Pada waktu IMMAM berkumpul kemarin di Mie Tibrok Casablanca yg dilanjutkan dirumah bg Eka, ada usulan bg Furqon utk punya rumah IMMAM, sbg rumah singgah, tempat kumpul maupun sekretariat IMMAM. Jika setuju, bisa kita urunan, kita bisa bentuk Koperasi IMMAM, yg bisa dipakai utk bermacam2 program.
Disamping itu juga ada ajakan utk bersama2 dgn komunitas ITB lain mendirikan Lembaga Indonesia Mandiri yg berbentuk yayasan tetapi cara kerjanya dan komitmennya seperti perusahaan, siapa yg berminat dan mempunyai waktu bisa bergabung menjadi pengurus bagi yg tdk punya waktu bisa mensupport program tsb secara sporadis. Rencananya utk mematangkan pendirian lembaga tsb akan diadakan lagi rapatnya Sabtu ini jam 10 pagi di Sekretariat IA ITB Jakarta, diseberang Trakindo (samping tol TB.Simatupang-Ampera). Bagi yg berminat silahkan hadir. Salam, MA -----Original Message----- From: - ekadj <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 23 Jul 2010 19:50:42 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [immam] ESQ Ok Yudi, bolehlah. Kalau kita ulang-ulang sikit, ESQ dimulai dengan gambar gelas yang terisi penuh, lalu dikosongkan. Jadi kepala peserta disimbolkan agar kosong dulu. Ini yang mungkin abang permasalahkan, bahwa esq berisi dengan banyak pembuktian-pembuktian empiris, walau itu dirujuk dalam Al Qur-an, namun tidak berarti menunjuk bentuk bukti seperti itu. Jadi bukti empiris bernilai kebenaran relatif. Pendekatan ini dalam Islam disebut mu'tazilah, yaitu suatu aliran yang mementingkan akal pikiran sebagai argumentasi terpenting. Boleh ditunjukkan sudah berapa banyak yang menjadi muallaf setelah esq? Jadi cukup jelas, ayat digunakan untuk rujukan pembuktian; pendekatan ini tidak benar. Mengenai simbol, suatu ketika akan coba abang jelaskan. Jadi dalam teori budaya ada yang dinamakan simbol, totem, taboo, dll. Simbol merupakan jembatan makna yang mengikat seseorang terhadap suatu pengertian. Contoh penggunaan ayat menjadi simbol adalah menjadi isim, rajah, dlsb. Contoh totem adalah kita mengamalkan ayat Kursi sebagai penangkal setan dlsb. Seharusnya kita memahami pengertian setiap ayat itu dan bermunajat langsung kepada Allah swt. Jadi memang tipis sekali pemaknaan tauhid di dalam hati kita, sehingga perlu tuntunan yang benar. Namun tingkat pemahaman dalam beraqidah juga bermacam-macam, mungkin metode esq bisa efektif pada tingkatan taqlid (dan ittiba'). Karena sudah ada 'peta mental' yang telah terbangun sejak kecil, namun ketika masuk dalam proses dewasa, seiring dengan meningkatnya permasalahan dalam kehidupan, peta itu tidak sanggup lagi menampung problema itu, seperti misalnya menjadi nrimo, atau malah berontak, dlsb. Simbol juga diperkenalkan dalam bentuk lukisan/diagram totem; walau merujuk ayat-ayat atau asmaul husna. Termasuk juga angka-angka, seperti kata bang Moeslim. Masalah metode nangis, justru ini juga menunjukkan metode ini tidak Islami. Seakan-akan Allah itu kita temui dalam keadaan duka dan nestapa saja. Padahal zikrillah itu harus kita lakukan dalam berbagai suasana, dalam bahagia, dalam senang, dalam kekalutan, dalam kepasrahan, dlsb. Rasulullah juga tidak mengajarkan hal-hal seperti itu. Ringkasnya, sebenarnya metode pelatihan adalah membangun kesadaran, mulai kesadaran aqidah, kesadaran syariat, kesadaran hakikat, hingga kesadaran ma'rifat. Pembelajaran esq sedikit tepat untuk pembelajaran hakikat, namun tidak tepat untuk aqidah, juga