---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99 ------------------------------ GOLKAR AKAN BUBAR (POLITIK): Keluarga Besar ABRI menarik dukungannya terhadap Golkar karena Kelompok Akbar menawarkan 25 kursi untuk F-ABRI. Golkar akan bubar? Retaknya Keluarga Besar ABRI (KBA) dalam Munaslub Golkar ternyata tidak berlangsung lama. Masih segar dalam ingatan betapa Jendral Wiranto yang saat itu `sangat dekat' dengan Habibie membiarkan Akbar Tanjung yang dijagokan Habibie mulus jadi ketua Golkar. Juga meskipun sebetulnya Edy sudah mengantungi lebih banyak dukungan dari DPD-DPD, secara terencana Feisal Tanjung dan Syarwan Hamid menyelenggarakan coffee morning yang terkenal dengan nama "Operasi Subuh", hanya dalam hitungan jam sebelum pemungutan suara memilih Ketua Umum Golkar. Inti manuver operasi itu, keduanya menyebar kabar bahwa Edy dapat dana dari Cendana untuk membeli suara. Pisah ranjang Edy, Wiranto, dan Syarwan kembali rujuk ketika Akbar Tanjung mengeluarkan pernyataan bahwa Golkar setuju kursi ABRI hanya 25 biji di DPR. Maksud Akbar, Golkar ingin menunjukkan bahwa kelompok merekapun sudi menyerap aspirasi masyarakat luas yang begitu menghendaki pencabutan Dwifungsi ABRI. Tapi rupanya ABRI menganalisis kritis. "Politik Akbar sudah berbeda dengan ABRI sejak Wiranto menyingkirkan jendral-jendral hijau dari elit komando ABRI," kata seorang sumber di bawah Letjen Soesilo Bambang Yudhoyono. Memang basis politik Akbar di Golkar adalah Keluarga Alumni HMI (KAHMI) yang notabene berakar Masyumi, satu aliran politik yang tidak menyukai peran militer di panggung politik. Demikianlah maka Edy, Wiranto, dan Syarwan bertemu lagi di muara politik yang sama, yakni KBA. Edy Sudradjat, dalam pertemuan dengan koleganya di Barisan Nasional minggu lalu tidak mengelak ketika disinggung bahwa PKP memang didirikan untuk menggembosi Golkar. Sementara Wiranto dengan sepengetahuan Habibie secara resmi menegaskan bahwa ABRI mengambil sikap netral, atau dengan kata lain menarik dukungannya ke Golkar. Habibie setuju-setuju saja. Presiden hasil tunjukan Soeharto ini belakangan agak renggang dengan Akbar karena merasa ambisinya untuk mempertahankan jabatan bakal disaingi Akbar Tanjung sendiri. Sedangkan Syarwan Hamid yang memegang komando jalur birokrasi lebih terus terang lagi. Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada dalam kendali Syarwan harus netral, tidak menjadi pengurus partai. Malahan ketika memberi sambutan dalam sidang paripurna DPR yang membahas RUU Politik, Menteri Dalam Negeri ini menutup pidatonya dengan kalimat yang menyengat. "Dalam pemilu mendatang saya tak akan memilih salah satu partai pun," katanya. Disambut komentar para peserta sidang yang berdengung, Syarwan segera menambahkan bahwa ia tetap akan menggunakan hak pilihnya dalam pemilu. Penggembosan Golkar oleh KBA sebetulnya sudah mencapai titik panas dalam lobi tingkat tinggi yang diselenggarakan Syarwan untuk mengatasi deadlock RUU Politik. ABRI mencoba mempertahankan kursi-kursinya di DPR agar tak hilang banyak dengan taktik menohok Golkar dari belakang. Kepentingan Golkar adalah menggolkan keputusan agar varian sistem proporsional ditetapkan dengan basis pemilihan di Daerah Tingkat II. Anggota Panitia Khusus dari FKP, mantan Ketua Umum HMI Ferry Mursyidan Baldan, bahkan sampai mengancam untuk walk out saat lobi tengah berlangsung bila pembahasan soal varian proporsional tidak sesuai dengan yang diperjuangkan Golkar. Tapi dengan canggih F-ABRI main mata dengan FPP untuk 'tukar guling', F-ABRI sepakat mendukung FPP yang ngotot basis pemilihan harus di Daerah Tingkat I, dengan catatan FPP harus setuju kursi ABRI tidak berkurang banyak. Akhirnya sidang lobi tingkat tinggi memutuskan kursi ABRI di DPR sejumlah 38 biji, sedangkan misi Golkar gagal total. Tak ayal, kini Golkar dibawah Akbar pun menjadi gamang. Bukan tak mungkin partai berlambang beringin ini jadi retak dan terancam bubar. Santer terdengar kabar, bahwa Akbar pun kini makin tidak harmonis dengan para ketua di bawahnya. Ia berbeda paham dengan Marzuki Darusman soal permintaan maaf kepada masyarakat. Marzuki yang dikonfirmasi para wartawan cuma tersenyum, "Kalian ini ada-ada saja." Ketua Golkar yang lain, Adi Sasono memilih jalan sendiri dengan mesin politiknya yang besar kemungkinan akan jadi partai: Persatuan Daulat Rakyat. Menteri Koperasi ini memilih jalan aman dengan tidak mendukung Golkar. Habibie merasa bahwa Adi Sasono adalah kawan politik yang bisa dipercaya, tetapi jebolan ITB yang dijuluki The Most Dangerous Man oleh Majalah Asiaweek ini berindikasi punya minat untuk menduduki kursi kepresidenan. Dengan dana Rp10 triliun yang tidak diketahui darimana aslanya dan yang dibagi-bagikan untuk kredit usaha kecil itu Adi diperkirakan bakal main money politics untuk merengkuh dukungan dari rakyat yang saat ini dilanda krisis pangan. Satu-satunya kelompok di Golkar yang tidak jelas terbuka sikapnya terhadap Akbar adalah kelompoknya Ginandjar Kartasasmita. Memang diam-diam Akbar, juga Habibie, sudah lama tidak suka dengan cara berpolitik Ginandjar yang bagaikan musuh dalam selimut dan menunggu di balik tikungan untuk memenangkan lomba lari menuju tahta penguasa. Tetapi, baik Habibie maupun Akbar tidak bisa begitu saja menendang Ginandjar keluar dari arena politik. Menko Ekuin ini punya senjata politik berupa jaringan dana internasional yang menentukan besar kecilnya hutang yang mengucur ke Indonesia. Melihat Golkar yang retak di semua jalur ABG-nya (ABRI, Birokrasi, dan politisi Golkar sendiri), bisa jadi partai ini akan tamat riwayatnya sebagai single majority. Tetapi bukankah politik mirip pertandingan sepakbola? Hasilnya belum pasti sebelum pertandingan berakhir. Jadi, mari kita lihat hasil pemilu nanti yang semoga berlangsung damai. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 4 Feb 1999 jam 00:38:47 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
