----------------------------------------------------------
FREE for JOIN Indonesia Daily News Online via EMAIL:
go to: http://www.indo-news.com/subscribe.html
- FREE - FREE - FREE - FREE - FREE - FREE -
Dengan mengClick banner sponsor anda menyumbang
Rp. 1000,- untuk HomePage IndoNews.
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


Palembang, Indonesia
13 Januari 1999

PETANI MUARA ENIM MENOLAK JADI KARYAWAN PT MILIK SITI HARDIYANTI RUKMANA

Oleh Taufik Wijaya

PALEMBANG --- Pada saat para petani menolak kehadiran pabrik pulpa dan
kertas PT Tanjungenim Lestari karena adanya ancaman limbah klorin � selain
proses ganti rugi yang tak kunjung selesai � Bupati Muara Enim, Sofjan
Effendie, justru menawarkan solusi kepada perusahaan agar merekrut para
petani di sekitar lokasi pabrik itu untuk menjadi karyawan.

Tawaran itu disampaikan setelah mendengar pemaparan sejumlah direktur PT TEL
di kantor Pemda Muara Enim, 12 Januari 1998. "Saya berharap PT TEL mau
memprioritaskan warga sekitar sesuai kemampuan untuk dijadikan karyawan,"
katanya.

Sebelumnya, dua direktur PT TEL, Ir. Bambang Susanto dan Arnold Bakara,
menjelaskan soal kebutuhan karyawan perusahaan yang memiliki investasi
sebesar US$1,2 triliun tersebut. Menurut Susanto, pabrik yang mempunyai
target produksi sebesar 450 ton pulpa setiap hari itu membutuhkan 1.102
karyawan. Saat ini perusahaan baru mempunyai 469 karyawan. Karyawan baru
yang dibutuhkan sebagian besar untuk tenaga keamanan dan sebagian untuk
tenaga operator pabrik.

Ternyata, usul Bupati dianggap warga menyembunyikan maksud-maksud tertentu.
"Ah,

jadi karyawan PT TEL? Walau digaji sejuta, kalau hidup kami terancam, buat
apa?" sergah Juri, petani dari Desa Muaraniru. Menurutnya, yang mereka
butuhkan bukan lapangan pekerjaan, tapi pengembalian lahan agar mereka
kembali dapat bertani. Selain itu, ancaman limbah klorin membuat mereka
menjadi tidak tenang, "Kami minta pabrik itu jangan sampai beroperasi,"
katanya lagi.

Hal yang sama disampaikan oleh Tamim, petani lain. Bahkan, menurutnya,
tawaran Bupati itu sebagai langkah taktis untuk meredam gejolak tuntutan
mereka. "Kami ini sudah kenyang dengan tipuan dan janji-janji manis yang
ujungnya membuat kami sengsara," kilahnya.

Di sisi lain, kalau mereka menerima tawaran itu, penyelesaian dampak ekonomi
akibat penggusuran lahan belum tentu juga terselesaikan. "Yang diterima
menjadi karyawan hanya 500 orang, sedangkan para warga yang menganggur di
sini jumlahnya lebih dari seribu," kata Tamim.

Tawaran Effendie juga mendapat tanggapan dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH)
Palembang. Menurut Kemas Muhammad Amin, S.H. dari Divisi Lingkungan LBH
Palembang, seharusnya Effendie bukan menawarkan solusi tersebut. "Dia itu
seharusnya mendesak perusahaan agar memenuhi tuntutan para petani, bukan
menjebaknya dengan cara baru. Saya curiga, pertemuan itu sekadar diciptakan
agar opini yang berkembang berubah, sehingga mereka meraih keuntungan," kata
Amin.

Kecurigaan Amin sebelumnya telah dibantah oleh pernyataan Bupati yang
menerangkan bahwa tidak ada perjanjian tertulis mengenai perekrutan karyawan
antara Pemda Muara Enim dan PT TEL.

"Memang belum, tapi setelah pertemuan itu pasti dibuat," bantah Amin. Dan
benar, seusai melakukan pemaparan, Susanto menjelaskan bahwa pihaknya
berencana menyusun naskah kerja sama dengan Pemda Muara Enim yang berkaitan
dengan perekrutan karyawan.

Direktur Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Sumatera Selatan (Walhi Sumsel)
Nurkholis, S.H., juga menyayangkan tawaran tersebut, "Tawaran itu dapat
memancing emosi para petani untuk melakukan tindakan yang melawan hukum,
sebab antara solusi yang ditawarkan dan tuntutan para petani sangat jauh,"
katanya.

Sementara itu, mantan Bupati Muara Enim Hasan Zen, S.H., yang diduga
terlibat dalam kasus korupsi dan manipulasi dana ganti rugi dalam pembebasan
lahan untuk pabrik PT TEL, saat ini benar-benar terbang: bebas dari jerat
hukum. Pihak Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumsel yang diharapkan dapat menyeret
Zen ke muka hukum, ternyata tidak mampu berbuat apa-apa. Tiga persoalan yang
disidik Kejati, tidak satu pun yang menyeret Zen sebagai tersangka.

Adapun ketiga persoalan yang disidik, mengenai kemungkinan tanah negara
dijual, kemungkinan adanya dana PT TEL diambil para pejabat pemerintahan,
dan kemungkinan adanya penggunaan dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah
(APBD) Muara Enim dalam pembebasan lahan untuk PT TEL. "Kalau ada
bukti-bukti baru yang menguatkan keterlibatan Hasan Zen, mungkin baru dapat
disidik kembali," kata Kepala Humas Kejati Sumsel Ali Zainuddin, S.H., di
ruang kerjanya, 13 Januari.

Mengenai bukti-bukti yang disampaikan LBH Palembang dan petani, menurutnya,
juga tidak terbukti. Misalnya soal penggusuran lahan petani yang menggunakan
Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 55/1993, atau fotokopi surat Hasan Zen
kepada PT TEL untuk meminta dana pembebasan lahan, "Itu ternyata dibatalkan
Hasan Zen. Memang, kalau itu dilakukan, dia dapat dibawa ke pengadilan,"
kata Zainuddin lagi. Sedangkan penjelasan kedua tersangka -- Kepala dan
Sekretaris Desa Muaraniru, Zawawi dan Lukman -- bahwa mereka memungut uang
petani atas nama Hasan Zen, juga tidak terbukti.

Hasil pemeriksaan Kejati diragukan Amin. Menurutnya, sejak awal keseriusan
Kejati memeriksa Zen tidak tampak. Pemeriksaan baru dilakukan setelah adanya
tekanan dari para petani dan mahasiswa. Pemeriksaan pun dilakukan secara
tertutup."Saya sungguh ragu apakah benar bukti-bukti yang kami berikan tidak
benar. Soal fotokopi surat Hasan Zen kepada PT TEL, surat itu kami dapatkan
setelah berada di PT TEL," kata Amin tampak kesal.

Saham-saham pabrik pulpa ini dimiliki oleh Siti Hardiyanti Rukmana dan
Prayogo Pangestu yang berkongsi dengan perusahaan dari Jepang, Kanada, Korea
Selatan, dan beberapa dari Eropa.

(Taufik Wijaya adalah wartawan Lampung Post dan peserta Workshop Liputan
Politik LP3Y)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 5 Feb 1999 jam 05:28:16 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke