---------------------------------------------------------- Visit Indonesia Daily News Online HomePage: http://www.indo-news.com/ and click banner our sponsor ---------------------------------------------------------- Precedence: bulk JACOB SUMARDJO TENTANG SATRIO PININGIT Oleh: Sulangkang Suwalu Sejalan dengan munculnya lebih 100 parpol di Indonesia tampil pula ke depan atau ke permukaan lebih 100 tokoh atau pemimpin. Mungkin sementara dari para tokoh tersebut sudah muncul jua di masa Soeharto masih berkuasa, tetapi karena begitu perkasanya Soeharto, ketokohannya menjadi tenggelam, atau ketokohannya hanya berperan sebagai pembantu Soeharto. Masing-masing tokoh-tokoh yang baru ini menonjolkan diri dan golongannya sebagai bagian dari bangsa. Apakah ada di antara para tokoh itu yang bisa diterima pula oleh golongan lain dan mereka anggap sebagai tokohnya pula? Bila ada, itu satu hal yang ideal benar. Tapi apakah mungkin bisa terjadi seorang menjadi seorang tokoh yang universal, di tengah masyarakat yang telah terbagi lebih dari 100 parpol? Dalam rangka persoalan ini adalah menarik tulisan Yacob Sumardjo yang berjudul "Siapa yang bisa dipercaya?" (Kompas 23/1/99). SATRIO PININGIT BERADA DI ANTARA KITA Menurut Jacob Sumardjo, "Tokoh-tokoh yang ada sekarang ini adalah tokoh-tokoh dengan kepentingan golongan, massa tertentu, demi tujuan tertentu pula. Ia mengabdi untuk masa kini yang dekat dan untuk persoalan-persoalan aktual yang muncul secara beruntun. Kepentingannya adalah kontekstual dan bukan universal. Kepentingannya adalah massaku dan bukan seluruh massa. Ideologinya adalah ideologi kami dan bukan ideologi kita. Tanda gambar kami dan bukan tanda gambar kita. Kepentingan eksklusif dan bukan inklusif. Cara kami demi kita dan bukan cara kita demi kita semua. Pemimpin ini adalah pemimpin-pemimpin konstekstual, terikat pada zamannya, pada massanya, pada golongannya. Dan karenanya sulit memperoleh kepercayaan dari massa dan golongan lain." Selanjutnya Jacob Sumardjo mengatakan bahwa orang yang bisa kita percayai, yang bisa diterima oleh semua golongan dan massa, haruslah orang-orang yang mampu berada di atas semua itu. Ia tidak punya bendera, ia tidak punya massa. Ia tidak berada dalam satu golongan. Ia tidak terikat oleh situasi dan kondisi kemelut ini. Ia tidak memiliki kepentingan khusus dan kontekstual. Ia adalah orang di luar zamannya. Ia orang universal. Punya kah kita tokoh ideal semacam itu? Tanya Jacob Sumardjo. Punya kah kita tokoh yang seluruh bangsa dapat mempercayainya? Tokoh-tokoh semacam itu pasti ada. Dalam masa-masa krisis seringkali muncul berbagai kejutan di luar dugaan semua orang. Satrio Piningit semacam itu berada di antara kita, antara dikenal dan belum kita kenal. Antara yang sudah muncul dan belum muncul. Antara sudah berperan dan belum berperan sepenuhnya. Tokoh semacam itu barangkali memang berasal dari suatu golongan massa, tetapi memiliki kualitas di luar massa golongannya. Mengkaji uraian Jacob Sumardjo ini menimbulkan beberapa pertanyaan. Mungkin kah akan ada seorang tokoh yang universal, yang bisa dipercayai oleh semua golongan, di tengah masyarakat Indonesia yang mempunyai lebih 100 parpol? Apa kah Satrio Piningit juga tidak akan memihak golongannya, di tengah masyarakat yang terpecah-pecah dalam golongan-golongan? Mari lah kita cermati. BHINEKA TUNGGAL IKA Masyarakat Indonesia berbeda-beda suku bangsanya, kepercayaan agamanya, keyakinan politiknya, tetapi semuanya satu: bangsa Indonesia. Berbeda-beda tapi satu jua. Karena itu bukanlah satu hal yang aneh, jika kini di Indonesia muncul lebih dari 1OO parpol. Maklumlah selama 52 tahun demokrasi dipasung Soeharto dengan para pembantunya. Berbeda-bedanya keyakinan politik dari bangsa Indonesia itu adalah hal yang wajar. Karena kedudukan sosial ekonominya dalam masyarakat memang herbeda-beda dan tidak sama. Jika diambil secara hakikat dalam masyarakat Indonesia terdapat dua kubu yang bertentangan. Hal itu bisa diketahui dengan menyorotnya dari berbagai segi. Misalnya dewasa ini, terdapat dua kubu: REFORMASI TOTAL VERSUS STATUS QUO Kubu yang pertama di Indonesia ialah kubu yang menuntut dilakukannya reformasi secara total di Indonesia. Sehingga benar-benar kehidupan demokratis dirasakan dalam kehidupan nyata. Ujung tombak yang berjuang untuk dilaksanakan reformasi secara total ini ialah mahasiswa yang didukung oleh rakyat banyak. Kubu yang kedua ialah kubu yang hendak mempertahankan status quo. Reformasi dianggap sudah terjadi, dengan telah lengsernya Soeharto dari kekuasaan. Padahal Habibie dengan segala menteri-menterinya masih melanjutkan politik fasisme dari Soeharto. MPR/DPR-nya masih MPR/DPR Soeharto, di mana yang diangkat lebih banyak dari yang dipilih. Karena itu apa yang dikehendaki para tokoh yang mempertahankan status quo, tidak mungkin akan dapat diterima oleh golongan yang menuntut dijalankan reformasi secara total, termasuk mundurnya Habibie dari kekuasaan. Begitu pula sebaliknya, tidak mungkin pihak yang hendak mempertahankan status quo akan menerima tuntutan reformasi dilakukan secara total, termasuk dicabutnya 5 UU Politik Tahun 1985 dan dihapuskannya dwifungsi ABRI. Lebih dari 1OO parpol yang muncul itu, juga mewakili dua golomgan yang bertentangan itu. Pendeknya, tak ada tokoh dewasa ini, yang bisa diterima oleh semua golongan. Ia hanya menjadi tokoh dari golongannya sendiri. Bisa saja sementara diantara mereka menjadi orang yang munafik. Dalam kata-kata mengatakan setuju reformasi, tetapi dalam praktek menjegal dilaksanakannya reformasi secara total. MUSTADHAFHIN VERSUS MUSTAKBIRIN Bila lebih didalami terbaginya masyarakat Indonesia dalam dua kubu, dapat juga diketahui dari ajaran agama Islam. Dilihat dari segi agama ajaran Islam masyarakat Indonesia memang terbagi dalam dua kubu yang bertentangan, yaitu antara kubu Mustadhafhin (yang tertindas dan miskin) dengan Mustakbirin (para tiran, angkuh dan kaya). Bahwa masyarakat terbagi dalam kaum-kaum itu tercermin dari Surat Ar Ra'du Ayat 11 yang berbunyi, "Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan sesuatu kaum, kecuali jika mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri." Jadi, kaum Mustadhafhin akan tetap tertindas dan miskin, kalau mereka tidak melemparkan lilitan rantai yang dilekatkan kaum Mustakbirin atas leher dan kaki mereka. Kaum Mustakbirin tidak akan dengan sukarela melepaskan rantai yang mereka lilitkan ke leher dan kaki kaum Mustadhafhin tersebut. Sudah pasti suara-suara kaum Mustakbirin (seperti Suharto dan anak-anak cucunya, misalnya) pasti tidak akan dipercayai oleh kaum Mustadhafhin. Sebab apa pun juga yang dikatakan kaum Mustakbirin, tentu dengan tujuan untuk kepentingan kaum Mustakbirin sendiri. Begitu pula suara-suara kaum Mustadhafhin (kebetulan belum ada tokoh Islam yang terang-terangan memihak kaum Mustadhafhin, kecuali hanya usaha meringankan penderitaan, bukan penghapuskan penindasan atas mereka) sudah pasti juga tidak akan diterima oleh kaum Mustakbirin. Karena pasti akan menguntungkan kaum Mustadhafhin. Misalnya apakah kaum Mustakbirin mau melaksanakan sosialisme Islam, seperti yang dikemukakan HOS Tjokroaminoto pada tahun 1942. Bila kaum Mustakbirin menerimanya, berarti mereka akan berhenti memeras keringat dan darah kaum buruh. Karena hingga kini belum ada tokoh kaum Mustadhafhin muncul secara terbuka, apakah mungkin Satrio Piningit yang dimaksud Jacob Sumardio akan lahir dari kalangan kaum Mustadhafhin ini? SATRIO PININGIT Khusus mengenai Satrio Piningit, Jacob Sumardjo mempunyai penilaian tersendiri. Jika tokoh-tokoh golongan lain, tak mungkin bisa diterima atau dipercayai semua pihak, karena mereka hanya mewakili kepentingan golongan massanya sendiri, maka Satrio Pingit lain. Seperti dikemukakan di atas bahwa menurut Jacob Sumardjo bahwa Satrio Piningit ia memang berasal dari suatu golongan massa, tapi memiliki kualitas di luar massa golongannya. Artinya tujuan Satrio Piningit itu bukan hanya untuk kepentingan golongannya saja, tetapi untuk semua golongan, untuk manusia keseluruhan. Untuk kita semua, bukan hanya untuk kami saja. Ia membela massa golongannya sebagai langkah awal untuk seluruh kemanusiaan. Seperti diketahui tujuan kaum Mustadhafhin melemparkan belenggu yang melilit leher dan kakinya adalah untuk terbentuknya masyarakat tauhidi, masyarakat tanpa kelas, kaum, kelompok dan golongan seperti yang terdapat sekarang. Masyarakat yang esa, tak ada yang menghisap dan yang terhisap, tidak ada yang menindas dan yang tertindas, masyarakat yang adil. Untuk mencapai tujuannya itu maka langkah pertama ialah terwujudnya lebih dulu Surat Al Qashash Ayat 5 dan 6 sebagai berikut: "Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas (mustadhafhin atau dhuafa) di bumi dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi bumi. Dan kami tegakkan kedudukan mereka di bumi." Dengan kaum Mustadhafhin menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, maka akan tegak amar ma'ruf nahi munkar, akan diharamkan dan dikutuk sepenuhnya orang-orang yang menumpuk-numpuk harta benda melalui penindasan sesama manusia, seperti yang dinyatakan dalam surat Al Humazah. Dengan demikian di bawah kepemimpinan kaum Mustadhafhin, kaum Mustakbirin akan ditiadakan. Dengan lenyapnya kaum Mustakbirin, maka kaum Mustadhafhin pun akan menjadi tiada pula. Semuanya menjadi manusia baru. Tokoh kaum Mustadhafhin yang kini belum muncul itu, mungkin itulah yang akan muncul dan menurut istilah Jacob Sumardjo: Satrio Piningit. KESIMPULAN Jelasnya dalam masyarakat yang telah terbagi dalam kaum-kaum, golongan-golongan, kelompok-kelompok atau kelas-kelas tak akan ada seorang tokoh kaum atau golongan yang bisa diterima atau dipercayai oleh semua kaum atau golongan. Jadi, pemimpin yang bisa dipercaya itu nanti ialah pemimpin yang bertujuan manusia menjadi satu, tak ada lagi penghisapan sesama manusia dan langkah awal untuk sampai ke situ, ialah dilenyapkan lebih dulu adanya sistem yang membolehkan adanya penghisapan sesama manusia. Satrio Piningit memang berasal dari kaum Mustadhafhin, tetapi kualitasnya, tujuan hidupnya, bukan hanya untuk kaum Mustadhafhin, melainkan untuk semua golongan termasuk untuk kaum Mustakbirin sendiri. Supaya kaum Mustakbirin jangan sampai masuk neraka di akhirat nanti. Supaya semuanya masuk surga, dunia dan akhirat.*** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ Didistribusikan tgl. 8 Feb 1999 jam 08:59:02 GMT+1 oleh: Indonesia Daily News Online <[EMAIL PROTECTED]> http://www.Indo-News.com/ ++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
