Awak juga salut dengan penjelasan yg jernih dan sistematis, cuma tetap saja Datuknya gak hilang, untungnya bahasa urang awak gak beda jauh dgn bhs Medan, jadi seketek2 dapatlah ambo mangarti.
Tapi ambo eh awak krg sepakat bila dibilang model ESQ cocok utk org yg ittiba', karena pengertian ittiba' sangat berbeda dengan taqlid, walopun secara bahasa artinya sama, yaitu IKUT. Tapi kalo taqlid menurut kaidah ushul fiqh, artinya ikut secara membabi buta, istilahnya manut saja tanpa kesadaran. Berbeda jauh dgn ittiba', ikut dengan penuh kesadaran setelah tahu dalil2nya kuat/shahih atau tidak. Jika tahu dalilnya lemah bahkan palsu (seperti dijelaskan ust. Farid Utbah), maka wajib ditinggalkan. Makanya rasulullah menyuruh kita ittiba'urrasul, bukan taqlid. Jika mujtahid, kelasnya lain dgn kita, merekalah ulama pewaris nabi (warasatul anbiya), mereka bisa memilah dan memilih dalil2 yg paling kuat bahkan bisa mengeluarkan suatu produk hukum bila dibutuhkan umat tetapi syaratnya juga harus ijma' tdk bisa sendiri2, kalo sendiri berarti ijtihad namanya bukan fatwa. Demikian sedikit dari awak, jika yg awak katakan benar, semata2 karena hidayah Allah SWT, jika salah maka itu karena kelemahan awak sbg manusia yg masih taraf belajar. -----Original Message----- From: [email protected] Sender: [email protected] Date: Fri, 23 Jul 2010 01:53:30 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [immam] ESQ Mantap kali penjelasan bang eka ini. Trims buat pencerahannya bang eka, btw ambo jg ada dengar2 tuh tentang yang namanya Zohar, tapi belum pernah baca bukunya. Sent from my BlackBerry® powered by Sinyal Kuat INDOSAT -----Original Message----- From: - ekadj <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 23 Jul 2010 08:16:10 To: <[email protected]>; <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [immam] ESQ [1 Attachment] Rekan-rekan ysh. Berikut saya cuplik beberapa komentar saya mengenai ESQ dari suatu diskusi di milis. Wassalam. 1 Sedikit yang saya ketahui tentang ESQ. Memang dapat menimbulkan salah pengertian bila sebelumnya tidak diberikan pemahaman yang benar, dan juga dapat menyesatkan bila tidak disampaikan dengan benar. Basisnya adalah training psikologi, saya kira berangkat dari achievement motivation training (AMT) yang populer pada era 80-an. Jadi ada pembangkitan emosi, pemunculan kesadaran, untuk selanjutnya memberikan arahan psike positif. ESQ bukan training keagamaan, karena tidak beranjak dari kesadaran tauhid dan aqidah, yang seharusnya tumbuh sebagai hidayah, bukan sebagai sesuatu yang ditimbulkan secara terkondisi oleh lingkungan dan pengetahuan. Kesadaran aqidah membutuhkan proses yang panjang dan terus-menerus, disebutkan dari buaian hingga liang lahad. Dengan kata lain, proses training 3-7 hari tidak cukup untuk mencapai kematangan aqidah, mungkin hanya bisa sampai pada sekedar proses pubertas kesadaran. Dan juga tidak boleh disebut sebagai 'pengajian', karena pembelajaran ilmu agama membutuhkan pembimbing yang santun dan proses pembelajarannya secara tawaddlu'. Diberikan secara hikmah dan keteladanan, dan bukan dibangkitkan secara emosional; sebagaimana telah dicontohkan dalam da'wah Rasulullah. Metode da'wah emosional-spiritual hanya berhasil disampaikan pada kelompok masyarakat tertentu atau kondisi tertentu, seperti dulu Sunan Muria mengajarkan tauhid kepada perampok yang bernama Kalijaga. Di Minangkabau, pada era Paderi I metode ini juga digunakan, dan ternyata kurang mendapat tempat dalam masyarakat. Dengan demikian saya cenderung menyebutkan ESQ adalah training psikologi. Dan training ini bisa sesat bila metode pembangkitan kesadaran (emosi) memanfaatkan simbol-simbol agama secara tidak tepat. Bila hendak digunakan juga melalui kesadaran keagamaan, seharusnya sesi itu disampaikan oleh fasilitator yang memahami sepenuhnya ilmu agama dengan menggunakan metode da'wah yang dapat disesuaikan. Apalagi bila di dalam training tersebut diperkenalkan simbol-simbol baru, yang mudah-mudahan hanya melekat di otak, tapi jangan sampai di hati. Demikian sedikit komentar berdasarkan pengetahuan yang sedikit. Terlebih terkurang mohon dimaafkan. 2 Memang kalau diperhatikan pada beberapa training selalu mengambil metode alam bawah sadar (unconsciousness) untuk menuntun refleks dan tindakan/pemikiran tersembunyi. Untuk sampai ke situ biasanya melalui kelelahan, pembangkitan emosi, kebuntuan logika, dst. Bila tidak ada interaksi, atau satu arah, maka selanjutnya adalah indoktrinasi, atau pemasukan nilai-nilai secara sepihak. Coba bandingkan dengan metode-metode yang lebih interaktif, pemasukan nilai bisa dengan kesadaran. Permasalahannya adalah, apakah metode seperti ini Islami? Mungkin dapat kita bandingkan dengan bagaimana Rasulullah menyampaikan risalah. Kalau belum mendapatkan contohnya maka kita bisa mengkategorikannya sebagai metode ilmu pengetahuan biasa (: psikologi). Dengan demikian kesadaran spiritual sebenarnya adalah sesuatu yang dapat diterima secara sadar, dan tidak mesti logis, karena ada unsur hidayah di dalamnya, dan tentunya tidak memerlukan argumentasi pembuktian. Pembuktian adalah suatu metode ilmu pengetahuan yang secara sifatnya adalah bernilai relatif. 