He he he.. iya sih.. InSS = Indie's StarShip... hi hi hi
 
Eits, tapi USS Batavia 9595 (duh gue salah nulis tuh tadi) adalah nama
pesawat kita waktu kita terjebak masalah trademarks nya Paramount itu. Lha
wong ndak boleh pakai nama apapun yang copy righted by Paramount koq. Lagi
pula, Batavia 9595 itu sama nasibnya seperti kapal Batavia yang asli, alias
karam pada bulan Mei juga... ha ha ha... awak nya pada kabur dan melarikan
diri. Jadi nama keramat itu ndak bole di ganti2. Kalo gak percaya, tanya
sama ex-Captain Muhis tuh. Atau percaya aja sama gue sebagai ex-crew nya.
 
Eh iya, India juga full sex dan violence, tapi jangan lupa romantisme kisah2
India dong. Kalau kisah asli Indonesia gak pernah ada unsur romantisme, iya
kan? Masalah Ken Arok dan Ken Dedes, kalau mau di ceritakan a la India bisa
jadi romantis, tapi kan yang terkenal justru cerita keris sakti yang memakan
korban 7 turunan... he he he... syeyem deh.
 
Gue boleh dibilang jam terbang tinggi kalau masalah baca novel star trek,
tapi kan gue selalu baca yang original. Dan terus terang sejak gue belajar
bahasa inggris gue selalu 'melarang' diri sendiri baca novel terjemahan. So,
kalau gue baca novel indonesia, pastinya karangan orang indonesia yang
bahasa nya lentur dan gak baku2 amat. Masalah novel2 terjemahan, gue malah
gak terbang2 kayanya, he he he... 
Waktu belum bisa bahasa inggris, gue jarang baca novel, soalnya hobby gue
baca komik ma nonton. Paling novel terjemahan jaman gue belum bisa inggris
ya kisah Famous Five alias 5 Sekawan aja. Setelah itu, mulai ada Hardy Boys
dan Nancy Drew yang bahasa inggris, ya gue mati2 an belajar biar bisa
ngikutin... he he he... 
 
Pendapat gue mungkin gak usah diperhitungkan, karena gue sama sekali gak
suka baca novel terjemahan (kecuali terjemahan dari bahasa lain ke bahasa
inggris, bukan indonesia, dan itu judulnya terpaksa). Entah karena
kebiasaan, gue selalu merasa bahwa kalau gue membaca novel terjemahan, gue
gak pernah menangkap dengan jelas karakter asli dari tokoh di novel
tersebut. Mungkin karena dalam proses penterjemahan, jiwa karakter yang
sudah ditulis oleh sang penulis nya jadi hilang. Kalau komik lain, karena
dari gambar masih bisa kita menemukan jiwa karakter itu. Yang penting buat
gue kalau membaca novel adalah mengenali dan mengerti karakter orang2
didalamnya. Kalau itu sudah hilang, gue gak minat lagi membaca nya. Buat
apa? Mending nonton film nya aja deh... iya kan? 
 
Jadi ini bukan masalah terjemahan jelek atau bagus, tapi selera gue aja. 
So, gak perlu lah di review2... 
Mas Ario aja tuh yang me review, dia kan udah 'pakar' menterjemahkan Star
Trek.
 
"Tunangan"!!
 
 
Salam,
Indie 
 
 
-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED]
On Behalf Of ign hadi


Hi hi hi... ya jadinya InSS dong alias Indonesian Starship.... =))
Maksudnya ya just like Startrek or stargate. 
Bukannya india juga violence and sex (ramayana, mahabarata)
Hanoman or Gatotkaca terbangnya tuh pake Jetpack.... ha3x...

Tapi seandainya rekannya mas pito jadi menterjemahkan sudah selayaknya rekan
rekan trekis yang sudah jam terbangnya tinggi perlu di libatkan untuk
mereview sebelum di publish ya... seperti mbak indie, Mas Budiss, Mas Ari,
dll... 

 


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke