Saya berharap adinda sudah membaca bukunya secara lengkap sehingga tidak salah paham. Jika adinda belum memiliki, insya Allah saya dapat memberikan kepada adinda jika kita bertemu atau dapat saya titipkan di kantor saya di Jalan Tambak no 21 B Jakarta Pusat jika adinda berkenan mengambilnya. Karena kutipan dibawah ini adalah tulisan Adnin, akan saya usahakan meneruskan kepada Adnin supaya dapat langsung menjawabnya, kebetulan saat ini istrinya lagi diopname di RS jadi mohon kesabarannya bila jawabannya agak terlambat. Bila saya yg jawab, takutnya tidak akan memuaskan adinda...
Salam, MA ----- Original Message ----- From: msl_008 To: [email protected] Sent: Friday, May 25, 2007 11:13 AM Subject: [immam] Re: Alquran bang Muslim, saya kurang tau apakah alamat ini <http://www.pakdenono.com/metodologi.htm> ilegal, tapi cukup membantu diskusi kita di milis ini. coba kita lihat kutipan berikut: 1. Jadi, Al-Qur'an bukanlah produk budaya, karena AlQur'an bukanlah hasil kesinambungan dari budaya yang ada. Al-Qur'an justru membawa budaya baru dengan menentang serta mengubah budaya yang ada. Jadi, Al-Qur'an bukanlah produk budaya Arab Jahiliyyah. Namun justru kebudayaan Jahiliyyah Arab yang diubah pada zaman Rasulullah saw. Jadi, budaya pada zaman Rasulullah saw. adalah produk dari Al- Qur'an, bukan sebaliknya. komentar: mungkin ini soal perbedaan batasan kata "budaya". baiklah kita terima dulu, walo sebenarnya ini belum menjawab kebingungan bagaimana "bahasa *Tuhan" (hasil 'budaya' Tuhan????) dikonversi ke bahasa arab/manusia. kita terima saja[lah] bahasa Tuhan bisa diubah ke bahasa manusia, bukankah (dgn menggunakan akal kita), konversi itu adalah berarti "memanusiakan" [bahasa] Tuhan? (*Tuhan berarti "sesuatu" yg SAMA SEKALI BERBEDA dari apapaun yg pernah TERBAYANGKAN manusia) 2. Al-Qur'an juga bukan teks bahasa Arab biasa, sebagaimana teks-teks sastra Arab lainnya. Menurut al-Attas, bahasa Arab Al-Qur'an adalah bahasa Arab bentuk baru. Sejumlah kosa-kata pada saat itu, telah diislamkan maknanya. .... Jika Al-Qur'an produk teks bahasa biasa, maka teks tersebut akan dengan mudah dipahami oleh orang Arab pada saat itu. Ternyata, bukan hanya saat itu saja, sekarang pun tak semua orang Arab bisa memahaminya. Tidak semua kata di dalam Al-Qur'an dapat dipahami sahabat. Abdullah ibn 'Abbas tidak mengetahui makna fatir, hananan, ghislin, awwah, al-raqim.111 Selain itu, Al-Qur'an memuat berbagai macam dialek bahasa Arab. Abu Bakr al-Wasitiyy menyebutkan 50 ragam dialek bahasa Arab di dalam Al-Qur'an.112 Al-Suyuti menyebutkan berbagai kosa kata asing di dalam AlQur'an seperti kosa kata Persia, Romawi, Nabatean, Ethiopia Barbar, Syiriak, Ibrani, Koptik dan lain- lain.113 Selain itu, terdapat juga al-ahrufal-muqata`ah di dalam Al- Qur'an yang semuanya tidak sesuai dengan perkembangan budaya sastra Arab saat itu. Jadi, Al-Qur'an bukan produk budaya sastra arab: Ia adalah suatu "budaya" baru. (istilah budaya sebenarnya tidak begitu sesuai digunakan untuk Al-Qur'an, karena budaya mengandung makna hasil kreasi manusia, padahal AlQur'an adalah wahyu dari Allah). komentar: Setuju, Alqu'ran memang bukang teks BIASA. tapi tetap saja Alquran sudah menjadi TEKS ("biasa" maupun tidak). dan teks adalah ranah "mainan" (budaya) manusia, bukan? 3. Jika Al-Qur'an teks bahasa biasa, maka logikanya, Rasulullah saw. ahli di bidang tulisan dan bacaan, yang karena keahliaannya itu bisa membawa perubahan sangat mendasar pada masyarakat Arab waktu itu. Padahal, Rasulullah saw. itu ummi. komentar: ummi = tidak bisa baca tulis? terlepas Al-qur'an apakah "asli" dari Tuhan atau hanya (nyampur dgn) "kreasi" manusia. menurutku ANEH sekali Rasul tak bisa baca tulis. tak bisa baca tulis berarti TAK PUNYA KOMPETENSI apapun sehubungan dgn TEKS apapun yg kita baca sekarang maupun yg mereka baca pada masa lalu. 4. Al-Qur'an juga bukan teks manusiawi, sebagaimana klaim Nasr Hamid, karena ia bukan kata-kata Muhammad. Allah berfirman yang artinya: "Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benarbenar Kami potong urat tali jantungnya."114 Allah juga berfirman yang artinya: "Dan tiadalah yang diucapkannya itu (AI- Qur'an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).115 komentar: Paragraf di atas tidak membuktikan apa-apa kalo yg dipertanyakan adalah "Alqur'an" itu sendiri. 5. Selain itu, hermeneutika Nasr Hamid akan membawa kepada konsep bahwa tafsir itu relatif. Padahal para mufasir terkemuka bersepakat dalam berbagai perkara. Tidak ada seorangpun mufasir Muslim terkemuka dari 1400 tahun yang lalu hingga sekarang, berpendapat bahwa Nabi Isa as. mati di tiang salib dan wanita muslimah boleh nikah dengan laki-laki kafir. Jadi, pernyataan bahwa tafsir itu relatif adalah sebuah kekeliruan, sekalipun terdapat ribuan buku tafsir. komentar: bahwa mufassir sepakat dg hal-hal tertentu, dan tidak sepakat dengan yang hal yg lain, rasanya wajar-wajar saja lah, namanya manusia. dan kemanusian ini juga lah yg membuat TIDAK ADA BATASAN YG JELAS MANA YG SEPAKAT, MANA YG KURANG SEPAKAT, DAN MANA YG TIDAK SEPAKAT. kalo berkenan, tolong diposting BATASAN hal-hal yg SEMUA ulama menyepakati, dan yg SEBAGIAN BESAR ulama menyepakati, dan hal-hal yg TIDAK PERLU DISEPKATI ulama karna memang ga relevan dgn urusan kesepakatan. --- In [email protected], "Muslim Armas" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Baiknya dibaca buku Metodologi Bibel dam Studi Alquran hal 70-80, terbitan Gema Insani. Disitu diuraikan apakah Alquran produk dari budaya, mengenai wahyu dan teks Alquran termasuk masalah kodifikasi dan lainnya.