3 Satu hal lagi adalah mengenai asmaul husna, yang sebenarnya merupakan kognisi dari sifat keilahiatan sebagaimana disebutkan dalam Al Qur-an; dan sesungguhnya kurang tepat bila hal tersebut dilekatkan sebagai sifat makhluk/manusia. Saya belum membaca bila Rasulullah sendiri dilekatkan dengan satu atau beberapa asmaul husna, dan hanya al Amin, shiddiq, amanah, tabligh, fathanah. Jadi kurang tepat bila asmaul husna dilekatkan pada sifat makhluk/manusia. Mungkin perlu ada koreksi mendasar dalam konsep esq selama ini. 4 AMT mulai populer di Indonesia sekitar akhir 1980-an. Salah seorang tokoh yang mempopulerkan adalah Dr.Ir. M. Imaduddin Abdurrahim, M.Sc. (alm). Bang Imad telah memulai metode training di masjid Salman Bandung sejak tahun 1970an, yang disebut Latihan Mujahid Da'wah (LMD). Sekembali dari USA tahun 1986, Bang Imad meneruskan program LMD di Salman, namun hanya 1 angkatan karena ada larangan. Selanjutnya dilangsungkan di luar Salman, termasuk sering mengisi pelatihan di Malaysia, di antaranya melatih kader UMNO dan ABIM. Sekitar tahun 1988 ada permintaan pelatihan semacam LMD untuk kebutuhan perusahaan dan lembaga tertentu, dan untuk itu Bang Imad mengubah judul pelatihan menjadi AMT. Metode dasarnya LMD dengan menambah materi manajemen dan kepemimpinan. Namun Bang Imad tidak pernah mematenkan metode pelatihannya, sehingga banyak ditiru dan dimodifikasi banyak pihak. Saya termasuk orang yang diamanahkan untuk melanjutkan tradisi LMD. Bila sekitar awal 1990an muncul metode ESQ, bukan hal yang aneh. Namun mengatakan ESQ memulai metode spiritual dalam pelatihan sdm, perlu suatu koreksi. 5 Saketek nan dapek ambo ketahui, pengetahuan SQ, EQ, dll bamulo dari ilmu-ilmu fenomenologi nan bakambang sapanjang era modern, tarutamo oleh Saussure, Ricouer, hinggo Heidegger. Inti pengetahuan adolah subyektivisme sarato kognisi-relasi pado manusia-alam. Metode iko ocok digunokan para ahli psikologi dalam risetnyo. Walaupun ambo alun mambaco bukunyo, pencerahan Zohar ambo kiro datang dari 'pembuktian fisika' nan dikaikkan pado aspek transendental manusia modern. Kalau AGA, nan ambo tangkok alah mangumpuakan dan mangkompilasi dari babarapo literatur, nan sucaro logika psikologi alah mambantuak pola peta mental manusia. Dan kasudahannyo dalam metode esq hal iko ditambahkan dengan 'pembuktian fisika' nan dapek dikato 'pembuktian empiris' nan mambateh pengetahuan 'ultimate' manusia. Cubolah 'pembuktian-pembuktian' itu ditarangkan oleh urang nan ahlinyo, bukan oleh trainer sucaro retorik, padahal doktor fisika teori di Indonesia hanyo 15 urang banyaknyo, tantu balain kajinyo. Metode fenomenologi dalam Islamologi sabananyo alah dikambangkan oleh Al Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, nan disabuik dengan muhasabah. Namun kaji filsafat Islam iko memang tabateh urang nan mampalajarinyo dan mangambangkannyo, karono ado pergulatan pemikiran maso itu, antaro lain pendekatan empirik-sosiologis oleh Ibn Rusyd dll. Tamasuak pado era pemurnian (wahabiyyah) hingga era raushan fikr di ujung abad 19, antaro lain malalui Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Kutiko kito masuak ka era modern di awal abad 20, awak talambek mangambangkan metode itu, sumantaro di negeri Barat metode itu justru mulai dikambangkan. Jadi memang dapek diakui bilo AGA tamasuak salah seorang nan mampopulerkan perkawinan antaro metode fenomenologi dan sains, sarato ayat-ayat aqliyah di Indonesia; walaupun metodologinyo alun tasusun dengan batua. Jadi blank-spot pado relasi ditutuik dengan simbol, dan hal iko memang rawan perdebatan. Sabagai contoh, pengenalan aqidah disampaikan dengan pembuktian empirik, padahal aqidah itu bersifat hidayah, sarato bukti empirik itu adolah bersifat relatif sucaro waktu. Sahinggo esq bisa efektif pado babarapo level pemahaman ummat, yaitu sucaro taqlid dan ittiba', namun tantu kurang sasuai untuak para mujtahid. Kalau ado mufti nan mamiliki pandangan sasuatu, tantu awak harus dapek memahaminyo. Jadi indak ado model demokrasi dalam keyakinan beragamo. Mohon maaf yang terakhir ini dalam bahasa Inggris. Berikut sebuah link http://www.nahimunkar.com/nasehat-buat-bapak-ary-ginanjar/, dan sebuah bahan terlampir. Wassalam.
