----------------------------------------------------------
Visit Indonesia Daily News Online HomePage:
http://www.indo-news.com/
and click banner our sponsor
----------------------------------------------------------

Precedence: bulk


PETUALANGAN ANTI KOMUNIS SOEHARTO YANG SIA-SIA DI TIMOR TIMUR

Oleh: Usman Kamid

        Bila usul pemberian status khusus dengan otonomi yang diperluas ditolak,
maka pemerintah Indonesia akan meminta para wakil rakyat yang terpilih lewat
pemilu mendatang, untuk mempertimbangkan kemungkinan melepaskan propinsi
Timor Timur (Timtim) dari negara kesatuan RI melalui SU MPR mendatang.
        Ali Alatas menegaskan, keputusan itu tidak berarti pemerintah Indonesia
lalu menjurus lansung melepaskan Timtim. Keputusan tersebut hanyalah
alternatif atau opsi lain, bila usulan pemberian status khusus dengan
otonomi yang diperluas yang diajukan pemerintah ditolak oleh masyarakat Timtim.
        Keputusan untuk menyerahkan masa depan Timtim kepada para wakil rakyat, itu
merupakan hasil utama sidang kabinet bidang Polkam yang pertama di Bina
Graha (Rabu, 27/1). Hasil sidang yang berlangsung selama 4 jam itu
disampaikan kepada wartawan Ali Alatas.
        Situasi politik bagaimana yang sedang dihadapi pemerintah Habibie dewasa
ini, sehingga setelah lengsernya Presiden Soeharto turut mengubah pandangan
politik pemerintah terhadap Timtim? Otonomi yang diperluas ditawarkan
Presiden Habibie.
        Dalam rangka menjawab pertanyaan ini, adalah menarik tulisan YB
Mangunwijaya "Solusi alternatif untuk Timtim" (Kompas, 28/1/99). Marilah
kita ikuti tulisan YB Mangunwijaya tersebut.

INDONESIA SEKARANG, SEPERTI BELANDA 1945-1948

        Menurut YB Mangunwijaya bahwa sampai sekarang hanya ada dua opsi prosedur
penyelesaian yang realistik: otonomi di dalam RI, atau referendum, yang
semua tahu, pasti akan dimenangkan suara yang minta merdeka. Dengan kata
lain, suatu kehilangan muka amat memalukan dihadapkan seluruh dunia,
khususnya bagi ABRI.
        Pada tahun 1945-1948 Belanda terjepit juga dalam suatu situasi yang sama
dengan RI sekarang. Sama persis dengan apa yang dilakukan RI sekarang
terhadap Timtim, pada waktu itu Belanda berkeras kepala mencap kaum RI
sebagai GPK (Gerombolan Pengacau Keamanan) atau teroris yang tidak disukai
oleh mayoritas rakyat Indonesia. Karena, kata mereka rakyat Hindia masih
mencintai Ratu Belanda. Mereka percaya kepada kekuasaan senjata dan perang,
padahal setiap akal sehat sudah dapat meramal, bahwa menggempur perjuangan
kemerdekaan rakyat manapun akan menemui jalan buntu.
        Begitu lah secara alamiah agresi brutal dan menawan pemimpin-pemimpin
kemerdekaan akhirnya hanya akan membalikkan opini seluruh dunia yang marah
mengutuk Belanda. Suatu jurang kemacetan yang berbahaya menganga.
        Bila kita mengamati cermat sejarah klaim Indonesia terhadap Timtim, kata
Mangunwijaya selanjutnya bahwa pembenaran-pembenarannya, argumen atau sok
argumen untuk membela klaim tersebut selama 24 tahun ini, maka kita akan
menemukan banyak sekali kesamaan yang mengherankan, dengan yang pernah
diklaim Belanda di waktu itu untuk membenarkan kolonialismenya.
        Misalnya, dikatakan bahwa Timtim dipimpin oleh kaum komunis dan teori dari
segi ekonomi terlalu miskin untuk merdeka, secara politis terlalu terpecah
belah, kultural terlalu terbelakang, dan bahwa pasti akan timbul perang
saudara bila referendum diadakan dan ABRI keluar dari Timtim, dan bahwa
Indonesia berkehendak baik dan merasa harus menjalankan misi suci untuk
menolomg saudara-saudaranya di Timtim dengan segala bentuk pembangunan yang
tidak pernah mereka  dapat di zaman Portugal; maka disayangkan, mengapa
orang-orang Timtim tidak berterima kasih kepada Indonesia dan seterusnya.
        Selanjutnya YB Mangunwijaya mengemukakan bahwa ekonomis, politis,
militer dan terutama soal moral Timtim adalah suatu malapetaka memalukan bagi
bangsa Indonesia selama hampir seperempat abad. Nasib disamakan dengan para
pembunuh bangsa seperti Nazi atau Serbia terhadap Bosnia terdengar di mana-mana.
        Setiap politikus beraksi sehat, sadar, bahwa meneruskan petualangan
Timtim hanya sia-sia belaka, suatu jurang pertumpahan darah dan pengalaman
traumatik yang tidak perlu. Selain itu ekonomis terlalu mahal. Saat ini
masalahnya 99% soal gengsi, bagaimana jangan kehilangan muka.
        Dengan kata lain, YB Mangunwijaya hendak mengatakan bahwa Indonesia di
bawah pimpinan Suharto telah melakukan petualangan anti komunis yang sia-sia
di Timor Timur. Dan sama kolonialnya dengan pemerintah Hindia Belanda dalam
menjajah Indonesia dan Indonesia menjajah Timtim.
        Sesungguhnya apa latar belakangnya maka Soeharto melakukan petualangan anti
komunis di Timtim?
        Untuk menjawabnya, baiklah kita dengar apa yang dikatakan Yoga Sugama,
melalui bukunya "Memori Jenderal Yoga" (Hal:289-302).

MENCEGAH TETANGGA DIPENGARUHI KOMUNIS

        Menurut Jenderal Yoga bahwa kemelut politik yang terjadi di Timtim
sangat menggelisahkan pemerintah RI. Terlebih lagi setelah diketahui bahwa
pemerintah Portugal cenderung membela Fretilin, suatu kelompok politik di
Timor Portugis yang berhaluan komunis.
        Meskipun Timtim merupakan teritorial negara lain, namun kecenderungan
yang mengarah pada dominasi kaum komunis di sana jelas tidak akan menguntungkan
Indonesia. Pangkalan komunis di wilayah itu akan menyedot perhatian yang
sangat besar, karena bisa menjadi basis infiltrasi yang membahayakan
keamanan nasional.
        Kekuatiran akan semakin kuatnya pengaruh komunis di Timor Portugis, kata
Yoga Sugama, mendorong pemerintah bersikap sangat waspada. Salah satu wujud
kewaspadaan pemerintah RI dalam menghadapi proses dekolonisasi yang
berlangsung di Timor Portugis adalah kesiapan aparat intelijen
mengantisipasi perkembangan yang terjadi di sana.
        Bakin membentuk satuan operasi yang disebut densan nama "Operasi Komodo".
Operasi ini dipimpin langsung oleh Kepala Bakin Yoga Sugama, sedang wakilnya
adalah wakil Ka Bakin Ali Murtopo.
        Operasi Komodo yang lebih merupakan intelligence field preparation
operation, berusaha menjalin kontak dengan beberapa pihak yang ingin
berintegrasi dengan Indonesia. Sebagai buah dari Operasi Komodo ini, maka
tanggal 7 September 1975 UDT, Kota dan Trabalhista mengirim Petisi berisi 31
fasal pada presiden RI untuk menjelaskan sikap mereka mengenai masa depan Timor
Portugis.
        Pasal 5 dari Petisi itu berbunyi: "Rakyat Timor Timur dan daerah-daerah
yang berada di bawah kekuasaannya meminta kepada pemerintah RI untuk
mengambil langkah-langkah, yang dipandang perlu untuk menetralisir semua
orang komunis dan para simpatisannya, baik mereka muncul di permukaan atau
yang tersembunyi".
        Pembicaraan yang lebih intensif dengan para pemimpin gerakan pro
Indonesia inilah kemudian berkembang dari Operasi Komodo menjadi Operasi
Komando
menyerbu Timtim. Karena kekuatan yang tak seimbang, Timtim dapat dikuasai
oleh tentara Indonesia.
        Dengan demikian maka keinginan pemerintah Indonesia untuk mencegah
tetangganya dipengaruhi komunis, tercapai. Rupanya pemerintah RI Suharto
adalah pemerintah yang memaksakan kehendaknya kepada tetangganya (yang tak
berdaya) agar turut kemauannya. Pemerintah Soeharto mencampuri persoalan
dalan negara tetangganya.
        Rupanya pemerintahan Soeharto dalam menentukan sikap tidak berpegangan
kepada UUD 1945, yang dalam kata "Pembukaan" (preambule) nya, antara lain
dikatakan: "Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan
oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak
sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan".
        Jika pemerintah RI berpegangan kepada UUD 1945, tentu dia akan
menghormati hak tetangganya untuk menentukan nasibnya sendiri, tidak akan
mencampurinya, apalagi menyerbu negara tetangga tersebut. Kemerdekaan bagi
akyat Timor Timur untuk menentukan nasibnya sendiri, adalah serupa dengan hak
menentukan nasib sendiri bagi rakyat Indonesia.
        Sesungguhnya pelumpuhan UUD 1945 telah dimulai Suharto pada tahun 1967
dengan merekayasa Konsensus Nasional, dimana Sapta Marga dan Sumpah Prajurit
ditempatkan kedudukannya lebih tinggi dari UUD 1945. (Lihat pidato Suharto
di depan RAPIM ABRI di Pekanbaru pada 27 Maret 1980).

KEMERDEKAAN HASIL PERJUANGAN
        Menanggapi hendak dilepaskanya Timtim oleh Indonesia bila menolak
pemberian status khusus dengan otonomi yang diperluas, maka bekas aktivis
IMPETU
(Ikatan Mahasiswa Pemuda Timtim), Abilio Almeida mengatakan bahwa keputusan
untuk melepaskan Timtim sebenarnya sudah sangat terlambat. Namun demikian
dia yakin keterlambatan itu tidak menghalangi Timtim untuk menjadi negara
merdeka. Pada dasarnya keputusan itu sudah terlambat, karena rakyat Timtim
sudah sangat menderita.
        Pada awal sejarah integrasi 1976, menurut Almeida, sebenarnya
pemerintah berjanji untuk memperlakukan Timtim sebagai salah satu bagian
dari wilayah Indonesia. Namun janji itu ternyata hanya tinggal janji. Selang
beberapa tahun setelah integrasi, pemerintadan rejim Orde Baru mulai
kelihatan belangnya. Timtim bukan diperlakukan sebagai saudara sendiri,
melainkan ajang perbudakan.
        Prajurit ABRI yang ditempatkan pada DOM di sana seringkali tidak
profesional dan menyakiti rakyat. Seringkali terjadi salah bunuh dari
kalangan aparat. Rakyat biasa yang ingin menegur oknum aparat yang berbuat
sewenang-wenang, dituduh GPK (Gerakan Pengacau Keamanan).
        Sementara itu Rossuo, Sekretaris Renetil (Resistencia Nacional Dos
Estudentes De Timor Leste/Perlawanan Nasional Mahasiswa Timtim) cabang
Indonesia, kemarin menyatakan bahwa pelepasan Timtim bukanlah sebagai
hadiah, melainkan hasil perlawanan rakyat Timtim. Artinya, ini adalah
konsekuensi logis perjuangan mereka terhadap tindakan-tindakan pemerintah
Indonesia di Timtim.
        Dan dengan demikian kata Rossuo mereka berhak meminta pertanggung-
jawaban dari pemerintah RI atas apapun yang terjadi di Timtim. Menurut Rossuo
Indonesia mempunyai kewajiban untuk membayar pampasan perang dan itu layak untuk
dituntut oleh setiap bangsa yang pernah dijajah. Hal ini harus dibuktikan
sehingga bukan basa basi, melainkan menunjukkan integritas bangsa Indonesia.
        Selain itu Indonesia juga harus mengakui bahwa mereka telah melakukan
rekayasa invasi dan menjajah Timtim selama 23 tahun.
        Seperti juga kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari pemerintah Belanda,
meskipun pengakuan Kemerdekaan Indonesia formalnya melalui Konferensi Meja
Bundar, maka demikian juga Kemerdekaan Timtim nantinya, bukan hadiah dari
Indonesia, tetapi hasil perjuangan kemerdekaan rakyat Timtim sendiri, tentu
dengan tidak mengabaikan adanya faktor solidaritas internasional dari
rakyat-rakyat yang berjuang untuk kemerdekaan.
        Jadi, dilepaskannya Timtim oleh Indonesia nantinya, itu bukanlah karena
kebaikan hati Indonesia pada rakyat Timtim, tetapi karena perlawanan yang
terus menerus oleh rakyat Timtim terhadap penindasan yang dilakukan
pemerintah Indonesia. Perlawanan rakyat Timtim untuk kemerdekaan, makin lama
makin mendapat dukungan dunia internasional. Sementara itu berbagai macam
krisis menimpa Indonesia karena petualangan politik anti komunis dari Orde
Baru. Dalam keadaan "terjepit" (kata YB Mangunwijaya) Indonesia terpaksa
melepaskan Timtim. Seperti Belanda melepaskan Indonesia. Maka sia-sialah
petualangan politik anti-komunis dari Orde Baru Soeharto di Timtim selama 23
tahun ini.
        Petualangan politik itu dilakukan Soeharto, karena ia tidak menginginkan
bertetangga dengan Timtim yang dipengaruhi komunis. Suharto menginginkan
supaya Tintim mengikuti sepenuhnya keinginan dirinya. Untuk itu dengan
melalui Operasi Komodo dipecah-belahnya rakyat Timtim. Taktik divide et
impera yqng dijalankan Belanda terhadap Indonesia tempo dulu, maka kini oleh
Suharto diterapkan di Timtim. Pecah-belah dan kuasai.
        Petualangan anti-komunis Soeharto di Timor Timur, adalah memperkosa
"Pembukaan" UUD 1945 yang menyatakan "kemerdekaan adalah hak tiap-taip
bangsa dan oleh sebab itu maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan"
termasuk untuk rakyat Timor Timur.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
Didistribusikan tgl. 8 Feb 1999 jam 08:07:50 GMT+1
oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]>
http://www.Indo-News.com/
++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++

Kirim email ke