----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 04/II/4-10 Februari 99
------------------------------

Prof. Benedict Anderson, Pengajar Univ. Cornell:
"TIMTIM TIDAK AKAN PECAH"

(PERISTIWA): Dalam acara Fokus Akhir Pekan tanggal 29 Januari 1999, Radio
Nederland Wereldomroep mewancarai Prof. Benedict Anderson, pakar Indonesia
dan Timor Timur pada Cornell University, di Ithaca, Amerika Serikat. Ben
Anderson adalah pakar politik yang menekuni Indonesia tahun 1950-an dan
sejak tahun 75 secara khusus menekuni masalah Timor Timur. Berikut penggalan
wawancara tersebut:

T: Bagaimana pendapat Anda tentang pernyataan pemerintah Habibie mengenai
Timtim beberapa hari lalu?
J: Bagaimanapun juga ini untuk pertama kali pemerintah Indonesia membuka
kemungkinan pelepasan. Itu yang penting. Selama ini selalu pemerintah
bilang, itu tidak mungkin, tidak bisa dibicarakan, bukan topik untuk
negosiasi apapun. Jadi kalau pemerintah sekarang sudah mengatakan bahwa
biarpun bukan alternatif yang paling baik, tapi itu salah satu alternatif
yang real; saya kira itu suatu perobahan yang besar dan penting.

Jadi, kalau dikatakan bahwa ini cuma muslihat, saya pun juga nggak percaya.
Situasi memang sudah cukup menunjukkan bahwa Indonesia sudah menghadapi
jalan buntu di TimTim. Politik yang selama ini dijalankan jelas nggak ada
hasil. Dan dengan krisis ekonomi, Indonesia tak punya duit untuk
menjalankannya lebih lama lagi. Dan tekanan dari luar dan dari dalam makin
hari makin besar. Ini semacam respons. Juga saya kira terhadap perubahan
dalam politik luar negeri Australia.

T: Ada semacam tekanan internasional terhadap Indonesia, supaya segera
menyelesaikan masalah Timor Timur?
J: Ada semacam tekanan baik langsung, yaitu kelompok-kelompok yang ada
perhatian khusus terhadap TimTim, tapi juga tekanan secara tidak langsung,
bahwa krisis ekonomi begitu melanda Indonesia dan jalan keluarnya masih jauh
di depan. Pemerintah tidak punya, sumber-sumber untuk menjalankan politik
yang lama. Dan dengan demikian mereka harus berbuat apa saja supaya
meyakinkan orang-orang luar negeri bahwa waktunya sudah datang untuk
membangun ekonomi Indonesia lagi. Dan di situ, Timtim jelas menjadi masalah.

T: Menurut Anda, masalah TimTim adalah salah satu contoh klasik perang
dingin di pentas internasional. Dan sekarang perang dingin sudah selesai,
masalah TimTim juga akan selesai?
J: Saya memang merasa demikian, biarpun dulu waktu saya omong begitu, banyak
orang tertawa, yang merasa bahwa saya semacam utopis yang gila-gilaan. Saya
malah pernah bilang bahwa saya yakin Timtim akan lepas, merdeka, sebelum
habis tahun 2000. Dan makin lama semakin yakin ini akan terjadi.

T: Apa dasar optimisme Anda?
J: Justru karena saya melihat bahwa Orde Baru makin lama makin keropos. Dan
dengan didongkelnya Soeharto sistem yang dibangun selama 32 tahun ini tidak
mungkin dipertahankan lagi. Terus kelompok-kelompok luar negeri yang melihat
Indonesia dengan mata perang dingin, sudah mengubah pikirannya. Jadi
pencaplokan TimTim ke dalam Indonesia itu disetujui oleh Amerika dan
sekutunya, sebagian besar karena Indonesia dianggap sekutu yang penting
dalam menghadapi komunisme dan sebagainya.

Dan juga pada waktu itu kan Selat Timor itu sangat strategis bagi Amerika
Serikat dengan kapal selam nuklirnya dan sebagainya. Sampai ada semacam
persetujuan rahasia antara Washington dan Jakarta supaya kalau kapal selam
itu melalui Selat Timor tidak usah naik sampai ke permukaan laut, di mana
bisa inspeksi oleh satelit Soviet. Sekarang satelit Soviet nggak ada lagi,
jadi Amerika tidak merasa bahwa mereka ada kepentingan dalam politik
Indonesia di Timtim, seperti dahulu.

