----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

KOLOM SUPANGKAT:

                GANJELAN UTAMA TRIPARTIT: XANANA, PBB, ABRI

Sebelum politik mutung Indonesia meledak menjadi euphoria (yuforia) di Timtim
dan di PBB, ganjelan utama yang tidak bisa diputuskan baik oleh delegasi Indo-
nesia Nugroho maupun nantinya oleh Menlu Alatas sendiri dalam perundingan
Tripartit antara Indonesia, Portugal dibawah pimpinan Jamsheed Marker adalah
masalah: pembebasan Xanana, perwakilan PBB di Dilli, penarikan pasukan ABRI.

Ketiga masalah itu berada dalam jurisdiksi ABRI yang selama ini menolak mentah
mentah tuntutan atau usulan tersebut. Namun setelah ketiga utusan PBB (Yuanet,
Gareton, Smith) menemui sejumlah petinggi Indonesia baru baru ini, bisa jadi
ada kemajuan sedikit,hanya saja apakah bisa langsung menjadi masukan keda-
lam perundingan Tripartit tingkat Menlu hari Minggu-Senin ini.

Sekjen PBB Kofi Annan tampaknya ingin menggolkan Tripartit ini setelah yuforia
akibat politik mutung kita menimbulkan fenomena baru yang semakin memperbu-
ruk situasi di lapangan. Ia mengharapkan penandatanganan Perjanjian Indonesia-
Portugal dibawah naungannya dapat meredakan suasana panas di Timtim sehing-
ga tercapailah kerukunan.

Harapan ini mungkin sekali bisa dicapai kalau ketiga ganjelan itu dapat
didobrak
oleh Tripartit tingkat Menlu.

Namun ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan: Menlu Alatas mewakili
rejim Habibie yang hanya merupakan rejim transisi tanpa legitimasi setelah ia
me-
warisinya dari Presiden Suharto sebagai Wakil Presiden dalam keadaan gawat
darurat secara terpaksa. Apakah istilahnya rejim "lame duck", "transisi", atau
setengah "demisioner" tanpa memiliki legitimasi yang diwakili Nugroho dan
Alatas dalam perundidngan ini, tampaknya tidak menjadi "concern" (urusan) Kofi
Annan.
Tugas Kofi Annan adalah menggolkan Tripartit yang sudah bertele tele selama
puluhan atau belasan tahun tanpa ujung pangkal.

Ganjelan utama masalah Xanana, kantor Perwakilan PBB dan penarikan semua
pasukan ABRI bukan masalah yang bisa diputuskan oleh seorang Menlu Alatas,
ketiga masalah itu berada dalam wewenang kabinet atau Presiden Habibie sen-
diri. Habibie harus bertanggung jawab atas "backlash" politik mutungnya yang
meledak ibarat petir di siang hari.

Kecuali daripada itu uforia kemerdekaan sudah terlanjur menggema dan meranji-
ngi sebagian - besar atau kecil - rakyat Timtim yang sudah pasti segera
disusul
oleh dukungan dukungan dari LSM internasional, dari Uni Eropah dan last but
not
least dari sejumlah anggota Kongres Amerika yang Liberal seperti Kennedy dkk.
kalaupun bukan dari Kabinet Clinton dan State Departmentnya.

H.S. Hidayat Supangkat
PBB

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 4 Feb 1999 jam 12:44:59 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke