Komentar saya khusus untuk bagian ini, sebetulnya tidak begitu keadaannya. Selera penonton kita MEMANG parah. Komen2 yang pedes itu (termasuk kaskus, FB, dan lain-lain) sesungguhnya hanya sepersekian persen dari penonton, bukan mayoritas. Respon "akan kami perhatikan" entah bot atau bukan, memang hanya menjadi lip service karena komentar2 itu pada akhirnya tetap menjadi pendapat minoritas. Bagaimanapun, mereka akan lebih memperhatikan pendapat mayoritas dong. Dan mayoritasnya adalah yang menyukai sinetron2 tersebut.
Parameternya dari mana bahwa yang suka adalah mayoritas dan yang komen pedes itu adalah minoritas? Survei rating AGB-Nielsen. Saya tidak mau membahas keabsahan angka rating Nielsen. Mau bener mau enggak angkanya, pokoknya itu yang dijadikan patokan bagi semua pihak yang terlibat, ya sudah, kita mau apa lagi? Lagipula, mau percaya mau enggak dengan angka rating Nielsen, ada lagi parameter yang bisa kita jadikan pendukung bahwa selera penonton kita memang parah. Coba lihat film-film bioskop yang beredar. Sorry kalo sudah pernah dibahas di sini bahwa mayoritas adalah film-film komedi seks dan hantu (plus unsur seks juga.) Masyarakat tidak dijejalkan/dipaksakan film bioskop di mata mereka, seperti halnya TV. Mereka harus PERGI dan BAYAR untuk nonton film bioskop. Ini betul-betul tindakan aktif yang melibatkan keputusan sadar dari si penonton itu sendiri. Nyatanya film-film itu laris manis juga. Makanya dibikin terus. Supply and demand aja. Percayalah, problemnya bukan di kemampuan scriptwriter. Banyak kok yang bisa bikin cerita-cerita lebih bagus daripada yang ada sekarang. Cuma karena memang demand-nya rendah (penontonnya sedikit,) maka produser (PH) dan TV tidak berani invest ke sana. Mending main mainstream aja, aman. Cari duit udah susah, saingan banyak, ngapain juga ambil risiko, pikir mereka. Begitu kondisinya, IMHO. Ario ________________________________ From: L'evin <[email protected]> Sebenarnya tidak bisa dibilang kalo selera penonton kita parah ya.. krn dari yg saya liat dari situsnya indosiar, komen2 mereka 90% pedes bahkan ga kalah pedes dari komen kita2 ;). ada yg memprotes sinetron innayah, muslimah, dll. dan kalo anda mau perhatikan, smuanya direspon indosiar: "akan kami perhatikan". semoga saja bukan auto-reply dari bot ~_~ lalu kenapa masih saja seperti itu, itulah yg saya kira aneh. zaman sekarang udah canggih sehingga komen yg masuk harusnya ditanggapi sbg warning, ga kayak zaman TVRi dulu. saya pernah lihat ada yg memberi kesempatan utk sms komentar, di akhir sinetron. zaman sekarang informasi bisa mengalir dari banyak channel. di dunia maya termasuk kaskus yg largest indonesian community, tidak terhitung sudah yg mencela sinetron lokal, bahkan di FB juga sudah banyak groups utk itu. mungkinkah karena mereka emang tidak punya pilihan, krn scriptwriter yg nulis buat PH ya orang itu2 aja? krn budaya yg selalu mengutamakn seniorism, jadi yg muda selalu dipandang sblah mata kyk di iklan A mild. [Non-text portions of this message have been removed]