sangat jauh dari ma'rifat (karena manusia disuruh 'bermotivasi'). Bagi peserta hal ini mungkin berkesan, karena selama ini hanya dituntun secara aqidah dan syariat, namun belum kepada hakikat. Jadi hendaknya diolah pakai otak saja karena menambah wawasan, namun jangan pakai hati. Allahu alam. Sementara demikian. -datuk 2010/7/23 <[email protected]> > > > Asw,klo boleh sharing sedikit abg2..alhamdulillah yudi pernah mengikuti > training esq mulai dr teens sampe profesional aja.. > ESQ dlm menyampaikan materinya dimulai dengan keyakinan bahwa ALLAH itu ada > dan Al-Qur'an itu benar isinya dan ditujukkan kepada seluruh ummat > manusia,makanya mereka selalu membuka training thp awal mereka dengan teori > bigbang yg sebenarnya jauh sebelum teori ini ada,Al-Qur'an sudah > memilikinya. > ESQ pada tahap awalnya menekankan bahwa Al-Qur'an diturunkan sebagai > petunjuk bagi seluruh ummat manusia,sehingga training ini tidak menutup > kmungkinan untuk agama lain mengikutinya. Kebenaran isi Al-Qur'an ini lah yg > membuat beberapa org dr agama lain masuk ke islam setelah mengikuti training > ini (pengalaman swaktu training di medan). > Sehabis menyampaikan itu,pada umumnya Trainer ESQ akan coba membawa kita ke > arah pola pikir betapa kecilnya kita di hadapan ALLAH namun betapa > sombongnya kita selama ini. Untuk mencapai pola pikir itu lah esq > menggunakan beberapa metode yg saya anggap kreatif dan sederhana sehingga > mampu dgn mudah diserap peserta trainingnya (tidak ada pengenalan simbol2 > baru dan semuanya tetap berdasarkan Al-Qur'an dan Hadist). > Pada tahap akhir training ini (pada level dasar) trainer mencoba > mengingatkan kepada peserta betapa dekatnya kita dengan kematian,namun > begitu banyak dosa yg kita bawa jika besok kita mati..disitu lah knapa > banyak org yg bertangisan di akhir acara. > Pada level berikutnya pd training ini akan lebih mendetil,bahkan waktu itu > saya pernah diajak untuk melakukan zikir bareng di puncak menara 165,namun > waktu itu berhalangan hadir. > Yudi rasa tidak ada yg salah dr training ini,mungkin dengan mencoba ikut > training ini bisa menambah wawasan..wassalam > > Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung > Teruuusss...! > ------------------------------ > *From: *- ekadj <[email protected]> > *Sender: *[email protected] > *Date: *Fri, 23 Jul 2010 08:16:10 +0700 > *To: *<[email protected]>; <[email protected]> > *ReplyTo: *[email protected] > *Subject: *[immam] ESQ [1 Attachment] > > > > Rekan-rekan ysh. > Berikut saya cuplik beberapa komentar saya mengenai ESQ dari suatu > diskusi di milis. Wassalam. > > 1 > Sedikit yang saya ketahui tentang ESQ. Memang dapat menimbulkan salah > pengertian bila sebelumnya tidak diberikan pemahaman yang benar, dan juga > dapat menyesatkan bila tidak disampaikan dengan benar. > Basisnya adalah training psikologi, saya kira berangkat dari achievement > motivation training (AMT) yang populer pada era 80-an. Jadi ada pembangkitan > emosi, pemunculan kesadaran, untuk selanjutnya memberikan arahan psike > positif. > ESQ bukan training keagamaan, karena tidak beranjak dari kesadaran tauhid > dan aqidah, yang seharusnya tumbuh sebagai hidayah, bukan sebagai sesuatu > yang ditimbulkan secara terkondisi oleh lingkungan dan pengetahuan. > Kesadaran aqidah membutuhkan proses yang panjang dan terus-menerus, > disebutkan dari buaian hingga liang lahad. Dengan kata lain, proses training > 3-7 hari tidak cukup untuk mencapai kematangan aqidah, mungkin hanya bisa > sampai pada sekedar proses pubertas kesadaran. Dan juga tidak boleh disebut > sebagai 'pengajian', karena pembelajaran ilmu agama membutuhkan pembimbing > yang santun dan proses pembelajarannya secara tawaddlu'. Diberikan secara > hikmah dan keteladanan, dan bukan dibangkitkan secara emosional; sebagaimana > telah dicontohkan dalam da'wah Rasulullah. Metode da'wah emosional-spiritual > hanya berhasil disampaikan pada kelompok masyarakat tertentu atau kondisi > tertentu, seperti dulu Sunan Muria mengajarkan tauhid kepada perampok yang > bernama Kalijaga. Di Minangkabau, pada era Paderi I metode ini juga > digunakan, dan ternyata kurang mendapat tempat dalam masyarakat. > Dengan demikian saya cenderung menyebutkan ESQ adalah training psikologi. > Dan training ini bisa sesat bila metode pembangkitan kesadaran (emosi) > memanfaatkan simbol-simbol agama secara tidak tepat. Bila hendak digunakan > juga melalui kesadaran keagamaan, seharusnya sesi itu disampaikan oleh > fasilitator yang memahami sepenuhnya ilmu agama dengan menggunakan metode > da'wah yang dapat disesuaikan. Apalagi bila di dalam training tersebut > diperkenalkan simbol-simbol baru, yang mudah-mudahan hanya melekat di otak, > tapi jangan sampai di hati. > Demikian sedikit komentar berdasarkan pengetahuan yang sedikit. Terlebih > terkurang mohon dimaafkan. > > 2 > Memang kalau diperhatikan pada beberapa training selalu mengambil metode > alam bawah sadar (unconsciousness) untuk menuntun refleks dan > tindakan/pemikiran tersembunyi. Untuk sampai ke situ biasanya melalui > kelelahan, pembangkitan emosi, kebuntuan logika, dst. Bila tidak ada > interaksi, atau satu arah, maka selanjutnya adalah indoktrinasi, atau > pemasukan nilai-nilai secara sepihak. Coba bandingkan dengan metode-metode > yang lebih interaktif, pemasukan nilai bisa dengan kesadaran. > Permasalahannya adalah, apakah metode seperti ini Islami? Mungkin dapat kita > bandingkan dengan bagaimana Rasulullah menyampaikan risalah. Kalau belum > mendapatkan contohnya maka kita bisa mengkategorikannya sebagai metode ilmu > pengetahuan biasa (: psikologi). > Dengan demikian kesadaran spiritual sebenarnya adalah sesuatu yang dapat > diterima secara sadar, dan tidak mesti logis, karena ada unsur hidayah di > dalamnya, dan tentunya tidak memerlukan argumentasi pembuktian. Pembuktian > adalah suatu metode ilmu pengetahuan yang secara sifatnya adalah bernilai > relatif. > > 3 > Satu hal lagi adalah mengenai asmaul husna, yang sebenarnya merupakan > kognisi dari > sifat keilahiatan sebagaimana disebutkan dalam Al Qur-an; dan sesungguhnya > kurang tepat bila hal tersebut dilekatkan sebagai sifat makhluk/manusia. > Saya belum membaca bila Rasulullah sendiri dilekatkan dengan satu atau > beberapa asmaul husna, dan hanya al Amin, shiddiq, amanah, tabligh, > fathanah. Jadi kurang tepat bila asmaul husna dilekatkan pada sifat > makhluk/manusia. Mungkin perlu ada koreksi mendasar dalam konsep esq selama > ini. > > 4 > AMT mulai populer di Indonesia sekitar akhir 1980-an. Salah seorang tokoh > yang mempopulerkan adalah Dr.Ir. M. Imaduddin Abdurrahim, M.Sc. (alm). Bang > Imad telah memulai metode training di masjid Salman Bandung sejak tahun > 1970an, yang disebut Latihan Mujahid Da'wah (LMD). Sekembali dari USA > tahun 1986, Bang Imad meneruskan program LMD di Salman, namun hanya 1 > angkatan karena ada larangan. Selanjutnya dilangsungkan di luar Salman, > termasuk sering mengisi pelatihan di Malaysia, di antaranya melatih kader > UMNO dan ABIM. > Sekitar tahun 1988 ada permintaan pelatihan semacam LMD untuk kebutuhan > perusahaan dan lembaga tertentu, dan untuk itu Bang Imad mengubah judul > pelatihan menjadi AMT. Metode dasarnya LMD dengan menambah materi manajemen > dan kepemimpinan. Namun Bang Imad tidak pernah mematenkan metode > pelatihannya, sehingga banyak ditiru dan dimodifikasi banyak pihak. Saya > termasuk orang yang diamanahkan untuk melanjutkan tradisi LMD. > Bila sekitar awal 1990an muncul metode ESQ, bukan hal yang aneh. Namun > mengatakan ESQ memulai metode spiritual dalam pelatihan sdm, perlu suatu > koreksi. > > 5 > Saketek nan dapek ambo ketahui, pengetahuan SQ, EQ, dll bamulo dari > ilmu-ilmu fenomenologi nan bakambang sapanjang era modern, tarutamo oleh > Saussure, Ricouer, hinggo Heidegger. Inti pengetahuan adolah subyektivisme > sarato kognisi-relasi pado manusia-alam. Metode iko ocok digunokan para ahli > psikologi dalam risetnyo. > Walaupun ambo alun mambaco bukunyo, pencerahan Zohar ambo kiro datang dari > 'pembuktian fisika' nan dikaikkan pado aspek transendental manusia modern. > Kalau AGA, nan ambo tangkok alah mangumpuakan dan mangkompilasi dari > babarapo literatur, nan sucaro logika psikologi alah mambantuak pola peta > mental manusia. Dan kasudahannyo dalam metode esq hal iko ditambahkan dengan > 'pembuktian fisika' nan dapek dikato 'pembuktian empiris' nan mambateh > pengetahuan 'ultimate' manusia. Cubolah 'pembuktian-pembuktian' itu > ditarangkan oleh urang nan ahlinyo, bukan oleh trainer sucaro retorik, > padahal doktor fisika teori di Indonesia hanyo 15 urang banyaknyo, tantu > balain kajinyo. > Metode fenomenologi dalam Islamologi sabananyo alah dikambangkan oleh Al > Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, nan disabuik dengan muhasabah. Namun kaji > filsafat Islam iko memang tabateh urang nan mampalajarinyo dan > mangambangkannyo, karono ado pergulatan pemikiran maso itu, antaro lain > pendekatan empirik-sosiologis oleh Ibn Rusyd dll. Tamasuak pado era > pemurnian (wahabiyyah) hingga era raushan fikr di ujung abad 19, antaro lain > malalui Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh. Kutiko kito masuak ka > era modern di awal abad 20, awak talambek mangambangkan metode itu, > sumantaro di negeri Barat metode itu justru mulai dikambangkan. > Jadi memang dapek diakui bilo AGA tamasuak salah seorang nan mampopulerkan > perkawinan antaro metode fenomenologi dan sains, sarato ayat-ayat aqliyah di > Indonesia; walaupun metodologinyo alun tasusun dengan batua. Jadi blank-spot > pado relasi ditutuik dengan simbol, dan hal iko memang rawan perdebatan. > Sabagai contoh, pengenalan aqidah disampaikan dengan pembuktian empirik, > padahal aqidah itu bersifat hidayah, sarato bukti empirik itu adolah > bersifat relatif sucaro waktu. > Sahinggo esq bisa efektif pado babarapo level pemahaman ummat, yaitu sucaro > taqlid dan ittiba', namun tantu kurang sasuai untuak para mujtahid. Kalau > ado mufti nan mamiliki pandangan sasuatu, tantu awak harus dapek > memahaminyo. Jadi indak ado model demokrasi dalam keyakinan beragamo. > > Mohon maaf yang terakhir ini dalam bahasa Inggris. Berikut sebuah link > http://www.nahimunkar.com/nasehat-buat-bapak-ary-ginanjar/, dan sebuah > bahan terlampir. > Wassalam. > > >