T: Apakah perpecahan akan semakin parah di Timtim?
J: Justru tidak, saya kira. Saya melihat umpamanya sudah ada gejala seperti
tempo hari orang-orang Timtim yang menjadi anggota Golkar cepat-cepat angkat
pantat dari Golkar dan merasa bahwa angin sudah berubah jurusannya.
Orang-orang yang selama ini berkolaborasi dengan Jakarta, ada sebagian yang
tentu merasa terancam masa depannya, tapi ada juga yang merasa harus
cepat-cepat menyesuaikan diri dengan situasi. Karena orang-orang yang
berwibawa di Timtim, seperti, Mario Carrascalao, Xanana Gusmao, Uskup Belo
dan sebagainya semua berdiri,  di satu tempat. Jadi nggak ada pemimpin yang
meyakinkan di pihak integrasi. Dan saya juga yakin bahwa itu cuma minoritas
tertentu.

T: Anda mengatakan bahwa referendum paling aman bagi Xanana, Ramos-Horta dan
kawan-kawan. Maksudnya?
J: Well, dengan pengalaman yang pahit selama dua puluh tahun ini mereka
selalu curiga bahwa kalau nggak ada semacam wasit yang fair di Timtim,
semacam tentara atau kelompok tertentu dalam tentara, kelompok tertentu
dalam birokrasi akan main di belakang layar. Jadi mempersenjatai orang-orang
ini, orang-orang itu, mengadu domba dan macam-macam muslihat. Mereka juga
ingat selama ini bagaimana pemilu-pemilu itu dimanipulir oleh pusat. Jadi
mereka tidak percaya bahwa pemerintah sekarang betul-betul mengubah
pikirannya dan betul-betul jujur dalam membuka kedua alternatif ini.

T: Sejumlah petinggi ABRI banyak yang kehilangan jabatannya karena Timtim;
Hendro Priyono, Sintong Panjaitan, Rudolf Warouw. Kok sekarang, mereka rela
melepaskan Timor Timur?
J: Bagaimanapun Sintong sekarang menjadi penasehat, dekat dengan Habibie,
Hendro masih disebut-sebut sebagai calon Pangab yang berikut, dsb. Mereka
tidak terlalu jatuh. Korbannya memang ada, tapi jangan lupa bahwa korbannya
itu pada tingkat sersan dan prajurit. Jadi bukan di kalangan perwira.
Perwira yang ambil peranan yang menentukan dalam hal ini. Saya kira sekarang
ini pemimpin tentara cukup praktis dan realistis, tidak bombastis dan
emosional seperti dahulu. Mereka cukup melihat situasi yang sebenarnya, di
mana ABRI menghadapi begitu banyak tantangan dari segala penjuru angin.
Terus tenaga sumber kekayaan, sumber finansial sudah susah. Citra mereka di
kalangan rakyat sudah buruk sekali. Jadi mereka tidak ada kekuatan untuk
meneruskan politik dulu di Timtim. Apalagi tokoh utamanya, Prabowo, sudah
didongkel. Saya kira mereka sekarang melihat situasi dengan mata yang dingin.

T: Apa inti kegagalan Indonesia di Timor Timur?
J: Inti kegagalan adalah bahwa masyarakat umum tidak mengerti bahwa yang
dilakukan di Timtim itu semacam penjajahan modern. Jadi mereka bisa ditipu
dengan semboyan-semboyan integrasi dan sebagainya untuk menutupi fakta bahwa
sejarah Timtim sama sekali tidak berkaitan dengan sejarah Indonesia. Bahasa
dan budayanya udah lain sekali. Dan mereka tidak ingat sekali logika dari
setiap penjajahan, bahwa bagaimanapun pada suatu waktu orang-orang yang
dijajah akan bangkit untuk melawan, persis seperti orang Indonesia melawan
Belanda dulu. Ya, belakangan orang Timtim bangkit untuk melawan penjajah
yang berkulit sawo mateng. Jangan dikira bahwa penjajahan itu cuma monopoli
dari orang bule. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Feb 1999 jam 00:57:03 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke