007 8:19 AM To: [email protected] Subject: Re: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an udahlah anggap tuntas aja dulu.. daripada tidak tuntas... ----- Original Message ---- From: Teuku Gandawan <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Sunday, May 20, 2007 11:38:22 PM Subject: Re: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an Ass. Cak ikut aku sikit... "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al quran dan Kamilah yang akan menjaganya " (QS. Al Hijr: 9) Saya pribadi menangkap ayat ini bahwa yang ALLAH sebut Al Quran yang turun dan akan dijaga adalah isinya/content- nya, bukan kitabnya. Jadi penekanannya bukan kepada kitab seperti yang sekarang ini dikenal atau disusun dalam belum mushaf/kitab. Secara fisik kitab Al Quran itu kan cuma kertas, tinta dan motif. Yang bisa diproduksi oleh siapa saja dan juga bisa dipalsukan oleh siapa saja. Tetapi secara konten Al Quran adalah firman. Yang jadi panutan kontennya bukan fisiknya. Itu kenapa umat Islam yang baik dan benar itu hafal Al Quran dan maknanya (kalau soal ini sama awak dengan si Muslim... lebih hafal awak lagu pop). Itu juga kenapa di muka bumi ini senantiasa ada orang-orang yang hafal 30 juz Al Quran, karena memang mereka dihadirkan oleh ALLAH untuk menjaganya di antara umat Islam. Semua musuh Islam bisa membakar kitab Al Quran setiap hari. Tapi untuk memusnahkan Al Quran di muka bumi, maka diperlukan membunuh semua para hafiz Al Quran di muka bumi. Sampe sini aja dulu... awak tak tertarik berdebat tak tuntas macam ni... Takut awak ada yang bergeser imannya karena tak kuat/paham.. . Jadi sia-sia diskusi ini dan tak tuntas pulak... Bagusnya kalau mau dibahas, terbatas aja... misalnya Bang Dody, Bang Datuk, Bang Muslim berbalas bertiga... Hasil diskusinya nanti, sampaikan ke forum IMMAM. Begitu Bang Dody... jadi tak usah takut gagasannya tak sampai ke teman-teman IMMAM. Sayang juga kalau ada yang ikut membaca sepotong dan terjebak dengan sepotong itu. Aku rasa Bang Muslim sudah pernah juga menawarkan seperti ini. Macam tu dululah... Wass. Ganda On 5/21/07, Nasution, Dody Arfiandi <dody.nasution@ hp.com> wrote: Inilah yg membedakan kita. Hatta Muawiyah saja dimasukkan sebagai penulis wahyu..... Siapakah Muawiyah itu ? Orang yg memusuhi Nabi seumur hidupnya Bersama Bapaknya Abu Sofyan dan Ibunya (Hindun) yg memakan jantung Hamzah paman Nabi SAW pada perang Uhud. Kapan dia masuk Islam, dimana dia tinggal (Mekkah atau Madinah).Apakah menyertai Nabi. Susah memang kalau kita tidak memakai kriteria yg jelas dalam memahami Islam. Maka musuh2 Nabi kita jadi ga tahu karena semua adalah Sahabat . bagaimana bisa mencari Kebenaran ?? La Hawla Wa La Quwwata Illa Billahi From: [EMAIL PROTECTED] com [mailto:immam@ yahoogroups. com] On Behalf Of ekaaurihandj Sent: Monday, May 21, 2007 7:31 AM To: [EMAIL PROTECTED] com Subject: [immam] FW: Metoda Penyusunan Al Qur'an Metoda Penyusunan Ayat dan Surah dalam al-Quran Kamis, 15 Jun 06 09:14 WIB Kirim Pertanyaan | Kirim teman Assalamualaikum warahmatullah wabaraktuh. Ada suatu pertanyaan yang mengganjal dalam hati tentang kitab suci Al-Quran, saya mohon pak Ustadz bisa memberikan pencerahan: 1. Sejak kapan ayat-ayat al-Quran dibukukan? 2. Metoda apakah yang dipakai dalam penyusunan ayat-ayat al-Quran sehingga memiliki urutan seperti yang kita ketahui sekarang? 3. Tafsir manakah yang bisa kita jadikan pegangan sesuai dengan makna al-Quran yang sebenarnya? Ulasan yang logis dan memiliki dalil yang sahih dari pak Ustadz sangat saya harapkan karena saat ini saya sedang menghadapi orang yang mencoba menggoyahkan keyakinan saya tentang keotentikan al- Quran yang sekarang kita pegang. Terima kasih sebelumnya. Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Amir Mahmud amir_mahmud at eramuslim.com Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Kalau buku yang anda maksud adalah cetakan modern seperti di masa sekarang, tentunya Al-Quran belum lama dicetak. Sebab mesin cetrak modern baru ditemukan beberapa puluh tahun belakangan ini saja. Tapi kalau yang dimaksud adalah buku dalam arti lembaran-lembaran yang terbuat dari kulit, pelepah kurma atau media lain yang sudah dikenal saat itu, maka sebenarnya Al-Quran telah ditulis sejak pertama kali turun. Rasulullah SAW punya beberapa sekretaris pribadi yang kerjanya melulu hanya menulis Al-Quran. Mereka adalah para penulis wahyu dari kalangan sahabat terkemuka, seperti Ali, Muawiyah, 'Ubai bin K'ab dan Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhum. Bila suatu ayat turun, beliau memerintahkan mereka untuk menuliskannya dan menunjukkan tempat ayat tersebut dalam surah. Di samping itu sebagian sahabat pun menuliskan Qur'an yang turun itu atas kemauan mereka sendiri, tanpa diperintah oleh nabi. Mereka menuliskannya pada pelepah kurma, lempengan batu, daun lontar, kulit atau daun kayu, pelana, potongan tulang belulang binatang. Zaid bin Tabit, "Kami menyusun Qur'an di hadapan Rasulullah pada kulit binatang." Para sahabat senantiasa menyodorkan Qur'an kepada Rasulullah baik dalam bentuk hafalan maupun tulisan. Tulisan-tulisan Qur'an pada masa Nabi tidak terkumpul dalam satu mushaf, yang ada pada seseorang belum tentu dimiliki orang lain. Para ulama telah menyampaikan bahwa segolongan dari mereka, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Muaz bin Jabal, Ubai bin Ka'ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Mas'ud telah menghafalkan seluruh isi Qur'an di masa Rasulullah. Dan mereka menyebutkan pula bahwa Zaid bin Tsabit adalah orang yang terakhir kali membacakan Qur'an di hadapan Nabi, di antara mereka yang disebutkan di atas. Rasulullah SAW berpulang ke rahmatullah di saat Qur'an telah dihafal dan tertulis dalam mushaf dengan susunan seperti disebutkan di atas, ayat-ayat dan surah-surah dipisah-pisahkan atau diterbitkan ayat- ayatnya saja dan setiap surah berada dalam satu lembar secara terpisah dalam tujuh huruf. Tetapi Qur'an belum dikumpulkan dalam satu mushaf yang menyeluruh (lengkap). Bila wahyu turun, segeralah dihafal oleh para qurra' dan ditulis para penulis; tetapi pada saat itu belum diperlukan membukukannya dalam satu mushaf, sebab Nabi masih selalu menanti turunnya wahyu dari waktu ke waktu. Di samping itu terkadang pula terdapat ayat yang me-nasikh (menghapuskan) sesuatu yang turun sebelumnya. Susunan atau tertib penulisan Qur'an itu tidak menurut tertib nuzul-nya (turun), tetapi setiap ayat yang turun dituliskan di tempat penulisan sesuai dengan petunjuk Nabi- ia menjelaskan bahwa ayat anu harus diletakkan dalam surah anu. Andaikata pada masa Nabi SAWQur'an itu seluruhnya dikumpulkan di antara dua sampul dalam satu mushaf, hal yang demikian tentu akan membawa perubahan bila wahyu turun lagi. Az-zarkasyi berkata, "Qur'an tidak dituliskan dalam satu mushaf pada zaman Nabi agar ia tidak berubah pada setiap waktu. Oleh sebab itu, penulisannya dilakukan kemudian sesudah Qur'an turun semua, yaitu dengan wafatnya Rasulullah." Dengan pengertian inilah ditafsirkan apa yang diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit yang mengatakan, "Rasulullah SAW telah wafat sedang Qur'an belum dikumpulkan sama sekali." Maksudnya ayat-ayat dalam surah-surahnya belum dikumpulkan secara tertib dalam satu mushaf. Al-Katabi berkata, "Rasulullah tidak mengumpulkan Qur'an dalam satu mushaf itu karena ia senantiasa menunggu ayat nasikh terhadap sebagian hukum-hukum atau bacaannya. Sesudah berakhir masa turunnya dengan wafatnya Rasululah, maka Allah mengilhamkan penulisan mushaf secara lengkap kepada para Khulafaurrasyidin sesuai dengan janjinya yang benar kepada umat ini tentang jaminan pemeliharaannya. Dan hal ini terjadi pertama kalinya pada masa Abu Bakar atas pertimbangan usulan Umar radhiyalahu 'anhum. 2. Metode yang digunakan untuk menyusun Al-Quran adalah metode wahyu dari langit. Sebab setiap ada ayat yang turun, Rasulullah SAW selain mengajarkan bacaan dan pemahamannya, beliau juga menjelaskan tata letak ayat tersebut di dalam Al-Quran. 3. Semua kitab tafsir yang hingga hari masih ada, bisa dijadikan dasar penafsiran kita tehadap Al-Quran. Kita punya puluhan kitab tafsir peninggalan para ulama yang sudah teruji sepanjang masa. Tentunya masing-masing kitab tafsir itu memiliki keunggulannya sendiri--sendiri. Tergantung dari sudut pandang mana seseorang ingin membidik pemahamannya terhadap A-Quran. Wallahu a'lam bishshawab wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Ahmad Sarwat, Lc. ------------------------------------------------------------------------------ Sucker-punch spam with award-winning protection. Try the free Yahoo! Mail Beta.
